Lara menatap ruangan dengan pintu berwarna putih di depannya yang masih tertutup rapat. Setelah selesai kelas, ia memang memutuskan untuk bertemu Mahesa di kantornya. Saat ia sampai setengah jam lalu, laki- laki itu sedang bekerja. Laki- laki itu sedang mengambil gambar prewedding untuk pasangan yang memakai jasanya.
Mahesa sudah tahu kedatangannya dan memintanya menunggu. Laki- laki itu mempersilakan Lara untuk berkeliling atau naik ke lantai atas jika gadis itu bosan. Laki- laki itu juga sudah meminta salah satu office boy di sana untuk membuatkannya teh manis yang kini ada di depannya.
Lara menunggu dengan mata yang mengitari sekeliling. Dari luar, studio foto itu terlihat kecil, namun saat masuk, ternyata cukup luas. Selain bagian depan yang fungsikan sebagai termpat pelanggan bertransaksi, di belakang cukup banyak ruangan, yang difungsikan untuk studio foto.
Salah satu pintu di depannya terbuka. Lula melihat seorang wanita dengan make up tipis keluar, seorang laki- laki dengan kemeja dan jas hitam ada di belakangnya. Keduanya berdiri sebentar di depan pintu dan tampak berbicang dengan seorang pria yang masih mengalungi kamera di lehernya.
Lara tak tahu ada berapa fotografer di sana, namun setelah melihat bagaimana ramainya studio foto itu, ia yakin jumlahnya cukup banyak. Mahesa pernah bilang bahwa sebagian dari mereka adalah teman- teman kampusnya.
***
“Jadi… lo udah tahu kalau gue dan Mahesa itu saudara tiri?” Bara mengonfirmasi saat Ciara bercerita bahwa salah satu perawat di rumah sakit memberitahunya bahwa ia adalah anak bungsu dokter Irawan. Ia melihat gadis itu mengangguk pelan. Mereka sudah sampai di mall dan kini berajalan beriringan menuju lantai paling atas menggunakan eskalator.
“Bisa, ya, kalian berdua nyembunyiin itu bertahun- tahun sampai nggak ada yang tahu.” Kata Ciara sambil menggeleng tak percaya. Kedua laki- laki itu menyembunyikan statusnya dengan rapat dan begitu rapi. Teman- teman sekolahnya tidak akan ada yang percaya jika ia memberitahu mereka. Semua orang tahu bagaimana keduanya saling membenci. Tidak akan ada yang menyangka bahwa keduanya adalah saudara tiri, dan tinggal satu rumah.
“Lo kaget dong?” kata Bara. “atau malah marah karena baru tahu?”
Ciara berdecak. Ia menoleh dan sedikit mendongak untuk menatap Bara yang lebih tinggi darinya. “gue nggak punya kapasitas untuk marah. Lo sama Mahesa pasti punya alasan kenapa menyembunyikan status kalian.” Kata Ciara tepat saat mereka masuk ke dalam biskop.
Bara mencubit sebelah pipi gadis itu dan berkata, “lo memang pengertian banget.”
Ciaa mengaduh lalu memukul tangan Bara hingga laki- laki itu melepaskan pipinya. Ia duduk di salah satu bangku kosong sementara Bara mengantre untuk membeli tiket. Ia menatap suasana bioskop yang hari itu cukup ramai.
Tak lama, Bara kembali dengan dua cup berisi minuman dan satu kotak popcorn manis ukuran besar.
“Lo mau nonton atau numpang ngemil.” Kata Ciara saat melihat Bara dan popcornya.
“Sekalian.” Kata Bara. Ia duduk di sebelah Ciara dan menaruh cup minumannya di sisi lainnya.
“Lo udah makan atau belum? Makannya nanti setelah nonton aja, ya.” kata Bara karena film pilihannya akan dimulai kurang dari setengah jam lagi.
“Gue juga masih kenyang.” Kata Ciara sambil mengangguk.
Bara melepaskan jaket tucker cokelat yang ia kenakan lalu menyampirkannya di bahu gadis di sebelahnya. “tumben lo nggak pakai jaket.” Kata Bara.
“Gue tadi kesiangan.” Kata Ciara. Ia tak menolak kebaikan laki- laki itu. Ia tahu udara di dalam bioskop akan sangat dingin sedang ia hanya memakai sepotong kaos berwarna hitam. Kemeja yang ia pakai di rumah sakit sudah ia tanggalkan. Ia memasukkan kedua lengannya ke jaket yang kebesaran di tubuhnya itu.
Bara menggeser tubuhnya mendekati gadis di sebelahnya hingga lengan keduanya bersentuhan. Laki- laki itu melingkarkan lengannya di bahu gadis itu dan mengendus pucuk kepalanya.
“Apa, sih?” kata Ciara. Ia menggerakkan tubuhnya agar lengan Bara lepas dari bahunya.
“Lo udah berapa hari nggak keramas? Rambut lo bau.”
***
Bara dan Ciara keluar dari teater satu setengah jam kemudian. Keduanya bergerombol bersama yang lainnya menuju lobi bioskop yang tenyata masih ramai.
“Lo mau makan apa, Ra?” Bara bertanya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan membaca pesan yang baru saja masuk.
Ciara masih berpikir saat Bara akhirnya berkata, “makan di rumah gue aja, yuk. Papa ngajak makan malam bareng.”
“Nggak, ah. Gue mau makan di rumah aja.” Kata Ciara.
“Ish, jangan gitu. Ikut aja ke rumah gue, ya.” Bara sudah menggandeng tangan Ciara untuk berjalan mendekati lift.
“Gue nggak enak, ah.” Kata gadis itu saat mereka baru saja memasuki lift, bersama dengan beberapa orang.
“Kenapa nggak enak, sih? Gue udah bilang kalau lo bakal ikut.” Kata Bara. Laki- laki itu sepertinya tak akan membiarkan Ciara melarikan diri. “nggak kangen lo sama Mahesa?” tanyanya dengan nada jahil.
***
Lara menarik tangannya setelah mencium punggung tangan Irawan. Ia menatap pria berkacamata di depannya. Dahinya berkerut dalam. Ia lalu melirik Mahesa yang tersenyum kecil.
Ia mengenal pria itu. Ia ingat pria itu adalah orang yang menemuinya di rumah sakit saat punggungnya tak sengaja dihantam kursi kayu oleh Bara. Ia ingat pria itu memperkenalkan diri sebagai ayah Bara yang juga dokter di rumah sakit itu. Lalu, bagaimana mungkin Mahesa mengenalkan pria itu sebagai ayahnya.
“Om, bukannya papanya Bara?” Lara memberanikan diri bertanya karena terlalu bingung dan penasaran. Mungkinkan ia salah mengenali?
“Iya, saya papanya Bara.” Kata Irawan sambil tersenyum. Lara kini menoleh dan menatap Mahesa yang juga tersenyum.
“Gue sama Bara saudara tiri.”
Lara menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Mahesa dan Bara saudara tiri. Dengan semua pertengkaran keduanya, ia tidak pernah berpikir sampai ke sana.
Namun samar- samar sebuah ingatan masuk ke dalam pikirannya. Itu adalah saat Bara menceritakan sedikit kisah hidupnya. Ibunya yang meninggal saat melahirkan, ia yang begitu benci pada ayah tiri dan kakak tirinya, ia yang bertahun- tahun berpikir bahwa ayah tiri dan kakak tirinya lah yang bertanggung jawab atas kematian ibunya. Ia tidak menyangka bahwa sosok yang diceritakan adalah Mahesa.
Suara mobil yang berhenti di halaman rumah membuat ketiganya langsung menoleh ke arah pintu.
Suara salam terdengar dan tidak lama sosok Bara dan Ciara muncul di balik pintu. Mahesa dan Lara cukup terkejut mendapati kehadiran Ciara. Begitu juga Ciara dan Bara. Keduanya tidak menyangka Lara juga akan di sana. Gadis itu duduk di samping Mahesa dan mengulas senyum tipis pada keduanya.
Mata Mahesa menatap sebelah tangan Bara yang mengambil tangan Ciara dan menariknya agar mendekat dan duduk di sofa kosong yang ada sana. Bara memperkenalkan Ciara pada ayahnya meski tahu mereka berdua sudah saling mengenal.
“Kalian dari rumah sakit?” Irawan bertanya pada dua orang yang baru bergabung di ruang tamu.
“Kita habis nonton, Pa.” Bara menjawab.
Mahesa menatap Ciara yang duduk di sebelah Bara. Lalu ke jaket cokelat yang dipakai gadis itu. Ia tahu itu jaket milik siapa.
“Gimana rasanya di stase obgyn?” Irawan bertanya pada Ciara.
“Banyak kejutannya, dok.” Jawab Ciara sambil tersenyum.
Setelah berbincang sedikit, mereka berpindah ke ruang makan untuk makan malam. Di meja panjang itu, sudah ada berbagai macam menu yang dibuat oleh asisten rumah tangga.
Irawan adalah orang pertama yang menyendokkan nasi ke dalam piringnya. Mahesa mengambil bagian setelahnya, lalu Lara. Setelah itu Bara mengambil centong nasi dan memindahkan nasi ke piring Ciara terlebih dulu.
“Cukup.” Kata Ciara saat Bara bersiap menaruh sendok keduanya.
“Makan yang banyak.” Kata Bara. Ia masih bersiap menaruh isi sendok nasi ke piring Ciara saat gadis itu melotot padanya.
Mahesa menatap interaksi keduanya. Bara akhirnya menaruh nasi itu ke piringnya. Laki- laki itu lalu menaruh sayur dan lauk ke dalam piring Ciara. Laki- laki itu melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa gadis itu lakukan sendiri.
Mereka makan sambil mengobrol ringan. Irawan tak pernah merasakan meja makan seramai ini setelah kepergian istrinya. Rasanya hangat dan menyenangkan.
Mahesa mencoba mencuri pandang ke arah Ciara yang baru saja menyelesaikan makannya. Ia mendorong piringnya agak menjauh lalu mengambil tisu untuk mengusap bibirnya. Tatapan keduanya bersirobok saat Ciara menatapnya. Keduanya mengulas senyum bersamaan.
Bara mengambil teko yang ada di atas meja dan menuangkannya ke gelas Ciara yang masih kosong.
“Nambah lagi, nggak, Ra?” Bara bertanya.
“Ish…” Ciara menatap Bara yang terkekeh ringan.
“Bara usil, ya, Ra?” tanya Irawan.
“Iya, dok. Dia nggak cuma usil, tapi kadang ngeselin.” Kata Ciara pada Irawan yang langsung tertawa kecil.
“Jangan gitu, nanti kalau lo nggak ketemu- ketemu gue, lo kangen.” Kata Bara. Laki- laki itu menyandarkan punggungnya di kursi lalu memilin ujung rambut panjang Ciara yang hari itu dikuncir kuda.
Lara memperhatikan sikap Bara pada Ciara yang baru ia sadari tampak begitu intens. Apa yang laki- laki itu lakukan mengingatkannya pada kejadian beberap tahun lalu. Saat Bara memutuskan untuk melepaskan Ayra, laki- laki itu juga langsung dekat dengan Ciara. Sedekat itu hingga beberapa orang mengira mereka berdua berpacaran.
Lara tahu bahwa semenjak kuliah, Bara dan Ciara memang sudah terlihat dekat. Namun ia tidak menyangka mereka akan sedekat ini. Ciara tampak tak risih saat Bara sesekali melakukan kontak fisik dengannya.
Melepaskan tatapannya dari Bara dan Ciara, Lara menoleh dan melihat Mahesa tengah fokus menatap Ciara yang saat itu sedang mengobrol dengan Irawan. Laki- laki itu menatap Ciara dengan seksama. Sepertinya ia tidak ingin kehilangan waktu sedetikpun untuk menatap gadis itu. Garis bibir laki- laki itu ikut terangkat saat Ciara tersenyum kecil. Tatapan laki- laki itu begitu hangat.
“Kalau Ayra, sibuk apa?” kali ini Irawan bertanya pada Lara. Semua yang ada di sana terdiam, dan Irawan akhirnya menyadari bahwa ia salah mengenali. “Lara maksudnya. Maaf, ya. Ini karena keseringan dengar Bara ngomongin Ayra.” Kata Irawan, “kalian tuh memang identik ya?” tanyanya lagi saat Lara belum sempat menjawab pertanyaan sebelumya.
Lara mengangguk. Kini Irawan dan Lara mendominasi pembicaraan. Irawan bertanya banyak pada gadis itu.
Ketiga yang lainnya menyimak dan menimpali sesekali. Sebelah tangan Bara mengambil anggur yang ada di atas piring dan mendekatkannya pada mulut Ciara yang mengatup rapat.
Ciara mengambil buah yang diulurkan Bara lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan tangannya sendiri. “tinggal mangap doang juga.” Bisik Bara.
“Gue udah kenyang.” Balas Ciara dengan nada pelan.
Bara mengambil sebelah tangan Ciara dan membuka telapak tangannya, lalu menaruh tiga buah anggur ditelapak tangan gadis itu. “dah, itu aja.” Katanya.
***
Setelah selesai berbincang- bicang. Bara yang pamit lebih dulu untuk mengantar Ciara. Ciara berdiri dari duduknya lalu menyalami Irawan dan berterima kasih atas makan malamnya. Bara mengambil jaketnya yang Ciara sampirkan di kursi dan menyampirkannya ke punggung gadis itu.
Ciara pamit pada Mahesa dan Lara yang langsung mengangguk. Mahesa tersenyum dan berkata, “hati- hati.” Mahesa menatap Bara yang mendorong pundak Ciara pelan hingga akhirnya keduanya keluar dari ruang makan.
“Mereka pacaran?” Lara berbisik pada laki- laki di sebelahnya. Namun bisikannya terdengar oleh Irawan dan pria itu yang menjawab.
“Nggak kok, mereka nggak pacaran.” Jawabnya. Lara menoleh dan tersenyum kecil pada Irawan.
“Soalnya kelihatan kayak orang pacaran.” Kata Lara lagi.
“Mereka memang kayak gitu.” Mahesa menambahi. Setelah mendengar banyak cerita tentang Bara dan Ciara, Mahesa akhirnya tahu seperti apa keduanya. Ciara adalah gadis yang berada di samping Bara saat laki- laki itu akhirnya dikecewakan oleh ayah kandungnya. Gadis itu bahkan rela dipecat dari pekejaannya karena membela Bara. Bara juga satu- satunya orang yang ada di sampingnya saat gadis itu kehilangan pekerjaan yang dicintainya. Keduanya saling menemani di saat- saat terburuk masing- masing. Mahesa akhirnya mengerti setelah mendengar banyak cerita dari keduanya.
TBC
LalunaKia