CHAPTER DUA PULUH TUJUH

2061 Kata
           “Ra, kamu mikir, deh. Gimana aku nggak cemburu. Bara jam sepuluh malam masih ada di rumah kamu. Ngangkat telepon kamu. Kirim foto kamu ketiduran di ruang tamu.” kata Nugi dengan kesal yang sudah tak bisa disembunyikan. Laki- laki itu menatap jalan di depannya sambil sesekali melirik Ciara yang terdiam.            “Kalau kamu jadi aku, kamu cemburu nggak? Aku yakin kamu juga bakal punya pikiran kayak aku.” Kata Nugi lagi. Sepertinya kali ini laki- laki itu tak lagi menahan- nahan perasaannya. Sepertinya laki- laki itu kini melampiaskan semua kekesalannya yang ia pendam sejak lama. Laki- laki itu memuntahkan semuanya padanya.            Ciara menyandarkan punggungnya lalu melempar pandangan keluar jendela. Ia sudah lelah. Ia sudah lelah karena jadwal koasnya, dan sepertinya tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Nugi sehingga ia memilih diam. Ia pikir Nugi memang perlu menumpahkan semuanya. Laki- laki itu mungkin memang perlu tempat sampah.            Mobil Nugi sampai di parkiran rumah sakit. Ciara membuka safety beltnya lalu menoleh pada Nugi yang ternyata sedang menatapnya.            “Jadi kamu maunya gimana?” tanya Ciara lagi. Ia tahu mungkin Bara keterlaluan. Tapi seperti itulah laki- laki itu. Ia tak ingin Nugi berpikir bahwa ia terus menerus membela Bara. Ia tahu ia menyakiti laki- laki itu tiap ia meminta laki- laki itu memaklumi semua tingkah Bara.            Nugi menghela napas, tampak juga kebingungan. Ia tahu laki- laki itu juga tak punya solusi yang bisa memperbaiki hubungan keduanya. Laki- laki itu tahu ia tak bisa memukul mundur Bara yang selalu mengganggap semua perkataannya adalah angin lalu.            Nugi yang harus mengalah, pikir Ciara. Laki- laki itu tetap memilihnya meski tahu bahwa ia berhubungan dengan sangat baik dengan Bara dan sikap posesifnya. Laki- laki itu telah tahu bagaiamana kedekatannya dengan Bara dan tetap memilihnya.            “Aku mau kamu tegas. Kalau bisa jangan terlalu dekat sama Bara. Jangan terima semua perhatiannya. Kamu harus lebih prioritasin aku dibanding dia.” Kata Nugi akhirnya.            “Gi, kamu juga tahu, kan, sedekat apa Bara sama ibu aku?” Ciara bertanya seraya mengingatkan. “meski aku nggak ada di rumah, Bara sering main ke rumah buat ketemu ibu atau ngerjain tugas di sana.” katanya lagi. “kalau kamu mau Bara menjauh, kamu harus bilang sama Bara.”            Ciara menatap Nugi yang terdiam, “oke… aku akan coba untuk nggak terlalu dekat sama dia.” Kata Ciara akhirnya. Ia tahu permbicaraan itu tidak akan pernah menemui titik temu jika ia tak mengatakan itu. Kini yang perlu ia lakukan adalah membuat laki- laki itu tenang.            “Aku masuk dulu, ya.” kata Ciara. Nugi akhirnya mengangguk pelan. Ia melihat gadis itu menyampirkan ransel di sebelah bahunya lalu membuka pintu dan keluar dari sana. ***            Ayra berjalan pelan menuyusuri jalan menuju fakultas kedokteran yang letaknya tak jauh dari fakultas managemen. Ia sudah membulatkan tekadnya dan mengumpulkan keberaniannya. Ia akan menemui Bara, meminta maaf dan berterima kasih. Setelah itu, ia tidak lagi merasa memiliki hutang dengan laki- laki itu.            Laki- laki itu akan tahu bahwa ia sudah mengetahui semuanya. Laki- laki itu akan menerima maafnya dan ia bisa kembali pada hidupnya. Ayra mengangguk. Itu terdengar sangat mudah dan ia akan melakukannya dengan cepat.            Kakinya melangkah memasuki fakultas kedokteran. Salah satu jurusan paling bergengsi di universitasnya. Ia melangkah menuju koridor dan menyusurinya. Ia tidak tahu ada di mana laki- laki itu, namun ia yakin laki- laki itu ada di salah satu ruangan yang ada di sana. Laki- laki itu selalu ada dikampus sejak pagi hingga sore hari. Ia tahu sesibuk apa laki- laki itu.            Matanya menatap ke tangga yang berada tak jauh dari tempatnya, ia melihat Bara muncul dari tangga. Laki- laki itu berjalan cepat dengan jas labnya. Beberapa buku terlihat di sebelah tangannya. Rambutnya bergerak seiring dengan langkah kakinya yang semakin cepat.            Ayra menatap ruang laboraturium yang ada di ujung. Ia tahu laki- laki itu pasti akan pergi ke ruangan itu saat melihat penampilannya. Ia mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin kedatangannya sia- sia. Ia harus menemui laki- laki itu sebelum ia masuk ke laboraturium itu.            Bara menghentikan langkah saat melihat Ayra berhenti di depannya. Gadis itu terlihat mengatur napasnya yang sedikit terengah- engah. Ia menatap gadis di depannya dari atas sampai bawah lalu ke wajahnya yang tampak kebingungan.            “Aku perlu bicara.” Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Ayra dengan susah payah.            Bara terdiam. Ia menunggu apa yang akan gadis itu katakan lagi.            “Aku mau…” kalimat Ayra terpotong karena suara lengkingan yang terdengar dari belakangnya.            “Bara…” keduanya menoleh ke asal suara dan melihat wajah seorang laki- laki yang wajah dan sebagian tubuhnya menyembul dari balik pintu laboraturium. Laki- laki itu melambaikan tangannya pada Bara. Mengisyaratkan laki- laki itu untuk secepatnya menghampirinya.            “Maaf aku buru- buru.” Kata Bara dengan nada dingin.            Ayra terenyak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Ia menoleh dan melihat punggung laki- laki itu berjalan cepat menjauhinya. Jika buru- buru, seharusnya sejak awal laki- laki itu bilang padanya. Bukan malah diam seakan- akan ingin mendengar apa yang akan keluar dari mulutnya.            Ayra merasa marah juga sedih. Ia tidak percaya laki- laki itu sanggup melakukan itu padanya. Ia tidak mengerti kenapa laki- laki itu begitu cepat berubah. Laki- laki itu pernah bilang bahwa ia mencintainya dan hanya selang sehari, laki- laki bisa menunjukkan raut wajah dingin dan menganggapnya seperti orang asing. Ia tidak mengerti dengan laki- laki itu. Ia sama sekali tidak bisa memahami perasaannya. ***            “Ra, kamu kenal sama anak bungsunya dr. Irawan juga?” Ciara yang sedang membaca buku di nurse station menoleh dan melihat seorang wanita berseragam suster duduk di sebelahnya.            “Anak bungsu dokter Irawan?” Ciara mengulangi pertanyaannya. Ia jelas tahu kalau dr. Irawan hanya punya satu anak. Mahesa anak tunggal.            Wanita itu mengangguk, “waktu itu aku lihat kalian berdua di depan minimarket, pas jaga malam.”            “Dokter Irawan kan cuma punya satu anak.” Kata Ciara yang mulai kebingungan. Kalau wanita bernama Tia itu melihatnya bersama Mahesa, itu berarti laki- laki punya kakak?            Namun wanita itu menggeleng. “Dokter Irawan punya satu anak tiri.”            Dahi Ciara berkerut dalam. Ia mulai terlihat bingung.            “Yang tinggi, ganteng, suka bawa ransel. Dia mahasiswa kedokteran juga sih kayaknya.”            Bara. Pikir Ciara. Nama Bara langsung terlintas di otaknya. Tapi, bagaimana mungkin.            “Siapa, ya, namanya, lupa.” Kata wanita itu lagi. “atau jangan- jangan dia satu kampus sama kamu lagi.”            “Bara…” Ciara melirih. Masih tidak yakin dengan jawabannya.            “Oh, iya, Bara. Dulu seringnya dipanggil Yuda sama dokter Irawan.”            Ciara terdiam. Terkejut dengan kenyataan itu. Bara pernah menceritakan kalau ia tinggal bersama ayah tirinya, laki- laki itu juga pernah bilang bahwa ia punya kakak laki- laki. Namun Mahesa, ia tidak pernah mendengar apapun tentang keluarganya. Laki- laki itu tak pernah menceritakan sedikitpun tentang keluarganya. Laki- laki itu menutup dirinya dengan begitu rapat. Ia sadar meski ia pernah merasa begitu dekat dengan laki- laki itu, ia tidak pernah tahu apa- apa tentangnya. Semua kedekatannya hanya tentang Ciara dan dunianya.            “Iya, kita satu kampus. Kebetulan dulu juga satu sekolah.” Kata Ciara. Ia melihat wanita itu mengangguk pelan.            “Pantesan kalian keliahatan dekat banget.”            Ciara tahu bahwa masalah Bara dan Mahesa lebih kompleks dari yang dipikirkan orang- orang. Bukan tentang memperebutkan seorang gadis, atau kekuasaan di sekolah. Masalah keduanya serius dan kini ia tahu.            Getar ponsel di saku jasnya membuat lamunan Ciara buyar. Ia melihat suster di sebelahnya sedang mengisi data pasien. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia membaca pesan yang masuk.            Bara: Selesai jam berapa?            Ciara mengetuk- ngetuk layar ponselnya untuk membalas pesan itu.            Ciara: Satu jam lagi.            Bara: Gue tunggu di minimarket.            Ciara: Jangan ke sini.            Ciara ingat janjinya pada Nugi pagi tadi.            Bara: Gue udah di parkiran.            Ciara menghela napas. Ia tahu ia tidak akan pernah bisa benar- benar menjauhi laki- laki itu. Ia tahu ia tidak bisa, namun ia masih saja berjanji pada Nugi hanya agar laki- laki sedikit tenang. ***            Bara selesai kelas lebih cepat dari perkiraan hari ini. Ia tidak berpikir panjang untuk menemui Ciara di rumah sakit. Ia tahu gadis itu akan pulang sore ini karena sudah berjaga sejak pagi. Ia duduk di tempat duduk di depan minimarket rumah sakit dan menaruh dua cup berisi minuman dingin yang baru saja ia beli di kafetaria di basement di atas meja. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Menunggu gadis itu satu jam tidak akan terasa lama.            Ia membuka ponsel yang baru saja ia keluarkan dari dalam saku celananya. Ia berselancar di dunia maya. Di satu postingan di beranda instagramnya, ia melihat postingan Ayra. Gadis itu sedang berada di salah satu retoran… bersama Kamal. Keduanya tersenyum ke arah kamera dengan dua buah gelas minuman di atas meja.            Bara ingat saat gadis itu mendatanginya hari ini. Ia tidak tahu apa yang ingin gadis itu bicarakan. Namun ia tahu sepertinya itu hal yang cukup mendesak. Gadis itu tidak akan menemuinya, gadis itu tidak akan pernah terpikir untuk datang padanya jika tak punya hal penting. Namun ia malah tak mengacuhkannya. Ia malah pergi begitu saja saat gadis itu belum sempat mengutarakan maksudnya. Ia tidak bohong saat ia bilang ia sedang buru- buru. Ia sudah setengah berlari dari ruang kelasnya menuju laboraturium saat gadis itu menghalangi jalannya.            Ia tidak ingin mendengar apapun dari gadis itu. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan gadis itu. Ia telah berusaha keras untuk tak lagi berhubungan dengannya. Ia tidak peduli apalagi apa yang dipikirkan gadis itu. Gadis itu pasti sangat senang saat Bara memutuskan untuk melepaskannya. Gadis itu mendapatkan kembali kehidupannya yang tenang tanpa gangguannya.            Ia keluar dari aplikasi i********: lalu masuk ke dalam galeri ponselnya. Ia tersenyum menatap foto Ciara yang ia ambil kemarin malam. Wajah pulas gadis itu yang terlihat menggemaskan. Beralih dari foto gadis itu, ia menemukan foto Ayra saat mereka pergi ke pantai beberapa waktu lalu. Ia melihat gadis itu tersenyum saat ia memotretnya, atau ia memotret tanpa sepengetahuan gadis itu. Cukup banyak gambar yang ambil dengan kamera ponselnya saat itu.            Ia menarik napas panjang, lalu menandai foto- foto gadis itu. Dengan kekuatan penuh, ia menekan ikon delete. Dalam sekejap, foto- foto itu terhapus. Ia menelan ludah. Bukan hanya itu foto gadis itu di ponselnya, sehingga ia memutuskan untuk menghapus semuanya. Ia menghapus semua foto gadis itu di galeri ponselnya hingga tidak tersisa satupun.            Ia menoleh saat menyadari seseorang baru saja menjatuhkan diri di sebelahnya. Ia melihat Ciara menatapanya dengan tatapan muram. Bara mendorong satu cup minuman dingin yang di atas meja ke arah Ciara.            “Muka lo kusut banget.” Kata Bara saat Ciara menyesap minumanya. “lo capek, nggak? Temenin gue nonton, yuk.” Kata Bara lagi sebelum Ciara sempat menjawab pertanyaannya.            “Nggak mau, ah. Gue udah janji sama Nugi nggak mau dekat- dekat sama lo.” Kata Ciara.            Bara mengerti. Gadis itu pasti habis bertengkar dengan Nugi. Sudah pasti, dia adalah penyebabnya. Ia menatap Ciara yang kembali berkata.            “Gue berantem lagi gara- gara lo.” Ciara memberitahu.            “Jangan gitu. Gue nggak punya teman lain selain lo.” Kata Bara.            Ciara menatap Bara yang memasang wajah murung. Bara tak berbohong. Ia tahu bagaimana pergaulan laki- laki itu. Sama seperti saat seolah menengah atas, laki- laki itu tak punya banyak teman saat ini. Laki- laki itu punya banyak teman di kampusnya, namun tidak pernah membawa pertemanannya ke luar.            Di luar, laki- laki itu hanya punya dirinya dan Ayra. Laki- laki itu akan datang bergantian padanya dan pada Ayra. Dan saat laki- laki itu memutuskan untuk melepaskan Ayra, ia tahu hanya dirinya satu- satunya yang dimiliki laki- laki itu.            “Gue tahu lo nggak akan setega itu sama gue.” Bara menatap ke depan dan melipat keduanya tangannya di depan d**a.            “Gue harus gimana, Bar. Kalau lo gini terus, gue bisa stress karena berantem terus sama Nugi.” Kata Ciara dengan nada frustrasi.            “Ra, yang bermasalah bukan gue, tapi Nugi. Dia udah tahu gue kayak gimana sama lo. Harusnya dia yang ngertiin.” Bara tampak tak mau kalah.            Ciara menghela napas kasar.            “Ayo temanin gue nonton. Gue janji nggak akan update apapun, apalagi sengaja memprovokasi Nugi.” Kata Bara. “gue janji akan jaga jarak sama lo kalau ada Nugi.” Itu adalah hal yang bisa ia tawarkan pada gadis itu. Ciara adalah satu- satunya tempat yang bisa menerimanya. Bahu gadis itu terlalu nyaman dan ia tidak akan menemukan tempat nyaman lain selain gadis itu. Ia tidak mau kehilangan gadis itu.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN