CHAPTER DUA PULUH ENAM

1797 Kata
Lara menoleh saat merasakan Kamal menjatuhkan kepalanya di bahunya. Ia melihat laki- laki itu memejamkan matanya. Laki- laki itu melingkarkan lengan ke lengannya.            “Malah tidur, lagi.” lirih Lara. Ia akhirnya kembali memfokuskan pandangannya ke layar besar di depannya. Bersama dengan ratusan penonton yang memenuhi teater satu. Ia menonton salah satu film superhero yang sejak penayangan perdananya, tiketnya selalu terjual habis.            Ia membiarkan Kamal tertidur pulas, sementara matanya fokus pada layar. Ia tidak ingin melewatkan satu adegan pun dalam film itu.            Setelah dua setengah jam berlalu, layar menunjukkan daftar cast. Lampu bioskop mulai dinyalakan. Orang- orang berdiri dan berbondong- bondong menuju pintu dengan tulisan exit di atasnya.            Ia mengugah laki- laki di sebelah yang semakin mengeratkan tangannya ke lengannya. Ia tersenyum melihat wajah polos laki- laki itu.            “Mal…” panggilnya pelan. Ia menepuk paha laki- laki itu untuk membangunkannya.            Kamal menggeliat. Perlahan kedua matanya terbuka. Ia menegakkan tubuhnya dan menyadari bahwa film sudah berakhir. Matanya memidai sekeliling dna menyadari bahwa ruangan itu hampir kosong.            “Ayo balik…” kata Lara. “diajak nonton malah tidur.”            Kamal tersenyum. Lara sudah berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Kamal mengekorinya.            “Gue sebenarnya udah nonton film itu sama Dila kemarin.” Kata Kamal sambil mengambil sebelah tangan Lara dan menggenggamnya.            Lara menoleh lalu berdecak. “Ish, bukannya bilang. Tahu gitu gue nonton sendiri aja.” Kata Lara. Mereka memang hanya nonton berdua karena Ayra tak ingin ikut. Ayra bilang ia tidak ingin pergi dan hanya ingin berada di kamarnya. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Biasanya gadis itu selalu bersemangat jika mereka jalan bertiga. Saat Lara bertanya, gadis itu hanya menggeleng dan langsung masuk ke kamarnya.            “Ya nggak apa- apa. Kapan lagi gue bisa tidur di bioskop.” Kata Kamal sambil terkekeh ringan. Mereka berjalan beriringan menuju lantai dasar menggunakan eskalator. Mata keduanya melirik sekeliling, menatap toko- toko yang ramai.            “Kak, Mahesa.” Lara menatap seorang laki- laki yang sudah sangat ia kenal. Laki- laki baru saja keluar dari sebuah toko yang menyediakan kebutuhan rumah. Laki- laki yang membawa beberapa plastik di tangan kanan dan kirinya itu langsung menoleh ke asal suara.            Kamal berhenti, ia terenyak saat melihat Lara melepas genggamannya lalu berlari kecil ke arah Mahesa. Ia menatap sebelah tangannya, lalu ke arah Lara yang sudah berdiri di depan Mahesa. Mereka tampak berbincang. Mahesa menatap ke arahnya dan tersenyum tulus. Ia menarik napas lalu mendekati keduanya.            “Mal, makan dulu, yuk.” Ajak Lara.            “Kita kan…” omongan Kamal berhenti karena Lara meyenggol lengannya dan menatapnya sambil membierikan isyarat untuk diam dengan raut wajahnya. Kamal terdiam. Ia mendengar Lara dan Mahesa tampak membicarakan akan makan di mana.            Kamal memerhatikan keduanya yang baru saja berhasil memutuskan akan makan di mana. Keduanya memutuskan untuk pergi ke salah satu kedai ramen yang ada di mall itu. Kamal hanya mengangguk saat Mahesa bertanya padanya.            Ketiganya pergi ke lantai bawah. Mereka butuh menuruni dua lantai lagi untuk sampai di lantai yang khusus menjual makanan. Mereka berjalan beriringan. Kamal menatap Lara yang henti- hentinya menatap Mahesa yang hari itu memakai kaos berwarna merah dan celana pendek warna cokelat. Lara tampak bersemangat membuka obrolan dengan laki- laki itu. Mahesa sendiri tampak menyambut obrolan gadis itu dengan sangat baik. Kamal tiba- tiba merasa sebagai orang asing. ***             “Kali ini, gue mutusin buat ngelepasin Ayra. Gue tahu itu sulit, tapi gue nggak punya pilihan lain.”            Ciara melempar pandangannya keluar jendela. Namun telinganya mendengar dengan jelas semua yang keluar dari mulut Bara. Ia tahu sebesar apa perasaan laki- laki itu pada Ayra. Ayra mungkin cinta pertamanya. Ia tak menoleh ke laki- laki itu sedikitpun. Membiarkan laki- laki itu larut dalam perasaannya dan terfokus pada kemudi dan jalan di depannya.            “Tamparan dia bikin gue sadar kalau dia memang benci banget sama gue.” kata Bara lagi. Kali ini Ciara menoleh ke sebelahnya. Ia menatap laki- laki itu menatap ke jalanan di depannya. Ia tahu hubungan Bara dan Ayra tidak baik, namun ia tidak menyangka bahwa gadis itu tega menampar Bara. Padahal ia tahu bagaimana tulusnya Bara pada gadis itu.            Mobil yang dikendarai Bara sambil di depan rumah Ciara.            “Yaudah, lah. Perempuan di dunia bukan cuma Ayra. Nanti juga lo ketemu perempuan yang lebih baik.” kata Ciara. Ia tidak tahu kalimat penghiburan apa yang harus ia berikan pada laki- laki yang sedang patah hati. Namun ia berharap kalimat itu bisa sedikit menenangkannya.            Bara menoleh ke arah Ciara dan tersenyum kecut. “gitu, ya?” kata Bara.            “Iya, lah. Lo ganteng, pintar, calon dokter. Banyak yang mau sama lo.” Kata Ciara sambil membuka safety beltnya. Ia jelas tahu bahwa Bara salah satu mahasiswa yang menonjol di angkatannya. Seperti katanya, laki- laki itu tampan, juga pintar. Kesalahan laki- laki itu hanya terlalu terpaku pada satu gadis, padahal gadis lain mungkin memperhatikannya diam- diam. Laki- laki itu hanya perlu membuka hatinya perlahan.            Keduanya keluar dari mobil. Bara mengambil bungkusan yang ia taruh di kursi belakang. Bungkusan berisi beberapa kebab dan tiga buah minuman dingin. Keduanya mendekati gerbang rumah Ciara dan melewatinya. Ciara berjalan lebih dulu dan membuka pintu rumahnya yang terbuka setengah menjadi lebih lebar. Ia mengucapkan salam dan melihat ibunya ada di ruang tamu dengan beberapa lembar kertas di atas meja.            Dewi membalas salam anaknya dan tersenyum melihat Ciara dan Bara masuk ke dalam rumah dan duduk di depannya setelah mencium pungung telapak tangannya.            “Masih sibuk aja, Tan.” Kata Bara sambil menaruh kantong yang ia bawa di sisi meja yang kosong.            “Ya biasa, lah.” Kata wanita itu. Ia membereskan kertas- kertas yang berserakan di atas meja sementara Ciara pergi ke dalam kamarnya untuk mengambil baju ganti lalu membersihkan diri.            Saat Ciara keluar dari kamar mandi, Bara dan ibunya sedang mengobrol. Keduanya sudah memegang kebab yang Bara beli di tangan masing- masing dan mengigitnya setelah berhasil menelan.            Ciara duduk lesehan di depan ibunya, menatap Bara yang juga lesehan di depannya, dipisahkan oleh meja kotak panjang dengan alas kaca. Di atas meja, laptop laki- laki itu terbuka. Saat mendekat, Ciara tahu bahwa Bara sedang menceritakan kembali perihal patah hatinya yang entah sudah keberapa kali pada ibunya.            Sebelah tangannya mengambil kebab bagiannya di atas meja lalu membuka bungkusnya dan mengigitnya pelan.            “Lihat aja, Bu, nggak lama Bara pasti ngejar- ngejar Ayra lagi. Dia akan orangnya suka plin plan.” Kata Ciara. Ia langsung melihat Bara menggeleng keras.            “Nggak… nggak… kali ini gue serius.” Kata Bara dengan nada yakin.            “Sayang lho, Bar, kalau kamu suka sama orang yang terus- terus nyia- nyiain kamu.” Kata Dewi yang langsung membuat Ciara mengangguk setuju. “yaudah, ibu lanjutin kerja di dalam kamar, ya.” kata wanita itu tepat setelah ia menghabiskan kebab di tangannya dan membuang bungkusnya di plastik bekas di atas meja. Ciara dan Bara mengangguk pelan dan melihat wanita itu berdiri dari duduknya dan membawa semua buku dan kertas kertas miliknya ke dalam kamar.            Sepeninggal Dewi, Bara sibuk dengan tugasnya sementara Ciara menikmati kebab di tangan kanannya. Ia memakan kebab itu dengan lahap. Semenjak berada di stase obgyn, tak hanya jam tidurnya yang berantakan, namun juga jam makannya. ***            Lara mengetuk pintu kamar Ayra pelan. Setelah mendengar suara di dalam mempersilakan, tangannya menekan handle pintu dan mendorongnya pelan. Ia melihat Ayra sedang duduk di atas ranjangnya dengan punggung menyandar di kepala ranjang.            Lara mendekat dengan bungkusan di sebelah tangannya. Ia menaruh bungkusan itu di atas nakas saat ia duduk di tepi ranjang.            “Nih gue beliin ramen. Lo kenapa? Sakit?” tanya Lara saat melihat saudara kembarnya menekuk wajahnya dengan raut wajah muram. Ia melihat gadis itu menggeleng pelan.            “Gue ngerasa udah keterlaluan sama Bara selama ini.” kata Ayra dengan nada lirih.            Lara terdiam. Menunggu kata- kata gadis itu selanjutnya.            “Gue tiba- tiba nyesal sama semua yang pernah gue lakuin sama dia.” Kata gadis itu lagi.            Lara menghela napas, “yaudah, lo minta maaf sama Bara kalau memang ngerasa salah.” Lara memberitahu hal yang perlu gadis itu lakukan.            “Dia benci sama gue, Ra. Tiap ketemu dia nggak pernah negur gue, kadang ngelirik pun nggak. Dia udah nganggap gue orang asing.” Kata Ayra dengan nada putus asa yang tidak bisa disembunyikan dalam nada suaranya.            Lara mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap bahu saudara kembarnya. Mencoba memberikan ketenangan dalam sentuhannya.            “Ya lo nggak punya pilihan lain, Ay. Kalau memang lo mau minta maaf, ya, lo harus usaha ketemu sama dia. Daripada lo nyesal.”            Kali ini Ayra menengadahkan kepalanya dan menatap Lara. “Menurut lo, dia bakal maafin gue?” ia meminta pendapat Lara dan melihat gadis itu mengangguk pelan.            Ayra menghela napas. Lara benar, ia tidak punya hal lain yang bisa ia lakukan selain meminta maaf pada laki- laki itu, juga berterima kasih. Ia akan melakukannya. Ia akan melakukannya dibanding harus menyimpan semua rasa bersalahnya. Ia tidak pernah ingin berhutang budi pada orang lain, begitu juga pada laki- laki itu. Dan setelah ia berhasil mendapatkan maaf laki- laki itu, ia harap ia menjalin hubungan lebih baik dengannya. Ia ingin laki- laki itu tetap pada keputusannya untuk melupakannya. Namun laki- laki itu tak perlu berlaku begitu ekstrem dengan bersikap tak acuh dan pura- pura tak mengenalnya. Ia ingin laki- laki itu memperlakukannya seperti ia memperlakukan Lara dan Kamal. Ia ingin berada sedekat itu sebagai seorang teman. ***            Bara melepaskan pandangannya dari layar laptop di depannya dan melihat Ciara yang sudah tertidur pulas dengan posisi kedua tangannya terlipat di atas meja dan kepalanya jatuh di atas lipatan tangan.            Ia tersenyum lalu melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sepuluh malam. Buku- buku dan kertas masih berserak di atas meja. Laptopnya masih terbuka namun layarnya sudah mati. Entah dalam mode sleep atau sudah di shut down sebelumnya.  Gadis itu memang mengerjakan tugas bersamanya. Ia tak tahu tugas gadis itu sudah selesai apa belum. Namun ia yakin gadis itu ketiduran. Karena kalau gadis itu sudah benar- benar mengantuk, gadis itu pasti menyuruhnya pulang.            Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap rambut gadis itu. Helai- helai rambut gadis itu terasa halus saat menyentuh hari- jarinya. Matanya lalu menatap kedua mata gadis itu yang terpejam dan napasnya yang teratur. Selama beberapa menit, ia menatap wajah Ciara. Wajah yang lima tahun ini hampir selalu dilihatnya setiap hari.            Ujung jari laki- laki itu menyentuh dahi gadis itu, lalu menelusuri tulang hidung hingga ke ujungnya. Gadis itu sepertinya sudah terlalu pulas sehingga tak merasakan sentuhannya. Ia mengambil ponselnya lalu memotret wajah pulas gadis itu. Ia tersenyum hingga akhirnya getar ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia menatap ponsel Ciara yang bergetar dengan layar menyala di atas meja. Ia mengambilnya dalam satu jangkauan dan melihat nama Nugi di layarnya.            Ia menatap layar itu, lalu ke arah Ciara yang terlihat sangat pulas. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu. Ia menswipe layar dengan ibu jarinya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN