CHAPTER DUA PULUH LIMA

2054 Kata
Kamal memarkirkan motornya di fakultas sastra sore itu. Ia turun dari kendaraan roda duanya dan langsung melihat Lara berdiri di tengah lapangan. Gadis itu tengah mendribble bola oranye lalu berusaha memasukkannya ke dalam ring. Koridor fakultas sastra terlihat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat duduk di kantin.            Ia berjalan mendekati Lara yang ada di tengah lapangan seorang diri. Ia berdiri di tengah lapangan saat Lara sedang mengambil bola. Saat gadis itu membalik badan, tatapan keduanya bersirobok.            Lata tersenyum lalu melempar bola itu pada Kamal yang langsung menangkapnya. Laki- laki itu mendribble bola lalu melemparkan ke ring. Tepat sasaran.            Keduanya melanjutkan permain one on one. Kamal mendribble bola, lalu Lara berusaha merebutnya. Begitu seterusnya. Keduanya tampak asik saling memperebutkan bola oranye itu dan mencetak poin dengan memasukkannya ke dalam ring.            Peluh sudah membanjiri dahi keduanya. Namun keduanya masih begitu semangat untuk saling mengalahkan.            Lara memimpin poin. Selalu. Karena Kamal memang selalu mengalah pada gadis itu. Tak peduli ia bisa mencetak poin lebih dari gadis itu, ia lebih memilih mengalah sejak dulu. Saat menang, Lara akan berseru kegirangan. Kamal menyukai ekspresi itu.            Lara menepi dan menjatuhkan tubuhnya di pinggir lapangan sementara Kamal pergi menuju kantin di dekat lapangan untuk membeli air mineral.            Lara mengelap peluh dengan tisu yang ia ambil dari dalam tasnya. Ia menengadahkan kepalanya dan melihat Kamal mendekat dengan dua buah botol air mineral di tangannya. Laki- laki itu tampak memberi aba- aba lalu melempar botol itu yang langsung ia tangkap.            Lara mengucapkan terima kasih saat laki- laki itu mengambil tempat di depannya. Ia mencoba membuka botol air mineral itu namun sedikit kesulitan karena tangannya berkeringat.            Kamal mengambil botol air mineral di tangan gadis itu dan memberikan miliknya yang sudah ia buka tutupnya.            Lara menerimanya lalu meneguknya pelan. Membiarkan air itu mengaliri tenggorokkannya yang terasa kering.            “Teman lo yang lain ke mana?” Kamal bertanya sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil tisu yang menempel di dahi gadis di depannya. Lara memang berubah sejak hubungannya dengan Ayra membaik. Gadis itu menjadi lebih mudah bersosialisai. Apalagi Kamal mengambil jurusan yang berbeda sehingga tak bisa berada di samping gadis itu terus- menerus.            “Masih pada antri buat presentasi. Gue udah duluan.” Jawab gadis itu.            Di lantai dua gedung fakultas sastra, Dila memperhatikan keduanya. Ia melihat Kamal menyentuhkan tangannya di dahi Lara, lalu menyelipkan sejumput rambut Lara ke belakang telinganya. Keduanya sesekali tertawa. Kamal bahkan beberapa kali mencubit pipi gadis di depannya dengan gemas.            Dila tersenyum saat melihat laki- laki itu menoleh dan menatap ke arahnya. Laki- laki itu melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Ia tahu sedekat apa keduanya. Lara telah menceritakan semua hal dengan Kamal dan hari- hari yang mereka lewati bersama.            Kamal adalah satu- satu orang yang ada di samping Lara di saat- saat terburuknya. Laki- laki itu tak pernah meninggalkan Lara sedikitpun. Laki- laki itu menjadi rumah kedua bagi Lara hingga saat ini.            Ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan keduanya. Ia pernah mendengar bahwa tidak ada laki- laki dan perempuan yang bisa bersahabat. Salah satunya, pasti akan menyimpan perasaan. Ia tidak pernah melihat binar cinta dalam tatapan Lara pada Kamal. Gadis itu bahkan sering bercerita bahwa ia ingin Kamal menyukai perempuan sepenuh hatinya. Lara sering bilang bahwa ia tidak ingin Kamal terus menerus memprioritaskannya. Gadis itu sadar tak ada perempuan yang ingin diduakan oleh sahabatnya.            Namun, Dila selalu melihat binar cinta nan hangat saat melihat Kamal menatap Lara. Ia melihatnya di berbagai kesempatan saat keduanya terlibat obrolan atau sentuhan fisik yang tak seberapa. Orang awampun akan melihat hal itu dengan jelas. Gosip pernah beredar saat tahun pertama mereka kuliah. Orang membicarakan dan menganggap keduanya berpacaran karena terlihat begitu dekat. Namun Lara jelas menyangkal dan bilang bahwa mereka hanya sahabat dekat. Dan semua terbukti saat Kamal akhirnya berpacaran dengan gadis- gadis lain.            Namun ia tidak pernah benar- benat tahu perasaan Kamal pada Lara. Ia tak tahu apakah keputusaannya dekat dengan laki- laki itu benar atau tidak. Ia telah jatuh hati pada laki- laki itu sejak pertama kali mereka dikenalkan oleh Lara. Lara bilang bahwa laki- laki itu tertarik padanya. Namun ia tahu bahwa fokus laki- laki itu selalu terlempar ke arah Lara. Tak peduli sehangat, sebaik atau seperhatian apa laki- laki itu padanya, ia tahu hati dan perasaan laki- laki itu tak ada untuknya. ***            Ayra memasuki pelatran fakultas sastra dan langsung menatap Lara dan Bara yang ada di lapangan bola. Keduanya sedang memperebutkan bola basket dan berusaha memasukkannya ke dalam ring. Ia menghampiri Kamal yang duduk di tepi lapangan dengan ransel- ransel di sebelahnya.            “Tumben banget tuh anak berdua.” Kata Ayra saat ia duduk di sebelah Kamal. Kamal menoleh dan mengangguk.            "Tadi Bara lewat terus lihat kita di sini. Dia ngajak main basket. Yaudah dia mampir.” Kata Kamal. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan menyadari sudah hampir setengah jam keduanya bermain. Peluh sudah membanjiri wajah keduanya, juga kaos yang melekat di tubuhnya.            “Jadi ingat, dulu mereka pernah one on one di SMA. Anak- anak yang nontonin udah kayak nonton NBA.” Kata Ayra, mengingatkan Kamal saat Lara dan Bara mash menjadi musuh bebuyutan dan tak ada yang mau mengalah sama sekali.            Kamal mengangguk sambil tersenyum. Ia mengingat saat- saat itu. Masih segar dalam ingatannya saat Bara menggantung sepatu Lara yang sudah di cat warna- warni, juga menaruh cat berwarna merah di bangku gadis itu, tak cukup, laki- laki mengirimkan kotak penuh dengan cacing dan sederet peristiwa lainnya yang tidak akan pernah ia lupakan. Kini ia senang bahwa semuanya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lebih baik.            “Mereka pernah jadi musuh sedemikian rupa, gue bingung sekarang mereka bisa akur.” Kata Ayra. “Lo juga, kayaknya biasa aja gitu sama Bara. Padahal lo tahu dulu dia udah kayak gitu sama Lara.” Katanya lagi.            “Mau sampai kapan berantem terus? Lagian gue harusnya berterima kasih sama Bara, karena Bara salah satu yang bikin kalian berdua baikan.”            Ayra menoleh ke arah Kamal saat mendengar pernyataan itu.            “Maksudnya?” tanyanya dengan nada bingung. Dahinya berkerut dalam.            “Bara juga punya kakak tiri yang dia benci banget. Pokoknya situasinya sama situasi kalian hampir sama. Bara dan Lara ada di posisi yang sama. Yang benci banget sama saudaranya.”            Ayra menatap Kamal dengan fokus seakan tak ingin melewatkan satu kalimatpun yang keluar dari mulut laki- laki itu. “suatu saat dia tahu dan sadar kalau dia terlalu fokus sama kesakitan dirinya sendiri. Dia terlalu egois karena mikirin dirinya sendiri, dan dia akhirnya menyesal sama semua udah dia perbuat sama kakak tirinya.” Kamal bercerita.            “saat itu, dia bilang sama gue kalau dia mau bikin hubungan lo Lara balik kayak dulu. Dia bilang dia pengin lihat lo senyum setiap hari. Jadi pelan- pelan dia dekatin Lara dan bilang kalau Lara seharusnya jangan egois kalau nggak mau nyesal kayak dia.” Kata Kamal lagi. “pokoknya Bara banyak cerita hubungannya dengan kakak tirinya sama Lara, yang bikin Lara akhirnya sadar kalau posisi dia sama kayak posisi Bara. Bara banyak ngomong sama Lara tentang maaf, penyesalan, sakit hati, dan segala macam.”            Ayra masih terdiam. Ia kini melirik ke arah Bara yang masih asik di tengah lapangan. Laki- laki itu baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam ring.            “Mungkin saat Lara akhirnya mau dengerin semua isi hati lo, itu karena Bara juga. Lara bilang kalau omongan Bara bikin dia kepikiran berhari- hari.”            “Mungkin hal itu juga yang bikin Lara bisa maafin Bara, juga karena Bara udah nggak pernah nyari ribut lagi sama dia.” Kamal menutup ceritanya.            Ayra tak sadar sudah ada selapis bening di kedua matanya. Ia menatap Bara dan Lara di lapangan. Ia tidak pernah tahu hal itu. Ia tidak pernah tahu kalau dibalik membaiknya hubungannya dengan Lara, ada sosok Bara yang begitu berjasa. Ia tidak mengerti kenapa tidak ada yang memberitahunya.            Ayra berkedip dan merasakan air matanya jatuh. Ia menyekanya dengan punggung tangannya.            “Lo kenapa, Ay?” tanya Kamal.            “Kenapa lo nggak pernah bilang masalah ini?” Ayra menatap Kamal dengan mata berkaca- kaca. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya pada Bara. Setelah semua yang laki- laki itu lakukan, ia malah memperlakukan laki- laki itu dengan sangat buruk.            “Bara yang minta gue rahasiain ini.” kata Kamal akhirnya.            Ayra menarik napas panjang. Berusaha menahan tangisnya. Ia melihat Bara dan Lara menyudahi permainannya dan berjalan mendekatinya.            Lara mengambil tempat di depan Kamal, sedang Bara menjatuhkan diri tepat di depannya. Laki- laki itu menatapnya sekilas lalu mengambil botol air mineral di tasnya dan menyesapnya pelan.            Ayra menatap laki- laki di depannya. Peluh membanjiri wajah laki- laki itu, juga kaos abu- abunya. Ia bisa melihat bulir keringat mengalir di lehernya saat laki- laki mendongak untuk menyesap isi botolnya.            Bara, Kamal dan Lara mengobrol sedikit tentang basket. Mereka menyebutkan beberapa pemain basket yang sama sekali tak ia tahu. Ia menunduk dan memilin jari- jarinya. Merasa malu pada laki- laki di depannya. Laki- laki itu pasti berpikir bahwa ia adalah gadis tidak tahu diri. Tapi, kenapa laki- laki itu harus menyembunyikan fakta itu. Aku boleh janji sama kamu? Suatu saat, aku akan bikin kamu senyum lagi, bahkan mungkin setiap hari. Kalimat itu tiba- tiba muncul di otaknya. Ayra ingat Bara pernah mengatakan itu. Dulu, ia pikir itu hanya kata- kata tanpa makna. Kini ia tahu kalau laki- laki itu serius dengan ucapannya. Laki- laki itu menepatinya janjinya. Laki- laki itu membuat ia kini bisa tersenyum setiap hari setelah Lara memberikan maaf untuknya.            “Gue duluan, ya.” kata Bara. Ia mengambil tas di sampingnya dan menyampirkannya di punggungnya. Kemeja yang tadi melapisi kaos laki- laki itu disampirkan di sebelah tangannya.            “Lo nggak bareng Ayra?” Lara bertanya saat sadar bahwa laki- laki itu tak mengobrol dengan Ayra sejak tadi. Ia menatap Bara yang menggeleng lalu ke arah Ayra yang menunjukkan raut wajah sulit dibaca.            Kamal dan Lara saling melirik, lalu menatap Bara yang berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh.            “Lo sama Bara kenapa?” tanya Lara. Ia tahu ia sudah pernah menanyakan hal ini saat menydari bahwa Bara jarang terlihat di rumahnya ataupun di kampus untuk bertemu Ayra. Namun ia tidak menyangka bahwa hubungan keduanya akan seburuk itu.            Bara tak menyapa Ayra, tak menatapnya, tak berbicara padanya. Laki- laki itu tak acuh juga dingin. Keduanya terlihat seperti dua orang asing yang baru bertemu.            “Nggak apa- apa.” Kalimat itu keluar dari mulut Ayra dengan susah payah. “gue tunggu di mobil, ya.” kata gadis itu. Ia melihat Kamal mengeluarkan kunci mobilnya lalu menyerahkan padanya.            Ia berdiri dari duduknya dan pergi menuju parkiran.            “Ada yang aneh sama mereka berdua.” Kata Kamal. Ia melihat gadis di depannya mengangguk setuju.            “Gue pikir Bara udah nyerah sama Ayra. Tapi gue nggak nyangka kalau dia akan bersikap dingin gitu.” kata Lara.            “Dulu juga gitu, kan? Waktu akhirnya dia ngejauhin Ayra. Dia dekat sama kak Ciara terus sama Ayra kayak orang nggak kenal.” Kamal mengingat saat- saat itu.            “Lihat aja, nanti juga dekat lagi. Bara kan suka plin- plan.”            Kamal mengangguk. Ia melihat gadis di depannya. Sebelah tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut di dahi gadis itu yang sudah basah terkena keringat. Ia merapikannya hingga dahi gadis itu terlihat.            Kamal gagal lagi. Ia telah berusaha menjauh dari gadis itu. Berhari- hari ia banyak menghabiskan waktu dengan Dila. Berharap ia bisa seterusnya seperti itu dan menjauh dari Lara. Namun ia sadar bahwa ia tidak bisa. Sebagaimana Lara yang menjadikannya tempat ternyaman selain rumah, seperti itu pula sosok Lara baginya. Ia tidak bisa pergi dari gadis itu begitu saja. Semua sakit yang telah ia rasakan tak ada apa- apanya. Ia mungkin hanya bisa pergi saat gadis itu memintanya pergi.            “Mal, lo ada janji sama Dila malam ini nggak?” Lara bertanya. Ia mengambil permen dari salah satu saku ranselnya, membukanya dan memasukkan butiran berbahan dasar gula itu ke mulutnya.            “Nggak ada. Kenapa?” Kamal mengambil sebelah tangan Lara, memijat jari- jari gadis itu pelan.            “Nonton, yuk.” Ajak gadis itu dengan mata berbinar.            “Mau nonton apa? Jam berapa?” tanya Kamal. Ia berdiri dari duduknya dan menarik tangan Lara agar berdiri. Keduanya pergi meninggalkan lapangan.            “Nggak tahu, katanya lagi bagus- bagus filmnya. Nanti gue cek dulu, ya, di aplikasi.” Kata Lara.            Kamal mengangguk sambil tersenyum. Kamal melingkarkan sebelah tangannya pada bahu Lara lalu mengusap kepalanya pelan. Keduanya berjalan menuju mobil Kamal yang ada di parkiran.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN