CHAPTER DUAPULUH EMPAT

2580 Kata
       Bara dan Irawan sedang sarapan saat mendengar deru mobil berhenti di depan rumah. Bara menatap ayahnya. “Mahesa mulai nyicil barang- barangnya hari ini.” kata pria berkacamata itu. Bara tersenyum. Hangat tiba- tiba menjalari hatinya. Ia tahu hari ini akan tiba. Ia percaya tak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya.            Tak lama sosok Mahesa muncul di ruang makan. Laki- laki itu memakai kaos hitam dengan topi warna serupa.            “Pagi…” Mahesa menyapa dengan ramah. Ia mengambil tempat di depan Bara lalu membuka topinya dan menaruhnya di kursi sebelahnya.            “Ayo ikut sarapan.” Kata Irawan. Mahesa mengangguk lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur juga lauk yang ada di atas meja.            “Welcome home.” Kata Bara. Ia melihat Mahesa dan Irawan tersenyum. Laki- laki di depannya mengangguk.            “Senang bisa kembali ke rumah.” Kata Mahesa lalu memasukkan sendok penuh nasi ke mulutnya dan mengunyahnya pelan.            Mahesa serius dengan kata- katanya. Ia senang bisa kembali ke rumah. Ke tempat di mana ia menghabiskan masa kecil dan masa remajanya. Selain merindukan Ciara, ia juga kerap merindungkan rumahnya saat merantau di kota pendidikan. Tak peduli dulu ia membenci rumah itu karena sepi, dingin, dan terlalu banyak menyimpan lukanya. Pada akhirnya ia tetap merindukan tempat itu.            Ketiganya sarapan dengan suasana hangat. Mereka membicarakn banyak hal. Hal- hal yang mereka lewatkan, tentang Mahesa, Bara, ayahnya dan hal- hal lain yang dulu tak pernah bisa mereka bicarakan bersama.            “Papa duluan, ya.” kata Irawan setelah menghabiskan sarapannya. Ia menyesap air dalam gelasnya lalu melihat kedua anaknya mengangguk.            Bara melihat ayahnya berdiri dari duduknya. Ia mencium punggung telapak tangan pria itu, begitu juga dengan Mahesa dan menatap sosok Irawan hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.            Mahesa dan Bara menghabiskan isi piring masing- masing hingga kosong, lalu menyesap isi gelasnya hingga tersisa setengah.            “Lo mau ke kampus?” tanya Mahesa saat melihat laki- laki di depannya tengah sibuk mengecek isi tasnya.            Bara hanya mengangguk sebagai jawaban tercepat. Keduanya berdiri lalu keluar dari ruang makan.            “Lo nggak bawa barang banyak.” Kata Bara saat melihat satu koper ukuran besar dan tiga buah dus di ruang tamu.            “Memang barang- barang gue nggak banyak. Lagian kantor gue dekat, gue bisa kapan aja bolak balik kalau butuh sesuatu.” Kata Mahesa.            Bara mengangguk. Ia menepuk bahu kakak tirinya dan berpamitan.            Mahesa menatap punggung Bara hingga menghilang di balik pintu utama. Ia lalu menggeret kopernya ke dalam kamarnya yang ada di lantai satu, setelah itu kembali lagi untuk membawa dus- dusnya ke dalam kamarnya.            Ia mulai menata pakaian- pakaianya. Memindahkan dari dalam koper ke lemarinya. Ia menatap lemarinya yang masih penuh dengan baju- bajunya. Ia memang pergi darisana tanpa membawa baju satupun. Semuanya masih berada di tempatnya dan tersusun rapi. Saat luang, ia sepertinya harus memilah baju- bajunya lamanya di lemari itu.            Setelah selesai dengan baju- bajunya, ia kini membuka dus pertama dan mengeluarkan satu perangkat kameranya dan menatanya di lemari terbuka yang ada di samping meja belajarnya setelah membersihkannya. Ia menatanya dengan rapi lalu membuka dua dus lainnya.            Ia mengambil barang terakhir dan kotak terakhir. Satu album yang penuh oleh sosok Ciara. Ia menatap sampulnya yang berwarna merah. Ia menarik napas, merasa menjadi orang yang begitu menyedihkan. Ia telah pergi untuk memperjuangkan cintanya. Namun saat kembali, ia tetap kalah. Ia tahu bahwa ini sepenuhnya kesalahannya. Paling tidak, ia seharusnya memberikan kabar pada gadis itu, atau mungkin meminta gadis itu menunggu. Ia menyesal terlalu fokus pada apa yang ingin ia capai daripada ia pertahankan.            Mahesa menghabiskan seharian itu di kamarnya. Ia mengerjakan semua pekerjaannya di meja belajarnya. Ia berpikir untuk mengganti meja belajarnya dengan meja kerja yang lebih besar. Ia membutuhkan itu karena akan banyak melakukan pekerjaannya di sana.            Mahesa mengedit video pernikahan yang kemarin ia ambil. Dalam aplikasi itu, ia memotong bagian yang tidak perlu, memberikan sedikit efek juga musik dalam video itu. Pekerjaan yang bagi orang terlihat sederhana itu mampu menguras waktu berjam- jam. Namun Mahesa menyukainya. Ia menyukai menatap hasil jepretannya di layar laptop dan mengeditnya menjadi lebih bagus. Lebih senang lagi saat kliennya puas dengan hasil kerjanya.   ***            “Jadi, kakak udah ketemu sama Bara?” Lara bertanya pada Mahesa yang langusng mengangguk. Lara memang tadi mengirim pesan pada Mahesa, bertanya pada laki- laki itu apa ia ada di kantornya. Lara yang sedang berada di mall tak jauh dari kantor laki- laki itu berpikir untuk mampir jika laki-laki itu ada di kantornya.            Laki- laki itu bilang bahwa ia sedang ada di rumah. Namun laki- laki itu menyetujui ajakannya. Mahesa akhirnya menghampiri Lara yang baru saja selesai membeli buku di toko buku yang ada di mall itu.            Mereka kini berada di sebuah restoran sushi untuk mengisi perut mereka. Kebetulan Mahesa juga belum makan lagi setelah sarapan.            “Pantesan, Bara udah nggak pernah nanyain kakak lagi.” kata Lara. Ia mengambil sushi di atas piring dan memasukkannya ke dalam mulutnya.            “Memang dia pernah nanya sama kamu?” Mahesa melihat gadis di depannya mengangguk. Ia menunggu gadis itu menelan isi mulutnya lalu mendengar gadis itu berbicara.            Lara menceritakan semuanya. Mengenai foto yang dikirim Kamal kepada Ayra, dan Bara yang memerhatikan bahwa ada sosok Mahesa yang terlihat di sana.            Mahesa tersenyum mendengar cerita gadis di depannya. Ia seharusnya tahu bahwa sejak ia bertemu Lara, keberadaannya akan terbongkar. Ia seharusnya tetap menemui Ciara saat itu, tak peduli bagaimana keadaan gadis itu.            “Kakak… udah punya pacar?” Lara bertanya dengan ragu- ragu. Itu adalah pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan pada laki- laki itu sejak pertama mereka bertemu.            Garis bibir gadis itu terangkat saat melihat laki- laki itu menggeleng pelan.            “Kamu sendiri?” Mahesa balik bertanya dan melihat gadis itu menggeleng.            “Masa, sih, belum punya pacar?” kata Mahesa dengan nada tidak percaya.            “Beneran, Kak.” kata Lara sambil terkekeh pelan. “Ayra juga. Kamal doang yang jadi playboy, tapi udah insyaf, sih.”            “Wajar Kamal jadi playboy, ganteng dia, pasti banyak cewek yang ngejar- ngejar.” Kata Mahesa.            “Ya tapi nggak gitu juga, Kak.” ***            Mobil Mahesa memasuki parkiran rumah sakit. Tadi Bara menghubunginya dan memintanya menjemput ayahnya di rumah sakit. Bara memang awalnya berjanji akan menjemput ayahnya di rumah sakit, namun saat menyadari bahwa praktikumnya akan lebih lama dari yang ia perkirakan, ia meminta Mahesa menggantikannya. Supir yang pagi tadi mengantar Irawan sudah diminta pulang lebih dulu karena Bara sudah berjanji akan menjemput ayahnya.            Mahesa menoleh dan melihat seorang gadis duduk di depan minimarket. Gadis itu melipat keduanya tangannya di atas meja dan menjatuhkan kepalanya di lipatan tangannya.            Setelah berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersisa di sana, ia melangkah lebar- lebar menuju minimarket. Saat ia sampai di sana, gadis itu masih ada di tempatnya, masih dengan posisi kepala terjatuh di atas lipatan tangannya. Di atas meja ada satu cup minuman. Tas gadis itu tergeletak begitu saja di kursi kosong di sebelahnya.            Mahesa mengambil tempat di depan gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan ada ayahnya. Ia memberitahu ayahnya bahwa ia sudah ada di rumah sakit dan menunggunya di mini market dekat parkiran.            Ciara tertidur pulas. Ini adalah hari kelimanya di stase obyn. Stase besar yang sangat menguras tenaga dan otaknya. Ia sudah berjaga dari semalam, lalu lanjut hingga sore ini. Ia berjaga di ruang bersalin semalaman, membantu persalinan normal, ikut operasi casar dan hal- hal lain yang membuat dirinya sangat kekurangan tidur. Di stase ini, ia belajar tidur di sembarang tempat. Dan saat jamnya pulang, kantuknya tak bisa dibendung lagi.            Ia pergi ke minimarket untuk membeli kopi dan meski sudah menghabiskan satu cup, kantuknya tak juga hilang sehingga ia memutuskan untuk tidur sebentar di depan minimarket.            Kedua mata Ciara mengerjap dua kali. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan mengusap- usap matanya.            “Hai…” suara itu membuat mata Ciara terbelalak. Ia melihat senyum Mahesa menyapanya.            Mahesa terkekeh kecil saat melihat gadis itu kembali menaruh kepalanya di lengannya di atas meja. Sebelah tangan gadis itu merogoh tas dan mengeluarkan selembar tisu.            Ciara berdecak sambil mengelap bibirnya dan sudut matanya. Ia masih menyembunyikan wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa wajah itu yang akan dilihatnya pertama kali. Dirinya pasti terlihat sangat berantakan.            “Kamu kenapa bisa di sini?” Ciara bertanya setelah ia memastikan bahwa tak ada iler di sudut bibirnya ataupun kotoran di sudut matanya. Dengan kedua tangannya, ia mengencangkan kembali ikatan rambutnya yang kendur.            “Nggak apa- apa. Jagain tas kamu.” Kata Mahesa. Ia melirik tas gadis itu yang tergeletak di sampingnya. Ia tahu semua yang ada di ransel itu berharga bagi gadis itu.            “Eh,” Ciara mengambil tasnya dan menaruhnya di pangkuannya. “makasih.” Katanya lagi.            “Habis jaga malam?” tanya Mahesa. Ia melihat gadis di depannya mengangguk.            “Lagi di stase apa?”            “Obgyn.” Ciara menjawab. Ia menutup mulutnya saat menguap.            Mahesa menatap wajah Ciara yang kelelahan. Gadis itu sekali lagi menguap. Getar di ponselnya membuatnya merogoh saku celananya. Ia membaca pesan yang masuk. Ayahnya memintanya menunggu karena masih ada beberapa pasien yang harus ditanganinya, ia juga harus visit pasien setelah itu.            “Kamu di jemput?” tanya Mahesa.            “Nggak. Aku tidur sebentar karena udah nggak kuat ngantuk banget.” Kata Ciara. Ia baru saja membuka aplikasi untuk memesan transportasi online saat Mahesa menawarkan tumpangan.            “Kamu ke sini bukannya mau ketemu dokter Irawan?” tanya gadis itu.            “Iya, mau jemput papa. Tapi papa katanya masih ada pasien, lalu setelah itu masih harus visit pasien.” Kata Mahesa. Ia melihat gadis di depannya tampak berpikir, “aku masih punya waktu kalau cuma ngantar kamu doang.” Katanya lagi.              “Ayo, daripada nanti kamu ketiduran terus kenapa- napa.” Kata Mahesa. Ia sudah berdiri dan menunggu gadis itu memutuskan. Ia tersenyum saat melihat gadis itu mengangguk dan berdiri dari duduknya.            Ia memberi kabar pada Nugi bahwa ia pulang bersama Mahesa. Laki- laki itu membalas dan memintanya berhati- hati. Laki- laki itu jelas lebih tenang dibanding gadis itu diantar oleh Bara. Nugi memang tak bisa menjemputnya karena masih sibuk di kampusnya.            Ciara melesak di samping kemudi. Ia langsung menyandarkan punggungnya dan merasakan jok empuk mobil itu terasa memijit- mijit punggungnya.            Mahesa duduk di sebelahnya, memakai safety belt lalu menyalakan mesin mobilnya. Kendaraan roda empat itu keluar dari parkiran rumah sakit dan melanju di jalan raya, bergabung dengan kendaraan lainnya.            Ciara mengelurkan ponselnya dari dalam tas saat merasakan benda pipih itu bergetar. Ia melihat nama Bara ada di layarnya. Ibu jarinya menswipe layar untuk mengangkat panggilan itu.            “Iya…udah…nggak…” Ciara melirik Mahesa yang fokus pada kemudinya. “sama Mahesa…” saat ia mengatakan itu, Mahesa meliriknya sekilas. “iya… yaudah… lo masih di kampus?”            Mendengar kalimat terkhir, Mahesa yakin bahwa yang berada di ujung sambungan bukanlah Nugi.            “Siapa?” tanya Mahesa saat Ciara menutup panggilan itu.            “Bara…”            Mahesa diam dan tak bertanya lagi saat mendengar nama itu keluar dari mulut Ciara. Di tengah perjalanan, Mahesa menghentikan mobilnya di sebuah toko kue.            Ciara menatap bingung lalu menoleh ke arah Mahesa yang sedang melepas safety beltnya.            “Mampir bentar, ya.” kata laki- laki itu. “kamu tunggu di sini aja. Aku sebentar doang kok.” Katanya lagi.            Ciara mengangguk, ia melihat laki- laki itu keluar dari mobil dan pergi mendekati toko kue. Ia masih terus menatap hingga akhirnya punggung tegap itu berada di dalam toko kue dengan dinding kaca. Dari tempatnya, Ciara masih bisa melihat Mahesa tampak memilih- milih kue di depan etalase. Tak lama, laki- laki itu bergeser mendekati kasir. Ia melihat Mahesa merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya.            Suara denting ponsel mengalihkan perhatian Ciara. Ia yang tahu itu bukan berasal dari ponsel miliknya langsung menoleh ke asal suara. Ponsel Mahesa tergeletak diantara kursinya dan kursi laki- laki itu. Ponsel itu terhubung oleh kabel untuk mengisi baterai dari kotak pengisi daya.            Ia menatap ponsel Mahesa yang layarnya masih menyala. Di layar itu, ia bisa melihat pop up pesan yang masuk.            Lara: Kak, makasih, ya.            Ciara membaca pesan yang terlihat, lalu ke nama pengirim. Sosok seorang gadis manis yang dulu selalu bertengkar dengan Bara masuk ke dalam pikirannya.            Ia teringat informasi yang Bara beritahukan, bahwa gadis itu sebelumnya sudah tahu keberadaan Mahesa, namun tak mau memberitahunya.            Ciara kini berpikir, apakah ada hubungan spesial antara keduanya. Apa Lara punya alasan khusus tak ingin memberitahukan keberadaan Mahesa. Apa keduanya cukup dekat untuk bertukar pesan seperti itu. Dan apa yang Mahesa berikan sehingga gadis itu berterima kasih.            Suara pintu yang dibuka membuat semua pikiran- pikiran Ciara buyar. Ia melihat Mahesa melesak di sebelahnya. Ia mengembalikan posisi duduknya lebih santai saat Mahesa mulai menyalakan mesin mobil.            Sepanjang jalan menuju rumahnya, pikiran- pikiran mengenai Lara dan Mahesa terus memenuhi otaknya. Ia tidak bisa berhenti berpikir apakah ada hubungan antara keduanya. Ia masih terus sibuk berspekulasi mengenai pesan yang dikirim gadis itu.            Mahesa menghentikan mobilnya di depan rumah Ciara yang juga tak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu di sana.            “Aku mampir, boleh?” tanya Mahesa setelah Ciara mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya.            Ciara mengangguk, Mahesa tersenyum lalu keduanya keluar dari mobil. Mahesa mengambik kotak berisi kue yang ia taruh di kursi belakang dan mengekori Ciara masuk ke gerbang rumah itu.            “Assalamualaikum.” Ciara memberi salam sambil mengetuk pintu rumahnya pelan.            Tak lama suara Dewi menjawab salam terdengar, lalu terdengar kunci pintu diputar hingga akhirnya pintu di depannya terbuka.            Wajah Dewi muncul di balikya. Tatapan wanita paruh baya itu langsung tertuju pada Mahesa yang berdiri di belakang anak semata wayangnya. Ia menatap Mahesa yang tersenyum ke arahnya.            “Ya Allah… Mahesa…” kata Dewi dengan tatapan tak percaya.            Ciara menggeser tubuhnya dan membiarkan ibunya mendekati laki- laki itu.            Mahesa mencium punggung telapak tangan Dewi dan memeluk wanita paruh baya itu sekilas.            “Gimana kabarnya, Tan?” Mahesa bertanya.            “Tante yang harusnya tanya, gimana kabar kamu? Ciara kemarin bilang udah ketemu sama kamu. Tapi tante mikir, kok, kamu nggak mampir- mampir ke sini.” Kata wanita itu sambil mempersilakan Mahesa masuk dan duduk di ruang tamu.            Sementara Mahesa dan ibunya duduk di ruang tamu, Ciara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian, ia keluar dari kamarnya dengan sepotong kaos dan celana panjang. Rambut panjangnya ia gulung asal.            Saat ia kembali ke ruang tamu, ibunya dan Mahesa masih sibuk mengobrol. Kue yang dibeli laki- laki itu ada di atas meja.            “Ciara sibuk sekarang, biasanya Bara yang sering main ke sini. Ya lumayan buat teman tante ngobrol.” Kata Dewi saat Ciara duduk di sebelahnya.            Mahesa lagi- lagi tak heran mendengar nama Bara disebut. Menilik bagaimana kedekatan Ciara dan Bara, ia yakin laki- laki itu juga dekat dengan Dewi.            Setelah puas mengobrol. Mahesa pamit. Ia senang Dewi masih mengingatnya dan menyambutnya dengan hangat. Ia ingat saat ia banyak mengahabiskan waktu di rumah itu untuk belajar dengan Ciara. Dewi memperlakukannya dengan baik sekaan- akan Mahesa adalah anaknya sendiri.            “Makasih, ya.” kata Ciara sekali lagi saat ia mengantar laki- laki itu hingga gerbang rumahnya.            “Sama- sama. Aku boleh main ke sini lagi, kan, kapan- kapan?” kata Mahesa saat ia berdiri di depan Ciara, di depan gerbang rumah sederhana gadis itu.            “Boleh. Ibu pasti senang kamu sering main. Ibu masih sering kesepian. Bara udah beberapa hari nggak datang karena lagi sibuk katanya.”            “Nugi?”            Ciara terdiam dan tampak berpikir sebentar. “Nugi nggak terlalu suka ngobrol sama ibu. Ya kalau main paling ngobrol sama aku. Dia juga lagi sibuk mau tesis.”            Mahesa mengangguk. Ia menatap Ciara yang wajahnya terlihat segar sehabis mandi. Ia menatap wajah itu lamat- lamat. Wajah yang esok belum tentu bisa ia tatap sedekat ini.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN