CHAPTER DUA PULUH TIGA

2035 Kata
Lara baru saja menghentikan mobilnya di falkutas bahasa. Namun orang yang ada di dalam mobil itu tampak terdiam dan menatap fokus yang sama. Keduanya menatap Kamal yang baru saja menghentikan motornya tak jauh dari tempatnya. Dila ada di belakang laki- laki dan baru saja turun dari jok belakang.            Keduanya seperti terhipnotis, menatap Kamal dan Dila lekat- lekat. Mereka melihat Kamal tengah membantu Dila melepaskan kaitan helmnya. Setelah berhasil, Kamal mengulurkan sebelah tangannya untuk merapikan rambut sebahu Dila yang agak acak- acakan. Keduanya melihat Kamal dan Dila tersenyum dan tampak berbincang.            Ayra memejamkan matanya, ia menggeleng pelan. Berusaha mengusir perasaan aneh yang kerap menjalari hatinya saat melihat kemesraan Kamal dan gadis itu.            Lara masih menatap Kamal dan Dila lekat- lekat. Kenangan- kenangan yang telah ia lalui bersama Kamal masuk ke dalam pikirannya. Ia melihat dirinya dalam posisi Dila. Di mana Kamal selalu bersikap manis padanya dan segala yang laki- laki itu lakukan untuknya.            Ia menggeleng, ia tidak mungkin cemburu pada Dila. Ia yang mengenalkan mereka berdua. Ia yang berharap keduanya dekat dan menjalin hubungan. Ia yang selalu meminta Kamal memperlakukan Dila dengan baik. Ia yang menginginkan itu semua. Namun kenapa hatinya terasa tak rela.            “Lo nggak mau turun?” Ayra bertanya pada Lara yang masih fokus pada dua orang di depannya. Sama sepertinya, Lara tampak menatap keduanya lamat- lamat. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan saudara kembarnya. Apakah gadis itu masih senang saat Kamal dekat dengan Dila dan mulai menjauh dari keduanya.            Ayra membuka safety beltnya. Lara yang mengemudikan mobil sehingga ia harus bertukar posisi dengan gadis itu karena mereka mengantar Lara lebih dulu.            “Eh,” suara Ayra membenturkan Lara kembali ke kenyataan. Ia buru- buru membuka safety beltnya. Keduanya keluar dari mobil bersamaan dan langsung mendengar suara Dila melengking memanggil Lara sambil melambaikan tangan.            Lara tersenyum dan melihat gadis itu sepertinya berpamitan pada Kamal lalu berlari kecil mendekatinya.            “Ay, bareng gue aja ayo.” Kamal sedikit berteriak untuk menawarkan tumpangan pada Ayra yang langsung terdiam. Ia melirik Dila.            “Iya, bareng Kamal aja. Kata Kamal di fakultas managemen suka susah cari parkiran.” Kata Dila dengan senyum ramah. “yuk, Ra.” Dila mengajak Lara karena jam pertama mata kuliah akan dimulai lima belas menit lagi.            “Gue duluan.” Lara mengantongi kunci mobilnya dan melihat Ayra mengangguk lalu berjalan mendekati Kamal yang masih duduk di atas motornya.            “Lo udah sarapan belum?” tanya laki- laki itu saat Ayra sampai di depannya.            “Udah… lo?”            “Udah tadi sama Dila.” Kata laki- laki itu. Ayra naik ke belakang Kamal lalu mendengar Kamal menyalakan mesin motornya hingga akhirnya kendaraan roda dua itu berjalan meninggalkan fakultas sastra.            Karena mata kuliah pertama mereka baru akan di mulai dua jam lagi, keduanya memilih untuk pergi ke taman kampus terdekat yang selalu ramai. Mereka duduk di atas rumput hijau dan mengeluarkan komputer jinjing dari ransel masing- masing. Mereka akan memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas- tugas mereka yang belum selesai.            Taman itu tak hanya berisi mereka berdua. Beberapa orang lain bergerombol dan tersebar di beberapa titik di taman itu. Semua yang ada di sana terlihat sibuk dengan laptop dalam pangkuannya, sesekali mengobrol untuk mendiskusikan sesuatu. Beberapa pohon besar taman itu membuat taman tak terlalu panas meski matahari bersinar terik.            Setelah menyelesaikan tugasnya dalam bentuk PPT, Ayra mengangkat wajahnya dari layar laptopnya dan merenggangkan otot punggungnya yang terasa pegal.            “Lo udah selesai?” Kamal menengadahkan kepalanya dan bertanya. Ayra mengngguk pelan. Kamal melirik penunjuk waktu yang melingkar di lengan kirinya. Mereka masih punya waktu empat puluh lima menit lagi sebelum kelas di mulai.            Kamal kembali terfokus pada layar komputer jinjingnya sementara Ayra berdiri dari duduknya. Ia tersenyum melihat seekor kucing kecil yang berada di belakang Kamal. Ia mendekati binatang itu dan mengusap bulu halusnya.            Ayra duduk di belakang Kamal dan menyandarkan punggungnya pada punggung laki- laki itu. Ujung jari telunjuknya masih mengusap kucing kecil yang kini tampak anteng di sebelahnya.            “Mal, setelah kuliah lo mau ngapain?” Ayra bertanya.            Kamal menghentikan kegiatannya sebentar saat mendengar pertanyaan random sahabatnya.            “Ya kerja, lah.” Jawab laki- laki itu.            “Kita sampai kapan, ya, bisa begini?” Ayra bertanya lagi.            “Maksudnya?” Kamal mengeryitkan dahi karena bingung, meski tahu gadis yang sedang menyandarkan punggung di punggungnya itu tak bisa melihat kebingungannya.            “Ya sama- sama terus. Setelah lulus kita pasti sibuk kerja masing- masing, terus menikah.” Ayra merasakan bulu kuduknya meremang. Tak berani membayangkan hal yang menurut orang adalah hal biasa itu.            Ia tahu ia tidak bisa terus berharap laki- laki itu ada di sampingnya. Setelah kuliah, laki- laki itu akan sibuk dengan karirnya, menjalin hubungan serius dengan perempuan, lalu menikah. Itu adalah hal lumrah dalam perjalanan hidup manusia. Namun, ia tahu akan berat melepaskan laki- laki itu. Setelah semua hari yang mereka lewati bersama, ia akan tetap merasakan kehilangan.            “Wah, kayaknya nanti lo yang bakal nikah duluan, nih.” Kata Kamal dengan nada menggoda, ia menegakkan tubuhnya dan berbalik lalu melihat Ayra yang mengerucutkan bibirnya.            “Ya, nggak, lah. Playboy kayak lo pasti yang duluan.” Kata Ayra.            “Gue udah tobat, Ay.” Kata laki- laki itu. Setelah putus dari pacar terakhirnya dan sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa mencari pelarian pada gadis- gadis lain. Ia sudah memutuskan untuk berhenti. Ia tahu bahwa semuanya tak berguna dan tak akan ada yang berhasil. Ia sadar sudah membuat banyak luka pada gadis- gadis yang hanya ia jadikan pelarian. Ia tidak ingin melakukannya lagi.            “Setelah ketemu Dila?” tanya Ayra dengan nada pelan.            Ayra melihat laki- laki di depannya terdiam. Laki- laki itu tampak ragu sehingga tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. “lo serius sama Dila?” tanyanya lagi. Ia membutuhkan jawaban. Ia ingin tahu apa laki- laki itu benar serius pada Dila, meski tahu bahwa jawaban laki- laki itu mungkin akan terdengar menyakitkan di telinganya. Ia sudah tidak peduli oleh rasa sakitnya. Ia sudah merasakannya bertahun- tahun dan semakin terlatih menyembunyikan dan memendam semuanya. Saat tahu bahwa Kamal menyukai Lara, ia sadar bahwa sudah tak ada kesempatan untuk mendapatkan hati laki- laki itu.            “Nggak tahu, gue bingung sama perasaan gue sendiri.” ***            Bara berjalan menyusuri fakultas kedokteran dengan ransel di punggungnya. Ia melangkah menuju parkiran dan mendekati mobilnya. Setelah menaruh ranselnya di kursi sebelahnya, ia memakai safety belt lalu menyalakan mobilnya. Ia keluar dari pelataran fakultas kedokteran.            Ia memelankan laju kendaraan roda empatnya saat melihat Ayra berjalan pelan di depannya. Ia menatap gadis itu yang berjalan sambil fokus pada layar ponsel di tangannya. Selama beberapa saat, Bara menatap ransel yang menggantung di punggung gadis itu.            Dorongan untuk turun dan berjalan di samping gadis itu sambil merangkul bahunya begitu kuat. Ia mati- matian menahan dorongan tersebut. Ia sudah menyerah. Ia tidak ingin lagi mengemis pada gadis itu. Setelah semua yang ia lakukan dan balasan yang ia dapatkan, ia pikir ia sudah tak sanggup menanggung lebih banyak penolakan.            Ayra mengangkat wajahnya saat mendengar mobil menderu melewatinya. Ia menatap sedan hitam itu baik- baik. Matanya fokus menatap plat nomor yang menggantung di bagian belakang mobil. Ia kenal plat nomor itu. Mobil itu milik Bara. Dan mobil baru saja melewatinya begitu saja.            Ia yakin jika Bara melihatnya. Laki- laki itu pasti tahu bahwa yang berjalan adalah dirinya. Setelah pertemuan mereka di rumah sakit dan melihat laki- laki itu melewatinya tanpa melirik ataupun menyapanya, ia tahu bahwa laki- laki itu sudah menyerah. Setelah sekian lama, ia akhirnya bisa membuat laki- laki itu menyerah dan membiarkan hidupnya tenang. Namun saat melihat dengan kepalanya sendiri bahwa laki- laki itu tak mengacuhkannya, kenapa terasa menyakitkan. ***            Bara tersenyum melihat tiga orang wanita yang tampak berjalan di depannya menuju pintu rumah sakit. Ketiganya tampak mengobrol asik dengan ransel di punggung masing- masing. Ia mempercepat langkahnya hingga berada tepat di belakang gadis yang berada di tengah. Dengan sebelah tangannya, ia menarik ikat rambut milik Ciara hingga rambut panjangnya terlepas dan jatuh tergerai.            Ketiga orang itu langsung membalik badan. Ciara melotot padanya sambil memukul bahunya. “usil banget, sih.” Keluh Ciara sambil merebut kembali ikat ramburnya dari tangan Bara yang terkikik.            Kedua teman Ciara saling pandang. “Ra, kita duluan, ya.” kata salah satu dari mereka.            Ciara mengangguk lalu melihat kedua temannya berjalan lebih dulu sementara ia kembali mengikat rambut panjangnya.            “Lo ngapain, sih, ada di sini?” kata Ciara, “dulu di kampus ketemu lo, sekarang pas koas masa ketemu lo lagi.” kata Ciara setelah berhasil mengikat rambutnya. Ia berjalan pelan sementara Bara mengambil tempat di sebelahnya.            Bara terkekeh ringan. “Yah, Ra, jangan- jangan kita jodoh lagi.” kata Bara dengan nada menggoda.            “Ngawur.” Kata Ciara saat mereka baru saja melewati pintu transparan rumah sakit.            “Lho, kenapa? Kalau kita beneran jodoh gimana?” kata Bara sambil merangkul bahu gadis itu yang berdecak.            “Iya, sih, jodoh nggak ada yang tahu. Tapi ya masa sama lo, sih?” kata Ciara. Ia tahu laki- laki itu tak benar- benar serius dengan kata- katanya. Laki- laki itu hanya suka menggodanya. Laki- laki itu pernah bilang bahwa ia suka melihatnya yang menunjukkan raut wajah sebal. Wajah sebalnya tampak lucu bagi laki- laki itu.            “Ya memang gue kenapa? Gue calon dokter juga, lho.” Kata Bara. Tak bisa menyembukan nada geli dalam ucapannya.            “Ish…”            “Lo dijemput?” Bara bertanya saat mereka berjalan pelan menuju minimarket yang ada di samping rumah sakit, tepat di dekat parkiran. Ia melihat gadis itu mengangguk.            “Bareng gue aja. Gue juga udah mau pulang.” Kata Bara.            “Lo tuh sengaja mau bikin gue berantem sama Nugi, ya?” kata Ciara saat ia masuk ke lebih dulu ke minimarket dan langsung pergi menuju etalase minuman. Bara mengekorinya.            “Iya, kan dari awal gue memang nggak suka. Biarin aja lo berdua putus.” Kata Bara blak- blakan.            Ciara baru saja mengambil sebotol yoghurt dari dalam kulkas lalu berbalik mengatap Bara yang tampak tak menyesal mengatakan kata- kata itu.            “Lo tuh memang senang banget, ya, ngerusak kebahagiaan gue.” kata Ciara. Ia kembali berjalan menuju kasir. Bara buru- buru mengambil kopi dalam kemasan kaleng dan menyusul Ciara ke kasir yang sepi. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan menyerahkan kepada kasir untuk membayar minuman miliknya dan milik Ciara.            “Memang lo bahagia?” tanya Bara dengan nada emosional. Ia duduk di depan Ciara yang langsung terdiam. Gadis yang sedang berusaha membuka botol yogurt itu tiba- tiba terdiam. “Lo nggak bahagia, Ra. Lo nggak bisa bohong.” Kata Bara lagi. “lo nggak butuh Nugi. Lo cuma kasihan sama dia.” Bara melihat Ciara terdiam sambil menatap botol di tangannya.            Ciara tak berusaha mencari jawaban. Ia tahu ia tidak akan bisa berbohong pada laki- laki di depannya. Ia menelan ludah lalu menyesap isi botol di tangannya. Bara melakukan hal serupa.            “Lo belum jawab pertanyaan gue, lo ngapain di sini?” Ciara berusaha mengalihkan pembicaraan.            “Ada perlu.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut laki- laki di depannya.            “Perlu apa? Sama siapa?” tanya Ciara.            “Ada… deh…” kata Bara.            Ciara menatap Bara dengan tatapan menyelidik, “lo nggak lagi sakit, kan?” tanyanya.            “Nggak lah. Gue sehat gini.” Jawab Bara.            “Biasanya orang yang kelihatan sehat tapi sering ke rumah sakit itu karena punya panyakit dalam atau yang lainnya gitu.”            “Lo, tuh, mikirnya jelek banget.” Bara protes pada Ciara yang langsung menggumamkan maaf.            “Supir lo tuh.” Bara melempar pandangannya ke belakang Ciara. Di mana Nugi berjalan pelan mendekatinya.            Ciara menoleh dan melihat Nugi menghampirinya. Gadis itu berdiri saat Nugi sampai di mejanya.            “Gue duluan, Bar.” Kata Ciara.            “Hati- hati, cantik.” kata Bara sambil mengedipkan sebelah matanya. Ciara melotot pada laki- laki itu lalu melirik Nugi yang menatap Bara dengan tatapan tajam. “Yuk.” Ciara menarik tangan Nugi sebelum keduanya bertengkar.            Ia tahu bahwa selama ini Nugi sudah cukup sabar menghadapi tingkah Bara yang menjengkelkan dan menyulut emosinya. Ia tahu bahwa suatu saat laki- laki itu bisa meledak jika kesabarannya habis. Dan ia tahu bahwa Bara tak akan mundur. Laki- laki itu akan dengan senang hati meladeni Nugi. Itu mungkin adalah hal yang Bara tunggu- tunggu. Ciara jelas tak akan membiarkan itu terjadi.  TBC LalunKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN