CHAPTER DUA PULUH DUA

2230 Kata
            Sedetikpun… aku nggak bisa ngelupain kamu. Aku nggak mungkin bisa mencintai perempuan lain saat hanya ada kamu di hati dan pikiran aku. Kalimat itu terngiang- ngiang ditelinga Ciara, seperti dengan sengaja dibisikkan. Ciara tak pernah tahu bahwa Mahesa masih menjaga hatinya. Ia tidak pernah menyangka laki- laki itu bertahan pada perasaannya meski telah pergi selama empat tahun. Ia tidak menyanga laki- laki itu masih mengharapkannya meski laki- laki itu sudah bertemu dengan banyak perempuan yang pasti lebih baik darinya.             Sebelum menerima perasaan Nugi, Ciara pernah bertahan. Berharap dengan sepenuh hati hingga akhirnya menyerah. Saat itu, ia kerap bertanya- tanya, apakah Mahesa melupakannya, apakah laki- laki itu sudah menemukan gadis lain yang lebih baik darinya sehingga tak pernah muncul di hadapannya. Ia kerap menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Ia terkadang marah karena berpikir bahwa laki- laki itu tak akan pernah kembali sedangkan dia harus memendam rindu dan perasaan yang semakin hari semakin terasa menyesakkan d**a.             Ia tidak menyangka bahwa laki- laki itu juga terluka. Bahwa laki- laki itu mengalami hari- hari yang sama menyiksanya seperti dirinya. Ia tidak menyangka bahwa laki- laki itu menghilang demi memantaskan dirinya. Ia tidak pernah tahu bahwa perasaan laki- laki itu tak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu.             Ciara menangis dikeremangan kamarnya, di bawah selimut tebalnya. Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci dirinya karena menerima perasaan Nugi padahal ia tak memiliki perasaan yang sama besarnya seperti laki- laki itu. Ia benci karena ia masih mencintai Mahesa padahal laki- laki itu sudah meninggalkannya selama empat tahun. Ia benci pada hatinya yang tak bisa berbohong bahwa perasaannya pada Mahesa tetap ada meski sudah memutuskan untuk menerima perasaan Nugi. Ia membenci dirinya sendiri.   ***               Pagi- pagi sekali, Mahesa sudah ada di ruang kerjanya. Ia sedang mengecek peralatannya. Pagi ini, ia akan pergi ke salah satu gedung untuk mengabadikan proses pernikahan. Setelah memastikan semua peralatannya siap, ia menghampiri salah satu lemari yang ada di sana dan mengeluarkan jaket dengan nama studionya tercetak di bagian belakang dan memakainya untuk melapisi meja hitam bergarisnya.                Suara ketukan di pintunya membuatnya menoleh. Ia melihat wajah temannya, Tian, menyembul di baliknya. “udah siap?” tanya laki- laki itu.             Mahesa mengangguk. Ia membawa kameranya dan menyusul Tian yang sudah mulai menuruni tangga menuju lantai satu. Mahesa dan Tian pergi ke pelataran studio, menghampiri sedan putih milik Mahesa. Setelah menaruh barang- barang mereka di bagasi, keduanya masuk ke dalam mobil. Mahesa menyalakan mesin mobilnya setelah memakai safety beltnya lalu mengarahkan mobilnya ke tempat tujuannya.             Setelah melalui beberapa titik macet, sedan putih itu akhirnya memasuki pelataran gedung dengan janur kuning yang terpasang di dekat gerbang. Setelah memarkirkan mobilnya, Mahesa dan Tian menurunkan peralatannya dan memasuki area gedung yang akan dijadikan tempat akad sekaligus resepsi.             Aula itu sudah di dekorasi sedemikian rupa dengan paduan warna putih dan emas. Beberapa orang berseragam catering tampak sibuk hilir mudik menyiapkan alat- alat makan dan menu makanan. Seorang wanita berkebaya menghampiri kedunya dan menyambutnya.             Tian langsung bertanya di mana calon pengantinnya sementara Mahesa bergerak mendekati pelaminan.             “Gue ke ruang rias dulu.” Kata Tian pada Mahesa yang langsung mengangguk. Mahesa mulai mengeluarkan semua peralatannya, lalu menyeting kameranya, mencari lighting dan spot yang bagus agar potret yang ia abadikan sempurna.             Setelah selesai, ia mengitari sekeliling dan mengabadikannya dalam bentuk video. Pelaminan yang tampak megah dengan bunga- bunga hidup berwarna putih, lampu- lampu yang berpendar dan dekorasi aula yang mewah. Ia mengabadikannya hingga tak ada yang terlewat sementara Tian mengabadikan proses merias pengantin. File- file itu nanti akan disatukan dan di edit hingga menjadi video pernikahan yang akan menjadi kenang- kenangan terbaik bagi pengantin.             Selama perjalannya, Mahesa sudah memotret berpuluh- puluh pengantin dan calon pengantin. Bertemu dengan banyak pasangan yang saat bertemu dengannya. Tak semua calon pengantin menemuinya dengan raut wajah bahagia karena akan menikah. Beberapa di antaranya menikah karena dijodohkan dan tak cinta sama sekali. Mahesa pernah mendapatkan satu klien yang secara terang bercerita bahwa ia sama sekali tak mencinta calon suaminya.             Mahesa telah melihat banyak hal yang membuatnya mengerti bahwa jalan menuju pernikahan tak melulu dilandasi cinta.   ***               Ciara keluar sudah dalam keadaan rapi. Ia memakai blouse berwarna krem yang dipadukan dengan rok batik berwarna cokelat selutut. Rambut panjangnya diblow sehingga terlihat bervolume. Wajahnya yang biasanya dibiarkan polos kini dilapisi make up tipis.             “Kamu nanti langsung ke rumah sakit?” Dewi bertanya pada anaknya yang langsung menganguk. Gadis itu mendekati rak sepatunya di pojok ruangan dan mengambil sepatu hak berukuran tiga sentimeter. Ia juga mengambil sepatu ketsnya namun menaruhnya di dalam paper bag.             Setelah mencium punggung telapak tangan ibunya, ia pergi keluar dengan ransel yang menggantung di punggungnya. Ia menemukan Nugi yang sudah menunggu di beranda rumahnya. Laki- laki itu tampak rapi dengan kemeja batik dan celana bahannya.             Mereka berdua memang akan menghadari acara pernikahan salah satu sepupu Nugi. Hal yang awalnya membuatnya khawatir. Ia takut bertemu dengan keluarga besar laki- laki itu. Ia merasa belum siap. Sejak mereka pacaran, Nugi telah berkali- kali mengajaknya bertemu dengan keduanya orangtuanya karena ingin membuktikan bahwa ia serius. Namun Ciara selalu menolak. Ia tidak pernah ingin bertemu keluarga laki- laki itu saat tahu bahwa hatinya tak yakin.             Nugi telah membicarakan banyak hal mengenai keseriusannya. Laki- laki bilang bahwa ia bersedia menunggunya hingga koas atau bekerja satu atau dua tahun hingga akhirnya siap untuk menikah. Nugi telah berpikir sejauh itu, laki- laki itu sudah kerap bertanya padanya ingin menikah di mana, dengan dekorasi apa, dan segala hal mengenai pernikahan yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya.             Sejak awal, ia sudah bilang pada Nugi bahwa ia tidak akan menikah dalam waktu dekat. Ia merasa masih punya banyak mimpi yang ingin ia capai. Jika Tuhan memberikan jalan, ia bahkan ingin mengambil lagi pendidikan spesialis dan ia tidak ingin fokusnya teralihkan oleh segala hal tentang pernikahan yang selalu dibicarakan laki- laki itu.             Nugi selalu siap menunggu Ciara. Laki- laki itu selalu bilang bahwa ia siap menunggu selama apapun waktu yang dibutuhkan gadis itu. Sejak awal, Ciara tidak benar- benar menyukai laki- laki itu. Ia hanya berpikir bahwa ia nyaman ada di samping Nugi yang dekat dengannya sejak ia berada di tahun keduanya di fakultas kedokteran. Selain Bara, laki- laki itu menjadi teman terdekatnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk menerima perasaannya. Saat menerima laki- laki itu, Ciara berpikir bahwa ia tidak membutuhkan cinta. Namun saat Mahesa kembali, hatinya semakin berontak. Ia tidak bisa memungkiri bahwa meski Mahesa sudah pergi selama empat tahun tanpa sepatah katapun, ia masih menyukainya. Laki- laki itu masih menempati ruang hatinya yang paling dalam. Ia tidak bisa memungkiri itu.   ***               Mahesa dan Tian semakin sibuk saat gedung itu semakin ramai. Sepasang pengantin dan kedua orangtua masing- masing berdiri di atas pelaminan. Satu persatu para tamu undangan naik ke sana dan memberikan selamat pada pasangan pengantin yang tampak bahagia. Senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir keduanya. Mahesa dan Tian sibuk mengabadikan potret- potret pengantin dengan keluarga dan sahabat- sahabatnya.             Mahesa mengambil jeda sebentar. Ia melepaskan kamera dari tangannya dan membiarkan benda itu menggantung di lehernya. Ia mengambil botol air mineral dari dalam tasnya yang ia taruh di atas kursi tepat di sebelahnya. Ia menyesap isi botolnya perlahan. Setelah itu matanya memindai sekeliling. Ia menatap orang- orang yang tampak menikmati acara itu hingga akhirnya matanya menatap pada satu sosok yang baru saja memasuki gedung.             Gadis dengan blouse dan rok batik yang begitu cantik dengan riasan tipis di wajahnya. Gadis itu berjalan dengan mantap di sebelah seorang pria berkemeja batik. Sebelah tangan gadis itu dilingkarkan di lengan pria di sebelahnya.             Tak butuh waktu lama untuk Mahesa merasakan sesak di dadanya. Perasaan yang semakin menyiksanya setelah ia bertemu Ciara. Dulu, ia kerap merasakan sesak saat merindukan gadis itu. Ia pikir rasa itu akan hilang ia sudah menemuinya. Namun ia salah, sesak itu semakin menyelimutinya dan sepertinya tidak akan pernah meninggalkannya.             Kedua orang dalam pandangannya menghampiri seorang wanita dan pria paruh baya yang sudah ia lihat sejak pagi. Mahesa mengira bahwa calon pengantin adalah kerabat Nugi. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Ciara mencium tangan keduanya orang itu dan tampak berkenalan. Mereka orangtua Nugi, Mahesa menebak.             Kedua orangtua Nugi tampak menyambut Ciara dengan hangat. Ia melihat gadis itu tersenyum sumir. Nugi yang terlihat lebih banyak memonopoli percakapan. Mahesa masih menatap keduanya saat tiba- tiba tatapan keduanya bersirobok. Ia bisa melihat keterkejutan dalam tatapan gadis itu. Namun yang tidak ia sangka, gadis itu mengulas senyum padanya. Mahesa membalasnya. Keduanya tersenyum seakan senang bisa melihat satu sama lain.             Ciara yang pertama kali memutus kontak. Mahesa melihat Nugi menggangdeng gadis itu menuju pelaminan. Mahesa kembali mengangkat kameranya dan mengabadikan potret gadis itu dari samping.             Mahesa melihat Ciara dan Nugi bersalaman dengan pengantin yang ada di pelaminan. Mereka tampak berbicara sebentar hingga akhirnya berdiri sejajar untuk diabadikan potretnya. Karena Tian masih stand by untuk memotret, Mahesa menggunakan kameranya untuk fokus memotret Ciara. Ia tidak akan menyia- nyiakan kesempatan yang ia punya. Ciara tak setiap hari berdandan dan ia berjanji akan mencetak potret gadis itu setelah mengedit dengan menghilangkan semua orang yang ada di sebelahnya.             Matanya masih mengikuti Ciara yang turun dari pelaminan dan pergi menuju stand makanan. Mahesa kembali pada pekerjaannya.             Ciara duduk di kursi yang sediakan dengan piring di tangannya. Nugi duduk di sebelahnya. Keduanya makan dalam diam. Ciara berkali- kali melirik ke arah Mahesa yang berdiri membelakanginya tak jauh dari tempatnya.             Ia menatap punggung berbalut jaket hitam itu baik- baik. Tangan laki- laki itu tampak lihai memegang kamera. Ia tidak menyangka bahwa laki- laki itu akan memilih jalan sebagai fotografer.             Empat tahun yang lalu, laki- laki itu tak pernah berpikir untuk menjadi apa. Laki- laki bahkan bilang bahwa tak ingin kuliah. Saat itu ia tampak seperti orang yang tak punya masa depan, padahal ayahnya adalah seorang dokter. Namun saat itu, ia tidak pernah memandang laki- laki itu sebelah mata. Ia selalu berpikir bahwa tidak ada yang pernah tahu masa depan seseorang. Tak peduli laki- laki itu begitu putus asa dan kebingungan, ia merasa laki- laki itu tetap bisa sukses dengan caranya sendiri. Kini, laki- laki itu membuktikannya.             Masih dengan sebelah tangan yang membawa sendok berisi isi piring ke mulutnya, matanya masih sesekali menatap sosok itu. Nugi berbicara dan ia menanggapi sekedarnya. Ciara melihat salah satu teman Mahesa pergi dari tempatnya berdiri lalu mendekat ke meja prasmanan untuk makan. Mahesa kini mengambil alih. Laki- laki fokus memotret, sesekali ia mengarahkan gaya pada orang- orang yang ada di atas pelaminan.   ***               “Ra, aku tinggal sebentar, ya.” Kata Nugi pada Ciara yang langsung mengangguk. Ia melihat laki- laki di sebelahnya berdiri dari duduknya lalu pergi menghampiri seseorang laki- laki yang berada di dekat pelaminan. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali ke arah Nugi yang ternyata sedang menatap ke arahnya, juga laki- laki yang ia hampiri. Laki- laki itu mengulas senyum tipis padanya, Ciara membalasnya.             Ia menoleh ke sebelah saat menyadari seseorang menduduki kursi yang sebelumnya ditempati Nugi. Mahesa tersenyum padanya dengan sebelah tangan yang memegang piring. Ia menatap ke depan dan melihat rekan laki- laki itu yang kini menggantikannya.             “Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini.” Kata laki- laki.             “Pengantin perempuannya sepupu Nugi.” Ciara memberitahu. Ia melihat Mahesa mengangguk sambil menyuapkan sendok berisi penuh nasi ke mulutnya dan mengunyahnya pelan.             “Kamu libur?” Mahesa kembali bertanya setelah berhasil menelan isi mulutnya.             “Nggak, habis ini juga langsung ke rumah sakit.” Ciara menjawab.             Ciara melirik Mahesa lalu mengikuti arah pandang laki- laki itu. Tatapannya jatuh pada Nugi yang masih berbicang dengan kerabatnya. Cara menelan ludah, kini laki- laki akhirnya melihat Nugi. Ia tidak tahu apa yang laki- laki itu pikirkan tentang Nugi. Ia hanya bingung karena tiba- tiba merasa gelisah.             “Calon dokter dan calon magister hukum. Kalian pasangan yang luar biasa.” Kata Mahesa. Ciara menatap Mahesa yang terseyum getir. Ia tidak tahu apa maksud kalimat laki- laki itu, namun juga tak ingin bertanya.             Mahesa merasakan nyeri di hatinya saat ia mengatakan hal itu. Ia tidak bisa membohongi diri bahwa laki- laki itu jauh di atasnya. Laki- laki itu berpendidikan lebih tinggi dan pasti lebih pintar. Laki- laki juga pasti terlahir dari keluarga baik- baik. Ia tidak mau memungkiri bahwa Ciara pantas mendapatkan sosok laki- laki itu seperti itu. Ciara berhak mendapatkan yang lebih dari dirinya.             Seketika Mahesa merasa bahwa dirinya tidak ada apa- apanya dibanding Nugi. Meski menghilang selama empat tahun demi memantaskan diri, ia masih kalah jauh dari laki- laki itu. Mungkin dirinya memang tak ditakdirkan menjadi seorang pemenang.             “Makan yang banyak. Kamu kurusan.” Kata Ciara. Mencoba memecah keheningan yang terasa menyiksanya.             Mahesa tersenyum, “makan banyaknya nggak dikawinan orang juga, kali.” Kata laki- laki itu. Kecanggungan itu akhirnya pecah. Keduanya mulai sadar bahwa keduanya tetap bisa berteman seperti dulu.             “Ra…” ditengah obrolannya dengan Mahesa, Ciara menoleh dan melihat Nugi sudah duduk di kursi kosong di sebelahnya. Ciara melihat Nugi yang tampak melirik ke arah Mahesa.             Gadis itu akhirnya memperkenalkan keduanya. Ia bilang pada Nugi bahwa Mahesa adalah sabahat dekatnya saat sekolah menangah atas. Kedua laki- laki itu berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.             “Wah kebetulan, kita kalau butuh fotografer bisa sama dia dong, ya.” kata Nugi. Ciara melirik Mahesa yang terdiam. Laki- laki itu baru saja menyelesaikan makannya.             “Memang udah mau tunangan atau nikah?” Mahesa  mengeluarkan pertanyaanya itu dengan susah payah. Ia menatap Ciara yang terlihat kebingungan.             “Nggak sih, masih nunggu Ciara nyelesein pendidikannya dulu.” kata Nugi.             Ciara tersenyum canggung lalu melihat Mahesa pamit lalu berdiri menjauhinya. Laki- laki itu kembali ke pekerjaannya.          TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN