CHAPTER DUA PULUH SATU

1586 Kata
            Mahesa melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Ia berpikir sebentar hingga akhirnya memutuskan untuk berdiri dari duduknya. Ia memang sudah sekitar satu jam lebih menunggu di ruangan ayahnya di rumah sakit. Ia sudah membuat janji dengan ayahnya untuk makan malam bersama. Namun saat ia datang, suster bilang bahwa ayahnya sedang ada operasi dadakan dan setelah ditunggu cukup lama, ayahnya belum juga selesai. Seorang suster baru saja mendatanginya di ruangan dan memberitahu bahwa operasi ayahnya kemungkinan akan membutuhkan waktu lebih lama sehingga ayahnya memintanya untuk membatalkan janjinya.             Ia keluar dari ruangan ayahnya dan menyusuri lorong rumah sakit. Langkah kaki membawanya mendekati lift. Sebelah tangannya menekan ikon ke bawah saat sampai. Ia menunggu hingga pintu besi di depannya terbuka. Tak lama suara denting terdengar, lalu disusul oleh pintu lift yang terbuka.             Ia masuk lalu menekan tombol lantai dasar. Pintu tertutup. Ia menjadi satu- satunya penghuni lift. Lift merangkak turun. Ia melihat deretan angka di dinding lift hingga akhirnya lift berhenti di lantai tiga. Pintu di depannya terbuka, menunjukkan siapa yang akan naik di lantai itu.             Mahesa terdiam saat melihat Ciara berdiri di depan lift. Gadis itu memakai kaos yang dilapisi jaket cokelat. Ransel menggantung di punggungnya. Gadis itu sepertinya baru selesai bertugas.             Ciara tak kalah kaget melihat Mahesa ada di dalam lift. Ia menelan ludah. Daan saat laki- laki itu berkata, “hai…” ia masuk ke dalam lift dan tersenyum.             “Abis ketemu dokter Irawan?” Ciara bertanya saat ia berdiri di samping laki- laki itu. Ciara tahu bahwa tak mudah untuk menerima kehadiran laki- laki itu kembali. Namun bersikap seolah- olah mereka orang baru juga bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Ia sadar sedekat apa mereka berdua sebelum laki- laki itu pergi. Mahesa cukup tahu diri saat tahu ia sudah memiliki kekasih, seharusnya Ciara paling tidak bisa berteman dengan laki- laki itu.             “Iya…” jawab Mahesa, “kamu udah mau pulang?” tanyanya. Ia melihat gadis di sebelahnya mengangguk.             “Di jemput pacar? Atau Bara?” tanya Mahesa lagi. Sekali lagi, Mahesa melihat gadis di sebelahnya menggeleng.             “Aku antar, ya.” tawar Mahesa.             Keduanya keluar dari lift yang pintunya sudah membuka di lantai satu. Ciara menoleh ke arah Mahesa yang tampak tulus.             “Kamu udah mau pulang juga?” tanya gadis itu.             Mahesa mengangguk, “tadinya aku mau makan malam sama papa, tapi papa ada operasi dadakan dan belum tahu selesai jam berapa.” Kata Mahesa.             “Oh, iya sih, tadi dengar katanya ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini.” Kata Ciara. Mahesa mengangguk, mungkin papanya menangani salah satu korban kecelakan yang dimaksud gadis itu.             Keduanya melewati pintu rumah sakit dan berbelok menuju parkiran. Mahesa menghampiri sedan putihnya dan berjalan lebih dulu untuk membuka pintu penumpang dan mempersilakan gadis itu masuk.             Setelah Ciara masuk ke mobilnya, ia menutup pintu lalu memutar dan melesak di belakang kemudi.             “Kamu udah makan?” Mahesa bertanya saat ia memakai safety beltnya.             “Belum, sih.” Ciara menjawab.             “Mau makan dulu, nggak? Aku udah lapar banget daritadi nungguin papa.” Kata laki- laki itu. Mahesa tak berbohong, ia memang terakhir kali mengisi perutanya jam satu siang. Ia tidak makan lagi karena berpikir akan makan malam bersama ayahnya.             Mahesa menyalakan mesin mobil, lalu menekan pedal gas saat mendengar gadis itu berkata, “boleh, deh.” Mahesa tersenyum lalu mengeluarkan mobilnya ke jalan raya. Berkumpul dengan pengendara lain.             “Mau makan apa?” Mahesa bertanya saat ia menghentikan mobilnya di perempatan lampu merah. Mahesa menoleh ke arah Ciara yang tampak berpikir, lalu gadis itu mengangkat bahu.             Tatapan keduanya bertemu saat Ciara menoleh ke arahnya. Mahesa tersenyum lalu kembali menjalankam mobilnya saat mendengar suara klakson.             Mahesa membawa Ciara ke sebuah restoran yang menjual menu chineese food tak jauh dari komplek perumahan gadis itu. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, keduanya membuka safety belt dan keluar dari mobil.             Keduanya berjalan beriringan menuju restoran yang malam itu tak begitu ramai. Ciara ingat pernah makan di tempat ini bersama laki- laki itu. Saat dirinya dan Mahesa berada di kelas tiga sekolah menangah atas. Saat dirinya dekat dengan laki- laki itu.             Ciara mengekori Mahesa memilih meja kosong hingga akhirnya memilik di pojok dekat dinding. Setelah duduk berhadapan, pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan dua buah buku menu.             Setelah menjatuhkan pilihan pada salah satu menu makanan dan minuman dari buku itu, pelayan meninggalkan meja keduanya.             “Kamu udah nggak ngajar les lagi?” Mahesa bertanya untuk memecah keheningan. Ia sebenarnya sudah tahu gadis itu sudah tak mengajar lagi sejak lepas SMA, tapi ia tak tahu alasannya. “kuliah aja udah sibuk banget, ya.” katanya lagi.             “Aku dipecat.” Kata Ciara sambil tersenyum. Ia melihat Mahesa menunjukkan raut wajah tak percaya. Ia sendiri kadang masih tak percaya jika mengingat hal itu.             “Kok bisa?” tanya Mahesa dengan nada penasaran.             Ciara akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya waktu itu. Ia juga menceritakan pada Mahesa bahwa Bara sempat bertemu dengan ayahnya, dan kebetulan adik tiri laki- laki itu adalah satu murid di tempatnya mengajar. Ia menceritakan semua yang terjadi, mulai dari ayah Bara yang meminta laki- laki itu untuk tinggal bersama, namun keesokan harinya istri pria itu yang datang dan meminta Bara menjauhi keluarganya. Ciara menceritakan dengan detail hingga tak ada yang terlewat sedikitpun. Entah kenapa, kenangan pahit bagi Bara masih tersimpan rapi di otaknya.             “Jadi ya gitu, besoknya ibunya Clara lapor ke ketua yayasan dan aku dipecat, deh.” Kata Ciara dengan senyum. Padahal ia ingat saat tahu bahwa dirinya diberhentikan, ia menangis, ia menangis di samping Bara karena sebenarnya ia menyayangi pada pekerjaannya.             “Terus akhirnya Bara minta gue jadi tutornya selama beberapa bulan.” Kata Ciara, “dia bilang ayahnya nggak akan keberatan ngeluarin uang buat dia belajar meskipun dia udah pintar.” Kata Ciara sambil tertawa kecil, tepat saat dua cangkir berisi lemon tea disajikan di atas meja.             “Tapi, ya, pas mulai kuliah, ibu minta gue untuk fokus kuliah aja.”             “Wah… banyak banget hal yang aku lewatkan.” Kata Mahesa. Ia masih tak percaya bahwa adik tirinya mengalami hal itu. Melihat bagaimana Ciara bercerita dan mendengarkan dengan seksama semua yang keluar dari mulutnya, Mahesa kini bisa menakar kedekatan keduanya.             Bara menggantikan posisinya. Kedekatan Bara dengan Ciara kini bahkan melebihi kedekatannya dengan Ciara empat tahun lalu. Keduanya telah melewati banyak waktu bersama selepas kepergiannya.             Saat kedekatannya dengan Ciara menumbuhkan bibit cinta di hatinya, ia lantas berpikir, apakah Bara juga punya sedikit saja perasaan pada gadis itu.             Tapi Bara bukan tipe laki- laki yang akan menahan- nahan perasaannya. Seperti pada Ayra, laki- laki itu akan langsung bilang jika dia menyukai Ciara. Laki- laki itu jelas tak akan pernah memendam perasaannya.             Pelayan kembali menghampiri meja keduanya dan menyajikan pesanan mereka di atas meja. Mereka berdua sibuk dengan isi piringnya, sambil sesekali mengobrol dan mengenai masa putih abu- abu mereka. Keduanya tersenyum saat mengenang banyak hal yang terjadi di sekolah itu.             Tak banyak yang bisa Ciara ingat dari masa putih birunya. Ia hanya terus belajar untuk mendapatkan peringkat, semuanya sama sekali tak terasa membosankan baginya, baginya hidup ya memang seperti itu. Itu terus berlanjut sampai ia berada di sekolah menengah atas. Namun di tahun terakhir, Mahesa mewarnai masa putih abu- abunya. Karena laki- laki itu, ada banyak hal yang bisa Ciara kenang di sekolah itu.             Setelah menyelesaikan makannya, keduanya sempat berdebat karena Mahesa memilih untuk membayar semuanya sedangkan Ciara bersikeras ingin membayar jumlah makananya sendiri.             “Aku yang ajak kamu makan. Jadi biar aku yang bayar.” Kata Mahesa. Ia melihat Ciara menggeleng keras di depannya.             “Ayo split bill.” Ciara tak mau kalah.             Mahesa menghela napas kasar. “Oke, kali ini biar aku yang bayar. Lain kali baru kamu.” Laki- laki itu memberi solusi. Ciara akhirnya mengiyakan dan membiarkan laki- laki itu pergi ke kasir untuk menyelesaikan pembayarannya.             Saat Mahesa kembali ke meja, ia melihat Ciara sedang terhubungan dengan seseorang melalui telepon. Mahesa tak terlalu memerhatikan apa yang Ciara bicarakan dengan seseorang di ujung sambungan. Ia hanya mengekori gadis itu keluar dari restoran.             “Pacar kamu?” Mahesa bertanya saat gadis itu menutup panggilannya. Ia merasa tak enak jika itu benar Nugi. Sekeras apapun ia menyukai gadis itu, ia tidak ingin membuat gadis itu dalam masalah.             “Bukan. Bara.” Kata Ciara sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaketnya.             “Bara?” Mahesa mengulang kata terakhir gadis itu.             Ciara mengangguk. “biasa… nanyain udah pulang atau belum, udah makan atau belum.”             “Kayaknya Bara lebih perhatian dari pada pacar kamu.” Kata Mahesa. Ciara terkekeh pelan.             Sedan putih milik Mahesa berhenti di depan rumah Cira. Jarak dari restoran untuk sampai ke rumah gadis itu hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit. Mahesa mematikan mesin dan melirik gadis di sebelahnya yang sedang melepas safety beltnya.             “Makasih, ya.” kata Ciara sambil menatap Mahesa yang mengangguk pelan.             “Ibu kamu… kira- kira masih ingat sama aku nggak, ya?” tanya Mahesa tiba- tiba. Ia tidak akan melupakan wajah Dewi, wanita dengan tatapan dan wajah meneduhkan. Mahesa pernah benar- benar dekat dengan wanita itu sehingga menganggapnya sebagai ibu sendiri.             “Masih, lah. Mau ketemu?” Ciara menawarkan.             Mahesa melirik jam di tangannya. Sudah hampir jam sepuluh malam. “Kapan- kapan aja, deh. Nggak enak udah malam.” Katanya.             Ciara mengangguk, ia terdiam sebentar lalu berkata “Kamu… belum punya pacar?” Ciara bertanya dengan nada ragu. Saat melemparkan pertanyaan itu, sebelah tangannya sudah bersiap membuka pintu mobilnya.             Mahesa menggeleng sambil tersenyum, “sedetikpun… aku nggak bisa ngelupain kamu. Aku nggak mungkin bisa mencintai perempuan lain saat hanya ada kamu di hati dan pikiran aku.” TBC LalunaKia  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN