CHAPTER DUA PULUH

2210 Kata
“Jadi, lo bakal balik ke rumah?” tanya Iras saat ia masuk ke ruang kerja Mahesa. Di ruangan itu sudah ada beberapa kardus yang berisi beberapa barang yang akan laki- laki itu bawa ke rumah. Iras menghampiri meja Mahesa dan menaruh satu cup es kopi yang baru saja ia beli di depan studio. Ia menyesap miliknya dan duduk di depan Mahesa yang sedang sibuk mengedit video di laptopnya. Ia melihat Mahesa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. “Gimana psikotesnya?” Mahesa bertanya pada Iras. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap Iras yang mengangkat bahu. Iras memang baru saja mengikuti psikotes di salah satu perusahaan kontraktor. “Kenapa gitu?” tanya Mahesa saat melihat raut wajah Iras yang tampak pasrah. “Lo tahu nggak sih, tadi gue ketemu siapa di sana?” Iras melihat Mahesa yang menatapnya dengan tatapan bingung. “Diana… gue ketemu dia lagi di sana. Dia juga ikut psikotes di sana.” kata laki-laki itu dengan nada sebal. Mahesa tertawa, ia melihat wajah jengkel Iras yang tidak bisa disembunyikan. “Beneran jodoh lo sama dia.” Goda Mahesa, masih terkekeh pelan. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa keduanya jika bekerja di perusahaan yang sama dan bagian yang sama. “Ish… amit- amit.” Kata Iras. “Ya habis gimana, Ras. Lo satu kampus, satu jurusan, ya paling perusahaan yang lo incar ya pasti Diana incar juga. Nggak heran sih gue kalau kalian bakal katemu apalagi nanti masuk di kantor yang sama.” “Ya tapi yang benar aja… dari sekian banyak perusahaan kontraktor di Jakarta, kenapa harus ke perusahaan yang sama sih.” Keluh Iras. Mahesa tersenyum geli lalu mengambil cup di atas meja dan menyesapnya melalui sedotan yang mencuat dari dalam. “Ya jangan salahin Diana juga. Kalau lo berdua sama- sama lulus ya lo mundur aja kalau nggak mau satu kantor.” “Ya nggak bisa gitu, lah.” Kata Iras, “masa gue mau ngorbanin karir gue demi dia.” “Yaudah, lo udah harus siap- siap kalau ternyata nanti lo berdua di terima di sana.” “Mudah- mudahan Diana nggak lulus tes.” Kata Iras. “Dih, jahat banget.” *** Kamal bersandar di pembatas koridor di depan kelas fakultas bahasa. Pintu ruangan di depannya masih tertutup rapat. Seorang dosen perempuan masih fokus menyelesaikan materi. Beberapa ruangan di sekitarnya sudah terbuka pintunya dan mengahamburkan isi kelas sejak lima belas menit yang lalu. Kini orang- orang berlalu lalang di koridor menuju tangga. Ia melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Dila bilang jam terakhir kelasnya jam tiga sore, namun sudah lewat jam itu, dosen di depan kelas belum ada tanda- tanda ingin mengakhiri mata kuliahnya. Ia merogoh saku celananya saat merasakan getar yang berasal dari gawainya. Ia membuka pesan yang masuk. Dila: Mal, sorry, ya, ini Bu Aryani lagi nanggung. Kamal mengetuk- ngetuk layar ponselnya untuk membalas. Kamal: Nggak apa- apa. Menutup menu chat, ia menekan ikon i********: dan berselancar di dunia maya. Ia menscroll layar untuk melihat postingan- postingan di berandanya. Setelah berselancar hingga jauh, ia menekan ikon profil untuk membuka profilnya. Tiga foto pertama yang ia lihat adalah dua foto ia bersama Lara di puncak gunung, lalu foto sunrise yang indah. Ia menscroll ke bawah dan menemukan lebih banyak fotonya berdua dengan Lara. Tak heran, ia telah menghabiskan banyak waktu bersama gadis itu. Di balik potret itu, masih banyak kebersamaan mereka yang tak terekam. Ia menatap potret Lara dalam unggahannya. Senyum gadis itu, atau wajah cemberutnya. Ia menyukai semua yang ada pada gadis itu, entah sejak kapan. Suara pintu yang terbuka membuatnya melepaskan fokusnya pada gawai di tangannya. Ia melihat seorang dosen wanita berkaca mata keluar dari ruangan dengan tumpukan buku di tangannya. Ia mengulas senyum dan sedikit menunduk saat dosen itu melewatinya. Beberapa mahasiswa mulai terlihat keluar dari kelas dengan tas di punggung mereka. “Kamal…” Kamal menatap Lara dan berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang. “lo ke mana aja, baru kelihatan.” Kata Lara saat gadis itu bediri di depannya. “Tadi pas berangkat, gue jemput Dila.” Kata Kamal. “nggak apa- apa, kan, lo bawa mobil sendiri?” tanya Kamal. Ia ingin melihat reaksi gadis itu. Beberapa hari ini, ia telah mengurangi pertemuan dan intensitas komunikasi dengan Lara. Ia ingin tahu apa gadis itu merasakan sedikit saja kehilangan sosoknya. “Nggak apa- apa, lah.” Kata gadis itu. Hati Kamal mencelos melihat gadis itu mengatakannya seolah- olah gadis itu tak keberatan jika Kamal meninggalkannya. Ia tidak pernah tahu bahwa dirinya sebegitu tak ada artinya bagi gadis itu. Setelah semua putaran waktu yang mereka lalui bersama, gadis itu sepertinya akan dengan mudah melupakannya. “Kantin, yuk, lapar, nih.” Kata Lara, ia sudah melingkarkan tangannya di lengan Kamal saat laki- laki itu berkata, “Gue ada janji nonton sama Dila.” Tepat saat ia mengatakan itu, ia melihat Dila keluar dari ruangan dan tersenyum padanya. “Oh,” Lara menarik lengannya dan menoleh pada Dila yang sudah berdiri di sampingnya. “Nonton apa?” Lara bertanya. “Belum tahu, sih.” Kamal menjawab, “lagi banyak yang seru.” Katanya lagi. “Ikut, yuk, Ra.” Ajak Dila. “Nggak, ah, gue mau langsung pulang aja.” Kata Lara. “Ikut aja, sih.” Dila sedikit memaksa. Ia melihata Lara menggeleng. Lara tak ingin menganggu proses pendekatan Kamal dan Dila. Ia ingin Kamal serius dengan Dila. Ia tidak ingin melihat laki- laki itu bermain- main lagi. Mereka bertiga menuruni tangga dan pergi menuju parkiran. “Ayra parkir di sana.” kata Kamal saat ia berhenti di depan mobilnya. Ia menunjuk di mana Ayra memarkirkan mobilnya. “Yaudah. Bye…” Lara tersenyum sambil melambai pada Kamal dan Dila yang masih berdiri di depan mobil laki- laki itu. “Hati- hati…” Kamal sedikit berteriak dan melihat gadis itu mengacungkan ibu jarinya sambil menoleh dan tersenyum. Kamal masih melihat Lara hingga gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Lara melesak di belakang kemudi sedan putih itu dan melihat Ayra duduk di sebelahnya sambil memegang ponsel di tangannya. “Udah lama, ya?” tanya Lara sambil memakai safety beltnya. “Lumayan.” Kata Ayra. Ia mengikuti Lara meyantelkan safety beltnya. “Kita mau langsung pulang?” Lara bertanya pada Ayra saat ia menyalakan mesin mobilnya. Ia melirik dan melihat Ayra mengangguk pelan. Mobil yang dikendarai gadis itu berhenti di garasi rumahanya satu setengah jam kemudian. Sore itu jalan tampak padat sehingga ia terjebak macet di beberapa titik. Keduanya keluar dari mobil bersamaan. “Kamal kayaknya serius sama Dila.” Kata Lara saat mereka berjalan beriringan menuju rumah. “Kayaknya.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ayra. Ia tahu bahwa pendekatan Kamal ini berbeda dengan biasanya. Biasanya, para gadis yang terlihat lebih aktif mendekati laki-laki itu. Kini laki- laki itu bergerak sendiri dan tampak serius karena banyak menghabiskan waktu dengan Dila. Seakan- akan laki- laki itu benar- benar ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Ayra tak mengerti apa itu adalah sesuatu yang diinginkan Kamal, atau hanya pelarian karena ia tahu bahwa Lara menyukai orang lain dan sadar bahwa ia tak bisa menyentuh hati gadis itu. *** Kamal baru saja keluar dari biskop saat merasakan ponsel di sakunya bergetar. Ia mengeluarkannya untuk membaca pesan yang masuk. Pesan itu dari Lara. Gadis itu bertanya apa ia sudah pulang atau belum. Jika belum, gadis itu minta dibelikan dua porsi ramen dari salah satu restoran yang ada di sana. “Dil, ke food court dulu, ya. Lara nitip ramen.” Kata Kamal pada Dila yang langsung mengangguk. Mereka berdua berjalan beriringan menaiki eskalator menuju lantai dua. Mereka berdua baru saja menuruni eskalator saat Kamal mengambil sebelah tangan yang Dila dan menggandengnya. Dila menoleh ke arah Kamal yang tersenyum. Ia ikut tersenyum dan membalas genggaman laki- laki itu. Dila menyukai Kamal. Ia sudah menyadarinya saat mereka mulai dekat. Satu yang menonjol dari laki- laki itu dibanding laki- laki adalah sifat hangatnya. Dila tak tahu seperti apa tepatnya, tapi laki- laki itu selalu membuatnya nyaman saat berada bersamanya. Lara sudah memberitahunya bahwa Kamal memiliki perasaan padanya, namun ia tak mengerti kenapa laki- laki itu tak juga menyatakan perasaannya. Padahal itu sudah membuka diri dan memberikan sinyal bahwa ia juga menyukai laki- laki itu. Dila pernah berpikir bahwa laki- laki itu hanya main- main. Sama seperti saat laki- laki itu mempermainkan mantan- mantan sebelumnya. Sebelum mengenal laki- laki itu lebih dekat, ia jelas mendengar semua rumor mengenai laki- laki itu. Namun sosok dalam rumor itu tampak berbeda saat Lara menceritakan Kamal. Gadis itu selalu bilang bahwa laki- laki itu baik, perhatian dan pengertian. Ia sempat tak mengerti kenapa Kamal bisa menjadi dua sosok yang sangat berbeda di telinganya. Setelah dekat, ia tahu bahwa semua yang dikatakan Lara benar. Ia bisa merasakan semua yang gadis itu katakan mengenai laki- laki itu. Ia menatap tangannya yang bertautan dengan tangan laki- laki itu dan tersenyum hangat. “Kamu mau makan lagi?” Kamal bertanya saat mereka memasuki restoran ramen. “Nggak, lah.” Jawab Dila. Keduanya memang sudah makan sebelum nonton dan ia jelas masih merasa kenyang. “Bungkus mau?” Kamal menanyakan lagi dan melihat Dila menggeleng pelan. Keduanya mendekati kasir. Dila melihat kamal tampak membolak- balik buku menu di depan meja kasir lalu menyebutkan pesanannya untuk dibungkus. Kasir berseragam itu mengetuk- negtukkan jarinya di atas mesin dan menyebutkan sejumlah uang yang harus dibayarkan Kamal. Kamal mengeluarkan dua lembar uang dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada kasir yang langsung menerimanya. Setelah menerima kembalian, ia mendekati meja kosong di dekat kasir dan duduk di sana sambil menunggu pesanannya dibuatkan. “Besok kamu kelas kelas pagi jam berapa?” Kamal bertanya. “Jam sepuluh.” Dila menjawab. “Yah… aku kelas pagi jam sembilan.” Kata Kamal. “aku nggak jemput kamu dulu, ya.” katanya lagi. “Iya…” jawab Dila. Setelah menerima plastik berisi pesanannya. Kamal dan Dila berjalan menuju basement. Kamal mengantar Dila sampai di depan rumahnya. “Hati- hati, ya.” kata Dila saat ia membuka safety beltnya. Kamal mengangguk sambil mengambil sebelah tangan gadis itu. Ia meremasnya pelan lalu menariknya dan mengecup buku- buku jarinya. “Have a good sleep.” Kata Kamal. Ia melihat gadis itu tersenyum lalu mengangguk dan pamit sebelum keluar dari mobilnya. Kamal menatap punggung gadis itu yang mendekat ke gerbang hitam hingga akhirnya menghilang dibaliknya. Kamal mengusap wajahnya. Ia sudah berpikir puluhan kali untuk menyatakan perasaannya pada Dila. Ia sudah sering menyakininya bahwa ia bisa menyatakan perasaannya. Namun saat melihat wajah manis dengan mata bulat yang selalu ikut berbinar saat gadis itu tersenyum, kekuatannya mendadak hilang. Ia takut menyakiti gadis itu. Ia takut menyakiti gadis itu saat sadar bahwa rasa sukanya pada Lara lebih besar. Ia tidak berbohong saat bilang bahwa ia tertarik pada Dila. Semakin mengenal gadis itu, ia semakin tertarik karena mereka punya banyak persamaan, dan yang terpenting, gadis itu tak pernah cemburu pada Lara, bahkan saat ia begitu memprioritaskan gadis itu. Dila seperti begitu mengerti persahabatannya dengan Lara. Ia tak tahu setelah semua yang ia sukai dari gadis itu, kenapa ia tak juga yakin dengan perasaannya. *** Dua orang gadis duduk di atas sofa dengan kaki terlipat di atasnya. Tatapan mata keduanya fokus menatap layar televisi di depannya. Sebuah film berputar melalui layanan streaming. Suara pintu yang dibuka tak juga membuat kedua gadis itu mengalihkan perhatianya. Keduanya sepertinya tak ingin melepas pandangan sedikitpun pada layar di depannya. “Serius banget.” Kata Kamal saat melihat dua orang itu tampak tak terganggu dengan keadaannya. “Lagi seru, nih.” Kata Ayra. Lara mengangguk. Kamal menaruh bungkusan yang ia bawa di atas meja lalu pergi ke dapur dan kembali dengan dua buah mangkok. Saat ia mengambil tempat di samping Ayra, layar televisi sudah menunjukkan daftar cast. Barulah kedua gadis itu melepas pandangannya dari layar. Keduanya memajukan tubuhnya ke meja dan membuka plastik lalu memindahkan ramen itu ke mangkok. “Lo udah makan, Mal?” tanya Ayra saat ia bersiap menyantap isi mangkoknya. “Udahlah. Lo lagi pakai ditanya.” Lara yang menjawab pertanyaan itu. Ayra mengangguk lalu memulai suapa pertama, begitu juga Lara. “Gimana nontonnya?” Lara bertanya di tengah- tengah makannya. Ia baru saja menelan isi mulutnya saat menatap Kamal. “Seru.” Kamal menjawab singkat. “Lo belum jadian juga?” Lara bertanya lagi. Ayra dan Lara menatap Kamal yang menggeleng pelan. Lara tak bertanya lagi. Ia ingat laki- laki itu pernah bilang bahwa ia tidak ingin terburu- buru. Mungkin laki- laki itu memang perlu mengenal Dila lebih dekat sebelum akhirnya serius dengan gadis itu. Ia senang jika akhirnya laki- laki itu menemukan apa yang ia cari pada diri Dila. Namun, sedikit hati kecilnya sering bertanya, sanggupkan ia kehilangan laki- laki itu? Ia seudah sering bilang bahwa ia akan merelakan laki- laki itu. Ia selalu bilang pada dirinya sendiri bahwa ia tidak mungkin terus menerus bergantung pada laki- laki itu. Kelak, laki- laki itu akan punya kehidupannya sendiri. Namun saat merasakan bahwa intensitas pertemuan dan komunikasinya dengan Kamal berkurang saat laki- laki itu pendekatan dengan Dila. Ia sedikit merasa tak rela. Laki- laki sedikit berubah, ia tidak bisa membayangkan jika keduanya sudah berpacaran. Namun seperti katanya. Ia tidak mungkin mengekang laki- laki itu. Saat ia tahu bahwa ia tidak bisa memberikan hatinya pada laki- laki itu, ia sudah bersiap jika persahabatan mereka tak akan seperti dulu lagi. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN