Lara keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan rapi. Ia memakai kemeja krem panjang yang lengannya di gulung sebatas siku juga jeans hitam sebagai bawahannya. Rambut panjangnya diikat tinggi. Sebuah ransel mengantung di sebelah bahunya. Ia melangkah menuju dapur. Di sana sudah ada Ayra yang sedang menatap ponsel di tangannya. Di atas meja makan sudah ada piring berisi roti dan dua gelas gelas berisi sussu hangat.
“Kamal mana?” tanya Lara saat ia menaruh ranselnya di kursi dan menjatuhkan diri di kursi kosong di depan saudara kembarnya.
“Dia bilang mau jemput Dila.” Ayra menjawab sambil menengadahkan kepalanya. Ia melihat Lara mengambil satu tangkup roti tawar dan mengigitnya.
“Bara jarang kelihatan akhir- akhir ini?” Lara bertanya pada Ayra. Ia tahu bahwa sesibuk apapun Bara, laki- laki itu selalu menyempatkan diri bertemu dengan Ayra. Laki- laki itu kadang datang ke rumahnya pagi- pagi sekali sebelum berangkat ke kampus, atau saat malam setelah laki- laki itu menyelesaikan tugas- tugas kuliahnya.
“Bagus dong. Hidup gue bisa tenang juga akhirnya.” Kata Ayra setelah menyesap isi gelasnya. Lara hanya tersenyum. Ia tidak mengerti mengapa Ayra begitu membenci Bara. Padahal laki- laki itu telah banyak berubah. Ia yang dulu menjadi musuh bebuyutannya saja bisa memaafkan laki- laki itu dan kini berhubungan baik. Ia sudah sering bilang pada Ayra agar sedikit membuka hatinya pada laki- laki itu agar ia tahu bahwa Bara bukan lagi sosok yang seperti dulu. Namun gadis itu tak pernah mau. Gadis itu selalu bilang bahwa ia tak memiliki perasaan pada laki- laki itu dan tidak akan pernah.
Suasana meja makan itu terasa sepi tanpa kehadiran Kamal. Lara tak menyukai ketidakhadiran Kamal akhir- akhir ini. Meski hubungannya dengan Ayra sudah membaik, ia tahu bahwa sampai kapanpun, posisi Kamal tidak akan bisa digantikan oleh siapapun. Dan kenapa terasa berat membiarkan Kamal bebas menjalani hidup diluar lingkarannya.
Dulu, ia selalu meminta Kamal menjauh darinya dan fokus pada kehidupan pribadinya. Ia selalu bilang bahwa Kamal sudah harus mulai memprioritaskan pacarnya. Ia tahu bahwa pacar laki- laki itu kerap cemburu karena Kamal selalu memprioritaskannya. Namun ia tidak menyangka bahwa rasanya akan sesepi ini. Rasanya aneh saat tak melihat wajah dan mendengar suara laki- laki itu di ruang makan saat pagi.
***
Mahesa turun dari mobilnya dan melangkah mendekati pintu. Sebelum masuk, ia menatap sekeliling rumah. Rumah itu nyaris tak berubah meski sudah ia tinggalkan semalam empat tahun. Ia melengkungkan senyum dan melihat pintu berwarna cokelat kokoh di depannya. Sebelah tangannya sudah terangkat saat pintu di depannya tiba- tiba terbuka.
Wanita paruha baya membuka pintu dan terdiam di depannya. Bi Lis, asisten rumah tangganya terpaku menatapnya lalu berteriak dengan histeris. Kantong belanjaan yang ada di tangan wanita itu dijatuhkan dan ia mendekat untuk memeluk Mahesa.
Mahesa tersenyum lalu mengusap pundak wanita itu.
“Mas Mahesa ke mana aja?” tanyanya sambil melepas pelukannya. Ia telah bekerja pada Irawan saat pria itu baru saja menikah dengan ibu Mahesa. Ia mengenal Mahesa sejak kecil juga merawatanya seperti anak sendiri. Ia jelas terpukul saat melihat kejadian terakhir yang menimpa laki- laki itu.
“Ada, Bi. Kangen, ya.” kata Mahesa sambil tersenyum dan melihat kedua mata wanita itu berkaca- kaca.
“Iya, atuh, mas. Bapak ditanya cuma bilang mas baik- baik aja gitu.” kata wanita itu. Mahesa tertawa. “Bibi mau ke pasar?” tanyanya sambil mengambil kantong belanjaan yang dijatuhkan wanita itu dan memberikannya pada wanita paruh baya itu.
“Iya, Mas Mahesa mau makan apa? Bibi masakain masakan kesukaan, Mas, ya.” kata wanita itu dengan nada semangat.
Mahesa hanya mengangguk dan meminta wanita itu berhati- hati. Setelah wanita itu menjauhinya, ia masuk ke dalam rumah. Sama seperti kondisi di luar, juga tak ada yang berubah dengan isi rumah. Semua barang- barang masih tertata seperti terkahir kali ia meninggalkannya.
Ia memindai sekeliling untuk beberapa saat. Rumah itu terasa sunyi, sama seperti dulu. Tapi ia tahu bahwa hubungan ayahnya dan Bara sudah sangat membaik. Rumah itu terasa sepi karena penghuni sibuk dengan kegiatannya masing- masing.
Ia melangkah mendekati satu pintu yang ada di lantai itu. Ia menatap pintu kamarnya, pintu cokelat kokoh berbahan kayu jati itu. Sebelah tangannya terangkat untuk memegang handle pintu dan membukanya pelan.
Aroma khas langsung mauk ke hidungnya. Ia berdiri di tengah kamarnya dan memindai sekeliling. Kamar itu rapi dan sepertinya tak ada yang berubah. Semua barang- barangnya masih berada di sana, masih berada di tempat semestinya. Ia melangkah mendekati meja belajarnya dan duduk di sana. Sebelah tangannya menyapu bagian atas meja dan tak menemukan sedikitpun debu yang menempel di sana. Ia yakin kamar ini tatap dibersihkan secara rutin meski dirinya tak ada.
Ia menatap meja belajarnya yang rapi. Matanya menatap dua buah bingkai foto yang diletakkan berdampingan. Ia mengambil salah satu bingkai dan menatap fotonya dengan kedua orangtuanya. Potret kecil dirinya dalam gendongan ibunya. Saat- saat yang baginya sangat menyenangkan dan membahagiakan. Setelah kematian ibunya, hidupnya berubah. Tuhan tak hanya mengambil ibunya, namun juga kenyamanan dan seluruh cinta yang dulu mengelilinginya.
Ia mengembalikan bingkai itu dan mengambil bingkai satunya. Dalam bingkai itu, ia berdiri di samping Bara yang menampakkan raut wajah dingin. Di belakangnya, ibu tirinya dan ayah kandungnya tersenyum ke arah kamera.
Ia mengusap kaca bingkai dengan ibu jarinya. Saat itu ia tidak peduli jika Bara membencinya sedemikian rupa. Ia tetap bersyukur ayahnya bisa bertemu dengan ibu Bara. Sejak kehadiran wanita itu, Mahesa merasakan lagi cinta seorang ibu. Kehadiran wanita itu juga mempererat hubunganya dengan ayahnya. Ibu tirinya memberikan banyak perubahan di hidupnya.
Ia berada di kamarnya selama beberapa menit. Ia tersenyum saat menyadari kenangan- kenangan manis perlahan masuk ke pikirannya. Ia larut dalam kenangan manis juga pahit yang ia habiskan di kamar itu. Kamar yang sudah dihuninya sejak kecil. Kamar yang sudah menjadi bagian hidupnya. Kamar itu adalah satu- satunya tempat ternyamannya di rumah itu. Tak peduli rumahnya sepi dan begitu dingin, kamarnya mampu menyelimuti sepi dan dinginnya.
Setelah puas menyelami kenangannya di kamar itu, ia keluar dan pergi menuju tangga. Ia melangkah pelan. Ia tahu ayahnya tak ada di rumah karena saat ia bertanya, pria itu bilang bahwa ia berada di rumah sakit. Namun melihat mobil Bara yang ada di parkiran, ia tahu bahwa laki- laki itu di rumah.
Sama seperti lantai satu, lantai dua rumah itu juga tak banyak berubah. Ia merasa telah pergi begitu lama. Namun saat kembali ke rumahnya, ia merasa tak pernah benar- benar meninggalkan rumah itu.
Ia melangkah pelan menuju salah satu pintu yang saat itu terbuka setengah. Ia mendekat dan melongok ke dalamnya. Di dalam kamar itu, ia melihat Bara duduk di meja depan meja belajarnya dengan posisi membelakanginya. Suara papan ketik terdengar ditekan dengan cepat. Laki- laki itu fokus menatap layar laptop, tak menyadari ia berdiri di depan pintu kamarnya.
Ia mengetuk pintu kamar itu dua kali dan melihat laki- laki itu menoleh dan tampak tak terkejut dengan kedatangannya.
“Mahesa...” kata laki- laki itu sambil memutar kursinya hingga menghadap ke arah Mahesa yang mulai melangkah memasuki kamar itu. “lo udah mulai pindah?” tanyanya. Ia melihat laki- laki itu tampak memindai sekitar lalu menggeleng.
“Belum. Gue mau lihat kamar gue dulu. Gue pikir perlu gue bersihin dulu, ternyata udah bersih.” Kata Mahesa. Ia duduk di kursi di dekat meja belajar dan menghadap Bara.
“Gue yang minta Bi Lis bersihin setiap hari. Gue selalu mikir kalau lo akan tiba- tiba pulang.” Kata Bara.
Mahesa hanya mengulas senyum tipis saat mendengar kata- kata Bara. Tatapannya jatuh pada satu rak yang dipenuhi oleh buku- buku kedokteran, lalu ke meja belajar laki- laki itu. Di atas meja itu, ada beberapa tumpuk meja, sedang kertas- kertas di samping laptop laki- laki itu.
“Pasti berat jadi mahasiswa kedokteran.” Kata Mahesa. Ia tidak pernah menyangka bahwa laki- laki itu akan menjadi mahasiswa kedokteran meski tak juga kaget. Ia tahu bahwa nilai akademik laki- laki itu di atas rata- rata. Sama seperti Ciara, tak sulit bagi laki- laki itu untuk masuk ke jurusan itu.
“Ya begitu lah.” Kata laki- laki itu.
“Kenapa milih masuk kedokteran?” Tanya Mahesa dengan nada ragu.
Bara tampak berpikir sejenak. “gue pernah nggak sengaja dengar pembicaraan lo sama papa. Saat papa bilang kalau dia mau lo jadi dokter.” Kata Bara. “terus lo bilang kalau papa mengharapakan salah satu anaknya jadi dokter, gue lebih bisa diharapakan.” Katanya lagi. Mahesa terdiam. Tidak menyangka jawaban itu yang akan didengarnya.
“Jadi lo terpaksa?” tanya Mahesa. Ia tidak percaya jika laki- laki itu menempuh pendidikan kedokteran hanya karena mendengar pembicaraan itu. “papa tahu?” tanyanya lagi sebelum Bara sempat menjawab pertanyaannya sebelumnya.
Bara menggeleng. “Nggak tahu. Awalnya terpaksa sih, ngerasa berat juga. Tapi lama- lama asik juga.” Kata Bara sambil tersenyum, “apalagi Ciara masuk ke jurusan yang sama. Dia banyak bantu gue sampai akhirnya gue terbiasa dan sama sekali nggak nyesal masuk kedokteran.” Bara bercerita.
“Papa pasti bangga banget sama lo.” Kata Mahesa.
“Gue nggak pernah ngambil posisi lo. Lo tetap anak kandung papa dan anak kesayangannya.” Kata Bara.
“Gue berterima kasih banget sama lo. Karena lo jagain papa selama gue nggak ada.”
“Cuma itu yang bisa gue lakuin. Setelah kepergian lo, gue baru tahu kalau ternyata dulu ayah gue selingkuh. Nggak cukup, mereka sampai punya anak perempuan. Dulu gue pikir Papa yang menghancurkan keluarga gue, ternyata keluarga gue memang sudah hancur.” Bara tersenyum getir.
“Gue nggak ngerti kenapa papa nyembunyiin itu bertahun- tahun. Kalau gue tahu, gue mungkin akan bersikap baik sama lo dan papa.”
Mahesa mengulas senyum tipis. Senang semua telah banyak berubah menjadi lebih baik.
“Hhhmm... lo sama pacaranya Ciara, kenal baik?’ Mahesa bertanya ragu- ragu. Ia tidak tahu pertanyaannya tepat atau tidak. Ia hanya penasaran bagaimana hubungan ketiganya.
“Nugi? Nggak lah. Gue sebel dan ribut mulu sama dia.” Kata Bara dengan jujur.
“Kenapa?” tanya Bara dengan nada bingung. Ia tidak mengerti arah pertanyaan laki- laki itu.
“Nggak apa- apa. Lo dekat banget sama Ciara, pacarnya nggak cemburu?” tanya Mahesa.
“Cemburu lah. Tapi kan lo kan tahu gimana gue. Gue nggak suka diatur- atur harus dekat atau jauh sama siapa. Kemarin Ciara baru cerita kalau mereka berdua berantem gara- gara gue antar Ciara pas malem gue ketemu sama lo di rumah sakit.”
Mahesa ingat. Paginya ia juga bertemu Ciara dan Nugi di parkiran yang tampak sedang bersitegang. Jadi itu penyebabnya.
“Gue kenal Ciara jauh sebelum Ciara kenal sama Nugi. Harusnya Nugi ngerti, bukan malah nyuruh gue ngejauhi Ciara.” Kata Bara lagi.
“Lagian gue memang dari awal nggak suka sama Nugi. Syukur- syukur mereka putus.”
Mahesa tidak menyangka akan mendengar itu dari mulut laki- laki itu. Ia pikir Bara mengenal Nugi cukup baik sehingga tak masalah melihat Bara dan Ciara dekat. Tenyata Bara tak berubah. Laki- laki itu tak kenal takut. Ia tidak peduli jika hubungan Ciara dan Nugi berantakan. Laki- laki tak suka jika Nugi mengusik hubungannya dengan Ciara yang sudah terjalin dengan baik lebih dahulu.
Mahesa hanya membulatkan mulutnya sebagai respon atas semua yang keluar dari mulut Bara. Ia kembali menatap laptop di atas meja yang masih menyala.
“Lo nggak ada kelas?” tanya Mahesa.
“Ada, nanti jam satu. Gue lagi ngerjain laporan dulu.” Kata laki- laki itu.
“Oh... yaudah. Gue mau keliling dulu.” Kata Mahesa sambil berdiri. Ia melihat Bara mengangguk sambil tersenyum.
TBC
LalunaKia