CHAPTER DELAPAN BELAS

1573 Kata
            Ciara bertengkar dengan Nugi pagi ini. Laki- laki itu sudah memberondongnya dengan pertanyaan kenapa ia bisa dijemput Bara tadi malam. Ciara tak pernah ingin berbohong meski ia tahu Nugi kerap cemburu pada Bara sehingga ia berkata sejujurnya saat Nugi bertanya ia pulang dengan apa tadi malam. Laki- laki itu sedang sibuk dengan tesisnya sehingga tak bisa menjemput.             Laki- laki itu tak henti- hentinya memintanya menjauhi Bara sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit.             “Berapa kali sih, Gi, aku harus bilang sama kamu. Aku sama Bara itu nggak ada apa- apa. Kita cuma teman.” Kata Ciara. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan hubungannya dengan Bara pada laki- laki itu.             “Tapi kamu harus tahu kalau aku cemburu, Ra. Kamu bilang Bara cuma teman, tapi dia kadang posesif dan perhatian banget sama kamu. Aku laki- laki, Ra. Aku bisa lihat kalau Bara pengin ngejauhin kamu dari aku.” Kata Nugi tepat saat mobil itu merangsek di parkiran rumah sakit. Ia menoleh pada Ciara yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bingung.             “Kamu ngira Bara suka sama aku?” tanya Ciara dengan tatapan tidak percaya. Sebelah tangannya sudah bergerak untuk membuka safety beltnya.             “Ya apa lagi?”             “Gi, kalau Bara suka sama aku, dia pasti udah bilang daridulu. Dari sebelum aku kenal sama kamu.” Jelas Ciara. Ia ingin memberitahu bahwa semua yang laki- laki itu pikirkan mengenai Bara adalah hal yang konyol. Laki- laki itu harus tahu bahwa hubungannya dengan Bara tak seperti yang laki- laki itu bayangkan.             Nugi menatap Ciara. Ia menelan ludah. Ia tidak mengerti. Sejelas apapun gadis itu menjelaskan, ia tidak akan pernah mengerti. Baginya, cara Bara memperlakukan Ciara sangat tidak wajar. Ia tidak percaya jika laki- laki itu tak memiliki perasaan apapun pada Ciara.             “Apa susahnya sih, Ra, jauhin Bara?” tanyanya dengan nada putus asa. Ia melihat gadis di sebelahnya menghela napas berat.             “Gi, aku sama Bara kenal jauh sebelum aku kenal sama kamu. Kamu tahu sendiri gimana sifat Bara. Mau aku menjauh kayak apapun, dia bakal tetap deket, Gi.” Jelasnya, “udah ya, aku masuk dulu.” Ciara keluar dari mobil. Lalu berjalan menjauhi parkiran.             “Ra,” Ciara yang sudah berjalan beberapa langkah menoleh kembali. Nugi sudah keluar dari mobil lalu menghampiri. “Maafin aku. Aku gini karena aku sayang banget sama kamu.” Lirihnya. Ia mengambil sebelah tangan gadis itu dan meremasnya pelan. Ingin memberitahu gadis itu bahwa semua sikapnya karena ia menyayangi gadis itu.             Tak menjawab, Ciara memilih menarik tangannya dari genggaman Nugi. Ia menatap Nugi yang menunjukkan raut wajah penyesalan.             “Aku masuk dulu.” Katanya. Ia membalik badan dan menjauhi Nugi yang masih menatap punggungnya.             Masih di parkiran yang sama, sepasang mata memerhatikan keduanya. Laki-laki itu mengurungkan niat untuk keluar dari mobil saat melihat Ciara keluar dari mobil hitam di depannya. Mahesa melihat semuanya. Kali ini ia bisa melihat dengan jelas wajah Nugi, pacar Ciara. Laki- laki itu bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang dan rambut hitam lebat. Gadis itu tampan dan sekilas cocok dengan gadis itu.             Ia menatap laki- laki itu menyandar di pintu mobil dan mengacak- acak rambutnya. Laki- laki itu tampak frustrasi. Ia tak tahu keduanya ada masalah apa. Ia keluar dari mobil dan melewati laki- laki itu yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. Ia berjalan menuju pintu rumah sakit.               ***               Mahesa dan Ayra tengah mengemasi barang- barang Lara sementara Wijaya mengurus admistrasi. Lara berada di kamar mandi, membersihkan diri sekadarnya. Ia memang sudah diperbolehkan pulang hari ini. Hari yang sangat ditunggunya. Ia keluar dari kamar mandi, keningnya berkerut lalu melirik jam dinding di ruangan. Kamal belum datang juga, padahal ia sudah mengirim pesan dan memberitahukan bahwa ia akan pulang pagi ini. Dia tak mungkin pergi ke kampus karena Ayra saja masih punya waktu membantunya mengemas barang. Mereka baru ada jam kuliah jam dua siang, kata Ayra tadi malam.             Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Kamal akhir- akhir ini. Laki- laki itu jarang menemuinya, juga membalas semua pesannya dengan singkat. Ia merasa laki- laki itu sedikit berubah. Namun ia bisa mengerti jika itu karena Dila. Jika karena laki- laki itu lebih fokus pada Dila, ia akan sangat mengerti. Ia tahu dan sadar bahwa laki- laki itu tak bisa terus- menerus ada di sampingnya. Kelak, laki- laki itu akan punya dunianya sendiri dan ia tidak akan menahannya.             Seperti katanya, laki- laki itu berhak bahagia. Semenjak penolakannya pada perasaan laki- laki itu, ia merasa sangat bersalah. Terlebih saat Kamal tak berubah sedikipun. Sikap laki- laki itu tak berubah setelah ia menolaknya. Laki- laki itu tak canggung dan tetap menjadi sahabat yang baik dan perhatian. Sejak saat itu, Lara tak pernah tahu bagaimana perasaan laki- laki itu. Ia tidak tahu apakah laki- laki itu sudah menghapus semua perasaan padanya sehingga bisa bersikap seperti tak pernah terjadi apa- apa sebelumnya.             “Udah? Yuk.” Wijaya masuk ke kamar lalu memasukkan berkas administrasi ke tasnya. Ia menatap tiga orang itu yang sedang berdiri di dekat ranjang.             “Kalau, Om, mau langsung ke kantor, nggak apa- apa, Om. Lara sama Ayra biar saya yang antar.” Tawar Mahesa. Ia melihat Wijaya tampak berpikir.             “Nggak apa- apa, nih?” tanya Wijaya sekali lagi lalu menatap kedua anaknya.             “Nggak apa- apa, Om.”             “Ya sudah kalau begitu. Ayo, bareng ke parkirannya.” Mereka berempat jalan beriringan menuju parkiran. Wijaya menaiki mobilnya sementara ketiga lainnya menuju mobil Mahesa. Perjalanan lancar sehingga jarak rumah sakit dan rumah Lara bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam.             Lara yang pertama kali membuka pintu dengan antusias. Ia tak memungkiri bahwa ia merindukan rumah dan kamarnya. Di ruang tamu, ia terkejut dengan keberadaan Kamal dan Dila. Dila yang pertama kali menyambut Lara dengan  senyum sumringahnya. Gadis itu memeluk Lara dan menanyakan bagaimana keadaannya.             “Udah baik kok. Buktinya udah boleh pulang.” Jawabnya dengan senyum senang yang tidak bisa disembunyikan. Ia duduk di samping Dila sementara Mahesa duduk di sofa di depannya. Ayra membawa barang- barang gadis itu ke dalam kamarnya.             “Oia, ini catatan mata kuliah yang nggak lo ikutin, udah gue copyin semuanya.” Kata Dila sambil menyerahkan bundelan yang ia ambil dari tasnya pada Lara yang langsung menerimanya.             “Ya ampun, makasih.” Seru Lara. Ia membolak- balik kertas itu sebentar. Menyadari bahwa ia sudah tertinggal banyak pelajaran selama dirawat.             Mata Lara kini menatap Kamal yang tampak berbeda. Laki- laki itu duduk di samping Mahesa dengan tatapan terfokus pada gawainya.             “Mal…” Lara memanggil dan melihat laki- laki itu mendongak dan menatapnya.             “Kalian kemaren ke mana aja? Kamal gue teleponin sampai nggak diangkat?” tanya Lara yang langsung membuat Dila terdiam dan air muka Kamal berubah.             “Ponsel Kamal ketinggalan di rumah kemarin, jadi nggak tahu lo telepon dia.” Dila yang menjawab.             “Lo bukannya masih perlu istirahat?” kata pertama yang keluar dari mulut Kamal terasa dingin, tepat saat beberapa gelas berisi teh disajikan di depan mereka.             Ayra sudah kembali dan duduk di sebelah Lara. Ia bertukar senyum dengan Dila yang hari itu tampak cantik dengan blus abu- abu dan celana jeans. Rambut panjang gadis itu di cepol dan meninggalkan beberapa helai rambut di sisi wajahnya.             “Istirahat mulu. Bosen kali.” Kata Lara. Matanya kini melirik Mahesa. “Mal, bikin plan naik gunung lagi, Yuk. Sama kak Mahesa.” Kata Lara penuh semangat.             Kamal menatap Lara yang wajah berbinarnya tidak bisa di sembunyikan. Ia menelan ludah. Gadis itu kini mengusulkan beberapa gunung yang belum pernah ia daki, masih dengan semangat yang menggebu- gebu.                        “Lo tuh baru sembuh. Bisa nggak sih pikirin diri lo sendiri dulu!!” bentak Kamal tanpa sadar. Lara terdiam. Begitu juga yang lainnya. Semua mata kini menghujam wajah Kamal yang memerah. Laki- laki itu tak bisa lagi menyembunyikan kejengkelannya. Jika gadis itu tidak pernah memikirkannya, ia tak apa. Tapi paling tidak, gadis itu harus memikirkan dirinya sendiri. Gadis itu sudah melakukan hal bodoh hingga sakit dan dirawat. Ia tidak ingin gadis itu mengulangi hal- hal bodoh lagi hanya karena Mahesa.             Semua orang terdiam selama beberapa saat. Ayra nyaris ternganga mendengar kalimat dengan nada menyentak itu keluar dari mulut Kamal, makin tak percaya saat perkaataan itu ditujukan untuk Lara, gadis yang gadis itu sukai. Ia tahu jika selama ini, Kamal tak pernah melakukan hal itu. Kamal tak pernah berbicara kasar padanya dan Lara. Ayra hanya merasa bahwa laki- laki tu sudah sampai pada batas kesabarannya. Dibalik nada kerasnya, kalimat itu adalah kalimat kepedulian. Laki- laki itu peduli pada Lara dan ingin Lara memikirkan dirinya sendiri dahulu.             Ini bukan Kamal. Pikir Lara. Kamal tak akan pernah tega berbicara kencang apalagi membentaknya seperti ini. Lara menelan ludah. Dilihatnya wajah Kamal yang menegang menahan emosi. Bentakan pertama Kamal setelah belasan tahu mereka kenal. Kenapa terasa menyakitkan?             Mahesa yang pertama kali memecah keheningan. Ia pamit pada semua yang ada di sana karena merasa berada di saat yang tidak tepat. Ia melihat Lara mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya dengan nada canggung.             “Sorry… gue nggak maksud…” Kamal menghentikan kata- katanya saat Lara memotong omongannya.             “Nggak apa- apa. Benar kata lo, gue seharusnya fokus sama penyembuhan diri gue dulu.” Kata Lara. Ia berdiri dari duduknya lalu pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya untuk bersitirahat.             Kamal menunduk. Ia menghela napas kasar lalu menutup wajahnya. Tangannya kemudian bergerak untuk mengacak- ngacak rambutnya. Ia tahu ia keterlaluan. Ia tahu ia tak seharusnya membentak gadis itu. Selama persahabatan mereka, ini adalah kali pertamanya. Ia tahu ia pasti menyakiti gadis itu.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN