Mahesa keluar dari ruang perawatan Lara saat jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kata dokter, gadis itu bisa pulang besok karena keadaannya sudah membaik. Ia menyusuri lorong perawatan rumah sakit itu. Sebelah tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih itu dari sana. Ia membuka menu kontak dan mencari nama Ciara. Masih terus berjalan, ia menatap kontak itu baik- baik. Ia ingin menghubungi gadis itu tapi ragu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada perasaannya. Rasanya masih begitu sulit menerima kenyataan bahwa gadis itu telah bersama laki- laki lain.
Ia melewati pintu rumah sakit dengan tangan yang masih memegang gawainya. Ia menggeleng. Sudah terlalu malam untuk menghubungi gadis itu meski ia tak tahu gadis itu masih ada di rumah sakit atau sudah di rumah. Ia tidak pernah ingin merusak hubungan orang lain meski itu adalah Ciara, gadis yang dicintainya. Ia kadang berpikir bahwa Ciara berhak bahagia, namun sudut hatinya kerap berteriak bahwa ia tak rela. Ia tidak rela melihat gadis itu bersama laki- laki lain.
Ia sudah melewati pitnu rumah sakit saat kembali menaruh benda pipih miliknya ke dalam saku. Ia berbelok ke kanan dan berjalan menuju tempat parkir yang ada di samping rumah sakit. Ia menatap ke salah satu meja di depan minimarket. Langkah kakinya memelan. Matanya menangkap sosok Ciara duduk di sana, dengan segelas minuman dan sepotong roti di atas meja. Gadis itu tidak sendiri, Bara duduk dihadapannya.
Mahesa menelan ludah. Tak percaya perasaan asing itu tiba- tiba menyelimutinya. Untuk sesaat, ia memerhatikan keduanya. Ia melihat Ciara tertawa. Tawa yang belum pernah ia lihat sejak mereka berdua bertemu. Matanya kini beralih pada Bara, laki- laki itu sudah banyak berubah. Sepertinya ia telah melewatkan begitu banyak hal. Laki- laki yang dulu dingin kini terlihat hangat dengan senyum dan tawa di wajahnya. Ia tahu bahwa laki- laki kelak akan menjadi laki- laki yang menyenangkan.
“Sa...” teriakan itu mengejutkannya. Ia melihat Bara melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Ciara menatapnya tanpa ekspresi, lalu saat ia mendekat, gadis itu tersenyum kaku.
Dengan kekuatan penuh, langkah kaki membawanya mendekat.
“Abis jenguk Lara?” Bara bertanya saat Mahesa menjatuhkan diri di kursi di sebelahnya.
“Iya.” Jawabnya.
“Ayra masih di sana?” Bara bertanya lagi.
“Iya, lo mau jemput dia?”
Bara menggeleng. “Gue jemput Ciara.” Jawabnya.
“Oh.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Ia menatap Ciara yang nampak kikuk.
“Gue beliin minum, ya.” kata Bara pada Mahesa. Ia langsung berdiri dari duduknya. Mahesa belum sempat menjawab karena laki- laki itu sudah berjalan memasuki minimarket.
“Kamu udah selesai tugas?” Mahesa berbasa- basi. Ia melihat gadis di depannya mengangguk. Ia tidak tahu kenapa suasana terasa secanggung ini dan bingung bagaimana mencairkannya.
“Kabar ibu kamu gimana?” Mahesa mecoba mencairkan keadaan. Ia tahu ia mungkin tidak bisa memiliki gadis itu saat ini. Namun, ia ingin bisa menjalin hubungan baik. Seperti Bara dengan gadis itu.
“Alhamdulillah baik.” Jawab Ciara. Ia kembali mengigit roti di tangannya dan mengunyahnya pelan.
“Gimana keadaan Lara?” tanya gadis itu. tak hanya dirinya, sepertinya gadis itu berusaha mencairkan suasana.
“Udah mendingan. Dia besok udah boleh pulang.” Mahesa melihat gadis di depannya mengangguk pelan. Kedua mata gadis itu melirik ke dalam minimarket. Ia tahu gadis itu mencoba mencari keberadaan Bara. Mungkin gadis itu tak menyukai suasana canggung yang tercipta saat Bara meninggalkan meja itu.
“Kamu akhirnya benar- benar jadi dokter.” Kata Mahesa. Ia menatap Ciara yang tersenyum kecil. Ia tidak akan melupakan saat gadis itu bilang bahwa ia ingin menjadi dokter. Waktu berlalu begitu cepat, sepertinya mereka baru kemarin membicarakan itu, kini gadis itu sudah setengah jalan menuju cita- citanya.
“Masih panjang perjalanannya, baru koas.” Kata gadis itu.
“Tetap aja, kamu udah setengah jalan.” Kata Mahesa.
Ciara menyesap minumannya lalu mengembalikannya ke meja. “Tetap aja, kamu udah sukses duluan.” Kata Ciara. Ia tak mau memungkiri bahwa ia bangga pada laki- laki itu. Dulu, laki- laki itu tak pernah punya cita- cita. Laki- laki itu terlihat seperti laki- laki yang tak punya masa depan. Namun, hanya berselang empat tahun, laki- laki itu telah lulus dari salah satu universitas dan kini telah memiliki usaha. Laki- laki itu sudah mandiri secara finansial.
“Karena kamu…” kata Mahesa. “aku bisa begini karena kamu.” Katanya lagi.
Belum sempat Ciara kembali membuka mulutnya, ia melihat Bara sudah keluar dari pintu minimarket dengan sebotol kaleng minuman dan kantong plastik di tangannya lalu duduk di kursi semula. Ia menaruh minuman kaleng yang baru saja dibelinya di depan Mahesa yang langsung mengucapkan terima kasih.
“Nih, buat tante Dewi.” Bara menaruh kantong plastik yang ia bawa di depan Ciara yang dahinya langsung berkerut dalam.
“Apaan, nih?” Ciara membuka plastik itu dan melihat isinya. Ada roti tawar, selai dan beberapa kue juga biskuit.
“Bilangin gue belum bisa ke sana- ke sana karena sibuk.” Kata Bara.
“Dih… siapa juga yang nyuruh lo ke sana tiap hari.” Kaluh Ciara.
“Lah, lo nggak tahu kalau gue dua hari aja nggak ke rumah lo, tante Dewi suka chat gue. Nanyain tumben nggak ke rumah.” Bara tersenyum melihat gadis di depannya berdecak.
Ciara tahu. Ia tahu bahwa ibunya sudah menganggap Bara seperti anaknya sendiri. Bara bahkan sempat ingin memanggil ibunya dengan dengan sebutan ibu, bukannya tante seperti biasa. Namun Ciara melarangnya.
Mahesa meneguk minumannya lalu ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.
Ciara menaruh plastik di sebelahnya lalu menghabiskan minumannya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan berkata, “Pulang, yuk, Bar.”
“Yuk, lo besok dinas pagi kan.” Bara berdiri lalu menyambar kunci mobilnya di atas meja. “Gue duluan ya, Sa.” Katanya pada Mahesa yang mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Hati- hati.” Katanya sambil melihat keduanya berdiri lalu berjalan menjauh. Ia menatap punggung keduanya dan terenyak. Bara terlihat berbisik pada gadis itu dan tertawa. Gadis itu mencebik lalu memukul bahu laki- laki itu dua kali. Bara memelankah langkah dan mengambil posisi di belakang gadis itu lalu memegang kedua bahu Ciara. Dari tempatnya, ia bisa melihat jari jemari Bara memijat bahu gadis itu pelan.
Ia tidak mengerti bagaimana keduanya bisa begitu dekat padahal Ciara memiliki hubungan dengan laki- laki lain. Apa mungkin laki- laki itu mengerti dan memaklumi kedekatannya Ciara dengan Bara. Apa Bara juga dekat dengan pacar gadis itu. Apa mereka bertiga juga berhubungan baik.
***
Bara memang bukan sosok baru bagi Ciara. Laki- laki itu menjadi lebih dekat dengannya sepeninggal Mahesa. Dulu, Ciara dan Bara sering menghabiskan waktu di taman kampus hanya untuk saling bertukar cerita. Bagaimana Ciara begitu merindukan Mahesa. Dan bagaimana Bara begitu menyesal atas semua yang telah ia lakukan pada laki- laki itu.
Mereka berdua lebih dari sahabat. Ciara sudah menganggap Bara sebagai adik laki- lakinya. Adik laki- laki yang sering datang ke rumahnya hanya untuk menceritakan bagaimana mengesalkannya Ayra hari ini. Bagaimana Ayra tak juga melunak atas semua perhatiannya. Dan laki- laki itu pula yang kerap membuat Nugi cemburu.
“Mahesa udah balik. Lo nggak nyesel udah nerima cinta Nugi?” tanyanya tepat saat ia mematikan mesin. Mobil yang dikendarainya sudah sampai di depan kediaman gadis itu.
“Apaan sih, lo.” Ciara ketus. Ia melepas safety belt dan menatap ke depan. Tak berani menoleh pada Bara yang ia tahu akan mengintimidasinya dengan tatapannya.
“Lo nggak bisa bohongin perasaan lo. Sedingin apapun sikap lo sama dia, gue tau lo sayang sama dia.”
“Udah, ah, gue males ya ngomongin hal ini.” Kata Ciara.
“Kenapa males? Dulu kan kita ngomongin dia setiap hari.” Bara mengingatkan hari- hari di mana keduanya membicarakan Mahesa. Ciara dan kenangan manisnya dan Bara dengan perseteruannya.
Ciara terdiam. Berpikir sebentar. “Dia kembali bukan atas kemauan sendiri, Bar. Dia kembali karena gue yang jebak dia. Gue yang nyeret dia kembali. Kalau gue nggak nekat dan penasaran, mungkin dia masih ngumpet di tempat ternyamannya.” Kata Ciara dengan kasar. Ia melihat Bara mengangguk. Ia tahu laki- laki itu mengerti apa yang ia bicarakan. “Gue nggak bisa bohong kalau gue masih canggung kalau ketemu dia. Empat tahun dia pergi. Itu bukan waktu yang sebentar. Gue nggak bisa bersikap seolah ia baru pergi selama dua atau tiga hari.” Lagi- lagi Bara mengangguk. Ia mengusap kepala gadis di sebelahnya.
“Tidur, gih. Udah malem. Gue besok nggak bisa antar ke rumah sakit dulu ya, harus ke kampus pagi- pagi soalnya.” Kata Bara. Ia tahu bahwa pembicaraan mengenai Mahesa akan menjadi panjang dan tak pernah menemui titik akhir, sedangkan ia tahu gadis itu butuh istirahat.
“Iya, lagian siapa sih yang nyuruh lo anter jemput gue.”
“Daripada lo dianter jemput Nugi, mending sama gue.”
***
Kamal termenung di atas ranjangnya. Matanya menatap langit- langit kamarnya yang remang- remang. Perasaannya masih saja tak karuan meski ia sudah ratusan kali berkata ‘ikhlas’. Nyatanya menghapus perasaan yang sudah menahun memang tak mudah. Entah akan seberapa lama lagi perasaan ini menyiksanya. Rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan sesakit ini. Setelah memutuskan untuk tak memakai perasaannya lagi semenjak penolakan Lara, ia tak menyangka bahwa rasa itu masih mengakar begitu kuat. Bahkan setelah ia mencoba mencari pelarian pada perempuan lain.
Matanya menatap ke atas nakas. Ke arah ponselnya yang terus menerus bergetar sejak tadi. Layarnya masih menunjukkan nama yang sama. Lara.
***
“Kamal ke mana sih? Di teleponin nggak diangkat- angkat.” Lara mengeluh sambil menekan- nekan layar ponselnya. Ayra yang duduk tak jauh dari ranjang menutup laptonya lalu menatap saudara kembarnya.
“Terakhir gue chat, dia bilang mau ngantar Dila pulang.” Katanya.
“Tumben dia seharian nggak chat gue.” Kata Lara dengan nada bingung. “diteleponin juga nggak diangkat- angkat.” Katanya lagi. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, laki- laki itu akan tetap berada di sampingnya meski laki- laki itu menjalin hubungan dengan gadis lain. Sekuat apapun ia memukul mundur laki- laki itu agar lebih memprioritaskan pacaranya, laki- laki itu tak pernah melakukannya. Persahabatan yang sudah terjalin belasan tahun itu memang tak pernah membuat laki- laki itu berubah. Laki- laki tetap menjadi Kamal yang sejak dulu ia kenal.
“Dia udah jadian sama Dila?” Lara bertanya lagi dan kini melihat Ayra mengangkat bahu tak acuh.
“Menurut lo, Kamal beneran suka sama Dila?” kali ini Ayra yang bertanya. Ia telah melihat Kamal menjalin hubungan dengan gadis- gadis yang ia tahu tak pernah disukai laki- laki itu sepenuh hatinya. Ia tak tak mengerti kenapa laki- laki itu membuang- buang waktunya untuk menjalin hubungan- hubungan singkat itu. Ia tak tahu apakah kali ini, laki- laki serius atau akan berakhir seperti hubungan- hubungan sebelumnya.
Ayra kerap berpikir, Kamal sebegitu mencintai Lara, tak bisakah laki- laki itu mencitainya juga? Tak bisakah laki- laki itu memberikan seluruh hatinya padanya saja yang akan dengan senang hati menerimanya dan menjaganya. Ia tahu itu tidak mungkin. Meski ia dan Lara kembar identik, cinta itu tidak bisa dialihkan begitu saja.
TBC
LalunaKia