CHAPTER ENAM BELAS

1633 Kata
            “Mahesa bilang dia akan balik lagi ke rumah. Dia akan mulai nyicil barang- barangnya.” Kata Irawan tanpa melepas pandangannya dari berkas- berkas di depannya. Bara yang duduk di depannya dengan sebuah laptop di atas meja mengangguk sambil tersenyum. Senang saat tahu laki- laki itu mempertimbangkan permintaannya.             “Papa tahu kalau Ciara koas di sini?” tanya Bara. Ia melepas pandangannya dari layar di depannya dan menatap ayahnya yang mengangguk.             “Beberapa hari lalu papa ketemu dia.” Kata pria itu. “dia belum tahu kamu sama Mahesa saudara tiri, ya?” tanya pria itu. Kali ini pria itu menengadah dan membenarkan letak kacamatanya. Ia melihat Bara mengangguk. Ia tahu sedekat apa hubungan Bara dan Ciara sehingga ia tidak mengerti kenapa Bara tak pernah menceritakan asal usulnya. Saat kemarin bertemu dengan gadis itu, gadis itu mengenalnya sebagai ayah dari Mahesa, pria yang ditemuinya saat gadis itu membawa Mahesa ke UGD empat tahun lalu.           “Nanti juga dia tahu sendiri.” kata Bara. Ia menekan tombol di keyboard untuk menyimpan tugas- tugasnya lalu mematikan perangkat itu.             “Kamu udah mau ke kampus?” tanya Irawan saat melihat anaknya menutup komputer jinjingnya dan menaruhnya di dalam ranselnya.             “Iya, nanti kayaknya Bara balik agak malam, deh.” Bara memberitahu. Ia berdiri dari duduknya setelah membereskan barang- barangnya. Sebelah tangannya terulur untuk mencium punggung telapak tangan ayahnya lalu pamit dan keluar dari ruangan.             Langkah kaki Bara menyusuri lorong rumah sakit yang hari itu terlihat sibuk. Matanya menilik ke berbagai arah. Ia bertemu dengan beberapa koas yang sedang berjalan di poli namun tak menemukan orang yang dicarinya.             Ia terus berjalan di antara pintu- pintu itu lalu melihat Ciara baru saja keluar dari sebuah ruangan. Gadis itu memakai jas putih lengan pendek dengan sebuah buku di tangan kanannya. Rambutnya yang dikuncir bergerak pelan saat gadis itu melangkah.             Ia melangkah lebih cepat lalu menarik ujung rambut gadis itu. Ciara menoleh lalu melihat senyum Bara. Laki- laki mengambil tempat di sebelahnya.             “Duh dokter muda, cantik banget.” Laki- laki itu mengusap rambut Ciara yang hari itu dikuncir kuda.             “Ish... Bara.” gadis itu menepis tangan laki- laki itu sebelum ikatan rambutnya acak- acakan. Laki- laki itu tertawa lalu menatap wajah Ciara baik- baik. “masih aja pegang- pegang buku.” Katanya sambil melirik buku di tangan gadis itu.             “Heh, lo pikir koas praktek doang.” Ciara melotot dan melihat Bara terkekeh lalu mengangguk sambil tersenyum. Jelas Bara tahu, ia hanya menggoda gadis itu karena senang bisa bertemu setelah berhari- hari ia sibuk di kampus.             “Lo masih di stase kecil, ya? nggak sibuk banget, kan? Gue traktir kopi, yuk.” Ajak laki- laki itu.              “Gue memang mau ke bawah, kok, mau makan.”             “Bagus kalau gitu, yuk.”             “Tapi gue udah janjian sama Nugi.” Kata gadis itu lagi.             “Yaudah gue gabung aja sekalian.” Kata Bara sambil merangkul Ciara dan membawanya ke kantin yang ada di lantai basement rumah sakit.             Keduanya keluar dari lift. Kafetaria yang berdinding kaca itu langsung bisa menampakkan sosok Nugi yang tengah duduk di salah satu meja. Kafe itu tak ramai. Hanya ada tiga meja yang terisi termasuk Nugi.             Bara tersenyum saat melihat Nugi menatapnya sinis saat melihatnya mendekati kafetaria. Senang melihat respon laki- laki itu. Mendekati pintu, Bara mendahului dan membukakan pintu untuk mempersilakan gadis itu masuk lebih dahulu.             “Gi, Bara gabung nggak apa- apa kan?” kata Ciara sambil duduk di depan Nugi. Laki- laki itu tidak menjawab, ia hanya membiarkan Bara duduk di sebelah Ciara. Nugi tahu bahwa meski ia menolak, laki- laki itu akan tetap duduk di sana.             Sejak mengenal gadis itu, ia tahu bahwa laki- laki itu kenal dekat dengan Ciara karena mereka berasal dari SMA yang sama. Tapi, ia tidak menyangka bahwa Bara akan terus- menerus mengganggu hubungannya dengan Ciara meski mereka kini sudah berstatus pacaran. Ia pikir dengan status baru gadis itu, paling tidak Bara akan sedikit menjaga jarak dari Ciara. Namun semua perkiraannya salah. Laki- laki itu malah semakin menyombongkan diri karena bisa dekat dengan gadis itu melebihi ia yang pacarnya.                 Ketiganya mulai membolak balik buku menu lalu memesan pada pelayan.             “Lo ngapain di sini?” tanya Ciara pada Bara. Ia baru terpikir bahwa Bara tak mungkin ada di rumah sakit itu hanya untuk menemuinya.             “Ketemu dokter.” Jawab Bara singkat.             Ciara menoleh lalu menatap Bara dengan tatapan menyelidik.             “Gue nggak apa- apa.” Kata Bara langsung. Tak ingin membuat Ciara berpikir yang tidak- tidak.             “Kamu nanti pulang jam berapa?” tanya Nugi seraya mengalihkan pembicaraan mereka. Ia berpikir bahwa sudah tidak ingin mengalah pada Bara lagi. Kalau ada yang harus mundur, itu jelas Bara karena laki- laki itu tak ada hubungan apa- apa dengan gadis itu.             “Sekitar jam enam.” Jawabnya. Tepat saat pesanan mereka di sajikan.             “Nanti aku jemput ya.” Katanya sambil tersenyum, Ciara mengangguk pelan.             Bara mengambil mangkok berisi capcay pesanannya dan mengambil isinya dengan sendok lalu menaruhnya di piring Ciara yang saat itu hanya memesan nasi goreng. “Lo harus banyak makan sayur. Baru koas seminggu aja udah kelihatan kurusan.” Kata Bara menanggapi tatapan bingung dari Ciara. Ciara menelan ludah lalu melirik Nugi yang terlihat tak nyaman.             “Ish jangan lebay.” Kata Ciara dengan perasaan tak enak.             “Lho, kenapa?” Bara memutar badannya menghadap Ciara yang tampak canggung. Sebelah tangannya terulur untuk menyelipkan rambut Ciara yang tak terikat ke belakang telinganya.             Bara melakukanya dengan santai. Tidak sadar bahwa ia sukses membuat Nugi dihujani kecemburuan akibat tingkahnya yang dirasa berlebihan.             Ciara melirik Nugi yang menatap Bara sedingin es. Setelahnya, aura kecanggungan mulai terasa. Tak ada yang membuka mulut. Mereka bertiga sibuk dengan makanannya sendiri, atau mungkin dengan pikirannya masing- masing.             Ciara mendorong piringnya yang sudah kosong lalu menyesap minumannya pelan. “Gue duluan, ya.” Katanya, “aku duluan ya, Gi.” Pamitnya sambil menatap Nugi yang langsung mengangguk. Ia mengerti bahwa gadis itu akan semakin sibuk saat koas. Ia akan sangat memakluminya.             “Kenapa buru- buru?” tanya Bara saat gadis itu sudah berdiri dari duduknya.             “Gue mau ikut operasi katarak.” Jawabnya.             Bara mengangguk lalu tersenyum manis.             “Semangat kalau gitu.”             Ciara mengangguk sambil tersenyum. Ia berjalan menjauhi meja dan keluar melewati pintu transparan kafetaria.             Kedua lelaki itu menatap punggung Ciara yang menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.             Kali ini, Nugi menyingkirkan piring bekas makannya lalu menatap Bara yang makan dengan tenang. Laki- laki itu sepertinya tidak merasa terganggu dan tidak merasa kalau sikapnya pada Ciara sudah benar- benar berlebihan. Laki- laki itu sama sekali tak merasa terintimidasi oleh Nugi yang duduk di depannya.             “Gue mau lo jauhin Ciara.” Kalimat itu diucapkan dengan dingin dan meluncur mulus dari mulut Nugi. Bara mendongak lalu menatap Nugi sinis. Ia menaruh sendoknya di atas piring lalu menyandarkan punggungnya dikursi dan melipat keduanya tangannya di depan d**a. Ia menatap tepat ke manik mata Nugi yang tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.             “Atas dasar apa lo nyuruh gue jauhin Ciara?”             “Gue nggak suka lo terlalu dekat sama pacar gue.” Katanya sambil menekankan kata ‘pacar’. Bara tertawa sumbang. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan menyesap air dalam gelasnya.             “Lo pikir lo punya hak meskipun lo pacarnya Ciara?” kata Bara dengan nada mengejek. “ingat, gue jauh lebih dulu kenal sama Cia. Meski lo pacarnya, lo cuma orang baru di hidup dia.” Bara menatap Nugi dengan tatapan tajamnya. Ia bisa melihat wajah Nugi yang nyaris memerah karena kata- katanya. Ia sadar, ia baru saja menjatuhkan bom ke laki- laki itu.             “Jadi, lo nggak usah buang- buang waktu buat nyuruh gue jauhin Ciara. Apa yang mau gue lakuin, itu urusan gue.” Laki- laki mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya lalu menaruhnya di atas meja.             “Lo takut Ciara berpaling dari lo?” tanya Bara, ia melihat wajah laki- laki itu sudah memerah. Dadanya naik turun karena menahan amarahnya “bukannya bagus, gue akan bantu lo buktiin kalau Ciara nggak benar- benar cinta sama lo.” Lanjutnya sambil berdiri dan berjalan menjauh. Tidak menyadari bahwa Nugi mengepalkan jarinya menahan geram.             Bara masuk ke dalam lift untuk pergi menuju lantai dasar. Setelah pintu di depannya terbuka di lantai tujuannya, ia keluar dan langsung melihat hiruk pikuk orang- orang di lantai itu. Kursi- kursi di depan meja pendaftaran ramai, begitu juga di depan kasir dan apotek. Para karyawan sibuk melayani, perawat terlihat hilir mudik dengan map di tangannya. Lantai itu memang menjadi lantai yang paling sibuk dari yang lainnya.             Ia berjalan menuju pintu transparan besar untuk keluar dari sana. Ia terus berjalan hingga akhirnya tatapannya bertemu dengan tatapan Ayra yang sedang berjalan dari arah berlawanan. Gadis itu memakai kaos lengan panjang yang dipadukan dengan jenas biru. Flat shoes menyelimuti kedua kakinya. Ia bisa melihat ransel menggantung di bahu gadis itu. Gadis itu menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.             Ayra menelan ludah saat melihat Bara melangkah dari arah yang berlawanan dengannya. Ia melihat laki- laki itu menatapnya dengan dingin. Selama beberapa saat, tatapan mereka bertemu. Ia terenyak saat melihat laki- laki itu memutus kontak. Laki- laki itu mengalihkan pandangan darinya, berjalan dengan mantap hingga akhirnya melewatinya tanpa mengatakan sepatah katapun.             Ayra membalik badannya. Ia menatap punggung Bara yang baru saja melewati pintu otomatis rumah sakit. Ia menghentikan langkahnya. Tak percaya jika laki- laki itu melewatinya dan tak mengatakan apapun.             Tapi Ayra ingat apa yang ia katakan pada laki- laki itu terakhir kali. Ia meminta laki- laki itu tak menemunuinya. Ia ingat saat ia mengatakan itu dengan amarah. Tak cukup, ia juga menampar laki- laki itu.             Laki- laki itu menuruti kata- katanya, atau laki- laki itu terlanjur sakit hati atas semua sikapnya. Mungkin kini laki- laki itu benar- benar membencinya. Ia sadar bahwa ia sudah keterlaluan. Namun ini yang memang ia inginkan. Ia tidak ingin laki- laki itu terus berharap padanya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN