CHAPTER LIMA BELAS

2171 Kata
            Ruangan serba putih itu begitu tenang. Seseorang yang tertidur di atas ranjang tampak pucat dan pulas. Seorang gadis yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang menatap seorang laki- laki yang tengah menatap wajah pucat itu. Laki- laki yang tak pernah meninggalkan pasien itu sejak gadis itu dilarikan ke rumah sakit pagi ini.             “Lo pulang aja, Ay. Biar gue yang jaga Lara di sini.” Kamal menoleh dan menatap Ayra yang langsung menggeleng.             “Papa dalam perjalanan ke sini. Gue akan pulang kalau papa udah sampai.” Kata Ayra. Kamal mengangguk lalu kembali memusatkan pandanganya ke wajah pucat di depannya. Selang infusan tersambung ke lengan gadis itu.             Sehari setelah gadis itu kehujanan, tubuh gadis itu langsung demam, tapi gadis itu menolak untuk dibawa ke dokter. Gadis sudah meminum obat namun demamnya tak kunjung reda. Gadis itu bersikeras bahwa ia baik- baik saja hingga Mahesa datang menjenguknya dan meminta maaf.             Laki- laki itu juga yang berhasil membujuk gadis itu untuk pergi ke dokter hingga akhirnya dokter bilang bahwa ia terkena tifus dan harus dirawat di rumah sakit. Lucu bukan, saat Kamal membujuknya, gadis itu tak bergerak sedikitpun. Gadis itu sama sekali tak mendengar omongannya dan tak melihat bagaimana ia mengkhawatirkannya. Tapi, Mahesa bisa dengan mudah membujuknya. Kamal makin sadar bahwa gadis itu menyimpan perasaan pada Mahesa. Mungkin laki- laki itu adalah alasan kenapa Lara menolaknya saat SMA.             Pintu diketuk dua kali dan sosok itu muncul dengan sebuah kantong plastik di satu tangannya.             “Kalian dari tadi belum makan, kan?” laki- laki itu menaruh bungkusan di atas meja. “kalian harus makan kalau nggak mau ikutan sakit.” Laki- laki itu mendekati ranjang dan melihat wajah Lara yang serupa kapas.             “Gue menyesal bikin dia kayak gini. Gue adalah orang yang paling bertanggung jawab. Gue akan jagain dia selama di sini, kalian boleh pulang kalau mau istirahat.” Katanya lagi. Kamal menoleh dan menatap Mahesa yang fokusnya tertuju pada Lara.             “Nggak perlu repot- repot. Gue tahu lo punya urusan yang lebih penting dibanding jagain Lara di sini.” Kamal berdiri dan menghadap Mahesa dengan sempurna. Mata Mahesa menyipit saat mendapati tatapan tak bersahabat dari laki- laki itu. Untuk beberapa detik, mereka berdua saling menatap, Mahesa mencoba menyelidiki apa yang salah darinya sehingga tatapan laki- laki di depannya berubah. Tatapan itu tampak tajam dan penuh permusuhan.             Ia tahu ia salah. Ia tahu seharusnya ia memberikan informasi lebih cepat saat tahu bahwa ia tidak bisa menepati janjinya hari itu. Namun, pertemuannya dengan Ciara membuatnya lupa. Ia menyesal membuat gadis itu menunggu di sana.             “Kak… Mahesa.” Suara lirih itu membuat perhatian keduanya teralihkan, begitu juga Ayra yang mengamati dari sofa di ruangan itu. Ayra berdiri lalu mendekat, menatap Lara yang mencoba tersenyum pada Mahesa.             Kamal mengepalkan kedua tangannya. Rasa panas terasa mulai menyusup dan menjalar ke sel- selnya. Ia melangkah keluar dari ruangan dan membuat sedikit bunyi debuman di pintu.             “Kamu butuh sesuatu?” tanya Mahesa. Gadis itu melirik air mineral di atas meja. Mahesa dengan sigap membantu Lara mendapatkan apa yang ia butuhnya.             Ayra yang merasa keberadaannya dalam situasi yang tidak tepat akhirnya memilih keluar dan mencari keberadaan Kamal.   ***               Dinginnya angin malam itu terasa begitu menusuk sampai ke tulang. Angin yang dapat meruntuhkan tubuh itu dalam sekejap. Tanpa jaket, laki- laki itu duduk di taman rumah sakit. Ia menarik napas panjang. Membiarkan angin masuk ke paru- parunya dan menghapus semua kecemburuan yang terasa menyesakkan d**a. Ia harus melepaskan perasaan ini. Ia harus kalau tak ingin terus menerus tersiksa akibat perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.              Sepertinya sudah sangat lama, sudah sangat lama perasaan ini ada di hatinya dan saat gadis itu telah menolaknya, kenapa perasaan ini tak berubah bahkan berkurang sedikitpun. Kenapa hanya rasa cemburu dan sakit hati yang datang? Namun tak merubah perasaan cintanya.             Laki- laki itu mendongak saat merasakan sebuah jaket disampirkan ke punggungnya.             “Udara lagi dingin banget, kayaknya mau hujan. Kenapa lo malah di sini?” Ayra duduk di sampingnya. Kamal terdiam, ia menatap Ayra yang menatapnya cemas.             Ayra menatap wajah Kamal yang menunjukkan raut wajah sedih juga marah. Ia menelan ludah. Bersiap mengetahui semua yang terburuk. Bagaimana cara laki- laki itu berbicara dengan Mahesa cukup membuatnya yakin bahwa Kamal cemburu pada laki- laki itu.             “Gue nggak pernah tahu kalau rasanya akan begitu menyakitkan.” Kata Kamal sambil menatap ke depan. Ke lorong yang masih cukup ramai dilalui beberapa karyawan rumah sakit, ataupun keluarga pasien.             “Cemburu nyatanya jauh lebih menyakitkan dibanding sebuah penolakan.”  Katanya dengan nada lirih.             Ayra menatap Kamal menarik napas panjang. Ia tahu laki- laki itu sedang mencoba melepaskan sesak yang menyelimuti hatinya. Ia tahu apa yang dirasakan laki- laki itu. Ia sering merasakannya. Ia tahu bagaimana rasa sakitnya melihat orang yang dicintai justru mencinta orang lain.             “Sekuat apapun gue mencoba, rasa itu bahkan makin terasa menyakitkan.” Lanjutnya dengan lirihan pelan. Namun Ayra bisa mendengarnya dengan jelas.             Ayra menatap Kamal lalu menggenggam tangan yang terasa dingin itu.             “Gue yang selalu ada di sampingnya, tapi kenapa dia selalu menatap orang lain?” Ayra bisa mendengar suara laki- laki itu bergetar. Kalimat itu masuk ke telinganya dan tengiang- ngiang seperti sengaja dibisikkan berulang- ulang.             “Lo cinta sama Lara?” tanya Ayra dengan nada pelan. Ia ingin meyakinkan bahwa dugaannya selama ini benar. Meski sebenarnya semua kata- kata laki- laki itu barusan sudah memperjelas semuanya. Namun ia ingin mendengarnya secara jelas dari mulut laki- laki itu sendiri. Bahwa perasaan Kamal pada Lara tak hanya sekadar sahabat. Ia ingin laki- laki itu secara gamblang mengatakan perasaannya.             Laki- laki itu tidak tahu bagaimana perasaan Ayra saat melihatnya mengangguk dengan sangat mantap. Hati gadis itu mencelos, lalu seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya hingga membuatnya sulit bernapas. Hingga semua rasa sakit tak akan lebih menyakitkan dari anggukan laki- laki itu.             Ia bersiap merenggangkan genggamannya saat genggaman itu semakin terasa kuat. Laki- laki itu menoleh lalu memeluk gadis itu. Tubuh Ayra menegang, perlahan, ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap pundak laki- laki itu.             Aku pernah memperjuangkan hati yang tengah memperjuangkan hati orang lain.             Aku pernah berkorban pada seseorang yang justru berkorban untuk orang lain.             Aku pernah menawarkan cinta pada seseorang yang tengah mencintai orang lain             Aku pernah mengagumi seseorang yang kekagumannya terlah tertambat pada orang lain.             Aku akhirnya tahu bahwa kesakitan ini telah mencapai puncaknya.   ***               Ciara keluar dari ruang perawatan dengan beberapa map di tangannya. Ia menyusuri lorong rumah sakit itu hingga matanya menatap dua orang yang ia kenalnya tengah duduk di taman rumah sakit.             “Itu bukannya Kamal sama Ayra?” tanyanya pada diri sendiri. Ia menghentikan langkah dan menatap dua orang yang sedang duduk berdampingan di sebuah bangku besi yang ada di sana. Matanya memicing dan memerhatikan dua orang itu yang tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius.             “Lara lagi di rawat di rumah sakit ini karena tipus.” Suara mengagetkan itu membuat Ciara langsung menoleh dan sedikit terkejut melihat Mahesa berdiri di belakangnya. Gadis itu menatapnya canggung lalu membulatkan mulutnya.             “Kamu habis jenguk Lara?” Ciara bertanya. Ia melihat laki- laki itu mengangguk pelan.             “Cia, ada titipan nih.” Keduanya menoleh ke asal suara dan melihat seorang gadis teman satu timnya berjalan mendekat dengan bungkusan berisi beberapa cup kopi di tangannya.             “Dari siapa?” tanyanya.               “Dari Bara.” jawabnya sambil menatap Mahesa sekilas. “dia beliin yang lainnya juga. Gue taruh di kulkas, ya.” katanya. Ciara mengangguk. Satu timnya berisi lima orang. Empat perempuan dan satu laki- laki. Mereka juga cukup mengenal Bara dengan baik.             “Dia bukannya tahu, ya, lo udah pacaran sama Nugi. Pantang menyerah banget itu anak.” Kata Citra. Pasalnya, tak ada yang tidak tahu kedekatan Ciara dan Bara. Saking dekatnya, banyak orang mengira bahwa keduanya berpacaran. Namun saat melihat gadis itu dekat dengan Nugi, orang- orang mulai percaya bahwa keduanya tak ada hubungan apa- apa.             “Apaan sih? Gue nggak ada apa- apa sama Bara.” sangkal Ciara cepat saat melihat raut wajah Mahesa berubah, hingga akhirnya ia sadar, ia tak punya kapasitas untuk menjaga perasaan laki- laki itu. Laki- laki itu bukan siapa- siapanya.             “Terserahlah.” Katanya, “gue duluan ya. Lo udah selesai follow up pasien?”             Ciara hanya mengangguk lalu melihat temannya pamit dan berbalik lalu menjauh.             Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka berdua, Ciara menelan ludah dengan susah payah lalu melirik Mahesa yang menunjukkan raut wajah tak terbaca.             “Aku senang Bara bisa jadi orang yang bisa kamu andalkan.” Kata Mahesa dengan nada canggung yang tak bisa disembunyikan.             “Aku permisi, masih ada yang harus kerjakan.” Kata Ciara pada Mahesa. Gadis itu pamit lalu berjalan menjauh untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.             Mahesa menghela napas kasar, mencoba meredam detak jantungnya yang tiba- tiba berdetak tak karuan. Gadis itu bukan Ciara yang dulu dikenalnya. Pertemuan mereka nyatanya tak juga membuat mereka berdua kembali ke sosok semula. Gadis itu telah banyak berubah sepeninggal dirinya. Gadis itu dingin, beku dan lebih memilih menjawab semua pertanyaan dengan singkat.             Pelukan yang gadis itu berikan saat pertemuan mereka berdua nyatanya hanya kehangatan sesaat. Gadis itu telah mengunci hatinya dan sepertinya tidak akan membiarkan laki- laki yang sudah pergi seenaknya, masuk begitu saja. Haruskan Mahesa mengetuknya? Atau mungkin mendobraknya dengan paksa? Saat si pemilik rumah bahkan tak ingin membuka pintu itu untuk dirinya.   ***               Mahesa mengetuk pintu itu dua kali sebelum mendengar orang di dalam mempersilakannya masuk. Ia menekan handle pintu dan melihat ayahnya sedang duduk di balik meja besarnya dengan setumpuk dokumen di depannya.             “Sibuk, Pa?” Mahesa berbasa- basi. Ia tahu bahwa ayahnya selalu sibuk. Sebagai dokter bedah, ayahnya bisa berada berjam- jam di ruang operasi, belum lagi pasien yang selalu mengantre di jam prakteknya. Pria itu jelas lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit dibanding di rumahnya.             Mahesa melangkah dan duduk di kursi kosong di depan meja.             “Ya… biasa lah.” Kata pria itu. “Kamu ketemu Ciara? kayaknya dia masih jaga. Tadi papa ketemu habis visit pasien.” Irawan bertanya sambil menatap wajah anak sulungnya yang tampak kusut.             “Mahesa bingung mau gimana. Ciara udah punya pacar. Mahesa nggak mungkin ngerebut dia dari pacarnya.” jawabnya.             Pria di depannya tersenyum lalu melepas kacamatanya.             “Kamu masih muda. Masih punya banyak waktu.”             Laki- laki itu mengangguk lalu tersenyum kecut. Ayahnya benar, tapi apa ia bisa jika kesempatan saja ia tak punya. Gadis itu telah menutup pintu hatinya. Tapi ia sadar, itu sepenuhnya kesalahan Ciara. Gadis itu berhak bahagia dengan laki- laki lain daripada menunggu seseorang yang belum jelas kapan akan muncul di hadapannya.             “Mahesa mau ke kantin. Papa mau kopi atau yang lainnya?” Irawan menggeleng lalu berujar “gimana sama permintaan Bara untuk kembali ke rumah? Bukannya kamu juga udah janji kalau akan kembali ke rumah setelah ketemu sama Ciara?”             Mahesa terdiam. Ia menelan ludah sambil menatap ayahnya yang penuh harap. Ia sadar, ia sudah cukup lama meninggalkan orangtua tunggalnya.             Mahesa mengangguk pelan. Ia melihat kedua bola mata ayahnya berbinar senang. Mungkin Bara benar. Mereka sudah seharusnya tinggal satu rumah dan memulai semuanya dari awal. Mereka sudah sepatutnya kembali menjadi satu keluarga meski tak utuh. Ia tahu bahwa bagaimanapun, ia menyayangi adik tirinya hingga saat ini.   ***               Lara mendengar pintu ruangan yang dibuka, lalu tak lama sosok saudara kembarnya terlihat. Gadis itu berjalan seorang diri dan mendekati ayahnya yang duduk di sofa. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan mencium tangan kanan ayahnya.             “Kamal mana, Ay?” Ia baru saja hendak menjatuhkan diri di samping ayahnya saat mendengar pertanyaan itu. Ia kembali berdiri dan mendekat ke arah ranjang.             “Dia katanya mau ketemu Dila.” Jawab Ayra.             “Kok tumben nggak pamit sama gue.” Kali ini Ayra terdiam. Ia tidak mungkin memberitahu keadaan Kamal saat ini. Bahwa hati laki- laki itu telah hancur. Bahwa laki- laki itu tampak kacau karena melihat gadis yang disukainya menyukai orang lain.             Tak hanya Kamal, keadaannya sama buruknya. Tak peduli Lara menyukai Mahesa, melihat ternyata Kamal menyukai Lara juga membuatnya sakit hati. Ia tahu bahwa keduanya telah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama. Ia tidak menyalahkan laki- laki itu jika menyukai Lara.              Namun ia masih tidak menyangka bahwa gadis itu adalah Lara, saudara kembarnya. Ia pikir laki- laki itu terus bersama Lara saat itu karena Lara sama sekali tak punya tampat bersandar. Ia pikir perasaan dan sikap baiknya hanya sebatas sahabat, karena laki- laki itu juga memperlakukannya dengan sangat baik. Ia tidak menyangka laki- laki itu menyimpan perasaan yang begitu dalam pada saudara kembarnya.             Keadaannya sama buruknya dengan laki- laki itu. Ayra hanya lebih pandai menyembunyikan sakit hatinya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasakan sesuatu yang mengikat dan terasa mencekiknya sehingga membuatnya sulit bernapas.               Ia menatap Lara yang duduk di atas ranjangnya dan tengah fokus pada layar ponselnya. Ia menatap wajah gadis serupa dirinya itu lamat- lamat. Dari dulu, ia selalu iri pada gadis itu karena merasa hidup gadis itu menyenangkan. Kini, setelah keadaan kembali seperti semula, ia masih tetap iri pada Lara. Karena gadis itu dicintai sepenuh hati oleh Kamal. Ia merasa bahwa Lara bodoh karena menyia- nyiakan Kamal. Dengan semua yang dilakukan Kamal untuknya, sehruasnya ia tidak menyingkirkan laki- laki itu demi Mahesa.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN