“Mas, nasi gorenya tiga porsi, ya.” kata Mahesa ada penjual nasi goreng yang mereka datangi. “Empat, Mas.” Ciara meralat. “ada Bara di rumah.” Gadis itu memberitahu saat melihat Mahesa menatapnya bingung. “Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Mahesa. Mereka berdua duduk di salah satu kursi yang disediakan. “Bara, tuh, selalu ke rumah kamu setiap hari?” Mahesa bertanya, tak bisa mengenyahkan rasa penasaran dalam hatinya. Pasalnya, semakin hari, ia semakin tahu bahwa Bara kerap menemui Ciara di rumah sakit, padahal ia tahu laki-laki itu juga sibuk. Ia juga mendengar dari beberapa perawat bahwa meski laki-laki itu tak bisa menemui Ciara yang saat itu sedang sibuk, laki-laki itu selalu menitipkan makanan untuk gadis itu. Ia kini tahu bahwa laki-la

