Lara menatap pintunya yang terdengar diketuk pelan. Tak lama ia mendengar namanya di panggil. Dari suaranya, ia yakin Ayra yang ada dibalik pintunya. Ia melirik jam dindingnya. Sudah hampir jam delapan pagi. Dengan langkah gontai, ia mendekati pintu dan membukanya. Mata Ayra membulat saat melihat Lara dibalik pintu. Gadis itu masih memakai piyamanya dengan rambut acak-acakan dan kedua mata yang memerah. “Ra, lo sakit?” tanya gadis itu. Ia membuka pintu lebih lebar dan melihat saudarinya membalik badan dan kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya. Lara menggeleng, “gue lagi malas aja.” “Yakin?” tanya Ayra saat melihat gadis di atas ranjang menggeleng pelan dan membuat alasan. “Terus kenapa? Mata lo merah dan bengkak gitu, lo

