CHAPTER LIMA PULUH DUA

1984 Kata

Lara menatap ponsel dalam genggamannya. Seharian ini, ia menunggu pesan dari Mahesa. Namun pesan itu tak ada. Dan ia baru sadar bahwa laki-laki itu tidak pernah mengiriminya pesan lebih dulu. Ya. Selama ini selalu dirinyalah yang mengirim pesan pada laki-laki itu. Bertanya laki-laki itu sedang sibuk atau tidak? Ada di studio atau tidak? Apa boleh ia datang untuk makan malam bersama dan hal lainnya.            Lara menghela napas berat. Bibirnya bergetar. Dari sana, ia seharusnya tahu bahwa laki-laki itu sama sekali tak memiliki perasaannya padanya. Kini ia tahu betapa ia begitu terlihat bodoh karena mengejar-ngejar laki-laki yang sama sekali tak menyukainya. Tapi, kenapa laki-laki itu begitu baik. Kenapa laki-laki itu membuatnya merasa bahwa perasaannya berbalas. Kenapa laki-laki itu tid

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN