CHAPTER SEPULUH

1846 Kata
            Bara tergesa- gesa keluar dari ruang laboratorium. Ia melangkah lebar- lebar keluar dari fakultas kedokteran. Langkah kaki membawanya menuju fakultas sastra. Ia menyusuri koridor lantai satu untuk mencari keberadaan Lara. Saat tak menemukannya di lantai satu, ia naik ke lantai dua. Ia mengitip dari jendela tiap ruang kelas di sana hingga akhirnya menemukan gadis itu sedang berkumpul bersama teman- temannya di koridor, di depan ruang kelas yang pintunya terbuka lebar.             “Bisa bicara sebentar?” tanya Bara sambil mengatur napasnya yang terengah- engah. Semua pasang mata yang ada di dekat Lara kompak menghujam ke arah Bara. Mereka tak ingin menyia- nyiakan kesempatan untuk melihat laki- laki itu dari dekat. Laki- laki berkulit sawo matang dengan rahang tegas, tatapan tajam dan tampan.             Lara menatap Bara lalu melirik teman- temannya yang sudah fokus pada sosok laki- laki yang baru saja hadir di antara mereka. Gadis itu berdiri, dan merasakan tangannya langsung ditarik oleh laki- laki itu. Lara berusaha menyeimbangkan langkah Bara yang lebar- lebar.             “Kenapa sih, Bar?" tanya Lara heran saat mereka sudah sampai di ujung koridor, tempat yang lebih sepi. Ia melihat Bara menatapnya dengan tatapan dingin. Firasat gadis itu tak enak.             “Di mana Mahesa?" tanya Bara tanpa basa- basi. Laki- laki itu bisa melihat keterkejutan dalam raut wajah gadis di depannya. Gadis itu menelan ludah. Sepertinya tidak menyangka bahwa kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya.             "Mahesa? Mahesa kakak kelas kita? Kenapa lo nanya gue? Mana gue tahu?" jawabnya lengkap dengan angkatan bahu. Lara mati- matian berusaha terlihat tenang. Ia tidak ingin laki- laki itu tahu bahwa ia sudah tahu keberadaan Mahesa.             Bara menghela napas. Ia berdecak lalu memegang pergelangan tangan Lara. “Jangan bohong. Gue tahu lo kemarin ketemu dia waktu naik gunung kan?” Bara menatap Lara dengan tatapan tajam dan dingin. Berusaha mengintimidasi gadis di depannya.             Mata Lara kontan melebar. Dia tidak percaya bahwa Bara mengetahui petermuannya dengan Mahesa kemarin. Padahal ia tidak memberitahukan pada siapa- siapa. Tak ada yang tahu selain Kamal dan Iras yang jelas- jelas ada di tempat kejadian.             Lara mengigit bibirnya dengan gelisah. "Iya... Gue emang ketemu dia... Nggak sengaja... Tapi gue nggak tau di ada di mana dan tinggal di mana." jelasnya dengan terbata- bata. Lara melihat laki- laki di depannya menghela napas kasar.             "Jangan bohong, Ra. Nggak mungkin lo nggak refleks tanya di mana dia selama ini. Jangan pikir gue bodoh." pegangan di lengan Lara semakin mengerat. Tatapan Bara kian menajam.             Lara menghela napas kasar lalu menghempaskan tangannya dengan kasar hingga pegangan itu terlepas. Ia menatap Bara dengan tak kalah tajam.             "Inget ya, Bar. Meski gue tahu di mana kak Mahesa, gue nggak pernah kasih tahu lo." Lara mendorong sebelah bahu Bara lalu berlari meninggalkan laki- laki itu.             Sebelah tangan Bara mengepal. Ia mati- matian berusaha untuk tak mengejar gadis itu dan mendesaknya hingga gadis itu memberitahukan informasi yang ingin ia dengar. "Sialaan." laki- laki menendang tong sampah di belakangnya sambil menyerukkan sumpah serapah.   ***               Kamal menatap gadis di depannya sambil tersenyum. Ia sedang berada di restoran dekat kampus dan makan siang bersama Dila. Gadis itu memakai kemeja biru laut dan celana jeans hari ini. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai melewati bahunya.             Suara denting ponsel terdengar saat keduanya sedang asik mengobrol dengan dua buah piring berisi mie goreng di atas meja. Kamal merogoh saku celananya untuk mengambil gawainya dari sana.             Lara: Mal, lo di mana? Temuin gue di taman belakang kampus sekarang ya.             Dahi Kamal berkerut membaca pesan yang barusan masuk. Ia lalu melirik Dila yang tengah menatapnya.             “Kenapa?” tanya gadis itu yang baru saja menyelesaikan makannya. Dengan sebelah tangannya, ia mengambil gelas berisi es teh manis di atas meja dan menyesapnya melalui sedotan yang mencuat dari dalam gelas.             “Ehm... Ini... Lara minta gue nemuin dia di taman belakang kampus sekarang. Ada yang penting kayaknya.” ujarnya dengan nada tak enak.             “Oh, yaudah. Balik ke kampus yuk. Gue udah selesai kok makannya.” Kata Dila. Ia buru- buru menyesap minumannya.             “Tapi kan lo baru aja selesai makan.”             “Nggak apa- apa. Mungkin ada hal yang penting banget makanya Lara minta ketemu lo.” kata Dila sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Gadis itu sudah bersiap.             Kamal ikut berdiri saat Dila berdiri dari duduknya. Sekali lagi, ia menggumamkan maaf pada gadis itu. Seharusnya mereka punya banyak waktu untuk membiacarakan banyak hal dan saling mengenal. Ia berjanji pada gadis itu ia akan mengganti makan siang kali ini dengan waktu yang lebih santai.             Dila tersenyum lalu mengangguk pelan. Setelah mengantar Dila ke fakultasnya, Kamal bergegas ke taman belakang dan menemukan Lara tengah merenung dengan sebotol air mineral dalam genggamannya. Gadis itu duduk di atas rumput hijau seorang diri.             “Ada apa?” tanya Kamal. Lara menoleh lalu melihat Kamal duduk di sebelahnya.             “Kok Bara bisa tahu, ya, kita ketemu Mahesa kemarin? Dia tadi nemuin gue, nanya di mana Mahesa.” jawab Lara tanpa basa- basi. Ia menatap Kamal yang juga menatapnya dengan bingung.             “Kok bisa? Kak Iras kali yang bilang?” ujarnya.             Lara menggeleng cepat. “Nggak mungkin, Mal. Kak Iras tuh jaga rahasia kak Mahesa banget.” kening Lara berkerut, lalu melanjutkan “foto yang kita upload nggak ada kak Mahesanya kan?”             “Nggak ada. Udah gue teliti banget.” kata Kamal. Otaknya berputar cepat lalu ia mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan dan mencari kontak Ayra. Matanya membulat seketika.             “Pasti karena ini.” ia menyerahkan ponselnya pada Lara dan melihat gadis itu mendesah pelan. “Pas gue kirim foto ini, Ayra bilang lagi jalan ke pantai sama Bara. Mungkin dia nunjukin foto ini ke Bara.” lanjutnya.             “Kok lo ceroboh banget sih, Mal. Kan gue bilang, jangan sampai Bara tahu kalau kita ketemu kak Mahesa.” Lara menatap Kamal dengan tatapan sedikit kesal.             “Sorry, Ra. Gue nggak sengaja. Gue nggak ngeh juga kalau ada kak Mahesa di belakang. Secara suasana ramai gitu.”             Mata Lara menatap Kamal, "Kalau Bara nanya tentang Mahesa sama lo. Lo jangan jawab apa- apa ya. Bilang aja lo nggak tahu." pinta Lara. Kamal mengangguk sambil terseyum kecut.             Sebegitu pentingnyakah Mahesa bagi Lara?   ***               Kamal menyusuri lorong fakultas manajemen di lantai dua lalu masuk ke salah satu kelas. Di dalam kelas itu sudah ramai. Ia mendekati satu meja tempat Ayra duduk dan menjatuhkan diri di kursi kosong di sebelahnya.             “Kenapa?” tanya Ayra saat ia menoleh dan melihat raut wajah Kamal yang tampak dingin. “kenapa, sih?” tanya gadis itu lagi saat tak mendapatkan jawaban. Ia membenarkan posisi duduknya hingga menghadap Kamal.             Kamal menghela napas lalu menceritakan hal yang tadi ia bicarakan dengan Lara. Ia menceritakan saat Bara mendatangi Lara dan mendesaknya memberitahu di mana keberadaan Mahesa.             “Eh, pasti karena foto yang lo kirim, ya.” kata Ayra. “sorry, ya. Gue nggak ngeh kalau di foto itu ada kak Mahesa.” Kata Ayra dengan nada tidak enak. Ia seharusnya tidak memperlihatkan foto itu pada Bara.             “Nggak, bukan salah lo kok. Ini kesalahan gue. Gue ambil foto itu sebelum ketemu sama kak Mahesa, jadi gue juga nggak ngeh.” Kata Kamal. Ia meminta Ayra tak memikirkannya lagi.             Ayra berdecak. Ia langsung membayangkan bagaimana sikap Bara saat bertanya pada Lara. Apakah laki- laki itu bertanya dengan kasar, menyentak saudaranya sama seperti saat laki- laki itu bertanya padanya kemarin. Ia menggeleng, ia memang seharusnya tak melunak pada laki- laki itu. Ia seharusnya teguh pada pendiriannya untuk tak memberikan laki- laki itu kesempatan ataupun celah sedikitpun.   ***               Ciara menatap laki- laki yang duduk di depannya. Laki- laki itu tengah fokus pada layar komputer di depannya. Jari- jari tangannya menari di atas papan ketik. Bara sedang mengerjakan laporan praktikum dengan serius. Keduanya sedang berada di perpustakaan.             “Lo masih lama, Bar? Gue laper nih. Makan dulu, yuk.” Ajak Ciara.             Bara menengadahkan kepalanya setelah melirik jam analog di pergelangan tangannya. “Gue juga lapar sih, tapi gue udah harus masuk ke lab setengah jam lagi.” kata laki- laki itu.             “Yaudah gue ke kantin dulu, ya. Gue habis ini mau minta tanda tangan pak Marlin terus pulang.” Kata Ciara. Ia membereskan barang- barangnya dan melihat laki- laki di depannya mengangguk pelan.             “Semangat, ya, Bara.” Kata Ciara sambil tersenyum. Laki- laki di depannya mendengus.             Ciara berdiri dari duduknya dan keluar dari perpustakaan. Ia tahu sesibuk apa Bara. Ia pernah mengalaminya. Ia pernah mengalami saat harus mencuri- curi waktu untuk makan saking banyaknya hal yang perlu ia kerjakan. Ia bisa datang ke kampus pagi- pagi sekali dan baru menyelesaikan kuliahnya malam. Lama kelamaan, ia mulai bisa membagi waktu dan menempatkan skala prioritas sehingga tugas- tugasnya bisa terselesaikan dengan baik.             Ia menuruni tangga dan pergi menuju kantin dengan ransel di pundaknya. Ia langsung mendatangi penjual siomay dan memesan satu porsi lalu mengambil air mineral dari dalam boks pendingin.             Ia menunggu di sana sementara penjual siomay menyiapkan pesanannya.             “Mas, pesan satu lagi, deh, ya. Di bungkus.” Kata Ciara. Ia melihat pria itu mengangguk.             Ciara membawa piringnya ke salah satu meja panjang yang sudah berisi beberapa orang. Ia tersenyum pada orang di meja itu dan duduk di ujung kursi panjang itu. Ia menikmati siomay dalam piringnya hingga habis lalu menyesap air dalam botolnya. Setelah selesai, ia kembali mendatangi penjual siomay untuk melakukan pembayaran dan mengambil pesanannya yang dibungkus.             Setelah menerima kembalian dari penjual siomay itu, ia berjalan keluar dari kantin. Ia melirik jam tangannya dan mempercepat langkahnya. Ia pergi mendekati tangga dan berhenti saat melihat Bara terburu- buru menuruni tangga.             “Nih makan dulu.” Ciara mengulurkan plastik berisi siomaynya saat Bara berdiri di depannya.             “Apa nih?” tanya Bara.             “Siomay.” Jawab Ciara.             Bara mengambilnya lalu memasukkan satu potongnya ke mulutnya. “Makasih.” Katanya sambil terus mengunyah. Keduanya berjalan beriringan menuju laboraturim yang ada di ujung koridor lantai satu.             “Pelan- pelan.” Ciara memperingatkan saat melihat Bara memasukkan siomay penuh- penuh ke mulutnya. Ia mengulurkan botol air minum yang juga ia beli untuk laki- laki itu saat melihat laki- laki itu kesulitan menelan.             Bara mengambilnya lalu menyesapnya melalui mulut botol dan membiarkan air membantunya menelan isi mulutnya yang penuh.             Bara menghabiskan siomay di dalam plastik itu saat sampai di depan laboraturium. Ia melongok ke dalam melalui jendela dan melihat lab itu sudah ramai, namun belum ada dosen di dalam.             “Thanks, ya.” kata Bara smabil membuang plastik bekas ke dalam tong sampah yang ada di sampingnya. Ia melihat gadis di depannya mengangguk. “lo mau balik ya? hati- hati, ya. Gue masuk dulu.” Kata Bara.             Sekali lagi, Ciara mengangguk sambil tersenyum dan melihat laki- laki itu masuk ke dalam ruangan dan berkumpul bersama teman- temannya yang lain.             Ia kembali melangkah menuju ruangn dosen yang ada di ujung berlawanan dari ruangan laboraturium. Langkah kakinya berhenti saat ia merasakan ponsel dalam sakunya bergetar. Ia merogoh saku celananya dan melihat nama Nugi di layarnya. Ia menslide layar dan menjawab panggilannya.             Setelah berbicara sebentar pada Nugi ia mematikan panggilan. Laki- laki sedang ada kuliah dan baru akan selesai sore nanti. Laki itu hanya bertanya apa gadis itu sudah pulang atau belum, sudah makan siang atau belum dan perhatian- perhatian kecil lainnya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN