Jam menujukkan pukul setengah tiga sore saat pintu ruangan itu terbuka. Mahesa menoleh dan melihat ayahnya masuk dan langsung menjatuhkan diri di kursi besar di depannya. “Kamu mau jemput Ciara?” Irawan bertanya. “Iya, tapi Mahesa nggak bilang mau jemput, sih. Cuma tahu kalau dia selesai jam empatan.” Kata Mahesa. Irawan mengangguk, “gimana kerjaan kamu?” “Lancar.” Jawab Mahesa singkat. “Ada apa?” Irawan membuka kacamata dan mengusap katanya pelan. Ia menaruh benda itu di atas meja dan menatap Mahesa yang hari ini terlihat begitu gelisah. “Mahesa kepikiran buat ngajak Ciara serius.” Kata laki-laki itu. Ia sudah memikirkan ini matang-matang. Ia pikir ia tidak punya keraguan dengan hubungannya dengan Ciara

