Raffa terbangun dari tidurnya. Cowok itu melirik ke kanan dan ke kiri. Sudah tidak ada siapa-siapa, itu artinya … teman-temannya sudah pulang. "Udah bangun kamu anak gengsi?" Raffa memutar bola matanya malas kala melihat Fatur—Papanya yang baru saja membuka pintu kamarnya. Pria itu masuk, kemudian menyentuh kening Raffa dengan pelan. "Lebay kamu, Raf. Masa gini aja panas banget." "Pa, udah ngopi?" tanya Raffa mengabaikan ucapan Fatur. Fatur mengerutkan alisnya, "Belum. Mama lagi bikin air panasnya, kenapa?" "Bawa air, terus Papa simpen di kening Raffa. Auto panas … ayo cepet, Pa." Fatur mendorong kening Raffa menggunakan telunjuknya dengan pelan. "Papa rasa otak kamu kegeser, Raf. Kamu salah posisi tidur?" tanya Fatur. "Posisi kok disalahin, gengsi dong! Masa apa-apa nyalahin yang

