Bab 1
Hari kelulusan SMP itu benar-benar b*****t.
Namaku Keano Zavier. Aku tumbuh di keluarga yang akrab dengan kemiskinan. Orang tuaku hanya bekerja sebagai buruh panggilan atau pekerja borongan di sawah orang. Karena itulah, sejak SMP aku sudah harus putar otak dan mencari pekerjaan sampingan selepas pulang sekolah. Aku bekerja mencuci motor di doorsemer dekat kontrakan. Uangnya kupakai untuk membiayai hidupku sendiri, supaya orang tua tidak terlalu banyak terbebani.
Soal masa depan? Jangan ditanya. Bisa bertahan hidup tanpa kekurangan saja sudah membuatku bersyukur setengah mati. Boro-boro orang tua bisa mengirimkan uang jajan untukku, yang ada justru kadang aku yang menyisihkan uang dari hasil cuci motor untuk kukirim kepada mereka.
Namun, itu bukan hal yang kusesali. Malah, itu adalah hal yang paling kusyukuri karena aku bisa membantu meringankan beban ayah dan ibuku, walau hanya sedikit. Rasanya senang sekali melihat senyum lelah mereka agak berkurang karena bantuanku.
Meskipun jujur, kadang ada rasa iri yang terselip saat melihat teman-teman di sekolah. Mereka semua punya cita-cita tinggi dan hidup yang layak, tanpa harus capek-capek memeras keringat demi bertahan hidup. Sementara aku? Mau jajan saja harus mikir dua kali, takut uangnya nggak cukup buat beli bensin Revo bututku besok-besok.
Kalau soal cinta, ah, jangan ditanya lagi. Aku tidak tampan, juga tidak kaya. Jadi, apa yang mau dilihat wanita dariku? Hahaha. Tapi apa pun itu, semuanya tetap harus kusyukuri.
Sampai akhirnya, hari kelulusan itu tiba. Hari di mana aku nekat menantang takdir kelamku demi sebuah harapan semu.
Di tengah lapangan sekolah yang ramai, langit memang cerah, tapi hatiku ambyar total. Tanganku gemetar hebat saat menyodorkan kotak kado merah besar berhias pita kupu-kupu keemasan. Itu hasil keringatku sendiri, hasil menyisihkan uang pendapatan setiap kali mencuci motor selama berbulan-bulan, demi membelikan hadiah untuk wanita yang sangat aku impikan sejak awal masuk SMP.
Plak!
Kotak merah dengan pita kupu-kupu keemasan itu ditepis kasar hingga jatuh ke tanah. Isinya hancur berantakan.
Aku mematung, menatap cokelat mahal yang kini telah terkapar di antara serpihan karton yang robek, kotor bercampur debu. Semua hasil jerih payah dan menabungku selama ini rasanya sia-sia, hancur lebur seketika.
"Nggak ngaca lo, Keano?" Suara Widia melengking, menusuk gendang telinga.
Semua mata murid langsung tertuju ke arah kami, berbisik sambil ketawa renyah.
"Udah jelek, miskin, ke mana-mana modal Revo butut pula! Sadar diri dong, kita beda kasta!" Widia meludahi momen itu tanpa ampun sebelum pergi dengan angkuh.
Kalimat itu menancap di otakku, dalam dan berkarat seperti paku tua. Hingga hari ini, saat aku resmi menginjakkan kaki di SMA N 1 Nusantara, sekolah paling elite di Negri Seribu Pulau, rasa perih itu masih terasa nyata. Sialnya, si Widia yang sombong itu juga lolos masuk ke sini.
Lapangan MOS pagi ini sudah semrawut total. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau keringat ribuan murid baru. Aku tidak sendiri di barisan tengah. Ada empat sohibku yang langsung bikin siswi-siswi merinding disko sejak melangkah masuk gerbang.
Raka, si paling ganteng, bener-bener mirip idol Korea keluyuran. Tebar pesona dikit dengan membenarkan kerah baju, dia langsung bikin kakak kelas cewek salting parah di pinggir lapangan.
Dandi berdiri di sebelahku, masang badan tegapnya yang atletis. Dia pelindung setia kawan yang super pede, bikin banyak cewek jantungan lewat senyum lebarnya.
"Tenang No, kalau ada yang macem-macem, bilang gue," bisik Dandi mantap.
Raka juga menepuk pundakku pelan. "Kita bareng-bareng masuk sini, bareng-bareng sukses, No."
Omongan mereka bikin hatiku agak adem ayem. Tapi ketenangan itu gak bertahan lama.
Jonelis sibuk ngebaca buku saku, cuek bebek sama keadaan sekitar. Si jenius juara umum ini punya tipe kutu buku ganteng yang langsung diincer kakak kelas penyuka buku.
Sama Tian Liu, cowok cool nan diem yang daritadi cuma masukin tangan ke kantong celana. Rajinnya gak ngotak, aura misteriusnya malah bikin cewek-cewek kelepek-kelepek penasaran.
Terakhir ya aku, Keano. Kagak ganteng, kagak pinter, kagak kaya. Modal tulus sama rajin doang, tapi nasibnya hobi diinjak-injak orang.
Suasana lapangan mendadak hening seketika. Speaker utama sekolah berdengung kencang. Empat komunitas raksasa sekolah masuk dengan gaya berkelas, bikin barisan murid langsung mundur teratur. Momen berburu kasta yang legendaris dimulai.
Pertama, Komunitas Pelajar Rekomendasi atau KPR. Ini aset resmi sekolah, jalur kilat menuju kursi ketua OSIS tiap tahunnya. Diketuai Jaka yang tajir melintir tapi angkuh mampus, disusul antek-anteknya yaitu Irham, Ivan, Iqbal, dan Riski.
Si Jaka jalan tegap, matanya tajam langsung nyamperin Raka sama Tian Liu. Dia melirik sinis ke arahku sebelum bicara ke Raka. "KPR gak butuh orang gak berguna di sekitar kita."
Sialan, belum apa-apa aku udah kena semprot mental. Raka mau protes, tapi Jaka langsung memotongnya dengan senyum penuh kuasa. "Masuk KPR, pesona kalian cocok buat bikin komunitas kita makin tak tertandingi," ucap Jaka sombong setengah mati.
Kedua, Komunitas Pelajar Super alias KPS. Rival abadi KPR yang selalu adu gengsi tiap semester. Ketuanya Sappe Antares yang kalem pol tapi auranya intimidating banget. Di belakangnya ada Charles, si idaman cewek karena jago gitar dan punya suara seksi, plus Rudi dan Bastian.
Sappe gak mau kalah, langsung maju satu langkah dan nyodorin brosur emas ke Raka sama Jonelis. "Jangan dengerin Jaka. Di KPS, kita pakai otak, bukan cuma pamer kekayaan bapak," sindir Sappe melirik Jaka.
Charles di sebelahnya mulai memetik gitar kecil yang dia bawa, bikin cewek-cewek jerit-jerit histeris kayak kesurupan.
Ketiga, Komunitas Pelajar Bersatu atau KPB. Ini komunitas ilegal yang paling ditakutin karena hobi bikin onar, kriminal, dan balap liar. Ketuanya Andika, anak kandung gembong mafia kelas kakap di Negri Seribu Pulau.
Si Andika jalan santai, tapi semua orang langsung nahan napas kagum campur ngeri. Dia langsung megang kerah jaket Dandi dengan santai. "Gak usah banyak bacot, jiwa petarung lo cocok di KPB. Ikut gue sekarang," seringainya penuh penekanan.
Dandi ngelirik aku, panik tapi juga tertantang. "No, gue duluan ya!" teriaknya pas keseret massa.
Terakhir, Komunitas Pelajar Inovatif atau KPI. Isinya Andre, Sulei, Abdel, dan Temon yang merajai panggung pentas seni dan kompetisi nasional. Mereka bergerak cepat, langsung nyergap Jonelis sama Tian Liu buat diajak gabung tim olimpiade mereka.
Gila! Sahabat-sahabatku langsung diperebutkan kayak rebutan sembako murah. Sorakan histeris cewek-cewek makin pecah, suasananya bener-bener kayak konser megah. Mereka semua ditarik, dikerumunin, dipuji-puji setinggi langit.
Sementara aku? Aku cuma bisa bengong sendirian kayak patung malang di tengah lapangan yang makin luas. Nggak ada satu pun petinggi komunitas yang nengok, apalagi nawarin pin. Zonk total, aku dianggap gak kasat mata!
"Heh, Revo butut!" suara cempreng yang sangat kuingat memotong kebisingan lapangan.
Sialan, mimpi burukku beneran dateng. Widia berjalan anggun mendekat, lengkap dengan seragam ketatnya yang modis. Dia berdiri tepat di depanku sambil lipat tangan di d**a. Mukanya ngejek abis, matanya memandangku dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
"Gue kira lo sadar diri kagak bakal berani injek sekolah ini," bisik Widia penuh racun. "Tuh liat, gak ada yang sudi temenan ama lo kalau udah di sini. Liat sohib-sohib lo, mereka langsung jadi raja. Lah lo? Tetep aja jadi keset."
Tawanya renyah tapi bikin d**a ini ambyar lagi. Beberapa siswi di sekitar Widia ikut nengok dan ikutan bisik-bisik miring.
"Bahkan sohib-sohib lo bakal lupain lo dalam seminggu," tambahnya makin puas.
Bangsat. Rasanya pengen kusumpel itu mulut pake knalpot Revo bututku.
Aku merem sebentar, nenangin jantung yang udah mau copot nahan dongkol. Gila, ini cewek bener-bener gak punya hati nurani. Tapi aku gak bakal nangis kayak pas kelulusan SMP dulu. Kutatap mata Widia langsung, dingin tanpa ekspresi.
"Mulut lo dijaga, Wid. Dunia ini berputar," jawabku lirih tapi tegas.
Widia kaget dikit, kagok denger balesanku, tapi langsung masang muka judesnya lagi. Aku cuma bisa menghela napas pelan sambil masang senyum kecut andalanku. d**a emang nyesek, perihnya dapet banget, tapi mental ini gak bakal hancur cuma gara-gara makian dia lagi.
Aku gak mau bikin keributan di hari pertama. Aku mending mundur perlahan, gas pol cari barisan paling belakang yang adem ayem. Persetan sama komunitas, persetan sama kasta taruhan gengsi mereka. Aku bakal buktiin, suatu saat nanti roda bakal berputar.
Kulihat Widia sekali lagi dari kejauhan. Liat aja nanti, Wid.
Badai besar di SMA N 1 Nusantara baru aja dimulai!