Raka, Dandi, Jonelis, dan Tian Liu saling pandang. Mata mereka menatap ragu pin emas dan brosur undangan di tangan para ketua komunitas. Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung mengambil benda berkilau itu.
Suasana lapangan SMA N 1 Nusantara mendadak mencekam. Ratusan pasang mata murid baru langsung tertuju ke arah kami, penasaran dengan drama yang terjadi di depan faksi penguasa sekolah.
"Gue gak bakal gabung kalau Keano kagak diajak," gertak Dandi ketus.
Dia melangkah maju, memasang badan tegapnya di depan Andika, ketua KPB. Tangan Andika yang memegang brosur hitam-merah khas anak jalanan itu langsung ditepisnya dengan santai.
Sial, lapangan langsung senyap total. Kakak kelas penonton yang tadinya riuh langsung melotot kagok. Mereka seolah tidak percaya ada anak baru seberani itu menolak faksi penguasa sekolah.
Jaka, ketua KPR yang tajir melintir itu, langsung mendengus sinis. Dia membenarkan jas almamaternya yang super rapi sambil menatapku seolah aku ini kecoa yang menempel di sepatunya.
"Sadar diri. Komunitas kita gak nampung beban ampas," ucap Jaka penuh penekanan.
Bangsat. Mulut si Jaka benar-benar minta digosok pakai amplas kasar.
Dadaku langsung nyesek, panas dingin menahan emosi yang hampir meluap ke ubun-ubun. Tapi aku tahu, kalau aku kepancing sekarang, tamat riwayatku di hari pertama sekolah.
Dandi sudah mengepalkan tinju dengan urat leher yang menonjol, pertanda emosinya sudah di ujung tanduk. Raka dan Tian Liu juga sudah memasang wajah dingin mampus, siap lepas kendali untuk menghajar siapa saja.
Gila! Sahabat-sahabatku mau tawuran di hari pertama MOS cuma gara-gara aku dihina. Aku tidak mau jadi beban beneran buat masa depan mereka di sekolah elite ini.
Aku langsung maju, melangkah dengan tenang di antara sohib-sohibku. Kutepuk pundak Dandi yang sudah gemeteran menahan amarah.
"Gila lo pada ya? Ambil aja, bego!" bisikku setengah membentak, mencoba mencairkan suasana yang semrawut total.
Raka menatapku tajam. "Tapi No, dia ngatain lo..."
"Udah, gak usah dipikirin," potongku cepat sambil memasang senyum paling tulus. "Ini kesempatan emas kalian buat berkembang di sini, jangan sia-siain demi gengsi. Gue bakal adem ayem aja di barisan belakang, seriusan. Gas pol aja, jangan mikirin gue."
Kutatap satu per satu mata sahabatku dengan pandangan memohon. Mereka berempat diam seribu bahasa, menatapku dengan rasa bersalah sekaligus tidak tega. Tapi mereka paham betul kelakuanku. Kalau aku sudah ngomong begini pakai nada serius, keputusanku tidak bisa diganggu gugat.
Dengan berat hati yang terlihat jelas, mereka akhirnya menerima pin komunitas masing-masing. Jaka tersenyum puas, merasa menang telak atas harga diriku yang sudah dia injak. Sementara Sappe Antares dari KPS cuma mengangguk pelan, matanya sempat melirikku dengan tatapan penuh arti yang sulit ditebak.
Raka dan Tian Liu resmi ditarik masuk ke barisan KPR yang rapi dan elite. Jonelis dikerubuti anak-anak KPI dan KPS yang langsung rebutan mencatat data prestasinya yang segudang. Sementara Dandi langsung digandeng masuk barisan KPB, dirangkul Andika ala anak geng motor yang siap tempur.
Di sudut lain lapangan, aku bisa melihat siluet Widia yang sedang berdiri anggun. Dia langsung tersenyum puas, melipat tangan di d**a dengan gaya angkuh andalannya. Wajah cewek itu kelihatan senang banget. Dia pasti mengira aku bakal kesepian, menangis, dan didepak dari sirkel pertemanan cowok-cowok hits.
Mampus lo, Keano. Sekarang lo bener-bener sendirian. Mungkin itu yang ada di otak busuknya.
Tapi dugaan Widia benar-benar salah besar. Dia tidak tahu sekuat apa ikatan persahabatan kami sejak zaman susah dulu.
Sebelum benar-benar berpisah ke barisan faksi masing-masing, langkah Raka mendadak berhenti. Dia balik badan, berjalan cepat menyamperiku, lalu merangkul leherku erat-erat di depan kerumunan murid. Aksinya langsung bikin cewek-cewek di pinggir lapangan menjerit histeris parah.
"Komunitas kita boleh beda hari ini, No. Tapi inget, lo tetep bos kita!" ucap Raka lantang. Suaranya menggelegar, sengaja dikeraskan agar terdengar seantero lapangan MOS.
Dandi yang sudah di barisan KPB tidak mau kalah. Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berteriak keras. "Kalau ada yang berani nyenggol lo di sekolah ini, KPB bakal turun tangan buat ngeratain mereka!"
Jonelis membenarkan letak kacamatanya yang melorot, menatap dingin ke arah Jaka dan Widia bergantian. "Otak gue tetep gratis buat lo, No. Kapan pun lo butuh bantuan tugas, panggil gue."
Tian Liu tidak banyak bicara. Dia cuma mengangkat jempolnya sambil menatapku lurus. Gaya cool itu malah membuat cewek-cewek di sekitarnya merinding disko kegirangan.
Gila. Aku terenyuh parah sampai rasanya mau jantungan. Dadaku mendadak hangat, ada rasa bangga yang luar biasa terselip di hati. Persahabatan kami benar-benar tidak berpengaruh sama sekali oleh kasta tiruan sekolah ini. Malah momentum ini bikin hubungan kami makin solid, gak ada obat!
Seketika, senyum kemenangan di muka Widia langsung luntur total. Matanya melotot kagok, mulutnya agak menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Wajahnya langsung sepet, persis seperti orang yang tidak sengaja menelan belimbing wuluh mentah. Rencana busuknya untuk membuatku depresi karena diasingkan malah berujung zonk total.
Meskipun aku tidak masuk komunitas mana pun, empat calon penguasa baru di SMA elite ini tetap berdiri kokoh jadi tamengku. Aku nyengir tipis, memberikan tatapan mengejek balik ke arah Widia yang sekarang lagi gigit bibir menahan kesal.
Priiiiiiit! Suara peluit melengking kencang dari arah panggung utama.
Ketua OSIS dan panitia disiplin mulai mengambil alih lapangan untuk masuk ke sesi pengenalan baris-berbaris. Semua murid baru langsung semrawut mencari barisan kelas masing-masing.
Sohib-sohibku terpaksa berjalan ke barisan khusus faksi mereka yang berada di paling depan. Sementara aku berjalan santai, melangkah ke barisan paling belakang yang adem ayem.
Sialnya, barisan kelasku ternyata pas-pasan banget berdekatan dengan barisan kelas Widia. Cewek itu berjalan melewatiku sambil menyenggol bahuku kasar.
"Jangan seneng dulu, Revo butut. Tadi itu cuma keberuntungan," bisik Widia sinis pas di kupingku.
Bau parfum vanilanya yang menyengat tidak membuatku pusing, malah kata-katanya yang membuatku makin tertantang. Aku cuma diam, tidak niat membalas omongan sampahnya.
Kubenarkan tali tas ransel hitamku yang sudah agak pudar warnanya. Matahari mulai naik, hawanya makin panas membuat keringat mengucur deras membasahi seragam.
Panitia MOS mulai memberikan instruksi fisik yang lumayan berat untuk anak baru. "Semua merapat! Yang lelet bakal dijemur di tengah lapangan!" teriak salah satu panitia galak.
Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk melewati hari yang panjang ini. Mental bajaku sudah terlatih sama kerasnya jalanan dan kerja serabutan mencuci motor tiap malam.
Hinaan Widia, angkuhnya Jaka, atau beratnya tantangan MOS ini tidak bakal bisa membuatku tumbang begitu saja. Kulihat ke depan, ke arah empat sohibku yang lagi jadi pusat perhatian seantero sekolah. Lalu aku melirik Widia yang masih sesekali melihatku dengan pandangan penuh benci.
Aku tersenyum tipis, merapikan barisanku sendiri dengan fokus penuh.
Permainan baru aja dimulai, Wid! Kita lihat siapa yang bakal berlutut dan memohon di akhir cerita nanti!