Matahari makin menyengat di atas kepala. Lapangan SMA N 1 Nusantara rasanya sudah seperti panggangan sate.
Aku sudah keringatan seember, berdiri adem ayem di barisan paling belakang. Sialnya, dari arah depan, panitia MOS berwajah garang mulai keliling mengecek atribut.
"Heh, lo! Yang di ujung kanan belakang!"
Suara bentakan menggunakan toa itu menggelegar, membuat seisi lapangan otomatis menoleh. Jantungku serasa mau copot. Gila, panitia senior berbadan tegap berkacamata hitam langsung berjalan cepat ke arahku. Di belakangnya, aku bisa melihat Jaka, ketua KPR, lagi bisik-bisik bareng Widia.
Bangsat. Pasti ini ulah si Widia yang caper ke Jaka buat mencari gara-gara.
Widia memasang komuk senyum kemenangan yang luar biasa licik. Dia melipat tangan, menunggu momen aku dipermalukan di depan ratusan murid baru.
"Maju lo ke depan panggung! Sekarang!" bentak senior itu lagi, gak pakai santai.
Aku cuma bisa menghela napas pasrah. Kakiku melangkah santai membelah barisan murid yang menatapku kasihan campur ngeri.
Di barisan depan, sohib-sohibku sudah mau maju pasang badan. Dandi bahkan sudah bersiap melepas atribut MOS-nya, tapi langsung kukode dengan gelengan kepala biar tidak usah ikut campur. Aku tidak mau mereka dapat masalah di hari pertama cuma gara-gara aku. Gas pol aja sendiri, mental bajaku kagak bakal ciut!
Aku berdiri di tengah lapangan, tepat di bawah terik matahari dan di depan panggung utama. Jaka berdiri di atas panggung sambil memegang mikrofon, menatapku remeh mampus.
"Jadi ini cowok yang katanya 'bos' dari Raka dan Dandi?" suara Jaka menggema lewat pengeras suara. Murid-murid langsung berbisik riuh.
"Muka pas-pasan, dompet tipis, dateng pake Revo butut. Sekolah kita kagak butuh parasit kayak lo," cibir Jaka tanpa filter.
Widia di pinggir lapangan langsung ketawa cekikikan bareng geng barunya. Sialan, rasanya harga diriku benar-benar lagi digiling di mesin penggilingan.
"Karena lo gak masuk komunitas mana pun, artinya lo ampas. Sekarang, lo bersihin semua tumpukan genset tua dan angkat sound system rusak di pojok lapangan itu sendiri!" Jaka menunjuk ke arah pojok lapangan.
Di sana ada tiga unit genset besi super gede dan semrawut total penuh oli, ditambah tumpukan kabel yang kusutnya gak ngotak. Normalnya, itu tugas yang kudu dikerjakan minimal sepuluh orang dewasa.
"Kalau gak selesai sebelum jam istirahat, lo gue jemur sampe sore!" ancam Jaka kejam.
Geng KPR di belakang Jaka langsung ketawa puas. Mereka pikir aku bakal nangis, menolak, atau pingsan di tempat. Tapi mereka salah besar. Mereka gak tahu kalau tiap malam aku kerja serabutan di bengkel dan cucian motor. Otot dan mentalku udah terlatih sama barang ginian!
Aku langsung jalan ke pojok lapangan tanpa banyak bacot. Kulepas kancing lengan seragam, menggulungnya sampai siku dengan tenang.
Sialan, kabelnya kusut amat kayak hubungan gue sama Widia, batinku sarkas sambil mulai menarik kabel pertama.
Aku menarik napas dalam-dalam. Mendadak, ada sensasi aneh yang mengalir di pembuluh darahku. Fokusku tiba-tiba meningkat tajam, mataku bisa melihat pola kabel yang kusut itu dengan sangat jernih. pikiran mendadak kosong, tapi tanganku bergerak super cepat di luar nalar.
Kupreteli kabel-kabel itu, merapikannya cuma dalam hitungan detik. Tanganku lincah banget seperti mekanik profesional fiksi yang punya kekuatan super. Nggak sampai lima menit, gulungan kabel semrawut itu sudah rapi jali di lantai. Orang-orang yang tadinya kasihan langsung melotot kaget.
Selanjutnya, genset besi seberat puluhan kilo itu harus dipindahkan. Aku jongkok, memegang handle besi genset pertama dengan mantap.
"Satu... dua... angkat!"
Gila! Genset yang harusnya berat mampus itu berasa enteng banget di tanganku. Otot tanganku menegang, tapi aku tidak merasa encok sama sekali. Kuangkat genset itu sendirian, memindahkannya ke gudang pojok dengan langkah tegap tanpa gemeteran.
Satu genset, dua genset, sampai genset ketiga selesai dalam waktu kurang dari lima belas menit!
Lapangan MOS yang tadinya bising langsung hening total, senyap seperti kuburan. Kagak ada lagi suara ketawa, yang ada cuma komuk melongo dari ratusan murid dan panitia.
Jaka yang tadinya mau pamer kuasa langsung mati kutu di atas panggung. Mikrofon di tangannya hampir lepas karena dia syok berat melihat kecepatanku.
Sahabat-sahabatku di barisan depan langsung berteriak heboh. "Gila! Itu sohib gue, b*****t! Gak ada obat!" teriak Dandi bangga pol sambil tepuk tangan kencang.
Raka sama Tian Liu cuma nyengir puas, sementara Jonelis mengangguk-angguk sambil membenarkan kacamatanya.
Aku jalan balik ke tengah lapangan, menepuk-nepuk debu di celanaku dengan santai. Kutatap Jaka langsung di matanya yang mulai panik.
"Udah selesai, Kak. Ada tugas lain yang lebih menantang?" tanyaku tenang, nadanya datar tapi menusuk banget.
Jaka kagok setengah mati, mukanya merah padam menahan malu karena rencananya gagal total buat bikin aku nangis.
Aku melirik ke arah Widia di barisan kelasnya. Mata Widia melotot kaget, mukanya semrawut total seperti habis melihat hantu di siang bolong. Dia memegang dadanya, jantungan tidak percaya kalau cowok miskin yang selalu dia hina punya kekuatan fisik se-epic itu.
Rencana Widia buat bikin aku jadi bahan tertawaan malah backfire. Sekarang, malah aku yang jadi pusat perhatian karena aksi gila ini. Aku senyum tipis, tipis banget sampai gak ada yang sadar kecuali Widia.
Baru permulaan, Wid. Jangan merinding disko dulu, batinku puas sambil jalan balik ke barisan belakang yang adem ayem.
Aku berdiri lagi di barisan paling belakang. Cowok-cowok di sebelahku langsung bergeser, memberi ruang sambil menatapku segan. Nggak cuma cowok, beberapa siswi baru di barisan sebelah kiri tiba-tiba curi-curi pandang. Pas aku menengok, mereka langsung senyum-senyum genit sambil main mata ke arahku.
Gila, aku langsung jantungan bentar. Seumur-umur baru kali ini aku dikedipin cewek banyak sekaligus!
Dari barisan depan, Sappe Antares, ketua KPS yang terkenal kalem itu, menengok ke belakang. Dia memberikan anggukan kecil ke arahku sambil melempar senyum tipis. Gila, si paling cool di sekolah ini juga baru aja nge-respect aku.
Priiiit! Suara peluit panjang panitia kembali berbunyi, tanda sesi pertama MOS selesai dan semua murid boleh ke kantin.
Baru aja aku mau melangkah, empat sohibku sudah lari mengepungku. Dandi langsung merangkul pundakku kasar.
"Gila lo, No! Otot kawat balung besi lo keluar!" seru Dandi heboh banget.
Raka ketawa ngakak. "Muka si Jaka tadi langsung sepet melintir, asli puas banget gue!"
"Fokus dan efisiensi gerakan lo tadi bener-bener di luar nalar, No," timpal Jonelis sambil manggut-manggut ilmiah.
Tian Liu cuma menepuk bahu gue, tapi senyumnya lebar banget.
Pas kami jalan bareng ke kantin, aku gak sengaja papasan lagi sama Widia. Dia buru-buru memalingkan muka. Tapi komuknya kelihatan makin jengkel pas lihat ada gerombolan cewek kelas lain yang dadah-dadah manja sambil main mata lagi ke arahku.
Dadaku berasa adem ayem. Langkah kakiku makin mantap buat gas pol menghadapi hari-hari berikutnya di SMA elite ini! Hari pertama MOS belum selesai, tapi mental musuh-musuhku udah kena breakdown duluan!