Bab 4

1003 Kata
Kantin SMA N 1 Nusantara benar-benar padat merayap seperti pasar kaget. Bau soto dan es teh manis bercampur jadi satu, membuat perutku semakin lapar. Baru saja kami duduk di meja pojok, area kami langsung dikerubuti gerombolan siswi kelas lain. Raka yang spesifikasinya mirip idol Korea langsung diserbu paling banyak. Cewek-cewek histeris meminta foto bareng sambil menanyakan nomor w******p. Raka yang dasarnya ramah cuma tersenyum tebar pesona sambil membagikan nomornya dengan santai. Tidak cuma Raka, Dandi yang berbadan tegap, Tian Liu si cowok misterius, sampai Jonelis yang kutu buku ganteng pun tidak luput dari serbuan. Mereka berempat sibuk meladeni para siswi yang meminta nomor w******p seperti artis yang sedang jumpa pers. Sementara aku? Aku cuma bisa melongo sambil mengaduk es teh manis pakai sedotan. Amsyong banget. Ada rasa iri yang menyelip di dadaku, pengen juga rasanya dikagumi dan dicari cewek seperti mereka. Sebenarnya, sejak aksiku memindahkan genset tadi, ada beberapa cewek yang curi-curi pandang ke arahku dengan mata berbinar. Tapi mereka semua gengsi dan malu untuk mendekat. Mereka takut ketahuan siswa lain karena cap cowok miskin dan jelek sudah telanjur menempel padaku gara-gara omongan Widia. Pas aku lagi asyik meratapi nasib sambil iri melihat teman-temanku, suasana kantin mendadak senyap total. Riuh suara cewek-cewek yang meminta nomor w******p langsung berhenti seketika. Semua mata tertuju ke arah pintu masuk kantin. Seorang siswi melangkah masuk, dan gila... auranya langsung bikin seisi ruangan menahan napas. Dia super cantik, benar-benar seperti spek bidadari yang turun dari khayangan. Raka, Dandi, Jonelis, dan Tian Liu yang tadi sibuk tebar pesona langsung cengo. Mata mereka tidak berkedip, benar-benar tergoda oleh pesona cewek itu. Dia adalah kakak kelas 11 jurusan IPA, salah satu dari sepuluh besar wanita tercantik seantero sekolah. Namanya Nelly Agrifah Wijaya, anak dari keluarga Wijaya yang kaya rayanya gak berseri. Orang-orang biasa memanggilnya Nelly. Nelly ini terkenal banget sebagai "Dewi Es" di sekolah. Sifatnya biasanya dingin, kalem, dan cuek mampus ke semua cowok yang coba cari muka. Tapi keajaiban dunia tiba-tiba terjadi siang ini. Langkah kaki Nelly berhenti tepat di depan mejaku. Tanpa disangka-sangka, dia memasang senyum yang super ceria, cerah banget sampai membuat kantin terasa makin silau. "Hai, Keano!" sapa Nelly manis banget. Area kantin langsung melotot heran, suasananya makin terdiam sunyi seperti kuburan. Mereka syok melihat sang Dewi Es bisa seceria itu di depan cowok yang mereka anggap ampas. Nelly tiba-tiba menunduk, pipinya mendadak merah padam menahan malu yang tidak bisa disembunyikan. "Kenalin, aku Nelly," ucapnya dengan suara bergetar halus. Sebelum aku sempat membalas sapaannya karena saking syoknya, Nelly buru-buru mengeluarkan sebuah amplop dari balik sakunya. Dia menyodorkan surat di dalam amplop itu langsung ke tanganku. "Ini... buat kamu. Dibaca ya!" ucap Nelly setengah berbisik. Setelah surat itu berpindah tangan, Nelly langsung balik badan dan pergi terbirit-b***t meninggalkan kantin sambil tersipu malu dengan muka yang makin merah matang. Aku mematung di tempat. Tanganku gemetar parah pas memegang surat di dalam amplop itu. Jantungku berdegup kencang seperti sedang maraton, rasanya berbunga-bunga luar biasa. "Anjir, No! Lo main dukun di mana?!" pekik Dandi langsung memecah keheningan kantin. Sohib-sohibku langsung heboh, melupakan cewek-cewek yang tadi mengerubuti mereka. Mereka semua memujiku setinggi langit, tidak percaya kalau seorang Nelly Wijaya bisa se-salting itu di depanku. Gak cuma teman-temanku, seisi kantin yang kepo parah atas isi surat itu langsung bersorak riuh rendah. "Buka! Buka! Buka!" sorak massa di kantin kompak, bikin suasana makin pecah. Mereka semua penasaran setengah mati sama isi surat di dalam amplop misterius itu. Aku buru-buru menarik surat itu ke dadaku, mendekapnya erat-erat dengan perasaan gembira yang tidak bisa ditakar. "Gak... gak sanggup gue buka sekarang, bisa jantungan gue di sini," ucapku sambil nyengir lebar campur gemeteran. "Gue janji bakal buka surat ini pas udah pulang sekolah nanti!" seruku mantap ke teman-temanku. Aku tersenyum lebar sambil terus mendekap amplop itu erat-erat di d**a, seolah takut benda berharga itu bakal terbang kalau kulepas. Rasa iriku ke sohib-sohibku tadi langsung lenyap tidak bersisa, digantikan rasa gembira yang luar biasa. "Awas lo ya, No! Pulang sekolah kita kudu denger draf lengkap isi suratnya!" ancam Dandi sambil tertawa lebar lalu mengacak-acak rambutku. Raka, Jonelis, dan Tian Liu juga ikut tersenyum puas, ikut senang melihatku mendapat kejutan se-epic ini. Dadaku terasa hangat dan berbunga-bunga. Langkah kakiku makin enteng, dan sumpah, aku benar-benar tidak sabar menunggu bel pulang sekolah bunyi demi tahu apa isi surat misterius dari sang Dewi Es! "Udah, yuk, balik ke lapangan. Keburu bel bunyi, ntar digiles lagi kita sama si Jaka," ajak Raka sambil menepuk pundakku, berusaha mencairkan suasana yang masih heboh. Aku mengangguk cepat, buru-buru memasukkan amplop merah muda wangi itu ke dalam bagian paling dalam tas ranselku. Kuseleting rapat-rapat, memastikan tidak bakal lecek atau hilang bercampur buku catatan. Pas kami berdiri dan jalan keluar dari kantin, pandangan orang-orang di sekitar masih belum lepas dariku. Cowok-cowok yang tadinya menganggapku sebelah mata, sekarang bisik-bisik dengan komuk iri yang kelihatan jelas banget. "Sumpah, gue masih gak habis pikir kok bisa Dewi Es nyamperin si Revo butut," samar-samar kudengar omongan sirik dari meja sebelah. Aku cuma bisa nyengir tipis, tidak niat untuk memasukkannya ke hati. Biarkan saja mereka sirik sampai jantungan, yang penting hatiku saat ini lagi bahagia gak karuan. Dandi jalan di sebelahku sambil merangkul leherku lagi. "No, pokoknya lo kudu traktir kita-kita ya kalau beneran jadian sama Kak Nelly!" selorohnya yang langsung diamini oleh Raka dan Jonelis. "Gas pol, tenang aja," balasku santai, bikin mereka makin ketawa renyah. Tidak lama setelah kami sampai di area lapangan, peluit panitia kembali berbunyi melengking, menandakan sesi siang MOS dimulai lagi. Terik matahari siang ini makin gak ngotak panasnya, bikin seragam makin basah kuyup oleh keringat. Tapi anehnya, aku tidak merasa capek atau dongkol sama sekali seperti tadi pagi. Sepanjang materi baris-berbaris dan pengenalan atribut sekolah, pikiranku benar-benar melayang entah ke mana. Fokusku cuma tertuju pada satu hal: tas ransel hitamku yang tergeletak di pinggir lapangan. Di dalam sana, ada selembar surat yang siap mengubah jalannya takdirku di SMA elite ini. Aku menahan senyum sepanjang barisan, benar-benar tidak sabar menunggu bel pulang sekolah berbunyi kencang! Hari pertama MOS belum selesai, tapi mental musuh-musuhku udah kena breakdown duluan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN