Bab 5

1368 Kata
Di sudut lain area sekolah yang agak teduh, Widia tampak sedang merengut kesal bersama geng barunya yang modis. Namun, rasa kesal di wajahnya itu mendadak berubah menjadi rasa panas membara yang membakar d**a, pas salah satu teman satu gengnya lari terengah-engah dengan wajah panik menyamperin dia. "Wid, lo tahu gak? Ini gila banget! Tadi di kantin yang lagi ramai, Kak Nelly si Dewi Es itu tiba-tiba nyamperin si Keano! Dia ngasih Keano selembar surat pakai muka yang merah padam menahan malu gitu, terus setelah itu langsung kabur!" lapor temannya itu dengan mata melotot heboh karena masih syok. Mendengar kabar yang luar biasa mengejutkan itu, komuk Widia langsung berubah pucat pasi sebelum akhirnya beralih menjadi merah padam karena menahan rasa dongkol yang luar biasa. Kedua tangannya mengepal sangat kuat di sisi tubuh sampai kuku-kukunya memutih. "Hah?! Kak Nelly? Bunga sekolah yang paling diincar itu ngasih surat ke cowok ampas kayak dia? Gak mungkin! Lo pasti salah lihat, gak usah ngadi-ngadi deh!" bentak Widia tidak terima. "Gak salah, Wid! Sumpah demi apa pun, satu kantin tadi lihat kejadian itu semua! Tapi si Keano si Revo butut itu kagak berani langsung buka suratnya di sana. Katanya dia gak cukup keberanian dan takut jantungan. Terakhir gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, si Keano buru-buru melipat dan memasukkan surat itu ke dalam tas ransel hitamnya yang sudah butut dan pudar," tambah temannya berusaha meyakinkan Widia setengah mati. Seketika itu juga, otak licik Widia langsung berputar dengan sangat cepat. Rasa sirik, dengki, dan benci setengah mati yang membakar hatinya membuat cewek itu nekat melakukan sebuah hal yang benar-benar gila. Sialan... cowok miskin dan serabutan kayak dia gak pantes sama sekali dapet perhatian manis dari cewek paling elite di sekolah ini! batin Widia dengan penuh kemurkaan. Memanfaatkan momen pas sesi siang MOS dimulai lagi dan seluruh ratusan murid baru dikumpulkan kembali di tengah terik lapangan, Widia diam-diam memisahkan diri dari barisan kelasnya dengan alasan izin pergi ke toilet. Alih-alih ke toilet, dia justru menyelinap dengan langkah mengendap-endap menuju ke tempat penitipan tas murid baru yang terletak di selasar deretan kelas. Setelah celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasi sekitar benar-benar aman, tangan lincah Widia langsung membongkar ritsleting tas ransel hitam pudar milik Keano. Benar saja dugaan liciknya, di bagian paling dalam tas itu, ada sebuah amplop berwarna merah muda yang aromanya sewangi surga. Tanpa buang-buang waktu lagi, Widia dengan cepat menarik surat asli pemberian Nelly, lalu menggantinya dengan selembar surat palsu yang sudah dia tulis buru-buru pakai kertas biasa dengan gaya tulisan yang sengaja dibuat kaku dan jelek. "Mampus lo, Keano. Rasain nih akibatnya kalau lo berani sok hebat dan sok pahlawan di depan gue," bisik Widia pelan sambil tersenyum puas luar biasa melihat hasil kerjanya. Setelah itu, secepat kilat dia merapikan kembali tas ransel Keano seperti semula, sebelum akhirnya ngibrit berlari balik menuju ke arah lapangan. Misteri di Parkiran Kereta Sore hari pun akhirnya tiba. Suara bel panjang tanda penutupan acara MOS hari pertama akhirnya berbunyi nyaring melengking seantero sekolah, menjadi sebuah suara yang paling indah dan dinanti-nanti bagi seluruh murid baru yang sudah mandi keringat seharian. Aku langsung menyambar tas ransel hitamku dengan cepat, menggendongnya dengan sangat hati-hati seolah-olah di dalam tas itu ada barang pecah belah berharga yang nilainya sampai miliaran rupiah. Langkah kakiku bergerak cepat membelah kerumunan murid lain, berjalan santai menuju ke arah area parkiran kereta. Pas aku sampai di area parkiran yang sudah penuh sesak sama deretan motor, ternyata sohib-sohibku belum ada yang datang satu pun. Barisan faksi komunitas elite mereka memang sengaja dibubarkan agak belakangan, karena harus mengikuti sesi evaluasi internal dari para ketua senior komunitas masing-masing. Aku duduk bersandar di atas jok Revo bututku yang mulai terasa panas karena sengatan matahari. Karena rasa penasaran yang rasanya sudah membumbung sampai ke ubun-ubun, aku merogoh bagian paling dalam tas dan mengeluarkan amplop misterius tersebut. Sesuai dengan janjiku tadi saat di kantin, aku gak bakal buka surat ini sendirian. Aku kudu bersabar menunggu anak-anak datang buat membuka benda berharga ini bersama-sama saat pulang sekolah. Sembari menunggu kedatangan mereka, aku memegangi surat berwarna merah muda itu dengan perasaan yang berbunga-bunga luar biasa di dalam hati. Pikiranku melayang riang gembira, kembali membayangkan keanggunan wajah cantik nan ceria Kak Nelly pas menyebut namaku dengan manis tadi siang. Saking senangnya, aku sampai mendekap dan memeluk surat itu erat-erat ke dadaku sambil senyum-senyum sendiri di atas motor kayak orang kurang waras. Mental bajaku yang biasanya sekeras jalanan mendadak meleleh total jadi bucin dalam hitungan detik saja. "Woy, No! Kesambet setan parkiran lo meluk-meluk kertas?!" Suara cempreng Dandi yang khas tiba-tiba membuyarkan seluruh lamunan indahku. Raka, Jonelis, dan Tian Liu tampak berjalan beriringan menyamperiku sambil melempar cengiran lebar andalan mereka berempat. "Gila, yang lagi dapet surat cinta dari bidadari sekolah, mukanya langsung cerah bener kayak abis menang lotre miliaran rupiah," ledek Raka jahil sambil menyenggol bahuku pelan. Aku langsung turun dari atas motor Revo bututku, memegang surat itu tinggi-tinggi dengan perasaan bangga yang meluap. "Sesuai janji kita tadi di kantin, nih. Kita buka dan baca bareng-bareng sekarang juga!" Dandi melangkah maju duluan, hidungnya mendadak kembang kempis mencoba mengendus-endus wangi surat di tanganku. Dia mengernyitkan dahi tebalnya sambil memasang komuk heran yang kelihatan lucu. "Eh, bentar deh, No. Kok parfum surat itu hilangnya cepat sekali ya, Keano?" tanya Dandi sambil menatapku dengan pandangan penuh selidik. Dia lalu melirik ke arah tas ransel hitamku yang sudah robek-robek tipis di bagian sudut bawahnya. "Ah, gue tahu! Tas kamu itu penyebabnya, Keano. Bau apek tas lo menyerap wangi parfumnya! Udahlah, bisa di-upgrade tasmu itu sobat ku, biar gak merusak momen estetik!" Aku ikutan terkekeh mendengar ocehannya, lalu menepuk pundak tegap Dandi dengan santai. "Hahaha, sialan lo! Tenang Dandi, aku usahakan sobat ku. Nanti kalau ada rezeki lebih habis kerja nyuci motor, gue beli tas baru yang ada seleting anti-bau apek." "Udah ah, buruan buka! Penasaran nih gue isi hati sang Dewi Es!" desak Raka gak sabar. Dengan kedua tangan yang masih sedikit gemeteran karena saking bahagianya, aku secara perlahan merobek bagian ujung amplop merah muda itu. Aku mengambil selembar kertas lipat di dalamnya, lalu membukanya dengan sangat perlahan dan hati-hati. Kami berlima langsung merapat erat, membuat lingkaran kecil di antara barisan motor, tepat di samping Revo butut kesayanganku demi bisa membaca deretan kalimat di dalamnya. Aku berdeham pelan untuk mengatur suara, bersiap membaca kata demi kata indah yang sangat kuharapkan bakal membuat hatiku makin melayang tinggi. Tapi, begitu kedua mataku mulai membaca baris kalimat yang pertama, senyum lebar yang sedari tadi menghiasi mukaku langsung membeku seketika. Isi surat tersebut adalah: "Keano sebenarnya aku benci liat orang susah yang sok kehebatan.cara kamu buka baju tadi pas mengangkat genset sangat membuatku jijik.aku kirim surat ini supaya lain kali kamu jangan lagi membuat hal hal menjijikkan.ilfeel liat nya.dari awal juga aku udah jijik liat kamu dan Sekarang makin jijik." Plak! Rasanya benar-benar kayak ada sebuah telapak tangan gaib tak kasat mata yang menampar mukaku keras-keras tepat di tengah area parkiran sekolah. Suara riuh rendah candaan dan tawa di antara kami berlima mendadak langsung lenyap total tanpa sisa, digantikan oleh sebuah keheningan yang sangat mencekam dan membuat d**a berasa begitu sesak. Angan-angan indahku yang tadinya sempat melayang tinggi bebas di atas langit langsung dihempas jatuh dengan kasar, membentur permukaan aspal parkiran yang keras dan dingin. Dandi yang tadinya cengengesan paling heboh langsung melongo lebar dengan mulut yang agak menganga syok. Raka mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, matanya melotot kagok karena benar-benar gak percaya dengan rentetan kalimat kasar yang baru aja kami baca bareng-bareng. Sementara itu, Jonelis langsung mengambil alih kertas tersebut dari tanganku, membaca ulang baris demi baris dengan dahi berkerut sangat dalam, dan Tian Liu langsung memasang komuk dingin nan datar yang auranya kelihatan super menyeramkan. "Bangsat..." desis Dandi dengan suara rendah yang bergetar hebat menahan luapan amarah yang tiba-tiba saja meledak di dalam dadanya. "Ini... ini beneran tulisan cewek yang katanya spek bidadari itu?! Kejam sekali dirinya ya!" Dadaku berasa sangat sesak, sekujur tubuhku mendadak terasa panas dingin menahan rasa malu yang amat sangat dan rasa syok berat yang bercampur baur jadi satu. Tanganku yang kini hanya memegang amplop kosong berwarna merah muda langsung gemeteran parah, tapi kali ini jelas bukan karena rasa bahagia, melainkan karena hancurnya seluruh ekspektasi indah yang sudah kubangun tinggi-tinggi sejak siang tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN