Laras menjadi Dewi malam paling di puja. Tidak jarang mereka mau merogoh kocek lebih dalam, hanya untuk membooking gadis cantik itu.
Ia tidak seperti wanita penghibur lainnya. Kebanyakan wanita penghibur, menggunakan hasil menjual tubuhnya, untuk berfoya-foya, untuk membeli barang mewah, untuk menyenangkan diri sendiri.
Tapi Laras melakukan ini karena terpaksa. Untuk menebus obat ayah dan ibunya, ia harus meminjam uang pada Bobby. Ia rela menjual keperawanannya, agar ayah dan ibunya minum obat. Ia harus mengeluarkan dana yang sangat banyak, sementara ia hanya kasir di sebuah minimarket.
Beruntungnya kelebihannya selain memiliki paras cantik, tubuh seksi, dan juga suara seksi. Keperawanannya seakan tetap terjaga, tidak perduli berapa kali pun ia di setubuhi. Hingga banyak klien yang bersedia membayar lebih untuk menikmati tubuh Laras.
****
Adi menenggak minuman kecoklatan di gelasnya. Matanya seperti menerawang jauh entah di mana. Desakan sang mama, agar Adi segera menikah. Hingga perjodohan, dengan gadis pilihan sang Mama, membuat Adi benar-benar frustasi.
"Mama akan batalkan perjodohan itu, jika kamu bisa menemukan gadis untuk jadi calon istrimu, waktumu hanya seminggu!"
Perkataan mama tadi malam terus terngiang di telinga Adi. Ia mengusap wajah tampannya kasar. Adi datang ke hotel ini, tidak lebih dan tidak kurang, hanya untuk melarikan diri dari ibunya.
Leo sahabatnya, bersikeras mengirim seorang wanita penghibur untuk Adi. Meskipun Adi menolaknya, Leo tetap kekeh melakukan transaksi.
Sedangkan Leo pria blasteran Indonesia-Belanda itu, telah menuju kamarnya sendiri dengan seorang wanita penghibur. Ia merelakan wanita penghibur terbaik, untuk sahabatnya Adi yang terlihat galau.
*****
Laras berhenti didepan kamar milik kliennya. Ia membunyikan bell, Beberapa saat pintu terbuka, menampilkan Adi yang sedikit mabuk.
"Pak Adi!
"Laras!"
Adi dan Laras sama-sama terkejut.
Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Keduanya kini duduk diam di sofa hotel. Suasana sangat canggung.
"Jadi!" Adi membuka suara.
"Seperti yang Bapak pikirkan, beginilah profesi saya." ujar Laras tanpa harus berdebat. Adi menunggu dengan sabar, berharap Laras mau melanjutkan ceritanya.
"Untuk biaya operasi Ayah, butuh biaya yang besar, juga perawatan paska operasi!" Laras menerawang langit-langit kamar hotel ini. Gadis itu menarik nafas,tersenyum semu menatap Adi.
"Saat itu, saya hanya seorang mahasiswa yang sambilan kerja jadi kasir sebuah toko."imbuhnya.
"Dan saat itu Tuan Bio datang untuk meminjamkan uang yang besar itu. Dengan syarat saya mau bekerja dengannya, dan disinilah saya sekarang!" Pungkas Laras. Adi masih diam, menatap lamat-lamat gadis di sampingnya ini.
"Semua orang punya kesalahan. Begitu pula aku, mungkin di kampus aku terlihat suci, tapi aslinya seperti inilah aku." Adi merasa tidak punya hak untuk menghakimi siapa pun, karena dirinya pun juga memiliki banyak kesalahan.
"Oke karena kita disini klien, jadi saya mulai memperkenalkan diri." Laras berdiri, menyimpan satu tangan di pinggul, dan tangan lain di biarkan menjuntai. Laras seperti model profesional.
"Tuan Bio mengutus saya kemari untuk menghibur anda. Perkenalkan Saya Laras, julukan saya adalah Sang Dewi!" Laras menundukkan tubuhnya profesional, sebagai salam hormat.
Adi mengulum senyumnya. Ia susah payah menahan rasa ingin tertawa. Menurutnya, Laras yang sangat santun di kampus, bisa berubah sedemikian dewasa dan profesional sebagai wanita penghibur. Adi tidak bisa lagi menahan rasa ingin tertawanya.
"Kok ketawa sih? Lucu darimananya coba?" gerutu Laras, yang kembali duduk, sambil menghentakkan kakinya. Seperti ini caranya setiap hari menyambut tamu. Tapi baru Adi yang tertawa terbahak-bahak. Biasanya mata para lelaki kurang belaian itu, langsung ingin menerkam Laras detik itu juga.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang?" Laras langsung pada intinya. Karena sepertinya bukan teman tidur yang di butuhkan Adi saat ini.
"Atau Pak Adi belum pengalaman? Apa Pak Adi perlu di ajari dulu kali ya?" pertanyaan, pertanyaan aneh terus bermunculan di kepala Laras.
"Kita ngobrol aja malam ini." Suara Adi sedikit merayu, mungkin efek alkohol yang di tenggaknya tadi. Mereka duduk bersebelahan, sambil menonton film yang lumayan panas.
"Bwahaha..hahaha!" Sekarang Laras yang dibuat tertawa. Setelah mendengar, bahwa pria ini sedang kabur dari rumah, dan menolak di jodohkan. Laras memegangi perutnya yang mulai keram. Gadis berkulit sawo matang itu, makin dibuat geli, karena mata mendelik Adi.
"Lagian ada-ada saja, masih jaman jodoh-jodohan? Macem Siti Nurbaya saja!" celetuk Laras di sela tawanya. Membuat Adi menjatuhkan jitakan ke dahi gadis manis itu. Pria itu dibuat kesal bukan main.
"Mama, memberiku waktu tiga hari untuk memperkenalkan calon istri...," Adi kehabisan kata-kata. Sedangkan Laras masih sibuk berusaha, menyembuhkan rasa ingin tertawanya.
Adi menenggak minuman itu lagi. Lalu ide cemerlang muncul di kepalanya. "Bagaimana jika kamu yang jadi tunanganku?" celetuk Adi nyaris membuat Laras tersedak minumannya. Laras menunjuk hidungnya sendiri.
"Tentu hanya pura-pura. Masalah dengan Bio bisa di atur, aku jamin kamu tidak akan menyesal menerima tawaran kerjasama dariku. Ayah, ibu dan adikmu aku yang tanggung biaya hidupnya, dan tentu kalian bisa memiliki tempat tinggal." tutur Adi panjang kali lebar. Karena Laras masih tampak cengo. Yang membuatnya makin cengo, ternyata dosen satu ini, telah menyelidiki dirinya begitu jauh.
Bersambung
maaf jaraknya agak lama, semoga berkenan.