Laras meminta waktu tiga hari. Bagaimana pun permintaan Adi begitu tiba-tiba. Tapi tawaran dosen tampan itu, cukup menggiurkan. Bukan berarti Laras mata duitan, hanya saja Ayah dan ibunya butuh hunian layak, untuk istirahat mereka. Sedangkan yang Laras mampu, hanya sewaan sederhana dan di lingkungan yang kumuh.
Sudah dua hari ini ia menghindari Adi. Jika Bobby alias Bio tahu hal ini, mungkin akan timbul masalah untuk Adi. Laras tidak mau menjadi beban untuk orang lain. Gadis itu menolak semua job dari Bobby, dengan alasan menstruasi. Hari ini memang jatah bulanan Laras datang, setidaknya ia punya enam hari kedepan untuk lebih banyak menemani ayah dan ibunya.
Karena asyik memikirkan tentang tawaran Adi. Hingga ia tidak menyadari tubuh tegap, menjulang menghadangnya di koridor. Laras menabrak d**a bidang itu, hingga nyaris jatuh kebelakang. Dengan sigap tangan kekar menopangnya. Mata keduanya bertemu, mata biru yang di penuhi kerinduan, beradu dengan manik mata hitam jernih milik Laras.
"PANJI!" Laras memekik kegirangan. Tanpa pikir panjang, Laras memeluk tubuh pria itu erat-erat. Tidak perduli tatapan para mahasiswa yang hilir, mudik. Bobby menatap kedatangan Panji dengan tidak bersahabat. Karena kedatangan pria itu, pasti untuk menebus Laras, dan Bobby tidak ingin kehilangan ladang uangnya begitu saja. Ia akan menyusun rencana untuk membuat Panji menghilang lagi, tapi tidak hari ini. Bobby membiarkan kedua sahabat itu.
Panji adalah sahabat baik Laras dan Rea. Pemuda tampan ini meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan selepas SMA. Panji tahu seluk beluk tentang Laras, termasuk profesinya sebagai wanita penghibur. Sepertinya pria itu telah kembali dengan kesuksesan.
Laras dan Panji kini duduk di kantin. Lama mereka terdiam, masih menikmati suasana hari ini.
"Aku akan menebusmu dari Bobby!" ujar pria tampan itu, mengawali pembicaraan.
"Tidak! Jangan berurusan dengan Bobby!" jawab lirih Laras. Ia tidak mau terus merepotkan Panji. Laras tidak mau berhutang budi lagi pada Panji. Terlalu banyak kebaikan pria ini, hingga Laras tidak bisa membalasnya.
Keduanya kini saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sambil menikmati bakso di kantin, Panji dan Laras tidak lagi saling bicara. Laras masih sibuk memikirkan tawaran Adi semalam.
Panji memang menyimpan perasaannya sejak lama pada Laras. Ia tidak mau persahabatannya hancur, hanya karena perasaan cintanya yang egois. Panji adalah Tuan Muda, dari keluarga besar Hermawan. Ia adalah pewaris utama dari Hotel Raiton yang terkenal dengan fasilitas dan kemewahannya. Menjadi pangeran dari keluarga kaya, tak lantas membuat Panji sombong. Ia tetap apa adanya, jarang menunjukkan kekayaannya, bahkan Laras pun tidak tahu jika Panji adalah orang kaya.
Panji meyakinkan Laras, jika dirinya adalah kuli bangunan, yang nyambi sekolah dan akhirnya dapat biasiswa untuk sekolah management bisnis. Memang dasarnya Laras yang polos, percaya gitu saja sama Panji.
Panji mengantar Laras pulang. Kebetulan Damar sedang ada ekstra hingga pukul enam sore. Awalnya Laras ingin menggunakan jasa ojek online, tapi karena Panji memaksa mengantar pulang, Laras pun menyetujuinya.
Laras tidak berani menawari Panji masuk. Ia tidak nyaman dengan tetangga, karena kondisinya yang tinggal di kontrakan. Jarang ada tamu di rumah, jika ada tetangga tahu ia di antar pulang oleh pemuda dengan mobil bagus, itu bisa jadi gunjingan. Laras tidak mau jadi gunjingan, apalagi kalau ibu sampai dengar. Pasti jadi beban pikiran ibu, dan kesehatannya menurun lagi.
"Maaf ya gak nawarin masuk. Cuman ada Ayah dan ibu, Damar belum pulang, gak enak sama tetangga." ujarnya seraya turun dari mobil. Panji hanya tersenyum, dan melambaikan tangannya.
"It's okay!" Balas Panji, lalu melajukan mobilnya, meninggalkan kontrakan Laras. Gadis itu menunggu hingga mobil Panji hilang ditikungan. Saat ia berbalik Damar sudah berdiri menjulang di belakang. Laras kaget setengah mati, ia menebah dadanya yang dag dig dug.
"Siapa tuh?" Damar melongo kearah mobil hitam itu pergi.
"Pacarnya mbak ya?" Goda Damar, membuat wajah Laras memerah, ia jadi salah tingkah.
"Itu Panji tahu! Dia baru kembali dari Amerika." jawab Laras kesal, di sentilnya kening adik semata wayangnya itu. Hingga Damar mengaduh, mengusap-usap keningnya yang sedikit panas. Sentilan Mbak Laras memang the best, untuk membuat orang kesakitan.
"Mas Panji? Kok gak disuruh masuk Mbak, malah di suruh pergi gitu aja?" Damar juga kangen sama Panji. Menurutnya Panji adalah sosok Kakak laki-laki baginya.
"Aku kira kamu belum pulang dari bengkel. Lagian gak enak sama tetangga, tahu sendiri kan?" tutur Laras. Damar yang mendengarnya manggut-manggut. Ia mengekori Kakaknya masuk, setelah beruluk salam, menghampiri kedua orang tua, lalu mencium punggung tangannya, Laras dan Damar bergantian membersihkan diri mereka.
Sembari menunggu Damar selesai. Laras menuju dapur, memasak menu sederhana dari bahan yang ada di kulkas. Selesai memasak, membereskan dapur, lalu mandi . Keluarga empat orang itu, menyantap makan malam, dengan penuh kebahagiaan. Laras menyeka air matanya, yang menetes. "Bagaimana jika ayah, ibu dan Damar tahu, tentang pekerjaanku? Apa lebih baik aku terima tawaran Pak Adi? Tapi bagaimana jika Boby tahu!" keluh kesah Laras dalam hati. Ia di landa dilema, antara harus menerima tawaran Adi atau tidak. Ia buru-buru, menyeka air matanya, tidak ingin kelihatan sedih didepan keluarganya.
Di Sisi Lain.
Makan malam mewah tersaji di meja makan. Dari menu sederhana, hingga menu bintang lima, tersaji disana. Nyonya Hermawan tampak senang, putra bungsunya kembali ke Indonesia hari ini. Ia tampak bersemangat, menyambut putranya itu. Nyonya Hermawan adalah seorang ibu, yang walcome kepada anak-anaknya, tidak pernah membedakan satu dengan lainnya.
Adi baru saja masuk rumah. Ia di sambut sesosok pria tampan yang kini duduk manis, menonton kartun. Tatapan Adi dingin, ya Panji Pamungkas Hermawan adalah adiknya. Tiga tahun lalu karena suatu alasan Panji memilih Amerika untuk meneruskan pendidikannya.
Bayangan siang tadi, bagaimana Panji berpelukan dan ngobrol gembira dengan Laras, menimbulkan percikan cemburu, yang berapi-api di mata Adi.
"Ih serem amat Bang matanya!" sapa Panji, sedikit ngeri menatap mata tajam kakaknya. Adi hanya acuh, mengabaikan Panji. Langkah kakinya tegas melewati ruang keluarga, kemudian naik kelantai dua, dan menuju kamarnya.
Panji tertegun di tempatnya, melihat sikap kakaknya seperti memusuhinya. Kebingungan tercetak jelas di raut tampan Panji. "Kenapa sih? Gue salah apa ya?" monolognya, sambil mengingat-ingat kesalahannya. Sebentar menggeleng, sebentar menghela nafas, akhirnya menyerah, "bodoh amat deh!" gumamnya lalu fokus pada Spongebob Squarepants di tv.
####
Interior yang mewah, tempat tidur ukuran king, dengan busa empuk buatan Italia. TV 50" tertanam di dinding, lengkap dengan paket home teater. d******i abu-abu, putih dan hitam menambah kesan dingin kamar mewah ini. Adi melepas dua kancing teratas kemejanya, merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur. Ia memijit pelipisnya yang sedikit berat. Bayangan lembut Laras melintas, ekspresinya, senyumnya, cemberutnya dan juga mata hitamnya yang malu-malu. Sudah lama Adi tertarik pada Laras, ia tidak keberatan dengan profesi gadis itu. Justru ada niatan di hatinya untuk melepaskan gadis itu, dari tempat maksiat tersebut.
"Aku harus gerak cepat!" tekat Adi yang sudah bulat.