BAB 11

1025 Kata
POV Zarina Setelah pengalamanku dengan beberapa lelaki. Aku merasa diriku semakin aneh, titik-titik sensitif di tubuhku terasa gampang sekali terangsang. Begitu juga dengan pikiranku, seperti tidak bisa diajak untuk fokus. Hanya dengan melihat laki-laki tampan yang lewat saja, pikiranku langsung travelling kemana-mana. Aku langsung membayangkan bagaimana rasanya jika tubuhku digerayangi oleh laki-laki tersebut. Dan aku pun juga membayangkan seberapa besar senjata rahasia yang dimilikinya. Padahal ujian nasional sudah semakin dekat, hanya tinggal 45 hari lagi. Try out terakhir akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Dari pengalaman try out terakhir kemarin, seharusnya aku bisa lebih semangat lagi dalam belajar bukan malah seperti ini. "Hufffth..." Aku menghela nafas panjang, setelah o*****e dengan permainanku sendiri. Masih dikasur kamarku dengan sprei yang berantakan akibat ulahku. Setelah menuntaskan hasratku sendiri, aku sudah mulai bisa berfikir jernih. Aku harus mulai menata kembali hidupku dan fokus pada tujuan awalku menjadi juara 1 saat kelulusan nanti. Disela-sela aku berfikir bagaimana cara agar bisa fokus untuk belajar, rasa kantukku menyerang. Tak lama kemudian aku tertidur. Adzan maghrib berkumandang membangunkanku. Kulihat sekelilingku gelap, segera kunyalakan seluruh lampu di rumahku. 'Mama belum datang rupanya' Batinku saat menyalakan lampu teras. Aku segera menanak nasi untuk nanti makan malam dengan mama. Lalu aku rebahan di ruang tamu sambil scroll sosmed dan balas chat Krisna yang tadi membawakan tasku. Aku bilang saja kalau aku dihukum pak Stevan sampai kelupaan bawa tas pas pulang. Hihihi. Tidak lama kemudian mama datang. "Hai sayang..." Katanya. Terlihat dari raut mukanya ia lagi bahagia. Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. "Tumben sampai jam segini ma? lembur ya?" Tanyaku sambil mengikuti mama menuju dapur. Membawakan beberapa kantong plastik berisi lauk yang dibelinya untuk makan malam. "Sebentar ya Zar, mama mandi dulu. Mama punya kabar menyenangkan buat kamu." Aku menunggu di meja makan, penasaran apa kabar baik yang dimaksud mama. Kutata dengan apik lauk yang dibeli mama tadi di piring-piring. Ada sayur asem, pepes tahu, sambel bajak dan tongkol goreng. "Kruyuk.. Kruyuk." suara perutku pertanda aku tergoda dengan menu didepanku ini. Daritadi siang aku memang belum makan. Kami terbiasa makan bersama saat malam, sambil membicarakan kejadian-kejadian hari ini. Setelah selesai mandi, mama dan aku makan bersama. "Aku tadi sudah ketemu dengan calon guru les privatmu." Kata mama mengawali pembicaraan. Hah, apa maksudnya les privat? Oh iya, aku sempat meminta mama untuk mencarikan guru les privat supaya aku bisa merebut kembali tempat terbaikku di sekolah. Tetapi karena kejadian seksual yang sering membuatku merenung akhir-akhir ini, aku sudah lupa dengan tujuan awalku itu. Mama masih ingat rupanya. Aku mencoba berekspresi senang se alami mungkin "Oh iya ma, terima kasihh maa." Ucapku sambil memeluk mama yang akan menyuap nasi dan sayur asem. "Dia mahasiswa S2 Universitas ternama. Kalau dari penampilan dan cara bicaranya sih terlihat pintar. Tapi aku sudah sepakat sama dia untuk percobaan 2 minggu pertama. Kalau kamu gak cocok bisa ganti yang lain." Ucap mama menjelaskan. Aku sih masa bodoh dengan orangnya, selama dia bisa membantuku kembali fokus belajar. Siapapun oke saja pikirku. "Jadi kapan bisa mulai?" Tanya mama. "Besok deh, sepulang mama kerja gimana?" "Okee siap, mama chat dia supaya datang besok jam setengah 7 malam." Besoknya di sekolah Pagi-pagi sekali pukul setengah 7 aku datang. Ternyata Krisna sudah ada di depan kelasku sambil membawa tasku. "Hai Kris, maaf ya, hehe jadi ngrepotin." Kataku nyengir. "Huuuhh kebiasaan deh, untuk kamu punya temen kayak aku." katanya melemparkan tas ku yang sengaja dia kosongkan supaya aku tidak berat bawa buku pelajaran kemarin. Aku sengaja tidak membawa tas ke sekolah. Buku pelajaran hari ini kubawa dengan tas kresek karena tasku dibawakan Krisna. "Buku kamu ada di kelasku, nanti pulang sekolah jangan lupa di ambil." Lanjutnya. "Iyaaa, terima kasih banyak baginda, hamba memang teman yang suka merepotkan baginda." Ucapku seraya membungkuk di depannya. Krisna terkikik geli. "Apaan sih, males banget. Eh btw kamu dihukup apa sih sama si Stevan? Kok sampai kelupaan tas segala." "Eh itu, anu, aku kemarin.. eh disuruh ngapain ya?" Aku tergagap karena belum menyiapkan jawaban. Gak mungkin kan aku bilang Pak Stevan ku goda sampai hampir menyetubuhiku trus gagal karena Krisna datang. :D "Ya ampun, aku disuruh bikin makalah. Tapi makalahnya kelupaan gak kubawa juga." Ucapku berbohong dan pura-pura kelupaan tugas Pak Stevan. "Haduuuhh nih cewek bener-bener. Kok bisa sampai kelupaan sih, sebentar kulihat di kelas. Sepertinya aku punya makalah yang gak jadi buat presentasi. Tunggu di dalam, nanti aku kesini lagi." Kata Krisnya geleng-geleng dengan tingkah lakuku. Aku memandang Krisna yang sedang menuju kelasnya di dekat kantin. Ah, Krisna betul-betul teman yang baik dan care banget sama aku. Andai kamu tau kejadian sebenarnya, mungkin ia bisa berkelahi dengan Pak Stevan karena tidak terima aku dilecehkan. Aku masuk kelas sambil menunggu Krisna kembali. Tidak beberapa lama, ia mengantarkan makalah ke bangkuku. Setelah berbasa-basi sebentar denganku, ia pun kembali ke kelasnya. Sherin, teman sebangkuku heran. "Ngapain Krisna beri kamu makalah? emang kita hari ini ada tugas itu?" Tanyanya. "Enggak, buat kupelajari aja. Kebetulan aku lagi tertarik dengan makalah ini." Kataku berkilah. Sherin hanya menggelengkan kepala "Tidak paham aku dengan pikiran anak pintar kayak kamu. Tugas sekolah udah banyak, kurikulum sudah diperbarui. Malah nambahin pikiran buat mikir makalah kayak gitu." Aku hanya tertawa pelan menanggapinya. Coba ia tau alasanku sebenarnya, pasti dia tidak menyangkanya. Selama ini aku dan Sherin memang hanya sekedar teman sebangku, kami jarang bercerita tentang kehidupan kami diluar sekolah. Aku tidak terlalu suka mempunyai sahabat yang selalu bersama kemana-mana. Lalu bercerita tentang apapun sampai ia merasa lebih mengetahuimu daripada keluargamu. Bukan pertemanan seperti itu yang kuharapkan. Semua masalahku selalu berusaha kuselesaikan sendiri tanpa menceritakan ke temanku. Kalau Krisna sih, dia memang temanku mulai kecil. Jadi mungkin dia lebih perhatian sama aku karena sudah paham dengan kebiasaanku. Dirumah jam stengah 7 malam pas, mama pulang. Ternyata dia di temani oleh seorang laki-laki yang sepertinya guru les privatku. Aku segera ke dapur untuk membuatkan minum mereka. Yang sedang berbincang-bincang membicarakanku. Yang kudengar dari dapur suaranya tegas dan sepertinya orangnya disiplin. Ia banyak membicarakan metode pembelajaran yang efektif. Lalu aku menuju ruang tamu untuk mengantarkan 2 cangkir teh panas untuk mereka. Sampai diruang tamu, aku kaget sekali. Aku mengenal pria itu, ia pria yang melecehkanku di angkot kapan hari. Tanganku yang membawa gelas bergetar dan... PRANG !!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN