Kesepakatan tanpa cinta

1398 Kata
Kenangan itu berputar balik di kepala Damar, memutar memori paling indah sekaligus paling menyakitkan dalam hidupnya. Damar bener-bener nepatin janjinya. Begitu dia lulus jadi dokter dan dapet gelar di belakang namanya, dia nggak pakai lama buat balik ke Yogyakarta. Dengan restu penuh dari ayahnya, Damar melamar Sekar. Pernikahan mereka berlangsung sangat meriah, perpaduan adat Jawa yang kental dengan wibawa keluarga Adhikara. Sekar yang waktu itu masih kuliah di Jogja akhirnya pindah ke Jakarta demi ikut Damar. Selama enam bulan pertama, dunia serasa milik berdua. Mereka bener-bener menikmati masa-masa jadi pengantin baru. Damar ngerasa hidupnya udah sempurna; punya karier bagus dan istri yang sholehah serta lembut kayak Sekar. Tapi, pelangi itu nggak bertahan lama. Suatu hari, Damar nemuin Sekar pingsan di kamar mandi. Setelah diperiksa secara menyeluruh, jantung Damar rasanya kayak berhenti berdetak. Sekar mengidap tumor ganas di kepalanya, dan kondisinya udah stadium lanjut. "Kenapa kamu nggak bilang sama Mas, Sekar?" tanya Damar dengan suara gemetar dan mata berkaca-kaca. Barulah Sekar jujur sambil nangis. Dia ternyata udah tahu penyakit itu sejak setahun lalu. Selama ini dia sering ngerasa pusing yang luar biasa, tapi dia tutupi dari semua orang. Cuma dia dan dokter pribadinya di Jogja yang tahu. Dia sengaja diem karena nggak mau ngerusak kebahagiaan Damar dan keluarga. Damar shock berat. Sebagai dokter, dia ngerasa gagal karena nggak tahu istrinya sendiri lagi berjuang melawan maut. Dia nggak mau nyerah gitu aja. Damar langsung bawa Sekar berobat ke Singapura, cari dokter spesialis terbaik dan teknologi paling canggih. Tapi takdir berkata lain. Operasi besar di kepala Sekar gagal. Sekar meninggal dunia di pelukan Damar, meninggalkan lubang hitam yang sangat dalam di hidupnya. Kehilangan Sekar bikin Damar hancur lebur. Dia jadi pendiam, jarang makan, dan hampir kehilangan arah hidup. Akhirnya, buat ngilangin rasa sedih yang terus-menerus nyiksa, Damar mutusin buat ambil pendidikan spesialis di Jepang. Dia pengen bener-bener jauh dari Jakarta, jauh dari semua kenangan tentang Sekar. Tahun-tahun di Jepang dia habiskan dengan belajar gila-gilaan. Begitu dia lulus dan balik ke Indonesia, ayahnya langsung nyerahin jabatan besar sebagai Direktur Rumah Sakit Sentral Medika Jakarta. Damar terima tanggung jawab itu, tapi hatinya tetep kosong. Udah sepuluh tahun berlalu sejak Sekar pergi. Sepuluh tahun Damar milih buat sendiri, menutup diri dari cewek mana pun karena dia masih tahu banget gimana rasanya sakit kehilangan cinta sejati. Kembali ke Masa Kini (Kamar Hotel) Cahaya matahari pagi mulai nembus gorden kamar hotel, nyinarin wajah Damar yang masih memejamkan mata di samping Ziva. Damar menghela napas panjang, mencoba ngusir bayangan Sekar yang baru aja mampir di mimpinya. Dia melirik ke samping. Di sana ada Ziva, istri barunya yang sangat berbeda dengan Sekar. Ziva masih tidur mangap, rambutnya berantakan ke mana-mana, dan tangannya meluk guling dengan posisi yang nggak beraturan. Damar tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang dia tunjukin. "Sepuluh tahun gue sendirian, dan sekarang gue malah dapet bocah bar-bar kayak lo," gumam Damar pelan. Damar bangun dari ranjang, merapikan kaus polonya, lalu berjalan ke arah telepon hotel buat mesen sarapan. Dia tahu, hari ini hidupnya bakal berubah total. Dia bukan lagi duda yang kesepian, tapi suami dari mahasiswi yang perlu dia bimbing. Ziva akhirnya kebangun gara-gara bau nasi goreng yang enak banget. Dia kaget pas liat Damar udah rapi lagi duduk di meja makan kamar hotel. "Pagi, Istri gue. Mandi sana, lo harus berangkat kuliah," kata Damar santai sambil baca koran di tabletnya. Ziva bakal bereaksi gimana ya dibilang "Istri" pagi-pagi gitu? Damar meletakkan map cokelat di atas meja makan. “Ziva, kita perlu bikin kesepakatan dulu,” ucapnya tenang. Ziva yang lagi nyuap nasi goreng langsung berhenti. “Kesepakatan apaan lagi?” “Duduk sini,” perintah Damar singkat. Ziva mendengus, tapi tetap pindah duduk di kursi depan Damar. “Oke, gue dengerin.” Damar mendorong selembar kertas ke arahnya. “Baca.” Ziva mengernyit, lalu mulai membaca pelan-pelan. “Poin satu,” gumamnya. “Pernikahan ini bersifat rahasia. Hanya kita dan ayah lo yang tahu.” Ziva mendongak. “Seriusan? Jadi enggak ada publikasi, enggak ada drama?” “Iya. Setuju atau enggak?” tanya Damar datar. Ziva berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Oke. Gue setuju.” “Lanjut,” kata Damar. Ziva kembali membaca. “Poin dua. Tidak ada sentuhan fisik, kecuali jika kedua belah pihak menginginkan.” Ziva berhenti baca, langsung nyeletuk, “Nah, ini penting.” Tatapan Damar terkunci ke wajahnya. “Setuju?” “Setuju banget,” jawab Ziva cepat. “Gue juga enggak mau ada yang maksa-maksa.” “Bagus.” Ziva lanjut. “Poin tiga. Nafkah lahir sebesar lima puluh juta rupiah per bulan.” Alis Ziva langsung naik. “Wah, ini mah enggak perlu ditanya.” “Jawab aja,” ucap Damar. “Setuju,” kata Ziva mantap. Ia lanjut membaca lagi. “Poin empat. Ziva tetap tinggal di rumah ayah, tapi setiap akhir pekan wajib menginap di apartemen Damar.” Ziva menatap Damar. “Setiap minggu?” “Iya.” Ziva menghela napas. “Ya udah. Selama enggak aneh-aneh. Gue setuju.” “Poin terakhir,” kata Damar. Ziva membaca lebih pelan. “Jika dalam waktu satu tahun tidak tumbuh perasaan cinta, maka perceraian menjadi solusi.” Sunyi sesaat. Ziva menutup kertas itu, lalu menatap Damar lurus-lurus. “Gimana? Lo setuju?” Damar mengangguk tanpa ragu. “Setuju.” “Berarti sama-sama untung,” gumam Ziva. Damar menggeser map itu lagi, menaruh selembar materai dan pulpen. “Kalau begitu, tanda tangan.” Ziva mengambil pulpen, menatap kertas itu sebentar, lalu tersenyum miring. “Gila sih hidup gue.” Tangannya bergerak cepat, menandatangani perjanjian itu. Selesai. Damar ikut menandatangani, lalu menutup map tersebut. “Mulai hari ini, kita pasangan resmi. Tapi ingat, ini kerja sama.” Ziva berdiri, menyilangkan tangan di d**a. “Tenang aja, Mas. Gue juga enggak mau ribet. Setahun doang.” Tatapan mereka bertemu, dingin dan penuh perhitungan. Tak satu pun menyadari, kesepakatan yang mereka anggap sederhana itu justru akan jadi awal kekacauan perasaan. Begitu map perjanjian ditutup, Damar langsung mengambil ponselnya. Ziva masih berdiri di dekat meja, matanya terang-terangan ngintip layar ponsel Damar. “Udah gue transfer,” kata Damar santai. Beberapa detik kemudian, ponsel Ziva berbunyi. Ziva langsung lihat layar, lalu senyumnya melebar tanpa bisa ditahan. “Wah, masuk!” katanya sambil nyengir lebar. “Gila, cepet banget.” “Itu nafkah lahir bulan pertama,” ucap Damar. “Dipakai yang bener.” “Iya, iya, tenang,” jawab Ziva semangat. “Aman.” Damar berdiri. “Sarapan. Abis itu gue anterin pulang.” Di dalam mobil, suasana agak hening sampai akhirnya Damar buka suara. “Satu lagi, Ziva. Mulai sekarang, jangan ke klub.” Ziva langsung nengok. “Lah, kok gitu? Itu kan enggak ada di perjanjian.” Damar mikir sebentar. “Hmm… iya juga.” Ziva senyum tipis, ngerasa menang. “Tapi gini aja,” lanjut Damar. “Kalau lo ke klub, gue juga boleh.” “Hah?” Ziva melotot. “Kok malah gitu sih?” “Adil,” jawab Damar tenang. “Lo boleh, gue juga.” Ziva mendengus. “Ya enggak gitu juga kali. Terus kalau ketahuan gimana?” “Makanya,” kata Damar. “Pilihannya di lo.” Ziva nyender ke jok, manyun. “Ya udah. Gue enggak ke klub.” “Satu lagi,” sambung Damar. “Apa lagi sih?” Ziva mulai kesal. “Pakaian lo,” ucap Damar. “Mulai dijaga. Sekarang nama lo bawa nama gue.” Ziva memutar mata. “Iya, iya, Om Damar.” Mobil langsung direm pelan. “Jangan panggil om,” kata Damar datar. Ziva kaget. “Terus manggil apa?” “Panggil yang pantes. Yang nganggep gue suami lo. Kalau lagi berdua.” Ziva mikir sebentar, lalu nyengir usil. “Oke deh… Mas Damar.” Sudut bibir Damar terangkat. Mobil kembali jalan. Tak lama, mereka sampai di depan rumah Ziva yang sederhana. Begitu mobil berhenti, pintu rumah langsung kebuka. “Kak Ziva!” Seorang bocah laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun lari keluar. “Raka!” Ziva langsung turun dan memeluk adiknya. “Kok belum tidur?” “Lagi nungguin Kakak,” jawab Raka polos. Raka lalu melirik ke arah Damar yang ikut turun. “Itu siapa, Kak?” Ziva melirik Damar sebentar, agak kikuk. “Kenalin… ini Mas Damar.” Damar tersenyum tipis. “Halo, Raka.” Raka mengangguk pelan, matanya masih penuh rasa penasaran. Di titik itu, Damar sadar, hidupnya sudah benar-benar masuk ke dunia baru. Dan Ziva baru paham, pria dingin itu pelan-pelan mulai jadi bagian hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN