Janji yang tertinggal, Istri yang datang

1279 Kata
Ziva cuma bisa menunduk dalam, tangannya meremas rok dress-nya kuat-kuat sampai kusut. Pikirannya kosong, cuma ada rasa pasrah yang tersisa. Dia sadar, nggak ada gunanya lagi berontak kalau kenyataannya dia sudah "terbeli" oleh budi baik pria di depannya ini. Melihat Ziva yang tampak rapuh, Damar nggak tega juga. Dia bergeser, lalu menarik Ziva masuk ke dalam pelukannya. Ziva nggak menolak, nggak juga membalas. Dia cuma menyandarkan kepalanya di d**a bidang Damar yang terasa hangat dan kokoh. "Ziva siap, Om..." bisik Ziva lirih di balik d**a Damar. "Om mau ngapain aja ke Ziva, Ziva pasrah. Ziva siap lakuin kewajiban Ziva sekarang." Mendengar ucapan jujur namun penuh keputusasaan itu, Damar menarik pelan dagu Ziva agar gadis itu menatapnya. Mata Ziva yang sembap karena habis nangis kelihatan sangat cantik sekaligus menyedihkan di bawah temaram lampu hotel. "Lo serius?" tanya Damar singkat, suaranya terdengar lebih dalam. Ziva cuma mengangguk pelan, matanya terpejam pasrah. Tanpa basa-basi lagi, Damar mengikis jarak di antara mereka. Dia mencium bibir Ziva dengan lembut namun penuh penekanan. Awalnya Ziva kaget, tubuhnya sempat menegang, tapi mengingat semua beban hutang ayahnya dan statusnya yang sudah menjadi istri sah, Ziva akhirnya mulai mengikuti permainan Damar. Ziva yang masih polos mencoba membalas ciuman itu dengan kikuk, mengikuti irama yang diciptakan oleh Damar. Suasana kamar hotel yang dingin karena AC mendadak terasa panas. Damar yang awalnya cuma ingin memberi "pelajaran", perlahan mulai terbawa suasana karena respons Ziva yang pasrah namun jujur. Tangan Damar mulai beralih ke pinggang Ziva, menarik tubuh mungil istrinya itu agar lebih menempel pada tubuhnya. Malam yang tadinya penuh drama, kini berubah menjadi awal dari sesuatu yang lebih intim bagi pasangan beda usia ini. Damar membopong tubuh mungil Ziva dengan hati-hati, lalu merebahkannya di atas ranjang yang empuk. Dia menatap wajah istrinya itu dalam-dalam, sebelum akhirnya kembali menempelkan bibirnya, memberikan ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya. Ziva cuma bisa diam, mengikuti alur yang dibuat Damar. Namun, di tengah tautan itu, setetes air mata jatuh membasahi pipi Ziva. Dia merasa sedih karena semua ini terjadi begitu cepat dan karena keterpaksaan. Damar yang merasakan basah di pipi Ziva langsung menghentikan ciumannya. Dia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Ziva yang berkaca-kaca. Ada rasa nggak tega yang muncul di hati dokter itu saat melihat kerapuhan Ziva. Damar menghela napas panjang, lalu berbisik tepat di depan wajah Ziva. "Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo tanpa izin dari lo sendiri, Ziva. Sekarang mending lo tidur," ucap Damar dengan suara yang jauh lebih lembut. Dia melepaskan dekapannya, lalu bangkit berdiri dan turun dari ranjang. Bukannya lanjut menggoda Ziva, Damar malah berjalan ke arah sofa tempat tasnya berada, lalu membuka laptopnya. Dia mulai sibuk berkutat dengan pekerjaannya, seolah ingin memberi ruang bagi Ziva untuk tenang. Ziva sempat bengong, dia kaget setengah mati. Ternyata Damar nggak sejahat atau "semesum" yang dia bayangkan tadi. Pria itu masih punya hati dan nggak mau manfaatin keadaan pas Ziva lagi sedih. Ziva menarik napas lega. Dia melihat punggung Damar yang serius bekerja dari kejauhan. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya, mungkin untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu malam ini. Ziva kemudian menarik selimutnya sampai ke d**a, mencoba mencari posisi nyaman. Karena tubuh dan mentalnya sudah bener-bener capek, nggak butuh waktu lama sampai akhirnya Ziva terlelap dengan tenang. Damar akhirnya menutup laptopnya setelah merasa pekerjaannya cukup selesai untuk malam ini. Matanya terasa berat, namun ia menyempatkan diri melirik ke arah Ziva yang sudah tertidur pulas dengan sisa-sisa jejak air mata di pipinya. Damar berjalan pelan ke arah ranjang, berusaha agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengganggu tidur istrinya, istri yang jauh lebih muda darinya. Ia merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong, memberikan jarak yang cukup di antara mereka. Begitu ia memejamkan mata dan suasana kamar menjadi sunyi senyap, pikiran Damar tiba-tiba melayang ke masa lalu. Bayangan Sekar Anindya Maheswari, mendiang istrinya, kembali muncul dengan begitu nyata. Ia teringat bagaimana lembutnya Sekar, sosok perempuan anggun yang dulu selalu menyambutnya pulang dengan senyuman tenang. Kepergian Sekar karena sakit telah meninggalkan lubang besar yang membuat Damar menutup hatinya selama bertahun-tahun, menjadi pria yang kaku dan hanya peduli pada pekerjaan di rumah sakit. "Maafin Mas, Sekar," gumam Damar dalam hati. Ada rasa bersalah yang terselip karena kini ada sosok perempuan lain yang tidur di sampingnya. Namun, ia juga sadar bahwa tanggung jawabnya sekarang sudah berpindah kepada gadis bar-bar yang sedang terlelap ini. Ziva sangat berbeda dengan Sekar. Ziva meledak-ledak, berani, dan penuh api, sementara Sekar adalah air yang tenang. Damar menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar hotel yang mewah itu. Menikahi Ziva bukan hanya soal melunasi hutang budi Rizal Wardhani, tapi entah kenapa, ada naluri dalam dirinya yang ingin melindungi gadis itu dari kerasnya dunia Jakarta yang bisa saja menghancurkannya. Sambil mendengarkan deru napas Ziva yang teratur, Damar akhirnya memaksakan matanya untuk terpejam, mencoba berdamai dengan kenangan masa lalu dan kenyataan baru yang harus ia jalani mulai besok pagi. Pikiran Damar melayang jauh, kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Masa di mana hidupnya benar-benar berantakan, jauh sebelum ia menjadi dokter yang disegani seperti sekarang. Flashback: Masa Kelam dan Pertemuan di Pesantren Dulu, Damar Adhikara bukanlah sosok yang tenang. Di masa kuliahnya di Jakarta, ia adalah anak muda yang sangat nakal. Hobinya adalah balapan motor liar di jalanan ibu kota. Baginya, adrenalin adalah segalanya. Sampai suatu malam, maut hampir menjemputnya. Kecelakaan hebat saat balapan membuat Damar kritis berhari-hari. Dokter Surya, ayahnya, hampir putus asa. Sang ibu, Helena, tak henti-hentinya menangis melihat putra sulungnya terbaring tak berdaya dengan mesin sebagai penyambung nyawa. Begitu Damar dinyatakan lepas dari masa kritis, ayahnya mengambil keputusan ekstrem. "Kamu nggak bisa di Jakarta lagi. Kamu bakal hancur kalau tetap di sini," tegas Dokter Surya. Tanpa persetujuan Damar, ayahnya memindahkan kuliahnya ke Yogyakarta. Tidak hanya itu, Damar dipaksa tinggal dan mondok di pesantren milik sahabat lama ayahnya, seorang kyai yang dihormati. Pemberontakan Damar Awalnya, Damar bener-bener nggak terima. "Gila aja, gue disuruh mondok? Yang bener aja!" gerutunya saat itu. Penampilannya yang urakan dengan rambut agak panjang sangat kontras dengan lingkungan pesantren yang adem. Damar sering banget kabur-kaburan. Dia sengaja nggak ikut pengajian, manjat pagar pesantren tengah malam, dan lebih sering tidur di kostan teman-teman kampusnya di Jogja demi bisa merokok atau sekadar nongkrong. Sampai suatu pagi, saat dia mencoba menyelinap masuk kembali ke area pondok, dia berpapasan dengan seorang gadis. Cahaya Bernama Sekar, Gadis itu sedang membawa nampan berisi teh, mengenakan gamis sederhana dengan kerudung instan yang menutupi rambutnya. Dia adalah Sekar Anindya Maheswari, putri bungsu sang Kyai. "Mas Damar? Baru pulang dari 'kuliah' subuh ya?" tanya Sekar lembut, tapi ada nada menyindir yang halus. Damar terpaku. Wajah Sekar sangat tenang, matanya jernih, dan senyumnya... senyum itu yang perlahan-lahan meruntuhkan tembok keras di hati Damar. Sejak hari itu, Damar yang biasanya malas mulai rajin duduk di barisan depan saat pengajian, hanya agar bisa mencuri pandang ke arah Sekar yang sering membantu di dapur umum atau mengajar anak-anak kecil. Damar mulai berubah total. Dia belajar ngaji dari nol, belajar bahasa Arab, dan kuliah kedokterannya yang tadinya terbengkalai mulai dia kejar dengan ambisius. Dia ingin membuktikan bahwa dia layak untuk gadis seperti Sekar. Cinta Damar ternyata nggak bertepuk sebelah tangan. Meski Sekar saat itu masih duduk di bangku SMA, dia bisa melihat ketulusan di mata Damar yang sedang berjuang memperbaiki diri. Suatu sore di bawah pohon kamboja dekat perpustakaan pondok, Damar memberanikan diri. "Sekar, Mas tahu Mas punya masa lalu yang busuk. Tapi Mas mau berubah buat kamu. Kamu mau nunggu Mas sampai Mas jadi dokter?" Sekar hanya menunduk malu, lalu mengangguk pelan. "Sekar pegang janji Mas Damar ya." Kenangan itu terasa begitu manis sekaligus menyakitkan. Damar menghela napas panjang dalam tidurnya. Ia tak menyangka, setelah kehilangan Sekar, takdir justru membawanya menikahi Ziva, gadis yang sifatnya hampir mirip dengan dirinya di masa lalu: liar, berani, dan suka memberontak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN