Dokter Surya yang sejak tadi duduk diam di kursi besar hanya menghela napas pelan. Kepalanya menggeleng kecil. “Sejak dulu,” gumamnya lirih, lebih ke diri sendiri. “Pekerjaan terus yang diurus.” Damar berhenti sejenak, menoleh ke arah ayahnya. “Pasien tidak bisa menunggu.” Dokter Surya menatap anak sulungnya. Sorot matanya tenang, tapi ada lelah yang tidak diucapkan. “Iya,” ucapnya singkat. “Pergilah.” Damar mengangguk hormat, lalu melangkah keluar rumah. Begitu pintu tertutup, Dokter Surya menyandarkan punggungnya. Tatapannya kosong sesaat. “Mas Damar itu terlalu sibuk sama pekerjaan nya,” katanya pelan. “Seolah rumah tangga tidak pernah masuk hitungan.” Mama Helena ikut terdiam. Tangannya terlipat di depan d**a. “Kadang Mama berpikir,” lanjut Dokter Surya lirih, “kapan keluarga

