Alvian melangkah santai menuju ruang koas. Tapi baru beberapa langkah, bibirnya malah ketarik senyum sendiri. “Hah… pagi-pagi ketemu yang begitu,” gumamnya pelan. Ia berhenti sebentar, mengingat wajah Ziva. “Ziva…” ucapnya lirih, senyum kecil penuh arti. “Nama sama orangnya cocok juga.” Alvian menggeleng kecil, lalu melanjutkan langkah, sama sekali nggak kepikiran soal siapa sebenarnya perempuan itu. Damar duduk tegak di balik meja kerjanya. Beberapa map terbuka rapi. Seorang asisten duduk di seberangnya sambil memegang tablet. “Untuk pasien lantai tujuh sudah dijadwalkan ulang, Dok,” lapor sang asisten. Damar mengangguk. “Oke. Yang ini tolong prioritasin.” Saat itu, ponsel Damar bergetar. Nama Ziva muncul di layar. Damar melirik sebentar, lalu membuka chat. Ziva: Ziva sudah ma

