Suasana di kantor pusat Adhikara Group pagi itu tampak seperti biasa, sibuk, profesional, dan penuh wibawa. Damar Adhikara duduk di kursi kebesarannya, menatap pemandangan Jakarta dari lantai 50. Di tangannya terdapat dokumen ekspansi bisnis yang akan melipatgandakan aset keluarganya. Namun, di balik kemegahan itu, sebuah badai yang telah dirancang selama berbulan-bulan oleh rivalnya, Hendrawan, siap untuk meluluhlantakkan segalanya. Kehancuran dimulai dengan sebuah ketukan pintu yang tidak sabar. Sekretaris Damar masuk dengan wajah pucat pasi, diikuti oleh segerombolan polisi berpakaian preman dan seragam lengkap. "Pak Damar Adhikara? Kami dari Polda Metro Jaya. Anda kami tahan atas dugaan pembunuhan berencana terhadap Saudari Clarissa Putri," ucap petugas itu dengan suara bariton yang

