Selamat membaca~
-
Asya menggandeng tangan mungil Jefrey untuk dituntunnya menuju ruang Departemen Pemasaran. Sebenarnya hingga tadi Asya memikirkan cara untuk membagi waktunya antara mengerjakan proposal dan mengajak Jefrey bermain. Karena Asya tahu jika anak seusia Jefrey saat ini akan merasa bosan jika harus ditinggal sendirian.
“Jefrey bosan gak? Mau main sama Kakak?” tanya Asya di sela keheningan yang terjadi diantara ia, Jefrey, dan Nathan.
Jefrey menggeleng seraya menatap lurus pintu lift yang masih tertutup. Asya mengangguk, ia kembali mengatur rencana lain agar anak ini tidak merasa bosan.
“Jefrey udah makan? Kita jajan di kantin, mau?” tawar Asya yang kini berjongkok agar bisa lebih leluasa untuk menatap Jefrey yang enggan menatapnya.
“Jefrey gak boleh jajan sembarang Cha,” sahut Nathan memperingatkan.
“Kenapa Pak?” tanya Asya seraya mendongak untuk bisa menatap Nathan.
“Masalah Kesehatan. Jadi Angkasa sangat menjaga asupan yang masuk ke tubuh Jef,”
Asya mengangguk paham, “Makanan yang boleh dan gak boleh apa aja?”
“Boleh makan salad buah dan sayur, steik, salmon, tuna, keju. Kalau yang gak boleh itu makanan banyak micin sama terlalu banyak minyak, kayak mi, gorengan, ya yang lo tahu lah makanan kita sehari-hari kalau jajan itu apa aja.” Jelas Nathan seraya mengingat apapun informasi yang ia tahu mengenai Jefrey.
Asya berdiri, tangannya mengusap pelan kepala Jefrey, dan perlahan turun ke bahu lalu menepuknya dengan pelan. Sorot mata sendu Asya menatap Jefrey yang sedari tadi diam tidak bersuara.
“Ya itu makanan memang baik sih buat tumbuh kembang anak. Tapi kasihan juga kalau dia gak bisa cobain,” balas Asya.
“Angkasa kalau sama Jefrey memang sangat overprotective, ya meskipun dia sibuk sama kerjaannya. Tapi sebisa mungkin Angkasa akan kontrol semua tentang Jefrey.”
Pintu lift terbuka, Asya berpamitan pada Nathan yang harus ke lantai 7 untuk menuju ke ruang kerjanya. Namun sesaat sebelum pintu tertutup, Nathan mencegahnya menggunakan lengan tangannya.
“Cha, kalau butuh bantuan lo bisa kabari gue.” Peringat Nathan yang sadar jika ia tidak sepenuhnya akan membiarkan Asya mengasuh Jefrey sendirian.
Asya mengangguk seraya tersenyum. Setelahnya Nathan mengalihkan lengannya dan membuat pintu lift tertutup. Asya menghela napas, ia kini menguatkan bahunya sebelum menatap mata coklat milik Jefrey.
Asya berjongkok seraya memegang bahu Jefrey agar anak tersebut bisa menatapnya dengan tatapan fokus. “Jefrey, hari ini kita menjadi teman. Semoga kita bisa jadi partner yang mengasyikkan dan bisa tertawa bareng sampai Papa kamu balik untuk jemput kamu. Okay?” ujar Asya seraya tersenyum manis dan mengajukan jari kelingkingnya tepat dihadapan Jefrey yang masih memilih untuk diam.
“Kalau Jefrey butuh apapun, langsung kasih tau Kakak ya. Kakak akan kasih apapun yang kamu butuhkan,” lanjut Asya.
“Untuk saat ini kamu ikut Kakak untuk taruh kertas ini ke meja Kakak ya.” ujar Asya dengan mengajak Jefrey untuk mengikuti langkah kakinya.
“Siapa Cha?” tanya teman satu departemen Asya yang melihat anak kecil di samping Asya.
“Jefrey, Kak.” Balas Asya.
“Anak Pak Angkasa?” tanyanya lagi.
Asya mengangguk, “Iya.”
“Kok bisa sama lo?” tanya teman perempuannya itu dengan perasaan heran.
“Pak Angkasa yang langsung titipin ke saya.”
Setelah berbincang sebentar, kini Asya pamit untuk menaruh map revisi di atas meja kerjanya yang berantakan. Asya berjalan untuk menghampiri Rina yang sedang fokus pada pekerjaannya.
“Mbak Rina, saya izin buat ajak main anak Pak Angkasa dulu ya. Nanti revisian dari Pak Angkasa biar saya kerjakan.” Pamit Asya pada Rina yang memiliki kuasa dalam departemen pemasaran.
Rina mengangguk dan membiarkan Asya untuk pergi bersama Jefrey. Karena semua orang tahu sepenting apa Jefrey bagi Angkasa, dan sebagaimana besarnya pengaruh Jefrey pada Angkasa. Meskipun banyak pertanyaan dalam benak setiap pegawai yang melihat Asya berjalan bersama Jefrey menuju kantin.
Sesampainya di kantin, Asya membantu Jefrey untuk duduk di bangku sembari melihat menu yang tertera pada papan di atas meja. “Jef mau makan apa?” tanya Asya.
Jefrey diam. Ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Asya.
“Jef sudah makan belum?” tanya Asya lagi dengan usahanya untuk mengajak Jefrey berbicara.
Jefrey menggeleng, ia mulai menuliskan pada tab miliknya. ‘Jef belum makan.’
Asya tersenyum seraya mengusap pelan puncak kepala anak kecil itu, “Jef mau makan apa, sayang?” tanya Asya dengan nada bicaranya yang terdengar sangat lembut.
“Papa nanti marah.” Ujar Jefrey setelah memilih berdiam diri.
“Kenapa? Biar nanti Kakak yang marahin balik Papa Jefrey ya,” balas Asya dengan raut sungguh-sungguh untuk meyakinkan anak kecil itu.
Jefrey menggeleng, “Papa jahat.” Ujar Jefrey. Asya diam, karena pada dasarnya ia tidak tahu apa yang dimaksud anak kecil dihadapannya ini jika hanya mengucapkan sepatah dua kata tanpa arti yang jelas. Namun Asya tetap berusaha untuk menangkap setiap kata yang ia ucapkan padanya.
“Papa Jef baik, karena Papa gak mau lihat Jefrey sakit. Tapi kalau Jefrey gak makan siang, nanti kamu bisa sakit sayang. Jadi kita makan dulu ya?” ujar Asya sembari membujuk agar Jefrey tidak lagi takut pada amukan Angkasa.
Jefrey menatap Asya dalam, raut wajahnya datar namun tatapannya mengandung banyak arti ambigu yang belum bisa Asya jabarkan.
“Kakak baik. Jef mau punya Mama seperti Kakak.” Ujar Jefrey yang berhasil membuat Asya diam membisu.