Selamat membaca~
-
“Jef gak boleh bilang seperti itu ya. Kakak yakin kalau Mama Jef pasti orang yang baik.” Tutur Asya dengan lembut untuk memberikan respon pada anak kecil dihadapannya.
“Mau pesan apa Mbak Asya?” tanya pegawai yang bekerja di bagian kantin perusahaan.
Kini fokusku teralihkan untuk melihat sosok paruh baya tersebut. “Nasi goreng ayamnya masih ada Bu?” tanyaku dengan nada ramah.
“Masih, Mbak.”
“Saya pesan nasi goreng satu dan salad buah satu, di bungkus ya Bu.” Ujar Asya dengan memberikan selembar uang berwarna merah untuk membayarkan tagihan bill.
“Tunggu sebentar ya, Mbak.” Ujar Ibu tersebut seraya memberikan kembalian milik Asya.
Asya mengangguk, kini netranya sibuk mencari tempat kosong di tengah sepinya kantin yang hanya dilalui oleh beberapa orang saja. Asya pun mengajak Jefrey untuk duduk disalah satu bangku kosong yang ada di sana.
“Sini Kakak bantu,” ujar Asya saat melihat Jefrey kesulitan menaiki kursi yang lebih tinggi darinya.
Mereka duduk dalam keadaan hening yang cukup mencekam. Sebenarnya Asya sedang berpikir untuk mencari topik obrolan lain bersama anak kecil dihadapannya ini.
“Jef baru pulang sekolah ya?” tanya Asya setelah berdiam diri beberapa saat.
Jefrey mengangguk tanpa berbicara, matanya masih mengelilingi perusahaan dengan dominan warna putih gading.
“Jef sekolah di mana?” tanya Asya yang tidak patah semangat untuk mengajak lawan bicaranya mengobrol.
“Neo International School di Pusat.” Balas Jefrey dengan raut yang lebih santai.
Asya mengangguk, dia tidak merasa heran jika Angkasa menyekolahkan anaknya di sekolah elit. “Wah keren sekali,” puji Asya seraya tersenyum tulus.
“Tidak sama sekali.” Balas Jefrey dengan sorot mata datar.
Asya mengenyit bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Jefrey, “Jef tidak suka bersekolah di sana?” tanya Asya.
“Tidak juga.” Balas Jefrey yang semakin membuat Asya penasaran akan sosok dibalik anak kecil yang sedang dia hadapi.
“Mbak ini pesanannya.” Ujar salah satu pegawai tersebut yang memberikan bungkusan milik Asya.
Setelah mengucapkan terima kasih, kini Asya dan Jefrey memutuskan untuk pergi dari sana karena Asya tahu jika Jefrey tidak nyaman menjadi pusat perhatian banyak orang.
“Jef mau kemana?” tanya Asya karena dia juga bingung hendak melangkah kemana.
“Ruangan Papa.”
Asya mengernyit setelah mendengar jawaban dari anak kecil tersebut, “Tapi Kakak gak boleh masuk ke sana tanpa seizin Pak Angkasa.” Balas Asya yang cemas akan ide Jefrey yang menurutnya buruk.
“Ada Jef, Mam.” Ujar anak itu percaya diri.
Asya hanya diam dan mengikuti langkah kecil anak yang kini sedang berjalan dan menarik tangannya dengan tergesa. Sorot mata sendu dan senyum tipis kini menghiasi wajah lelah Asya setelah bertemu anak asing yang banyak menyimpan rahasia di dalamnya.
Setelah Jefrey berhasil membawa Asya masuk ke dalam ruang kerja milik sang Papa. Kini Asya duduk di lantai dingin yang bersih di sana dan membiarkan Jefrey untuk duduk di atas sofa.
“Sini.” Tepuk Jefrey pada sofa empuk di sampingnya yang masih kosong.
Asya menggeleng seraya tersenyum, “Kakak lebih suka duduk di sini,” balas Asya.
“Kenapa?” tanya Jefrey dengan menautkan kedua alisnya yang mengartikan bahwa anak itu sedang penasaran.
“Kakak bisa lihat kamu dengan leluasa,” jawab Asya yang berhasil membuat Jefrey bungkam.
Asya membuka bungkus makanannya karena dia sendiri juga merasa lapar. Semerbak khas bau nasi goreng dan salad buah beradu menjadi satu dengan pendingin ruangan yang menyorot dengan sangat kuat.
Asya mengambil satu sendok nasi goreng tersebut dan mengarahkannya pada Jefrey yang masih menatapnya dalam diam, “Jef buka mulutnya sayang,” ujar Asya.
Dengan ragu Jefrey membuka mulutnya sesuai arahan dari Asya, kini satu suap nasi goreng bisa Jefrey rasakan di dalam mulutnya. Nasi goreng yang baru pertama kali dia makan dari hasil beli di luar. Karena Jefrey hampir tidak pernah jajan jika tidak sedang bersama Angkasa.
“Enak?” tanya Asya pada Jefrey yang terdiam.
Jefrey mengangguk seraya tersenyum. Selanjutnya Asya juga ikut memakan nasi gorengnya bersama dengan Jefrey. Mereka habiskan nasi goreng dan salad dengan waktu singkat. Setelah memastikan bahwa Jefrey sudah kenyang, kini Asya duduk disamping Jefrey.
“Mau main gak?” tanya Asya.
“Main?” tanya Jefrey balik.
“Iya, Jef main sama Kakak.” Balas Asya.
“Jef tidak pernah main.” Ujar Jefrey yang membuat Asya terpaku.
Anak sekecil ini belum pernah merasakan bermain bersama teman sebayanya? Berbagai gejolakan batin kini sedang Asya rasakan ketika berhadapan dengan Jefrey.
“Kalau begitu Kakak akan kasih tahu seberapa serunya main sama teman.” Ujar Asya tersenyum dengan tulus.
Pikiran Asya kini berputar untuk mencari mainan mudah namun seru untuk anak seusia Jefrey. Kini Asya memutar duduknya untuk menghadap Jefrey, ia mengulurkan satu tangan kanannya untuk bermain suit.
“Kita main suit, nanti yang kalah dikelitikin ya.” ujar Asya yang diangguki dengan setuju oleh Jefrey.
Degup jantung menerpa anak kecil dihadapan Asya. Putaran pertama adalah Asya yang kalah, sehingga dia harus menerima konsekuensi untuk mendapatkan gelitikan dari Jefrey. Lalu pada putaran kedua dan seterusnya nyawa Jefrey berada di tangan Asya.
Suara gelak tawa menyeruak di ruang tertutup milik Angkasa. Tangan Asya dengan lihai berhasil membuat badan anak kecil itu kegelian. Raut bahagia terpampang jelas di wajah murung Jefrey.
“Apa-apaan ini?!” teriak lelaki dengan tegas dan netra yang menajam.