9 | Istri Pilihan Anakku

767 Kata
Selamat membaca~ - “Apa yang anda lakukan?!” Angkasa murka dengan bau yang tidak dia sukai kini semerbak di dalam ruang kerjanya. Asya terperanjat terkejut, dia kini berdiri dan menjauh dari Jefrey yang masih terbaring di atas sofa. “Maaf Pak, saya hanya mengajak Jefrey bermain.” Balas Asya dengan raut setengah takut yang sedang disembunyikannya. Angasa beralih untuk menatap anaknya yang kini sudah berdiri tepat dihadapan Asya. Angkasa menatap tajam Jefrey yang bungkam dengan kedua tangannya yang merentang lebar. “Jef habis makan nasi goreng?” tanya Angkasa dengan nada suara yang terdengar seperti sedang menghardik Jefrey. “Itu salah saya Pak karena memberikannya pada Jefrey,” balas Asya. “Kalau sudah tahu salah kenapa tetap dilakukan? Apa anda bodoh?!” sarkas Angkasa dengan nada tinggi. Mata Angkasa seolah memancarkan api yang hendak membakar mangsanya yang telah membangunkannya dari rehat panjang. Napas Asya tercekat saat Angkasa menatapnya begitu tajam atas kesalahannya. “Kalau sampai Jef sakit, anda yang akan bertanggung jawab.” Ujar Angkasa dengan intonasi rendah sehingga membuat bulu kuduk meremang. Asya mengangguk, dia merasa jika apa yang dilakukannya tidak ada yang salah untuk kesehatan anak tersebut. “Tapi apa yang telah saya lakukan sudah benar dan saya yakin Jef akan lebih sakit jika hanya memakan salad buah. Karena bagaimanapun dia juga membutuhkan nutrisi yang lengkap.” Ujar Asya tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Angkasa. “Berapa lama anda sudah mengenal Jefrey?” Hardik Angkasa dengan pandangannya yang tidak ingin melepaskan Asya. “Saya memang baru mengenal Jefrey, tapi saya tahu mana yang baik dan tidak untuk anak kecil.” Balas Asya yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya. “Apa anda memiliki seorang anak dengan tubuh yang lemah?” tanya Angkasa dengan sinis. “Tidak.” Asya menggeleng dengan tatapan segannya. “Saya yang sudah merawat Jef, saya yang paling tahu bagaimana kondisinya. Anda hanya orang asing yang suka ikut campur masalah orang. Cepat pergi, dan selesaikan tugas yang saya minta. Setelah itu bawa semua barangmu keluar.” Tegas Angkasa dengan perasaan kesal. “Saya akan pergi. Tapi Bapak juga jangan tutup mata untuk menggaji saya secara full dan memberikan tambahan uang lembur.” Balas Asya dengan menatap Angkasa tajam. Angkasa berdecih seraya tersenyum miring, membuat Asya memanas karena merasa direndahkan. “Tidak tahu malu.” Olok Angkasa. “Saya hanya meminta hak saya sebagai karyawan sebelum di pecat dengan tidak elit hanya karena masalah sepele. Harusnya yang tidak tahu malu itu anda, Bapak Angkasa yang terhormat.” Balas Asya dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Angkasa melangkah maju guna mendekatkan dirinya pada Asya, hal itu semakin membuat Asya merasa tersudut saat kakinya bertabrakan dengan sofa yang menghalangi. Asya terjatuh duduk di atas sofa empuk saat Angkasa terus melangkah maju ke arahnya. “Dengar ya. Tidak ada masalah sepele yang menyangkut tentang keluarga saya!” balas Angkasa dengan menajamkan tatapannya pada Asya yang sedang merasa takut. “Jangan marahi dia. Dia orang baik. Jef suka.” Jefrey berteriak lantang melihat sang Papa yang terus menyudutkan Asya. “Jangan membelanya, Jefrey.” Tegas Angkasa dengan menepis tangan anaknya yang hendak memisahkannya dari Asya. Jefrey meringis saat tubuh kecilnya menghantam dinginnya lantai ruang kerja Angkasa. Asya yang melihat segera mendorong tubuh Angkasa agar menjauh darinya agar dia bisa menolong Jefrey. “Jef, ada yang sakit sayang?” tanya Asya dengan raut khawatirnya. Jefrey menggeleng, sorot matanya tak lepas dari Asya yang kini mengkhawatirkan keadaannya. Angkasa tersadar jika perlakuannya telah berlebihan dan membahayakan keadaan Jefrey. Dia kini beralih untuk memastikan keadaan Jefrey. “Jef, Papa minta maaf.” Sesal Angkasa dengan raut wajah khawatir. Asya tertegun mendengar permintaan maaf dari mulut Angkasa yang bahkan tidak pernah dia dengar sebelumnya. “Papa jahat.” Balas Jefrey dengan tatapan marah. “Papa cuma ingin melindungi kamu, nak.” Ujar Angkasa dengan menangkup wajah anak kecil itu. “Kakak Acha baik. Jef suka.” Tegas Jefrey yang berharap agar Angkasa mengerti maksud dari perkataannya. Angkasa menghela napas berat. Kini tatapan Angkasa beralih pada Asya yang tetap diam. “Pergi. Selesaikan tugas anda dan pulang.” Tegas Angkasa yang rupanya lebih menutup telinga. Asya mengangguk, “Kalau memang saya harus di pecat. Saya harap anda bisa lebih memahami Jefrey karena dia anak yang baik, hanya saja dia butuh teman dan kehangatan supaya bisa bersosialisasi dengan orang lain. Jangan terlalu tegas padanya, cobalah untuk Bapak bisa bersikap lembut.” Ujar Asya dengan tulus. Asya tersenyum serapa mengusak rambuh Jefrey pelan, dia tersenyum dengan hangat. “Sampai jumpa di lain waktu anak baik. Kakak juga suka sama Jef.” Ujar Asya dengan halus seraya memeluk tubuh mungil Jefrey untuk menyalurkan kehangatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN