Bab 162. Adrian 44

1060 Kata

Setelah berhasil keluar dari kemacetan, aku dan Alisya melalui perjalanan dengan lancar menuju Cafe. Sampai di sana, Ricky dan Tio belum nampak batang hidungnya. Selesai memarkirkan motor, aku dan Alisnya menemui Manager atau penyenglenggara acara yang sudah ku kenal. Aku cukup sering mendapatkan panggilan manggung di sini. Untuk acara live musik, atau sekedar menerima request'san tamu. Jadi, tak jarang ada karyawan Cafe yang sempat menyapa atau tersenyum padaku. Daripada disebut Cafe, tempat ini sebenarnya lebih cocok di sebut Restoran besar. Tempatnya luas, bagus dan memang cocok untuk membuat acara-acara tertentu. "Sambil nunggu Tio sama Ricky, gimana kalau kita pesen makan dulu," tawarku pada Alisya, mengingat kami belum sempat makan di rumah tadi. Alisya mengagguk dengan cepat,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN