"Ini anak sengaja apa gimana sih?" gerutuku dengan begitu kesal, sembari melemparkan ponsel ke atas tempat tidur. Aku menutupi wajah menggunakan bantal, menekan mulutku lalu berteriak sekeras-kerasnya. Berharap kalau bantal itu akan bisa meredam rasa kesalku. Sejak pertama kali aku mengirimkan pesan pada Shera, hingga saat ini belum ada tanda-tanda dia akan membalasnya. Hal itu membuatku jengkel. Apa dia sudah tidak lagi menganggapku sebagai sahabat. Dan tepat di saat kemarahan ini hampir mencapai puncaknya, suara dering ponsel membuat sepasang mataku membulat dengan sempurna. Aku menyingkirkan bantal yang dengan sengaja ku gunakan untuk membekap teriakan ku sendiri. Setelah berhasil meraih ponsel, kemudian mendapati nama pemanggil yang tertera, semangatku hilang, hancur, lebur dan bu

