Bab 174. Adrian 49

1748 Kata

"Nih, diminum dulu." Aku datang menghampiri Shera sambil membawa dua gelas teh manis hangat untukku dan juga dia. Kami sedang berada di salah satu warung pinggir jalan di kawasan kebun teh puncak Bogor. Hari sudah semakin sore dan udara semakin dingin, cuaca tampaknya sudah tidak mendukung lagi pada aktivitas kami di luar ruangan karena langit mulai mendung. Sepertinya dalam waktu dekat ini akan turun hujan. "Makasih," jawab gadis itu tanpa menoleh. Kabut tipis mulai menjalar dan menutupi jalan. Di depan kami kemacetan sudah mulai mengular panjang. Padahal jalan raya di hadapan kami bisa diperuntukkan untuk 4 kendaraan. Dua ke arah Jakarta dan dua lagi ke arah sebaliknya. Tapi saat ini, kemacetan membuatnya menjadi jalan satu arah menuju Jakarta. Tampaknya hanya kendaraan roda dua yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN