"Seriously? Kamu yakin sama apa yang kamu bilang barusan?" tanya Mawar lagi. Berapa kali lagi aku harus menjelaskan pada wanita ini, kalau dia telah kehilangan kesempatan karena ulahnya sendiri. "Ya, aku yakin!" jawabku dengan tegas. "Tapi aku yang saat ini nggak yakin sama kamu," ujarnya lagi. Lantas apa aku peduli? mau dia ataupun aku yang yakin, bagiku semua akan sama saja. Hal itu nggak akan merubah kenyataan kalau kami telah berpisah, dan Mawar tak lagi memiliki akses masuk untuk menuju ke relung hatiku. Jangankan yang terdalam. Untuk sekedar berjalan-jalan di pelataran hati ini saja ... aku tidak akan menerimanya. "Seharusnya, Queen itu jadi anak kamu, Xel. Bukan anaknya Tama. Axel ... apa kamu nggak mau cepat punya anak?" Cukup sudah pertanyaan Mawar semakin ngawur. Aku di b

