Axel Yudhistira
Satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Baiklah, cukup sudah. Aku menunggu sebuah jawaban tapi Lisa dan pria itu malah bicara dengan bahasa isyarat mata yang sama sekali nggak ku mengerti. Hari semakin malam, mata mulai ngantuk, dan aku ingin cepat-cepat pulang dari tempat berisik ini. Dan aku takut tidak kuat mengemudi nantinya.
"Lisa, kalau kamu emang nggak sanggup dan nggak mau ngomong. Biar Abang yang sekarang ngomong," ucapku pada Lisa dengan tegas.
Perhatianku kini beralih pada pacarnya yang masih dengan wajah dilanda kebingungan. Kemana tampang sangar yang galak dan penuh emosi itu. Hanya karena tahu aku adalah Kakaknya Lisa, nyali pria ini langsung ciut begitu saja. Heh ... lemah!
"Jadi, kapan lo mau tanggung jawab sama Adek gue!" tanyaku penuh penegasan.
"Hah? Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Damar, sebenernya kamu ngomong apa sih sama Bang Axel!" protes Lisa. Ohh ... baiklah. Berkat Lisa, sekarang aku tahu kalau namanya itu Damar. Tapi kenapa Lisa malah bingung dengan tanggung jawab yang ku maksud. Harusnya dia ini senang, karena aku sedang menyelamatkannya dari rasa malu seumur hidup. Apa kata orang nanti jika sampai dia hamil duluan.
"Aku nggak bilang apa-apa, Sayang. Aku cuma bilang kalau, kamu udah ngasih satu-satunya hal yang paling berharga milik kamu, ke aku. Itu aja!" jawab pria bernama Dimas itu dengan jelas. Sangat jelas hingga membuat Lisa melongo.
"Nah nah nah. Benarkan, coba kamu jelasin itu, De. Bisa-bisanya kamu ngelakuin hal kaya gitu! Kamu nggak inget sama Mama, sama perasaan Mama?"
"Abang nggak usah munafik deh Bang. Abang juga pasti pernah kaya gitukan sama pacar Abang!" balas Lisa. Ahhh ... kenapa adikku susah sekali diatur. Emosiku naik, tanganku terangkat, dalam hitungan detik seharusnya tamparan yang keras sudah melayang dipipinya yang mulus itu. Tapi gerakanku terhenti begitu saja, tepat di saat matanya menutup begitu rapat dan tanganku hanya berjarak sekitar satu atau dua centimeter dari kulitnya.
Aku tidak sanggup. Naluriku senagai seorang Kakak, sungguh membuatku tidak mampu menyakitinya, meski aku sering merasakan iri pada kasih sayang Mama yang seringkali terbagi dengannya secara nyata, dia tetaplah adikku. Kami berasal dari satu darah dan rahim yang sama. Siapa lagi yang akan melindunginya jika bukan aku.
Tanganku lantas terkepal dan turun secara perlahan. Lisa membuka matanya, wajahnya yang sempat berpaling kini kembali menatap ke arahku dengan takut.
"Jangan nguji emosi Abang, Dek. Sudah terlalu banyak rahasia kamu, yang Abang sembunyiin dari Mama dan Papa. Abang nggak sanggup, Abang nggak mau bikin mereka kecewa, apalagi sampe stress karena ulah kamu ini," ujarku lagi.
Sebenarnya obrolan kami ini terasa kurang jelas dan tidak efektif. Terganggu dengan suara musik dan teriakan keras dari orang-orang. Harusnya aku mengajak mereka berdua bicara di luar saja tadi. Kalau se
"Tapi Abang salah paham," keluhnya dengan lemah. Bagian mana dari penuturannya yang membuatku salah paham. Jelas-jelas anak ini sudah tidak bisa menjaga diri. Aku kecewa, pada Lisa. Juga pada diriku sendiri. Aku kecewa karena aku tidak bisa melindungi Adikku.
"Salah paham gimana maksudmu hah?" bentakku.
"Yang dimaksud Damar dengan hal paling berharga itu ya cintaku Bang. Bukan hal yang lain," jelas Lisa.
"Iya, cinta dan anumu itukan?"
Sial! Malu banget aku, kalau harus menyebutkan kata virgin atau keperawanan di depan orang.
"Abang pasti mikir kesana, Lisa yakin itu. Tapi sumpah Bang. Damar walaupun aneh begini, nggak pernah berani macem-macemin Lisa!" ujar Adikku. Damar menyipitkan matanya pada adikku. Mungkin dia agak tersinggung dengan kata aneh yang ditujukan padanya.
"Kok kamu bilang aku aneh?" protes Damar.
"Lah emang iya kan?" balas Lisa lagi.
"Jadi selama ini kamu anggap aku aneh?"
"Ya menurutku emang aneh! Terus aku harus bilang apa?"
"Ya tapikan ...!"
"Eh ... Stop-stop-stop. Ini ada apa sih! Coba, Alisya, kamu diem. Damar jelasin sekarang!" Bukannya buru-buru menjelaskan, kedua anak ini malah ribut di depanku. Dasar Abg labil, aku bahkan belum mendapat kejelasan dari semua ini.
"Gue minta maaf Bang ... ehm, Bang Axel maksud gue. Lisa emang pernah cerita punya satu Kakak laki-laki. Tapi gue nggak tahu itu lu Bang. Kalau gue tahu, gue nggak akan berani buat teriak-teriak apalagi nantangin. Sorry banget. Lagian Bang Axel ngapain ngaku-ngaku jadi pacarnya Lisa segala!"
"Aduh, skip bagian itu. Gue butuh penjelasan soal milik Lisa yang lo ceritain tadi! bukan perkara curahan hati!" perintahku lagi. Terlalu banyak waktu yang terbuang dan asumsi bertele-tele.
"Ya ... Lisa bener Bang. Gue nggak pernah apa-apain dia. Suerrrr! Maksud gue tadi itukan, karena Bang Axel pacarnya. Ehh, maksud gue ngaku-ngaku jadi pacarnya, ya gue bilang aja kaya gitu. Biar kalah gitu," jelasnya panjang lebar.
Aku tidak mau menilai seseorang hanya dari penampilan. Sama seperti saat pertama kali mengenal Shera dan mengantarnya pulang. Lingkungan membuatnya seolah menjadi bagian dari mereka. Padahal ada perbedaan yang sangat kentara. Dan sekarang, menatap sosok pria bernama Damar ini, baik dari segi penampilan dan lingkungannya bekerja, rasanya sulit dipercaya kalau dia belum pernah mengobok ngobok adikku.
"Itu bener Bang. Lisa sama Damar ini emang nggak pernah sampe sejauh itu. Kalau Abang nggak percaya, Lisa berani kok di tes, atau vicum ke Dokter sekalian!" tambah Lisa lagi.
Hahhh, tatapan kedua anak ini sebenarnya tampak meyakinkan. Tapi entahlah, aku memang akan merasa sangat lega jika itu benar, tapi ada beberapa hal yang buatku meragu.
Sudahlah, sekarang yang terpenting aku harus membawa Lisa pulang agar Mama tak terus-terusan menanyakannya. Hah ... Aku menghela nafas panjang. Tapi yang kurasa bukannya membuat lega, d**a ini justru semakin sesak. Sepertinya aku memang tidak cocok berada disini.
"Abang sekarang nggak minat buat ngurusin hal kaya gini. Kamu sekarang harus ikut pulang, De!" ajakku lagi. Dan kali ini, denga suara yang lebih lembut.
"Nggak mau!" tolaknya mentah-mentah.
"Alisya Karina Putri!"
"Lisa nggak mau pulang, kalau Mama masih juga mau jodohin Lisa!"
Aku memijat kepalaku yang kini semakin pening. Astaga ... punya adik satu-satunya tapi susah sekali diatur. Aku bukan tipe seorang Kakak yang tidak tahu malu dan berani menyeret adiknya di depan semua orang. Bertindak keras, kurasa akan semakin memperkeruh segalanya.
"Lisa, Mama sakit udah berhari-hari. Kamu nggak kasian? dan itu semua karena mikirin kamu yang nggak pulang-pulang."
Aku melirik pada Damar yang saat ini tengah memperhatikan obrolan kami. Ku berikan isyarat agar dia juga bisa membujuk Lisa. Bukannya peka, malah jadi penonton.
"Ehrrmm, Sayang kamu mendingan pulang dulu sekarang ya. Nggak ada habisnya kalau kita terus-terusan kabur dari keluarga kamu." Akhirnya anak itu mengerti juga dan mulai bersuara.
"Kamu itu nggak ngerti apa-apa, Mar."
"Iya-iya. Aku emang nggak paham. Tapi kalau kamu masih keras kepala gini, semua orang bakal ngira aku yang nahan kamu. Please, bukannya kita udah sepakat cari cara buat minta restu dari Mama kamu? Kalau namaku jadi jelek gara-gara ini. Jalan kita akan semakin sulit."
Wah ... Bravo. Pria ini terdengar bijak. Sulit dipercaya kalau tadi dia sempat berani untuk menghajarku. Baiklah, aku bisa mempertimbangkan hubungan mereka berdua nantinya.
"Ta ... Tapi!" Dan di sini yang terdengar sangat ragu malah adikku.
"Percaya sama aku ya. Kamu pulang dulu sekarang ya. Kasian Mama kamu."
Lisa terdiam, dan aku yang sekarang jadi semakin tak sabar. Baru saja tubuhku bergerak, bermaksud untuk segera menyeretnya pulang, karena rupanya dia terlalu plin-plan untuk memutuskan hal sepele.
Namun, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Lebih tepatnya, aku bisa merasakan getarannya karena benda itu berada di saku celana. Saat ku tengok, rupanya nomor Papa yang memanggil tapi ada apa? Kok tumben Papa menelponku. Saat berangkat dari rumah tadi, setahu ku Papa sudah tidur. Segera kuangkat panggilan telpon dari Papa, takut kalau- kalau ada yang penting.
"Hallo Pah?"
"Iya, Axel udah ketemu sama Lisa."
"Disini emang agak berisik Sorry."
"Apa? Kok bisa! Dimana Mama sekarang?"
"Iya-iya. Iya Pah. Ya udah tutup dulu telponnya!"
Astaga di saat seperti ini, kenapa yang kutakutkan malah terjadi.
"Bang ... ada apa Bang! Tadi aku denger Abang ngomong soal Mama? Kenapa Mama Bang."
Tanpa banyak bicara lagi, aku menarik lengan Lisa untuk mengikutiku. Cukup sudah, kesabaranku telah habis. Aku tidak peduli lagi jika Lisa menolak. Tapi keadaan Mama lebih penting sekarang. Semoga saja tidak ada hal buruk juga penyesalan yang akan terjadi.