Langkah Wulan gontai seakan hatinya remuk tersentak oleh situasi saat itu. Ia mendapati sosok yang sangat ia sayangi, serta menjadi panutan dalam hidupnya terbaring tak sadarkan diri. Langkah Wulan semakin mendekat pada raga yang kini terbaring lemah di atas tempat tidur dalam ruang rawat inap. Terlihat beberapa lebam pada wajah Lukman yang menyiratkan perjuangan demi masa depan kedua adiknya. Perlahan Wulan menggenggam lembut tangan kakaknya. Kemudian Wulan mencium punggung tangan Lukman seperti biasanya. Tak terasa air mata Wulan menetes membasahi tangan Lukman. Hatinya hancur melihat panutan dalam hidupnya, lemah tak berdaya. Bahunya yang selama ini kekar, kini lemah berbalut perban. Wajahnya yang selalu menebar senyum dan meneduhkan hati, kini diam penuh lebam. Wulan merasa kehilanga

