Aurel menangkupkan dagu dengan tangan kanan, menatap lekat ke arah jendela. Berusaha tidak terlalu fokus memikirkan rasa yang bergejolak di dalam hati—berusaha menanamkan beberapa afirmasi. Gue pasti cuman suka sebatas kagum sama suaranya yang bagus, ringan tetapi nyaman masuk ke kuping. "Iya, pasti gitu," gumam Aurel sambil terpejam erat—menenangkan dirinya yang sekarang sedang setengah risau, sementara Auva yang melihat hal itu perlahan beranjak dan mengarahkan wajah sahabatnya untuk memandang tepat ke cewek tomboy itu. Tahu betul jikalau tidak diperlakukan seperti itu, pasti akan sulit—harga dirinya tinggi. "Lo mau kongkalikong nggak?" tanya Auva pelan membuat alisnya berkerut karena sulit mencerna satu perkataan pendek dari si sahabat. Kongkalikong buat apa coba? Toh, Aurel kan, sud

