Auva mencelupkan kaki jenjang itu ke dalam permukaan kolam renang yang terletak tidak jauh setelah obrolan itu diakhiri, bola matanya memandangi langit-langit malam yang amat sunyi. Untuk sekarang, mungkin tidak akan ada orang yang melarang menghabisi waktu sendirian di saat semua sudah terlelap di kamar. Huft, Auva hanya ingin menghibur hatinya yang gundah ditemani deru ombak yang menyegarkan sekaligus memberi ketenangan. Bibir indahnya melukis senyum tulus dengan mata yang reflek terpejam. Meresapi satu per satu melodi candu yang bisa jadi tidak akan bisa didengar lagi selepas pulang nanti. Inilah yang dibutuhkan, relaksasi diri saat tak terusik bising. Perlahan, kelopak matanya kembali terbuka. Auva beranjak dari posisi yang berbaring sambil garuk-garuk pipi yang tidak terasa gatal.

