Gamma dan Penjelasannya

1332 Kata
Ares dan mamanya bergegas pergi dari ruangan ini meninggalkan Alfarin dan Gamma berdua. Alfarin masih saja terus menangis dan Gamma masih saja belum mendekati atau memeluk wanita itu. Gamma menghela napasnya, dia merasa bingung menjelaskan dari mana kepada Alfarin karena dia merasa Alfarin salah paham. Gamma menghela napasnya,dia berjalan mendekati Alfarin yang masih menunduk dengan suara isakan yang sangat jelas terdengar. Gamma langsung memeluk wanita itu dari belakang. "Maaf ... maaf ... maaf," ucap Gamma sendu. Alfarin terdiam sebentar, dia ingat betul bagaimana pelukan itu dan hal yang paling penting dia ingat siapa pemilik suara itu. Alfarin mencoba melepaskan pelukan itu dari tubuhnya, namun semakin dia berusaha melepaskannya semakin kencang juga pelukannya. "Lepas ... Kak ...lepasin!" ucap Alfarin dengan serak. "Pulang ya Fa, sampai di rumah nanti kita harus bicara. Saya ga enak sama Ares dan mamanya kalau di sini." Gamma mencoba meminta pengertian dari Alfarin. Alfarin menggeleng cepat. "Pulang sana ... pulang. Aku enggak mau kembali sama Kakak!" ucap Alfarin penuh dengan keyakinan. "Kamu cuma salah paham, Fa. Ayo kita pulang waktu udah malam, enggak enak menganggu waktu istirahat mereka. Saya mohon, jangan bikin saya ga enak dengan mereka," ucap Gamma memohon. Alfarin mengusap air matanya kasar. "Kakak bisa ga enak sama mereka, tapi kakak ga bisa ga enak sama aku. Kakak sakiti perasaan aku, Kakak bikin aku nangis, tapi Kakak ga pernah punya perasaan buat aku. Aku ini memang cuma istri yang terpaksa dipilih!" Gamma menaruh telunjuknya di dekat bibirnya mencoba membuat Alfarin mengecilkan suaranya. "Fa,please saya ga mau kita bertengkar di sini. Mari pulang, kita selesaikan di rumah." Alfarin kembali menggeleng. "AKU GA MAU!" teriaknya kencang membuat Gamma spontan menutup matanya dalam hati dia berdoa agar suara Alfarin tidak terdengar sampai luar. "Pleasee... saya mohon." Alfarin lagi-lagi menggeleng. Kesabaran Gamma sudah habis, kalau seperti ini terus bisa-bisa emosi Gamma meledak di sini. "Fa, saya serius. Pulang sekarang atau mau saya marah di sini?"                                                            -00- Suara langkah Gamma dan Alfarin terdengar dengan jelas di rumah ini, maklumlah rumah ini sangat sunyi. Mereka sama-sama terdiam tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Namun, pemikiran Gamma seketika buyar begitu merasakan pergelangan tangannya yang dicekal. "Ga usah bicarakan di kamar, cukup bicarakan di sini," ucap Alfarin datar. Air mata yang mengalir dari pelupuk mata gadis itu sudah berhenti, Gamma yang melihat itu sedikit lega. Gamma membalikan badannya lalu duduk di sofa dan tangannya menarik pelan tangan Alfarin agar duduk di sebelahnya. Dia ingin menjelaskan semuanya, dia ingin masalah salah sangka ini berakhir dengan secepatnya. "Fa ... yang ada di pikiran kamu enggak benar," ucap Gamma sambil mencoba meraih tangan Alfarin untuk di genggamnya, tetapi belum sampai dia menggengam tangan Alfarin wanita itu sudah menarik tangannya jauh dari tangan Gamma. Alfarin belum membalas ucapan Gamma, dia ingin mendengar ucapan penjelasan Gamma selanjutnya. Merasa ucapannya tidak di jawab membuat Gamma memulai lagi ucapannya. "Saya tau kamu dengar saya berbicara tadi, tapi kamu tidak mendengar pembicaraan saya sampai akhir." Alfarin membuang pandangannya, dia menghela napasnya berat seolah di dadanya tersimpan beban yang sangat besar. Alfarin menatap kembali tatapannya ke mata Gamma. "Aku ga kuat mendengarnya sampai akhir," ucap Alfarin dengan mata yang memerah menahan tangis. Melihat mata Alfarin yang memerah membuat tangan Gamma terangkat untuk menjatuhkan Alfarin ke pelukannya. Namun, lagi-lagi tidak sesuai harapan Alfarin malah bangun dari duduknya. "Bukan cuma Kakak, aku juga udah ga kuat," ucap Alfarin sambil melangkahkan kakinya berjalan keluar. Dia ingin pergi saja dari rumah ini,walaupun dia tidak tau harus ke mana yang penting pergi saja dululah. "Saya bisa je—"ucap Gamma terputus begitu melihat Alfarin yang seketika memberhentikan langkahnya dan mendengar suara Alfarin yang kesakitan. Gamma terdiam untuk beberapa lama, jujur dia sangat bingung untuk melakukan apa. Kalau dia memeluk Alfarin, kalian pasti sudah tau jawabannya kalau Alfarin memberontak. "AH ... KAK GAMMA ... SAKIT!!!" teriak Alfarin tiba-tiba. "KAK GAMMA ...." Mendengar suara teriakan membuat Gamma berjalan dengan cepat,bukan,bukan berjalan tetapi berlari. Sayang belum sempat Gamma menopang tubuh Alfarin,suara seseorang terjauh sudah terdengar. Gamma langsung berjongkok di sebelah Alfarin, dia menepuk-nepuk pelan pipi Alfarin berharap agar wanita itu membuka matanya,tetapi sudah berapa tepukan Alfarin belum juga membuka matanya. Detik itu juga Gamma menarik kesimpulan kalau Alfarin pingsan. Dia mengangkat tubuh Alfarin lalu membawanya ke dalam kamarnya, dia tidak perlu membawa Alfarin ke rumah sakit dan meminta bantuan dokter karena dirinya sendiri juga dokter. . Alfarin membuka matanya perlahan, dia menggerakkan tubuhnya pelan. Sakit, ya dia merasakan tubuhnya sangat sakit seakan-akan tubuhnya ingin remuk. Alfarin mengarahkan pandangannya ke berbagai sudut, ini kamarnya dengan Gamma. Namun, dia belum melihat batang hidung pria itu. Seketika mata Alfarin terkunci begitu melihat dan mendengar layar televisi menampilkan kejadian tadi sore. Ya,di situ sangat terlihat dirinya yang sedang terdiam mendengarkan ucapan Gamma. Alfarin mendengarkan ucapan Gamma untuk kedua kalinya, aura panas kembali di dadanya. Detik demi detik terlewatkan sampailah dia melihat dirinya yang berlari meninggalkan tempat itu. Alfarin memfokuskan pendengarannya agar dia tahu apa yang diucapkan Gamma selanjutnya, tidak apa-apa andaikan ucapan itu menyakitkan, Alfarin sudah siap. "Itu pemikiran aku dulu, sekarang entah aku merasa sebaliknya. Aku merasa sangat nyaman dengannya, semua tingkah yang dulu aku rasa sangat menyebalkan, kini aku merasa sangat menyenangkan. Ya, walaupun tidak terlalu menyenangkan." Alfarin terdiam sebentar, dia melihat di layar televisi Gamma sedang tersenyum. Entah dia tidak mengerti senyuman itu berarti apa. "Dan aku merasa, aku merasa hal yang berbeda. Dulu rasa yang tersimpan untuknya hanyalah rasa tanggung jawab, namun sekarang entah ... aku merasa aku menyayanginya dan sejujurnya aku sedikit ragu kalau aku bilang aku mulai—" Suara itu terputus begitu layar televisi tiba-tiba berwarna hitam. Alfarin menoleh ke arah samping televisi itu, rupanya Gamma memegang remote televisi. "Kak Gamma ... nyalahin ih!" ucap Alfarin dengan nada seperti orang mengambek. Gamma tidak menjawab, dia menaruh remote TV lalu mengambil sepiring nasi di meja dan berjalan mendekati Alfarin. Gamma tidak menjawab dia naik dan duduk di ranjangnya. "Makan dulu, Fa. Kamu pingsan karena ga ada asupan makanan di dalam tubuh kamu," ucap Gamma sambil menyendok makanan untuk Alfarin. Alfarin masih saja dongkol dengan Gamma ,dia tidak tahu apa gejolak penasaran begitu membara di hati dan pikirannya."Ga mau!" ucap Alfarin begitu melihat sendok yang berada di tangan Gamma ingin masuk ke dalam mulutnya. Mendengar itu bukannya Gamma menjauhkan sendok yang dia pegang malah dia semakin mendekatkannya. "Mau makan atau saya pakaikan infusan? Maaf, kalau saya terkesan memaksa kamu, tetapi ini untuk kebaikan kamu," ucap Gamma. memutar matanya lalu dia membuka mulutnya, sesendok nasi putih beserta bayam dan ikan goreng masuk ke dalam mulut wanita itu. "Kak kenap—" ucapannya terputus tepat disaat telunjuk Gamma menempel di bibir wanita itu. "Jangan bicara kalau lagi makan, enggak baik," ucap Gamma sambil melepaskan telunjuknya yang menempel di bibir wanita itu,"kamu diam aja saya aja yang boleh ngomong,"lanjut Gamma. Dasar Gamma, bisa aja caranya biar Alfarin mendengarkan penjelasannya. "Soal tadi, kamu udah tahukan kebenarannya. Jangan ngambek lagi atau jangan nangis lagi. Saya ga kuat ngeliat kamu nangis,"ucap Gamma dengan lembut. Alfarin dengan cepat menelan makanan yang ada di mulutnya lalu meminum air putih yang disediakan tepat di sampingnya. "Belum ... belum tahu. Ucapan Kakak tadi belum selesai eh udah dimatiin televisinya. Ah, bilang aja itu kata menyakitkan jadi Kakak ga mau aku denger," ucap Alfarin dengan wajah sebalnya. Entah kenapa melihat wajah Alfarin seperti itu Gamma ingin rasanya mencubit pipi wanita itu,Alfarin sangat menggemaskan kalau sedang seperti itu, menurutnya. "Sok tau!" ucap Gamma sambil membuang pandangannya. Sejujurnya dia ingin menutupi tertawanya dengan cara itu, dia sangat tidak mau apabila Alfarin melihatnya. Alfarin menjatuhkan kembali tubuhnya di ranjang lalu dia menaikan selimutnya menutupi wajahnya. Dia ingin tertidur saja, dia tidak mau melihat wajah Gamma. "Kamu masih marah?" tanya Gamma sambil menarik selimut. Alfarin berdecak sebal begitu selimut yang menutupi wajahnya ditarik oleh Gamma. "Tau ah!" ucapnya acuh. Gamma memajukan wajahnya lalu berbisik tepat di telinga Alfarin. "Kamu jangan ngambek mulu. Saya sebenernya mau melanjutkan ucapan tadi di CCTV yang belum selesai," ucap Gamma lalu kembali menjauhkan wajahnya. "Lanjutinlah." "Saya mulai sedikit membenci kamu," lanjutnya "Oh gitu doang." Gamma menyibakan selimut yang menutupi kakinya, dia turun dari ranjang lalu berjalan pelan. "Enggak sih, ada lanjutannya lagi, "Gamma membuka pintu kamar bersiap untuk keluar,namun dia berhenti sejenak, "dan mulai banyak mencintai kamu." lanjutnya setelah itu suara pintu  yang tertutup terdengar. Mendengar itu seketika Alfarin terdiam dengan semua itu, tatapannya kosong dan yang lebih parah saat itu juga hatinya berdetak kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN