Selama diperjalanan pulang, Alfarin dan Gamma tidak ada yang mengeluarkan suara, seperti biasanya. Gamma yang tengah sibuk dengan jalan raya dan Alfarin yang tengah sibuk dengan pikirannya.
Ucapan sahabat-sahabat Gamma membuat otak Alfarin berpikir dengan keras, jalan apa yang harus dia ambil untuk memecahkan kasus itu.
Semenjak pembicaraan tadi, Alfarin belum juga berbicara dia hanya terdiam dengan tatapan yang kosong dan juga dengan otak yang tiada hentinya untuk berpikir.
"Kamu kenapa, Fa?" tanya Gamma yang akhirnya tersadar perubahan sikap Alfarin. Alfarin membetulkan duduknya lalu menghela napas panjang.
"Gapapa."
"Fa, jangan dipikirin ya ucapan mereka tadi. Jangan jadi beban, anggap saja mereka tidak pernah ngomong gitu," ucap Gamma yang tidak mau membuat Alfarin merasa terbebani dengan ucapan itu.
Alfarin mulai berpikir lagi, dia ingin melakukan kewajibannya, tapi dia belum siap sepenuhnya. Namun, dia juga tidak boleh egois, bagaimanapun juga umur Gamma sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.
Alfarin menghela napas panjangnya lagi, mencoba menghilangkan kegugupannya. "Kak ...." panggilnya pelan.
Gamma menoleh singkat. "Kenapa?"
"Kalau Kakak mau, aku siap kok. Kapan aja," ucapnya mencoba menyakini dirinya sendiri. Mencoba menenangkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja.
Gamma melongo dengan apa yang dia dengar barusan antara ragu dan takut salah dengar. Gamma memberhentikan mobilnya di tengah jalan,d ia menatap Alfarin dalam.
"Kamu ngomong apa?" tanyanya mencoba meminta Alfarin berbicara ulang.
Alfarin mencoba tersenyum. "Kalau Kakak mau, aku siap kok. Kapan aja," ucapnya kali ini dengan penuh keyakinan. Gamma begitu mendengar kalimat itu kembali, dia tersenyum dengan tulus.
-00-
Alfarin tengah mengaduk coklat panas di dalam dapur,dia ingin memberikan coklat panas itu untuk Gamma. Uap segelas coklat itu memberikan aroma harum yang luar biasa, Alfarin semakin tidak sabar untuk memberikan itu kepada Gamma. Alfarin menaruh sendok kecil yang tadi dia buat untuk mengaduk setelah itu dia bergegas pergi meninggalkan dapur.
Dengan tangan yang memegang gelas dia, dia langkahkan kakinya mencari-cari keberadaan Gamma lalu bibir wanita itu melukiskan senyum yang indah begitu melihat Gamma yang tengah terduduk di taman belakang sambil menikmati senja sore. Langkah Alfarin mulai mendekat,namun seketika dia berhenti begitu melihat tangan Gamma yang sedang memegang bingkai foto sambil bergumam sendiri.
Alfarin memundurkan langkahnya kembali, dia ingin mendengarkan ucapan Gamma dengan jarak yang sedikit jauh, tidak apa-apa yang penting terdengar. Alfarin menaruh gelas yang dia pegang di sampingnya, tepat di mana meja kayu berada.
"Louren ... kamu tahu sayang? Di sini aku sangat merindukanmu." Samar-samar Alfarin mendengar itu. Alfarin menyelipkan sehelai rambut di belakang telinganya lalu kembali memfokuskan ucapan Gamma.
"Kalau bisa, aku pilih kamu daripada adik kamu karena kamu sangat jauh berbeda dengannya. Kamu lebih dewasa, mandiri, dan pengertian," ucap Gamma lagi.
Mendengar itu seakan ada seribu jarum yang menusuk hati Alfarin, begitu sakit, namun tidak berdarah. Alfarin mencoba menahan isakan tangisnya dan kembali mendengarkan.
"Dia sangat-sangat seperti anak kecil, tingkahnya yang manja, pemikirannya yang seperti anak kecil dan kelakuannya yang sering mengambek. Sungguh, merasakan itu membuat aku ingin cepat-cepat menghapusnya dari hidup aku."
Cukup sudah. Cukup. Alfarin sudah tidak kuat lagi mendengar semuanya sampai habis. Air mata wanita itu sudah tidak terbendung lagi, dia menunpahkan semuanya berharap agar rasa sakitnya sedikit terobati. Alfarin berlari menuju pintu depan dan bergegas pergi dari rumah ini.
Alfarin memberhentikan taksi lalu masuk ke dalamnya. Dia belum tau ingin ke mana yang penting dia pergi dari rumah ini. Tangan wanita itu meraba kantung celananya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Beberapa kali tidak terangkat, namun dia tidak berhenti untuk menghubungi sampai akhirnya terdengar suara 'Halo' dari arah seberang.
"Aress ...." panggilnya dengan suara serak.
"Kamu kenapa?" tanya Ares dengan panik.Bagimana tidak panik? Kalau seseorang tiba-tiba meneleponnya dengan keadaan sedang menangis.
"Kamu di mana?"
"Di rumah sakit. Kenapa? Ada yang bisa aku bantu?"
"Aku ke sana ya? Aku butuh kamu."
"Jangan ke rumah sakit ... ke cafe dekat rumah sakit aja."
"Ok ...."
-00-
Alfarin baru saja selesai menceritakan semuanya kepada Ares. Air mata terus menerus turun tiada henti-hentinya dari dia memulai cerita sampai cerita berakhir. Entah, air mata itu keluar begitu saja padahal dirinya sudah menahan dengan sekuat tenaga, biarkanlah Alfarin menangis di depan umum dan biarkanlah Alfarin menangis di depan Ares yang penting rasa sakit wanita itu berkurang, walaupun tidak banyak.
"Aku sakit hati Res, kamu ngertikan? m" tanya Alfarin sambil mengelap air matanya menggunakan tissue. Ares mengangguk mengerti, dia sebenarnya bingung juga untuk membuat kesimpulan dalam masalah ini siapa yang salah, keduanya sama-sama salah menurutnya.
"Mungkin tadi Gamma lagi rindu aja kali, Fa," ucap Ares berharap agar wanita itu tidak terus menerus menyalahkan Gamma. Alfarin menggeleng cepat, dia membuang tissue di tangannya dengan asal.
"Iya aku tau dia rindu, tapi kenapa dia bilang mau menghilangkan aku dari hidupnya? Dia mau ceraikan aku? Dia mau bunuh aku?A tau dia mau meninggalkan aku begitu saja?" tanya Alfarin dengan mengebu-gebu. Emosi wanita itu sudah tidak dapat dibendung lagi, sama seperti air matanya.
"Mungkin mak—" ucapan Ares terputus begitu mendengan ponselnya berbunyi. Seketika kedua pasang mata itu langsung melihat siapa kontak yang telah menghubungi Ares disaat waktu yang tidak tepat. Saat ini adalah waktu Alfarin untuk curhat dan tidak ada seseorang yang seharusnya menganggu karena memang wanita itu jarang seperti ini karena mengingat sedari dulu Alfarin sangat jauh dari pria. Ngobrol aja jarang apalagi curhat.
"Siapa?" tanya Alfarin tanpa suara. Ares menempelkan telunjuk pria itu dibibirnya dengan maksud agar Alfarin terdiam.
"Gamma," jawab Ares sama seperti Alfarin, tanpa suara. Jantung Alfarin berdetak kencang seakan mau keluar dari dalam tubuhnya.
"Loudspeaker." Ares tidak menjawab dia hanya menekan screen ponselnya dan menaruh benda itu di atas meja.
"Iya Gam,kenapa?" tanya Ares mencoba setenang mungkin.
"Lo di mana?"
Ares melirik ke atas mencoba berpikir jawaban yang tepat. "Di rumah sakit. Kenapa?"
"Bisa ketemu ga?"
Ares melirik ke Alfarin mencoba meminta saran, namun Alfarin hanya menaikan bahunya mencoba memberi Ares kebebasan.
"Iya bisa. Kapan?"
"Sekarang. Ke rumah gue, gue tunggu."
Sambungan terputus seketika, Ares mengantungkan ponselnya lalu menatap Alfarin. "Kamu tunggu di sini atau mau ke rumah aku? Ada Mama aku di sana jadi ada yang temen curhat kan jadi asyik ngegosip sambil curhat."
Alfarin terkekeh sebentar lalu dia mengangguk, dia merasa lebih baik dan lebih aman dia berada di sana.
.
Gamma melemparkan kartu nama Ares tepat di hadapan Ares. Perasaan dalam hati Gamma bercampur aduk antara khawatir, panik, sedih, marah, dan cemburu.
Ares mengambil barang telah dilempar Gamma lalu melihatnya, seketika alis pria itu mengkerut begitu mengetahui kartu nama ini adalah betul miliknya. Ares mencoba setenang mungkin menghadapi ini, walaupun dia tahu bahkan Gamma akan marah besar kepadanya.
"Alfarin mana? Istri gue mana?" tanya Gamma menatap lurus ke Ares. Ares dengan langkah yang santai dia duduk tepat di sofa sebelah Gamma.
"Gue enggak tahu," jawabnya singkat.
"Lo ga usah bohong. Alfarin ga punya siapa-siapa lagi yang dia kenal cuma lo dan kartu nama itu adalah buktinya," ucap Gamma dengan wajah yang memerah.
"Emang kenapa sama Alfarin? Mungkin dia pergi sebentar buat beli anak ayam karena mungkin kesepian. Nanti juga pulang dia, jangan mendrama gitu, ga baik, muka lo udah merah," ucap Ares mencoba ngelawak, namun apa daya Gamma tidak tertawa. Mungkin karena memang waktunya yang tidak tepat atau lawakannya yang tidak lucu? Entahlah.
Gamma mendekatkan duduknya lalu menarin kerah baju Ares, Ares yang merasakan itu seketika matanya membulat. "LO JANGAN COBA BOHONGIN GUE!" teriak Gamma tepat di wajah Ares.
"Oke ... lo tenang ... gue jelasin semuanya."