Reuni SMA

1258 Kata
Dua minggu telah berlalu, Alfarin dan Gamma menjadi semakin mesra setiap harinya. Gamma yang selalu mesra kini menjadi semakin mesra. Membuat Alfarin mabuk kepayang setiap harinya dan yang paling parah membuat jantung Alfarin berdebar-debar kencang. Saat ini, Alfarin tengah menatap dirinya di meja rias. Dress hitam selutut, polesan tipis make up di wajahnya dan juga rambutnya yang disanggul membuat Alfarin sangat cantik pada malam ini. Gamma bilang, sebentar lagi pria itu akan menjemputnya karena mereka berdua akan mendatangi acara reunian sahabat-sahabatnya Gamma. Gamma juga bercerita pendek semalam katanya, sahabat-sahabatnya berbeda dengan teman-teman kuliahnya yang waktu itu di ucapkan oleh Ares. Omong-omong soal masalah ajakan Ares waktu itu, Gamma menolaknya karena dia tidak mau meninggalkan Alfarin sendirian. Padahal, Alfarin sudah mulai ada kemajuan, wanita itu sudah mau tinggal sendirian di rumah, walaupun ada pembantu yang menemaninya. Lamunan Alfarin buyar mendengar suara handphonenya berdering, dia mengangkat telepon itu lalu bergegas pergi ke bawah. Rupanya, Gamma sudah sampai dan menunggu Alfarin dn dmah. Gamma tampak tidak berkedip begitu melihat Alfarin yang baru saja masuk ke mobilnya. Dia tidak begitu menyadari kalau gadisnya secantik ini, wajah yang masih baby face dan badan yang mungil membuat Alfarin cantik di mata Gamma. Alfarin melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Gamma. "Kak ... Kakak kenapa? Penampilan aku jelek yah?" tanya Alfarin begitu melihat Gamma yang masih memandang dirinya dengan intensif. Gamma mengerjapkan matanya. "Kenapa? Cantik, malah cantik banget," ucap Gamma yang lagi-lagi membuat pipi Alfarin merona. Gamma menyalahkan mesin mobilnya, tetapi dia matikan kembali. Dia mengarahkan lagi tatapannya ke Alfarin. "Fa, Louren tidak pernah saya kenalkan ke sahabat-sahabatan saya. Jadi, saya minta kamu berpura-pura kalau kita menikah sudah lama ya." Alfarin menganggukkan kepalanya setuju. Gamma mengalihkan lagi pandangannya ke depan, menyalahkan mesin mobil dan segera menjalankan mobilnya ke tempat yang mereka tuju. Lama kelamaan mereka kembali diselimuti oleh keheningan, Alfarin mengangkat tangannya lalu segera menyalahkan radio agar keheningan segera terobati. Beberapa menit telah berlalu. Namun, Alfarin masih saja merasa sepi, padahal radio sudah menyalah dengan kencang. Alfarin menatap Gamma yang tengah serius mengendarai mobil. "Kak ...." panggilnya mencoba mendapatkan perhatian dari Gamma. "Kenapa?" tanya Gamma tanpa menoleh sedikitpun. Alfarin mulai berpikir keras, dia harus membahas topik apa. Tidak lama dia berpikir, semua pertanyaan akhirnya teringat di kepalanya. "Kak, kalau seseorang sering deg-degan apakah itu bisa menimbulkan penyakit jantung?Kakak kan dokter pasti tahu," tanya Alfarin dengan begitu polosnya. Dia tidak merasakan kalau dia sedang menceritakan tentang dirinya sendiri. Mendengar itu membuat Gamma tertawa, ya kali ini dia tertawa kencamg bukan hanya sekedar terkekeh. Dengan mulut yang masin tertawa, Gamma menolehkan pandangannya ke arah samping tepat di mana Alfarin berada. "Kamu emang sering deg-degan?" tanyanya menjebak. Alfarin nampak berpikir. "Yaa ... sering. Sering banget malah," jawabnya. Sungguh, Alfarin belum sadar juga dengan apa yang menjadi topik pembicaraan kali ini. Gamma kembali tertawa, dia sangat gemas sekali dengan Alfarin. "Gara-gara apa emang? Kok bisa deg-degan terus?" tanyanya sambil diiringi gelak tawa. "Kan gara-gara Kakak, biasanya kan ... Ihhh Kakak apaan sih pertanyaanya, menjebak banget!" ucap Alfarin dengan kesal, dia tampaknya baru tersadar. Gamma yang tadi hanya tertawa kini sudah tertawa lebih kencang, bahkan nyaris ngakak. Gamma meredakan sedikit tertawanya lalu dia kembali menatap Alfarin, mencoba kembali mengorek-ngorek gadisnya. "Kalau sekarang deg-degan ga?" tanyanya. "Enggak. Kalau perilaku Kakak lagi manis itu suka ... Kakak mah, udah ih udah. Jangan tanya-tanya lagi," ucap Alfarin sambil membuang pandangannya keluar jendela. Sangat malu dia karena menceritakan semuanya. Gamma mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi Alfarin singkat sambil berbisik pelan. "Kalau sekarang deg-degan ga?" tanyanya dengan nada yang sangat menyebalkan. Alfarin sontak menjauhkan badannya dan menyender di pintu. "Kakak apaan sih!" "Katanya tadi, kalau saya lagi berperilaku manis kamu suka." "Bukan suka itu, tapi suka deg-degan." Gamma menganguk seakan mengerti, dia mulai memikirkan lagi pertanyaan apa yang segera dia tanyakan. Melihat Gamma yang sedang berpikir membuat Alfarin takut. "AH KAKAK UDAH DONG!" teriaknya histeris. -00- Alfarin membaca neon box di atas dengan tulisan 'We Are Crazy' baru membaca itu pikiran Alfarin langsung membayangkan tingkah sahabat-sahabat Gamma yang sifatnya sama seperti tulisan itu. Gamma mengunci mobilnya lalu mengandeng mesra Alfarin masuk ke dalam. Suasana pertama yang Alfarin rasakan adalah keramaian. Alfarin memandang ke beberapa arah, taman di dekat kolam renang ini memang  banyak tamu yang hadir. Di ujung sana beberapa pria melambaikan tangannya ke arah mereka, tentu aja Gamma memutar langkahnya dan berjalan menuju pria-pria itu. Gamma ber-tos ria dengan empat pria pakaian sama seperti Gamma, yaitu memakai jas hitam,selesai dengan tos mereka mulai berpelukan. Alfarin tebak, pasti mereka sudah tidak bertemu lama. Seorang pria dari ke empat pria itu mendekati Alfarin lalu mengulurkan tangannya. "Istrinya Gamma ya?Kenalin, Rio orang paling ganteng di sini," ucapnya dengan sambil mengedipkan sebelah matanya. Alfarin mengangkat tangannya dengan niatan untuk membalas uluran tangan itu, namun belum sempat dia berjabat tangan, tangannya sudah di tarik oleh seseorang. "Rio, jangan digoda,"ucap seseorang yang menepis tangan Alfarin. Alfarin mendongakkan kepalanya melihat siapa itu. Ya, benar orang itu adalah Gamma. Rio menepuk pelan bahu Gamma. "Yailah, Pak dokter cuma mau kenalan aja kok," ucap Rio tidak terima. Ingin rasanya Gamma mengomeli lagi, tetapi Gamma harus menoleh ke samping melihat salah satu temannya lagi tengah bercipika-cipiki dengan Alfarin, tentu saja Alfarin hanya terdiam. "BEN!"ucap Gamma kesal. Tiba-tiba ada tepukan dari belakang."Si Gamma posesif banget dah," ucap seseorang yang menepuknya tadi. "Tahu, kaya sama siapa aja sih. Lo ga liat apa tulisan di neon box yang gede banget?" ucap teman yang satunya. Gamma menarik napasnya, dia harus bersabar menghadapi semua temannya yang memiliki otak setengah. "Yaudah kenalan aja, jangan pegangan tangan, ngomong aja. Ah, kalian terlalu lama. Ini namanya Daren, ini Beno, ini Rio, dan terakhir ini Raffy," ucap Gamma sambil menunjuk mereka satu-satu. Alfarin hanya mengangguk saja. "Dasar Gamma, posesif banget," ucap Beno sambil menghela napas. Gamma hanya bergumam menjawabnya. Rio menunjuk sofa biru yang berada tepat di samping kolam renang. "Duduk di situ yuk, cape abang," ucapnya lalu bergegas duluan duduk di situ lalu yang lain akhirnya mengikuti. Alfarin duduk di sebelah Gamma, sejujurnya dia merasa takut dengan tingkah orang-orang di sini. "Itu rame banget tamu-tamu, mereka siapa?" ucap Gamma mengalihkan topik pembicaraan agar tidak terkesan canggung, maklumlah sudah sangat lama tidak bertemu. "Kita baru ketemu loh, lo malah nanya kaya gitu. Seharusnya lo tanya dulu keadaan kita gimana, Sehat?Gitulah, basa-basi dikit kek," ucap Daren sambil membuka toples isi kue yang telah tersedia di meja hadapan mereka. "Ohh ... oke. Gimana keadaan kalian semua? Baik? Gila? Atau makin gila?" tanya Gamma mencoba menuruti apa yang di ucap Daren tadi. "MAKIN GILA!" ucap mereka bersamaan. Alfarin yang melihat itu terkekeh pelan, di dalam pikirannya tiba-tiba teringat Ares yang sama-sama gila. "Ohh ... oke."ucap Gamma sekenanya. "Hmm ... tadi lo nanya apa Gam?Mereka siapa? Mereka temen-temen istri kita-kita, biarin deh mereka ngundang temen biar kita ga diganggu," jawab Raffy sarkastis. Pria jahat seperti itu. "Tapi, kok banyak anak kecil?" tanya Gamma lagi. Rio menepuk kepalanya. "Ya anak-anak kita sama anak-anak merekalah. Lo gimana sih? Udah jadi dokter tapi masih aja suka lola" ucap Rio yang langsung saja membuat Gamma melotot, dia merasa malu karena ada Alfarin di sampingnya. "Eh ... omong-omong, anak lo mana Gam? Kok ga diajak?" tanya Raffy karena sedari tadi dia tidak melihat anak kecil di sebelah Gamma ataupun Alfarin. "Pengen sok romantisan dia," teriak Beno membalas. Gamma mengaruk hidungnya yang tidak gatal, merasa bingung kalau sudah membahas seperti ini. "Hmm ... gue belom punya anak," ucapnya pelan. Alfarin hanya terdiam saja dia tidak mau berbicara apapun, lebih baik dia diam daripada salah bicara. "WHAT?!"teriak mereka bersamaan. "Padahal, lo hampir 30 tahun," ucap Daren dengan kagetnya. "Dan juga padahal mereka nikah udah lama," ucap Beno sambil menggeleng-geleng. Dia bingung juga dengan nasip sahabatnya. "Ada masalah apa emang?Cerita-cerita sini," tanya Rio mencoba mengorek-ngorek informasi. Alfarin tebak, Rio adalah orang yang kepo. Gamma melirik ke kanan dan kirinya, mencoba mencari jawaban yang pas. "Ya ... mungkin belum dikasih aja sih," ucap Gamma akhirnya. "Kasian banget lo Gam." "Sabar yak." "Mungkin sebentar lagi, sabarin aja." "Banyak-banyak berdoa." "Iyaa makanya doain gue ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN