Mengendus Bau Musang

2487 Kata
Ginggi sedang bersantai di markas preman terminal utara sambil menikmati sarapan yang terlambat. Seorang preman anak buahnya datang menghampiri. “Bos, ada orang yang mencari Bos.” Preman dengan rambut runcing panjang ke atas bak duri landak itu menjelaskan begitu ia berada di samping Ginggi. “Siapa?” Ginggi menatap sang preman. “Katanya namanya Ali, dan ia bilang ia disuruh oleh Bos untuk menemuinya disini.” “Iya, aku sudah menunggunya. Bawa dia kemari!” perintah Ginggi. “Siap, Bos!” preman itu kembali berlalu menuju area angkutan kota tempat ia menyuruh Ali menunggu. Si Rontek yang kebetulan berada di markas mengerungkan dahinya, ia penasaran tapi belum berani bertanya. Ginggi dengan santai melanjutkan sarapannya yang sudah sangat terlambat itu. Tak berapa lama preman yang tadi datang kembali bersama Ali, pria yang beberapa hari kemarin menodong Ginggi di dekat sebuah rumah sakit. Ali berpenampilan sangat rapi, ia memakai kemeja berwarna putih bercelana bahan warna hitam. Kacamatanya berkilau bersih, ia juga menyampirkan tas kulit di bahunya. “Bos, ini orangnya yang mencari Bos.” Jelas sang preman sambil menunjuk ke arah Ali. “Kau boleh kembali ke tempatmu!” perintah Ginggi. “Siap, Bos!” sahut sang preman, membalikkan badan dan melangkah kembali ke tempat angkutan umum, melanjutkan tugasnya sebagai calo. “Kau sudah sarapan?” tanya Ginggi menatap Ali. “Sudah, Bos.” Sahut Ali, kini ia memanggil Ginggi dengan sebutan Bos mengikuti sapaan para preman terminal. Ginggi menyelesaikan sarapannya, meminum teh hangat dalam gelas. Beres dengan kegiatan makan dan minum, Ginggi menoleh ke arah Ali yang masih berdiri dan si Rontek yang duduk di bangku pojok markas. “Rontek, kenalkan ini Ali. Mulai hari ini dia akan bekerja bersama kita. Ali ini adalah si Rontek dia sebelumnya adalah Bos terminal ini, dan dia juga orang kedua setelahku disini.” Ginggi mengenalkan kedua orang tersebut. Ali menjulurkan tangan yang disambut oleh si Rontek, keduanya masih belum tahu maksud dari Bos Ginggi. “Jadi begini,” Ginggi hendak menjelaskan rencananya tapi terpotong oleh ketukan di pintu markas. “Siang, Bos. Maaf kami terlambat.” Ujar Si Mikimos yang datang bersama si Bram bos preman terminal timur yang kini jadi anak buah Ginggi, mereka langsung masuk dan kemudian duduk di sebelah si Rontek. “Kalian justru datang tepat waktu. Kenalkan ini adalah Ali.” Ginggi menunjuk ke arah Ali yang tetap berdiri. Ali menyalami kedua preman berwajah garang yang baru masuk tersebut, si Mikimos dan si Bram saling tatap. Mereka memang diminta datang untuk rapat oleh Ginggi. “Ali ini adalah seorang akuntan. Mulai hari ini dia akan bekerja bersama dengan kita. Tugas Ali adalah mencatat secara detail semua pemasukan dan pengeluaran yang kita hasilkan dari terminal maupun tempat lain yang menjadi urusan bisnis kita.” Ginggi mulai menjelaskan. Ali mulai memahami tugasnya seperti apa, sementara si Rontek, si Mikimos dan si Bram masih mengerutkan kening mereka. “Kalian bertiga nanti setorkan semua pemasukan kepada Ali. Ali nanti yang akan menentukan pembagian jatah semua anggota yang kita miliki setiap bulannya. Jangan lupa juga untuk mencatat siapa saja janda dan anak-anak yang ditinggal mati oleh anggota kita. Setiap bulan kalian harus menyerahkan santunan kepada mereka dengan baik. Dan untuk itu aku mempekerjakan Ali agar semuanya tercatat dengan rapi dan tidak ada satupun yang terlewatkan. Kalian mengerti?” Ginggi menatap ketiga anak buahnya. Si Rontek, si Mikimos dan si Bram kini paham jalan pemikiran Ginggi. Bos Ginggi ternyata memikirkan nasib anak dan istri dari anak buahnya yang sudah mati juga. “Kami paham, Bos!” serempak ketiganya menyahut. “Bagus. Bram, kau sudah mendapatkan informasi yang kusuruh untuk kau cari?” Ginggi menatap si Bram. “Sudah, Bos. Seperti yang sudah Bos duga, ia memang tidak pernah menginap di tempat yang sama setiap malamnya. Tapi seminggu sekali dia selalu berada di apartemen mewah di pusat kota untuk mengawasi aktivitas perjudian miliknya.” Papar si Bram. “Kerja bagus.” Ginggi mengacungkan jempolnya. “Terima kasih Bos.” Jawab si Bram. Si Rontek dan si Mikimos saling tatap tak mengerti, Bos Ginggi memang kadang suka bertindak sendiri dan kadang misterius. * Ginggi menatap wajahnya di cermin, malam ini ia mengenakan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi dan sepatu kulit mengkilat. Menyemprotkan parfum yang tadi siang ia beli di sebuah toko, meski KW tapi keharumannya benar-benar tak bisa dibedakan dengan merek aslinya. “Bos, sudah siap?” tegur si Bram yang juga sudah berpenampilan sama rapihnya. Ginggi mengangguk “Ayo kita berangkat!” “Siap, Bos!” sahut si Bram yang sejak sore tadi ikut berada di kontrakan kecil milik Ginggi. Mereka berdua keluar dari kontrakan petak tersebut, berpenampilan layaknya sosialita ibukota. Tak terlihat sedikit pun kalau mereka berdua adalah Bos preman terminal. Dengan menyewa sebuah mobil sedan mewah mereka kemudian mengarah ke pusat kota, si Bram yang menyetir. Lampu-lampu menerangi sepanjang jalan, di beberapa ruas perempatan mereka masih terjebak oleh kepadatan lalu lintas. Gedung-gedung pencakar langit dengan aneka warna lampu menjulang semakin menambah kemewahan ibu kota. Semakin malam ibu kota semakin hingar dan bingar. Mata tajam Ginggi sempat melihat kekontrasan di sepanjang jalan yang mereka lalui, orang-orang miskin dan tak beruntung yang tak memiliki rumah bersiap menggelar kardus untuk tidur di emperan toko yang tutup. Ginggi menghela nafasnya. “Bos, kita akan sampai sebentar lagi.” Si Bram mengingatkan sambil mengintip spion tengah. Ginggi mengangguk. Gedung yang mereka tuju terletak di kawasan elit sekaligus jantungnya ibu kota. Lampu-lampu benderang menjadi pengganti matahari di malam hari. Orang-orang dengan pakaian dan perhiasan mewah hilir mudik sambil tertawa, bersenda gurau melupakan kepenatan dan seolah tak memiliki beban hidup. “Bos, apa Bos yakin untuk melakukan hal ini?” si Bram bertanya, ia sedikit meragu. “Kurasa ini jalan yang terbaik, kalau rencanaku berhasil maka kita akan menghindari jatuhnya korban yang banyak dan tidak perlu.” Sahut Ginggi. “Tapi Bos. Si Jamal itu dikenal sangat licik dan licin.” Ginggi menatap si Bram “Kau jangan khawatir, aku sudah siap dengan segala kemungkinannya.” “Baiklah, Bos.” Si Bram mengangguk. Sejak mengetahui kemampuan si Bram, Ginggi sedikit mengubah rencana balas dendam si Loreng. Ia menugaskan si Bram untuk mencari tahu keberadaan si Jamal secara diam-diam tanpa melibatkan si Rontek maupun si Mikimos. Ginggi berencana untuk menghadapi si Jamal secara langsung, head to head. Dan seperti yang sudah dibilang oleh si Bram, si Jamal memang licin, dia tidak pernah menginap di tempat yang sama setiap malamnya. Tapi si Bram dengan kecerdikannya mengetahui kebiasaan kecil si Jamal, yakni setiap Kamis malam ia akan datang ke kasino miliknya untuk mengawasi. Kasino itu disembunyikan di apartemen mewah tepat di jantung ibu kota. Acara perjudian kalangan atas yang sangat ketat, hanya undangan yang bisa masuk kedalamnya. Bram menghentikan sedan mewah yang mereka tumpangi tepat di depan pintu masuk lobi apartemen. Mereka keluar dari sedan mewah tersebut, si Bram menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet yang datang menyambut sambil memberinya kartu parkir. Bram memasukkan kartu parkir tersebut kedalam dompetnya. Ginggi dan Bram melangkah kedalam lobi dengan gagah. Beberapa orang yang kebetulan berada di lobi menatap penasaran ke arah mereka. Seorang gadis bergaun merah bahkan tak segan mengedipkan matanya sambil tersenyum genit berusaha menarik perhatian Ginggi dan Bram. Si Bram membalas senyum gadis tersebut sambil melambaikan tangan sementara Ginggi tetap bersikap dingin dan mengabaikannya. Dengan ketajaman matanya, Ginggi menyadari beberapa orang aparat sedang berjaga di beberapa sudut apartemen berbaur dengan preman anak buah si Jamal. Perjudian adalah hal yang melanggar hukum di negeri ini tapi sepertinya di tempat yang berbalut dengan kemewahan ini, hal tersebut seolah dilegalkan. “Maaf, akses lift ini hanya untuk undangan khusus.” Seorang lelaki tersenyum menghadang langkah Ginggi dan si Bram yang hendak memakai lift menuju lantai paling atas, sebuah suite mewah yang telah diubah menjadi kasino. Dua orang lelaki berbadan kekar segera berdiri di belakang lelaki tersebut. Bram tersenyum, ia merogoh sebuah kartu yang ia simpan di saku dalam jasnya. Lelaki itu mengamati kartu yang disodorkan oleh Bram kemudian tersenyum. “Ah, maafkan atas kecerobohan saya. Anda rupanya anggota platinum baru itu, silakan!” ujarnya kembali memberikan kartu anggota milik Bram dan bergeser memberi jalan, kedua lelaki kekar di belakangnya mengikuti bergeser. “Tidak apa, saya memang belum dikenal disini.” Ucap Bram, menaruh kartu tersebut kembali kedalam saku dalam jasnya dan kembali melangkah diikuti oleh Ginggi. Mereka berdua masuk kedalam lift khusus tersebut dan memencet tombol lantai paling atas tempat suite mewah itu berada. “Hampir saja, darimana kau dapatkan kartu anggota itu?” tanya Ginggi saat mereka berdua berada dalam lift. Si Bram menyeringai “Ini milik salah seorang pengawal pribadi si Jamal, Bos. Banyak anak buah si Jamal yang sebenarnya tidak suka dengan dia. Dengan sedikit usaha maka mereka mau juga membocorkan informasi penting. Kebetulan beberapa anak buahnya yang tidak suka itu ada yang saya kenal dengan baik.” Ginggi mengangguk-angguk dan menepuk bahu Bram “Kerja bagus!” Si Bram tersenyum “Terima kasih, Bos.” Beberapa menit kemudian lift yang mereka tumpangi telah sampai di lantai tujuan mereka, lantai paling atas di gedung apartemen mewah tersebut. Ginggi dan si Bram melangkah masuk kedalam suite mewah tersebut. Ruangan ini sangat luas karena seluruh lantai disulap menjadi arena kasino, lampu-lampu kristal terpasang sebagai penerang. Banyak orang yang sedang berjudi di setiap sudutnya. Semuanya berpenampilan rapi dan seolah memamerkan status sosial mereka masing-masing. Para lelaki berjas merek ternama, para wanita bergaun elegan dan mewah lengkap dengan perhiasan mahal mereka. Mereka memainkan permainan yang beragam, judi kartu, ketangkasan, bola, roulette, atau juga tebak angka. Aneka macam perjudian ada di tempat ini. “Anda berdua pasti anggota baru, bukan?” seorang lelaki berkumis tipis dengan jas mirip penguin datang menghampiri. “Iya,” Bram mengangguk. “Perkenalkan, saya Andre. Saya manajer yang bertugas untuk hari ini. Kalau ada sesuatu yang anda berdua inginkan, anda bisa menghubungi saya.” Jelasnya tersenyum ramah. “Kalau kami hendak ikut dalam permainan, apa yang harus kami lakukan terlebih dulu?” tanya Ginggi. Andre tersenyum “Saya akan menjelaskannya. Pertama anda berdua harus mendepositkan sejumlah uang yang akan ditukarkan dengan chip di meja counter sana. Mari ikut saya kesana.” Dengan isyarat tangannya Andre mempersilahkan. Ginggi dan si Bram menurut, mereka mengikuti langkah pria yang mengaku sebagai manajer kasino tersebut. “Disini anda bisa mendepositkan sejumlah uang, tapi berdasarkan standar kami maka minimal deposit yang anda setorkan harus diatas seratus juta rupiah.” Jelas si Andre tersenyum. Kasino ini jelas menunjukkan posisinya sebagai ikon prestise anggotanya dengan deposit yang tidak main-main. Bram berbisik ke telinga Ginggi “Bagaimana ini Bos? Saya tidak memiliki uang sebanyak itu.” Ginggi tersenyum dan balas berbisik “Kau tenang saja.” “Anda menerima kartu debit atau cek?” tanya Ginggi. “Tentu, tentu saja kami menerima semua bentuk pembayaran. Nadya tolong dibantu.” Andre mengalihkan pandangannya kepada seorang wanita yang berada dibalik meja counter tersebut. “Siap. Mari silakan.” Ucap Nadya ramah, gadis cantik berpakaian seksi dengan bando hitam mirip telinga kelinci. Ginggi mengeluarkan buku cek dari dalam saku jasnya. Setelah berkali-kali keluar masuk bank, Ginggi telah menggunakan berbagai produk perbankan tersebut dan salah satunya adalah cek. Bram berdecak kagum, ternyata Bos Ginggi memang tidak bisa diremehkan. “Berapa yang ingin anda depositkan?” tanya Nadya. “Dua ratus lima puluh juta rupiah.” Jawab Ginggi sembari menuliskan angka tersebut di atas ceknya, ia menandatangani kemudian memberikan selembar cek tersebut kepada Nadya. Nadya menerima kertas cek tersebut, menelitinya sesaat. Setelah yakin kalau cek itu tidak bermasalah ia menatap Ginggi kembali. “Maaf boleh saya pinjam kartu anggota anda? Ini supaya kami bisa mengetahui berapa sering anda mengunjungi kasino kami, sebagai bagian dari loyalti program tentu kami akan memperlakukan tamu yang sering berkunjung secara lebih eksklusif.” Jelasnya. Bram menyodorkan kartu anggota platinumnya. Nadya mencatat nomor anggota yang terdapat di sudut kanan atas kartu anggota platinum milik Bram dan menyerahkannya kembali. “Terima kasih, sekarang anda bisa menentukan berapa banyak chip yang ingin anda mainkan dengan batas deposit anda.” Nadya menunjuk kumpulan chip warna-warni yang terdapat di mejanya. Bam penasaran dan menunjuk chip-chip tersebut. “Warnanya kok beda-beda, mbak?” tanya Bram. Nadya tersenyum, mereka sepertinya orang kaya baru yang belum pernah berjudi di kasino. “Benar, setiap warna ini memiliki arti dan jumlah nominal yang berbeda. Seperti yang merah ini contohnya, merah berarti puluhan ribu. Jika ada angka di tengah chipnya misal seperti ini ada angka 5. Maka ini berarti lima puluh ribu rupiah.” Jelas Nadya sambil menunjuk chip warna merah dengan angka 5 di tengahnya. “Owh, kalau yang perak sama yang emas ini bagaimana?’ Bram menunjuk. “Kalau yang perak itu berarti jutaan dan yang emas itu puluhan juta.” Sahut Nadya. Saat Bram sedang asyik bertanya jawab dengan Nadya, Ginggi dengan matanya yang tajam bak elang mengamati situasi. Ia tertarik dengan sebuah ruangan yang menjorok di atas mereka, ruangan itu mirip balkon dengan kaca besar dan lebar. Ginggi menduga itu adalah ruang pengawasan, si Jamal pasti ada di dalam ruangan tersebut. “Jadi berapa banyak anda berdua hendak menukarkan deposit yang anda miliki dengan chip?’ suara Andre yang sejak tadi menyimak membuat Ginggi menghentikan pengamatannya. “Semuanya, tolong dibagi rata antara semua chip tersebut, pecahan jutaan dan lima chip puluhan juta saja. Terima kasih.” Ujar Ginggi. “Baik, sesuai permintaan anda.” Nadya mulai menghitung chip berwarna perak dan emas. Bram masih asyik mengamati chip-chip tersebut, ia bukan seorang penjudi tapi melihat chip-chip itu ia bisa menyimpulkan betapa banyak uang yang dihasilkan kasino ini dan pemiliknya pasti seorang milyarder ia ingin berguru padanya agar bisa menjadi orang kaya. Dan sedetik kemudian ia sadar kalau si Jamal adalah pemilik kasino ini, ia segera membenci pikirannya barusan. “Terima kasih, ini chip-chip untuk anda gunakan sebagai ganti uang taruhan di kasino kami. Semoga anda beruntung.” Nadya menyerahkan kepingan chip yang sudah dimasukkan kedalam sebuah kantung kecil berlogo kasino. Ginggi mengambil kantong kecil berisi chip tersebut. “Winner-winner chicken dinner!” ujar Andre tersenyum sambil mengacungkan jempolnya kepada Bram dan Ginggi. “Apa?” Bram mengerutkan keningnya. “Itu adalah semboyan untuk para penjudi, semoga keberuntungan pemula memeluk kalian dan bisa pulang dengan memenangkan uang yang banyak.” Jelas Andre. “Oh, aku mengerti sekarang. Terima kasih.” Jawab si Bram. “Baiklah kalau kalian memerlukan sesuatu, kalian bisa memanggilku di sekitar sini. Selamat bersenang-senang!” Andre melambaikan tanganya. Ginggi dan Bram mengangguk, mereka berdua kemudian menuju ke arena permainan judi yang tersebar di seluruh suite. “Kita main apa dulu Bos?” tanya Bram bersemangat. “Kau saja yang bermain. Ambil ini!” Ginggi menyerahkan kantong kecil berisi chip kepada Bram. Bram mengambil kantong tersebut dan menatap wajah Ginggi dengan penasaran “Apa boleh saya pakai semuanya, Bos?” Ginggi mengangguk “Tentu saja. Kau juga jangan menungguku, kalau kau sudah puas bermain. Pulang dan temui aku esok siang di terminal utara!” “Siap, Bos!” si Bram mengangguk. Mereka berpisah, Ginggi berjalan menuju ke sebuah bar kecil yang berada di sudut sementara si Bram menuju ke tengah ruangan untuk bermain judi kartu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN