Pertemuan Pertama Dengan Si Jamal

1808 Kata
Ginggi duduk di kursi tinggi bar. “Anda mau pesan sesuatu?” tanya bartender yang sedang mengelap gelas. “Three spirit!” sahut Ginggi. Sang bartender mengangguk dan segera meracik minuman pesanan Ginggi tersebut. Minuman tanpa alkohol, orang di depannya pastilah seorang yang menjaga kesehatan dirinya, pikir sang bartender sambil mengamati postur Ginggi yang kekar. “Silakan.” Sang bartender meletakkan gelas segitiga kecil berisi minuman pesanan Ginggi di atas meja. “Terima kasih.” Timpal Ginggi, meraih gelas tersebut meneguk sedikit, meletakkannya kembali di atas meja kemudian memutar posisi duduknya hingga menghadap ke arah keramaian kasino. “Kau pasti baru ke tempat ini, bukan?” tegur seorang gadis cantik bergaun hitam dengan crop top lebar sehingga memperlihatkan bahunya yang indah. Rambut panjangnya diikat dan disanggul dengan elegan. Ginggi menatap gadis cantik yang menegurnya kemudian mengangguk. Gadis itu mungkin berusia sekitar dua puluh tahunan, ia memiliki mata yang indah juga senyum yang menawan. “Sudah kuduga, sangat jarang bagi kasino ini menerima anggota baru. Aku cukup sering datang kemari dan baru kali ini melihatmu. Namaku Silvi.” Gadis itu tersenyum sambil menjulurkan tangannya. Ginggi menyambut uluran tangan tersebut “Ginggi.” ucapnya singkat. “Ginggi, nama yang unik. Kau pasti seorang pengusaha yang beromset besar, bukan? Karena kalau orang biasa tidak mungkin bisa datang ke kasino yang super eksklusif ini. Kalau boleh tahu, usahamu bergerak di bidang apa?” selidik Silvi. “Jasa.” Ginggi kembali menjawab dengan pendek, ia melirik ke arah balkon yang pintunya terbuka karena seorang staff masuk kesana. Di depan pintu tersebut berjaga dua orang preman kekar. “Jasa? Jasa seperti apa itu? Kalau aku sendiri bergerak di bidang tambang khususnya batu bara. Kalau boleh tahu kau bergerak di bidang jasa seperti apa? Siapa tahu nanti kita bisa bekerjasama?” cerocos Silvi. “Semua jasa.” Jawab Ginggi sekenanya, ia cukup terganggu dengan gadis cantik di sebelahnya yang mengajaknya terus berbincang. Di ujung sana, Ginggi melihat si Jamal dikawal oleh beberapa preman masuk kedalam balkon pengawas. Ginggi bisa tahu si Jamal karena si Loreng telah menggambarkan wajah dan sosoknya. “Kau sepertinya orang yang pendiam dan sedikit bicara ya?” kembali Silvi mengajak berbincang. Ginggi turun dari kursi tinggi, merogoh dompet dan meletakkan beberapa lembar uang di meja bar. “Maaf, aku duluan!” pamit Ginggi. “Baiklah, senang bercakap-cakap denganmu. Sampai bertemu lagi.” Sahut Silvi tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Ginggi tidak menjawab, ia harus mencari cara untuk menyelinap ke ruang pengawasan dan menemukan si Jamal kemudian menghabisinya. Ia berjalan dan berbaur dengan para pengunjung kasino yang lainnya sambil terus mencari celah untuk menyusup. Seperempat jam Ginggi berputar-putar sampai akhirnya ia memutuskan untuk melumpuhkan kedua preman yang berjaga di depan pintu balkon pengawas dan langsung menerobos kedalam. “Tahan! Pengunjung tidak boleh masuk kesini!” hadang seorang preman yang berjaga, menahan dengan telapak tangan kanan diarahkan ke depan sambil menatap tajam ke arah Ginggi. “Aku ada perlu dengan Bos Jamal, sekarang minggirlah!” dalih Ginggi. “Bos Jamal tidak sedang menunggu orang, dia juga tidak memerintahkan kami membuka pintu selain untuk dirinya. Jadi kau pasti berbohong, sekarang enyahlah!” usir preman penjaga yang lainnya. Ginggi menghimpun kekuatan di tangannya, kemudian dengan sekali pukul ia berhasil menjatuhkan seorang preman penjaga tersebut. “Kurang ajar!” maki seorang preman yang lainnya sambil menyabetkan sebuah belati yang ia ambil dari balik bajunya. Ginggi tak menduga sang preman akan menggunakan belati, mengelak ke sebelah kiri tapi terhalang oleh tembok. Tidak ada pilihan, ia akan menerima belati itu dengan tubuhnya dan memberikan serangan balasan. ‘Syuuut…!’ sebuah suara membelah angin terdengar, disusul dengan sang preman yang hendak menikam Ginggi tiba-tiba terkapar jatuh tak bergerak lagi. Ginggi berdiri dan menyelidiki tubuh sang preman, sebuah shuriken tertancap tepat di jantungnya. Ginggi menajamkan mata dan mencari asal shuriken tersebut, tidak ada seorang pun. Bagaimana pun ia telah tertolong dan harus berterima kasih kepada orang yang telah melepaskan shuriken tersebut. Ia juga bertanya dalam hatinya, apa pelempar shuriken ini adalah orang yang sama dengan saat di terminal waktu itu? Kalau iya kenapa sekarang ia malah membantunya? Ginggi mengenyahkan dulu pertanyaan tersebut. Karena saat ini ia harus fokus, ia harus menghabisi si Jamal terlebih dahulu. Ginggi membuka pintu ruangan balkon pengawas dan masuk kedalamnya. “Ah, kau pasti Ginggi. silakan duduk! Aku sudah menunggu kapan kau akan muncul.” Ucap si Jamal sambil menyeringai di balik meja makan yang besar. Empat orang pengawal pribadinya segera mengacungkan senjata mereka ke arah Ginggi, dengan isyarat menyuruh Ginggi untuk duduk di sisi lain meja makan tersebut. Ginggi menurut dan duduk di tempat yang disediakan khusus untuk dirinya, empat orang pengawal pribadi si Jamal masih menodogkan senjata mereka dan berdiri di belakangnya. Sangat waspada dan siap bertindak bila terjadi sesuatu yang bisa mengancam keselamatan Bos Besar mereka. “Kau datang tepat waktu untuk makan malam.” Si Jamal tersenyum licik. Ginggi menatap tajam ke arah si Jamal “Bagaimana kau tahu aku akan datang?” “Bukan kau saja yang memiliki anak buah. Aku sudah mendengar sepak terjangmu. Jujur saja apa yang kau lakukan cukup membuatku sesak, satu persatu daerah kekuasaanku kau rebut. Tidak masalah sebenarnya kalau kau ingin menguasai tempat-tempat itu. Tapi, yang jadi masalah adalah kau menolak memberikan setoran kepada markas pusat, kepadaku. Itu tidak bisa dibiarkan, meski kita adalah sampah masyarakat tapi kita punya aturan. Dan kau tidak mengikuti aturan main itu.” Si Jamal menunjuk wajah Ginggi dengan pisau makannya, kemudian meneguk anggur merah dalam cawannya. Seorang pelayan mendekati Ginggi dan menuangkan anggur merah yang sama dengan yang diminum oleh si Jamal ke cawan di depannya, kemudian pelayan itu kembali ke tempatnya semula. Ginggi menatap cawan yang sudah diisi oleh anggur merah, ia tahu dari cerita si Loreng kalau ini adalah tipu muslihat si Jamal. Ia sudah menaruh racun pelemas otot ke dalam minuman tersebut. “Tapi, aku akan memaafkanmu jika kau bersedia tunduk dan menjadi anak buahku yang patuh. Menyetorkan iuran rutin kepada markas pusat. Aku akan mengampunimu dan kau boleh pergi dari sini dengan utuh, bagaimana?” si Jamal menawarkan sebuah solusi yang akan bakalan meredakan konflik diantara mereka. “Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak pernah menjilat ludahku sendiri karena aku bukan seekor anjing!” Ujar Ginggi keras sambil mendelik ke arah si Jamal. Raut wajah si Jamal memerah menahan amarah karena ia disamakan dengan seekor anjing, ia sekarang ingin menghabisi Ginggi tapi ia menahan emosinya dan kembali tersenyum. “Baiklah, kurasa percuma membujukmu. Aku menyerah, kau boleh pergi dari sini sebagai seorang tamu. Tapi sebagai seorang tamu yang baik setidaknya kau harus minum dulu bersamaku.” Si Jamal mengulurkan cawan yang dipegangnya ke atas mengajak Ginggi ber-toast. Ginggi mengambil cawan berisi anggur merah yang ada di depannya. Si Jamal tersenyum kecil, muslihatnya akan berjalan sebentar lagi. Ginggi mengangkat cawan ke atas dan seolah sedang menerima tawaran toast si Jamal, tapi kemudian ia membuang cawan tersebut. Anggur merah yang berisi racun itu mendesis saat tumpah ke lantai. “Jadi seperti ini cara dirimu menipu si Loreng?!” Ginggi menatap tajam. Si Jamal kaget bukan kepalang karena tipu dayanya tidak berhasil apalagi mendengar Ginggi menyebut nama si Loreng. “Siapa kau? Apa hubunganmu dengan si Loreng?!” Si Jamal bangkit dari kursi dan menunjuk wajah Ginggi penuh amarah, matanya melotot. “Aku Ginggi! dan aku adalah tangan si Loreng yang akan mencabut nyawamu segera!” ujar Ginggi menatap tajam. Keempat preman yang berdiri di belakang Ginggi sambil mengacungkan pistol nampak bergetar mendengar nama si Loreng disebut, mereka saling pandang. Si Loreng adalah Bos mereka sebelumnya, tapi kini Bos Jamal adalah orang yang berkuasa dan menggaji mereka. “Kalian, habisi orang itu!” perintah si Jamal. Para preman anak buahnya sedikit gamang, tapi mereka harus patuh pada Bos barunya. Dua orang yang berada di dekat Ginggi bersiap menarik pelatuk. “Tunggu, habisi dia di tempat lain saja. Aku tidak sudi kasinoku yang mewah ternoda oleh darah busuknya!” si Jamal meralat perintahnya. Kedua preman urung menarik pelatuk dan kemudian menekankan ujung pistol ke punggung Ginggi. “Berdiri!” perintah salah seorang dari mereka. Ginggi berdiri, menatap si Jamal dengan mata elangnya “Kau akan membayar semua yang telah kau lakukan!” “Hahaha, bagaimana? Kau sudah berada di akhir hidupmu tapi masih sok jago, dasar kurang ajar tak tahu diri! Bawa dia keluar dan habisi!” si Jamal terbahak-bahak. “Jalan!” preman yang menodongkan pistol di punggung Ginggi memerintah. Ginggi menurut dan berjalan keluar dengan diiringi oleh keempat preman pengawal si Jamal, pistol mereka masih mengarah kepadanya. Ginggi berusaha memikirkan jalan keluar yang mungkin bisa ia ambil, tapi dengan rapat dan ketatnya keempat orang preman pengawal si Jamal menodongkan pistol mereka ia tidak memiliki kesempatan. Ia mungkin bisa melumpuhkan dua orang tapi dua orang lainnya pasti dengan cepat akan menghabisi dirinya, memuntahkan timah panas mereka. Keempat preman pengawal si Jamal membawanya ke lorong yang berada di samping apartemen mewah tersebut. Beberapa anggota polisi berpapasan dengan mereka tapi kemudian mengacuhkannya. Mereka sudah disuap dengan uang yang sangat banyak hingga masalah yang terjadi di dalam kasino tidak menarik untuk mereka campuri. Mereka hanya akan berpura-pura memeriksa korban sebagai kejahatan kriminal jalanan biasa saja esok hari atau setelah ada masyarakat yang melaporkan. Lorong di samping apartemen mewah itu nampak kontras, tempat sampah besar yang terbuat dari besi berada di ujungnya. Tidak ada penerangan yang cukup sehingga kegelapan malam cukup pekat merangkul. Bau pesing tercium karena banyak pemabuk yang kencing sembarangan. “Selamat tinggal, Ginggi!” ujar seorang preman pengawal si Jamal sambil mengarahkan moncong pistol ke pelipis Ginggi dan bersiap menarik pelatuk. ‘Syuuut…! Sleb! Sleb! Sleb! Sleb!’ suara shuriken membelah udara disusul dengan hampir bersamaan terkaparnya keempat preman pengawal si Jamal yang hendak mengeksekusi Ginggi. Ginggi yang tadinya sudah pasrah menerima nasib kini malah penasaran dengan siapa yang telah menolongnya, malam ini dia dua kali diselamatkan oleh si pelempar shuriken. Dari balik keremangan malam, akhirnya si pelempar shuriken muncul menampakkan dirinya di hadapan Ginggi. “Kau?” Ginggi kaget mengetahui siapa si pelempar shuriken itu sebenarnya. Gadis itu tersenyum “Apa kau terkejut melihatku? Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini sebelum anak buah si Jamal lainnya datang.” Ginggi masih tertegun ia benar-benar tak menyangka kalau si pelempar shuriken itu ternyata adalah gadis cantik yang ia temui saat sedang minum di bar. Gadis yang cerewet itu ternyata memiliki kemampuan yang mengerikan. “Hei, kenapa kau masih melongo? Ayo kita pergi sekarang!” seru Silvi yang sudah berada beberapa kaki di depan Ginggi, ia melambaikan tangan mengajak Ginggi untuk mengikutinya. Ginggi mengangguk, gadis itu benar kalau sampai anak buah si Jamal yang lain muncul mereka tidak akan memiliki kesempatan lagi. Ia segera melangkahkan kaki dan menyusul Silvi. Mereka berjalan menyeberangi apartemen mewah tempat kasino si Jamal berada, Silvi yang masih mengenakan gaun warna hitam dengan crop top lebar dan memakai sepatu berhak tinggi ternyata tidak kesulitan untuk berjalan. Ia berjalan dengan anggun dan membawa Ginggi masuk ke sebuah restoran. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN