Rahasia Kecil Si Loreng

2886 Kata
Ginggi menatap Silvi yang duduk di kursi di seberang meja, mereka beristirahat sekaligus berniat mengisi perut di restoran yang tepat berada di seberang apartemen mewah dimana suite paling atasnya merupakan kasino megah yang tersembunyi milik si Jamal. “Aku berterima kasih atas pertolonganmu, malam ini kau menyelamatkan nyawaku dua kali.” Ginggi menatap Silvi. “Bukan masalah, aku tahu kau sedang mengincar si Jamal bukan? Aku pun sama, tapi seperti yang sudah kau ketahui, ia tidak mudah untuk didekati dan dihadapi. Kita harus punya rencana yang matang untuk mengalahkannya.” Jelas Silvi. Ginggi mengangguk, gadis cantik ini benar. Ia sudah gegabah dan berpikir bisa menghadapi si Jamal dengan kepalan tangannya seperti biasa ia mengalahkan para preman yang lain. Tapi si Jamal berbeda, ia sangat pintar dan licik. “Kau memiliki kemampuan yang unik. Beberapa minggu lalu, apa kau juga yang telah melemparkan shuriken ke arahku sewaktu di terminal?” selidik Ginggi, menatap Silvi dengan raut penasaran. Silvi tertawa kecil “Kau benar, aku memang yang melemparkan shuriken waktu itu. Saat itu aku masih bekerja untuk si Jamal, tapi sekarang aku sudah meninggalkannya. Dan aku sekarang ingin membunuhnya.” “Kenapa?” Silvi menatap Ginggi, menghela nafasnya sejenak “Sejak kecil aku sudah dikirim ke Jepang untuk berlatih dan berguru kepada seorang Samurai dan juga seorang Ninja ternama disana. Awal tahun lalu aku pulang dan mendapati si Jamal yang berkuasa. Baru beberapa hari yang lalu aku ketahui kalau si Jamal ternyata sudah membunuh ayahku. Sekarang aku ingin membalas dendam kepadanya.” “Kau dan aku memiliki tujuan yang sama. Aku juga hendak membalaskan dendam guruku kepada si Jamal.” Ucap Ginggi. Hening sesaat. Seorang pelayan restoran datang mendekati meja mereka dan memberikan dua daftar menu. “Sebaiknya kita makan terebih dulu, aku sudah lapar sejak tadi.” Usul Silvi sambil membuka daftar menu yang diberikan oleh sang pelayan. Ginggi mengangguk setuju dan mulai membuka daftar menu yang diletakkan sang pelayan di dekatnya. Setelah makan malam yang diselingi dengan obrolan ringan, Ginggi dan Silvi kemudian berpisah dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Ginggi pulang ke rumah kontrakannya dengan memakai sebuah taksi. * Pagi menjelang siang ketika Si Bram datang ke markas preman terminal utara sambil membawa sebuah ransel kecil, ia bersiul-siul dengan gembira. “Kau tampaknya sedang senang?” tegur si Mikimos yang berada di dalam markas preman terminal utara. Dalam markas saat itu sudah ada si Rontek, Ali, dan juga Ginggi yang tengah menikmati kopi dan beberapa cemilan dalam piring-piring di atas meja. “Tentu saja, semalam aku menang besar. Keberuntungan pemula kaalau kata manajer disana. Semua berkat Bos Ginggi.” timpal si Bram, ia mendekati Ginggi. Ginggi menatap si Bram, ia memang menyuruhnya untuk datang. Si Bram tidak mengetahui kalau semalam Ginggi nyaris saja tewas dibunuh pengawal si Jamal. “Saya datang untuk mengembalikan uang Bos, berkat Chip yang dipinjamkan oleh Bos. Saya bisa melipatgandakannya. Ini uang milik Bos.” Si Bram meletakkan ransel kecilnya yang berisi uang ratusan juta rupiah. Ginggi tersenyum “Itu uangmu, kau ambil saja. Lagipula semalam itu aku memberikan cek kosong kepada mereka.” “Apa? Jadi Bos Ginggi memberikan cek kosong?” si Bram terpana, ia sama sekali tidak menyangka kalau Ginggi memiliki muslihat seperti itu. “Tentu saja, aku mana mungkin memiliki uang sebanyak itu.” Sahut Ginggi. “Astaga, Bos! Jadi saya bertaruh di kasino si Jamal dengan uang yang tidak ada?” si Bram terkejut. “Hahaha, Bos Ginggi memang pintar!” puji si Mikimos tergelak melihat raut muka si Bram yang melongo. Si Rontek geleng-geleng, ia sudah tahu kalau Bos Ginggi pintar tapi ia baru tahu kalau ternyata Bos Ginggi pun nekat berbuat seperti itu. “Jadi bagaimana dengan uang ini?” sekali lagi si Bram bertanya sambil menatap wajah Ginggi. “Sudah kukatakan bukan, itu uangmu. Terserah kau mau digunakan untuk apa.” Jawab Ginggi. “Apa tidak apa-apa, Bos?” si Bram kembali ragu, biasanya para Bos suka sekali dengan uang. Tapi Bos Ginggi tampak tak tertarik dengan uangnya. Ginggi tersenyum “Tentu, lakukan yang kau mau dengan uangmu.” “Terima kasih, Bos!” si Bram kembali mengambil ransel kecilnya, ia sudah membayangkan akan bersenang-senang dengan uang sebanyak itu. “Kau jangan lupa membagi sama kami.” Si Mikimos dan si Rontek berusaha mengambil kesempatan. “Tenang, aku tidak akan lupa sama rekan sendiri.” Sahut si Bram sambil mengusap rambutnya. “Jadi bagaimana, Ali. Kau sudah melakukan apa yang kuminta?” Ginggi menatap Ali yang sedang duduk di sebelahnya. Si Bram mencomot sebuah bakwan dan kemudian duduk bergabung bersama si Rontek dan si Mikimos di sebuah sudut. Ali membuka tas kulitnya dan mengeluarkan laptop, menyalakannya dan kemudian memperlihatkan sebuah laporan spread sheet kepada Ginggi. “Disini Bos, saya sudah menyederhanakan laporannya. Maaf saya belum membuat print outnya. Ini adalah sebuah jurnal pemasukan dan pengeluaran jatah preman yang dibuat setiap bulannya. Kemudian ini adalah alokasi kemana saja pengeluaran itu. Ada pos khusus untuk diberikan kepada janda dan anak yatim para preman yang telah meninggal dunia yang menjadi tanggung jawab kita setiap bulannya.” Jelas Ali. Si Rontek, si Mikimos dan Si Bram ikut menyimak. Alasan Bos Ginggi tidak menyetorkan uang ke markas pusat preman yang dipimpin oleh si Jamal ternyata seperti itu. Ia lebih suka mengalokasikannya untuk menyantuni istri dan anak mantan rekan mereka yang sudah meninggal. Sebuah hal yang diabaikan oleh Bos mereka sebelumnya. Mereka semakin yakin kalau Bos Ginggi adalah orang yang tepat memimpin mereka. Meski mereka dianggap sampah oleh masyarakat kebanyakan, tapi apa yang mereka lakukan sejatinya adalah mencari nafkah untuk anak istri dan keluarganya. “Kerja bagus!” Ginggi mengacungkan jempolnya kepada Ali, ia kemudian berpaling kepada si Rontek, si Mikimos, dan si Bram yang sedang duduk di kursi pojok. “Mulai bulan ini, kalian harus menyetorkan semua penghasilan yang didapatkan dari aktivitas preman kita kepada rekening yang dibuat oleh Ali. Nanti Ali akan mengatur pembagiannya dan juga setiap bulan kita akan mendatangi setiap janda dan anak yatim rekan kita yang telah meninggal untuk diberikan santunan. Kalian mengerti?” “Mengerti, Bos!” serempak si Rontek, si Mikimos dan si Bram menyahut. “Bagus.” Ginggi tampak puas dengan semua rencananya yang mulai berjalan. “Jadi disini tempat kalian biasa berkumpul?!” tanya seorang gadis yang menyembul dari pintu markas preman terminal dan kemudian ia masuk tanpa permisi. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ginggi sambil mengamati penampilan Silvi yang jauh berbeda dari semalam. Saat ini Silvi mengenakan topi, rambut hitam panjangnya diikat kebelakang, ia memakai kaos warna biru dan celana jeans serta memakai sandal gunung. Silvi melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah Ginggi. “Silvi!” si Mikimos terperanjat dan berdiri dari kursinya, ia tak menyangka bakalan bertemu dengan gadis itu di tempat seperti ini. “Kau kenal dia?” Ginggi menyelidik sambil menatap si Mikimos. Si Mikimos mengangguk “Dia adalah anak si Loreng.” Si Mikimos menunjuk. Silvi mengibaskan tangan tak begitu mempedulikan si Mikimos dan mengambil sebuah kursi kemudian duduk di sebelah Ginggi. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Silvi sambil mengintip layar laptop milik Ali. “Kau anaknya si Loreng?” kali ini Ginggi yang terkejut. Silvi mengalihkan pandangannya dan menatap Ginggi “Benar, bukankah sudah kukatakan padamu semalam. Aku hendak membalas dendam kematian ayahku yang dibunuh oleh si Jamal.” Ginggi menghela nafas, dunia kadang tampak lucu dan seakan sedang bercanda. “Ayahmu belum mati. Maksudku, si Loreng masih hidup.” Ujar Ginggi. Kali ini Silvi yang kaget dan menatap mata Ginggi “Bagaimana kau bisa tahu?” “Karena si Loreng ayahmu itu adalah guruku. Selama lima tahun kami berada dalam satu sel yang sama di tempat terkutuk itu. Dia adalah alasan aku hendak menghabisi si Jamal. Dia sudah terpedaya oleh tipu muslihat si Jamal sehingga kini mendekam di lapas berkeamanan maksimum di pulau terpencil itu.” Jelas Ginggi. “Kurang ajar si Jamal! Tapi aku bersyukur ayahku masih hidup bagaimana keadaannya?’ “Kaki kirinya kini pincang karena ulah si Jamal. Ia membantuku untuk kabur dari penjara tersebut sedangkan ia sendiri merelakan dirinya untuk mendekam lebih lama disana. Ia merasa akan menjadi beban bila ikut melarikan diri bersamaku waktu itu.” Ginggi memaparkan. Semua orang yang berada disana mendengarkan kisah Ginggi dengan cermat. Mereka kini memiliki kekesalan dan dendam yang sama kepada si Jamal, kurang ajar itu memang sangat licik. Dia sudah menggunakan tipu daya agar bisa berkuasa dan duduk di kursi Bos besar dengan menyingkirkan si Loreng. “Aku harus membebaskannya dari lapas tersebut!” ucap Silvi. “Aku juga berencana melakukan itu, tapi tidak saat ini. Sekarang aku sedang fokus untuk membalaskan dendamnya kepada si Jamal. Setelah dendamnya berhasil aku lakukan maka aku punya muka untuk kembali dan membebaskan si Loreng.” Ujar Ginggi. Silvi menatap Ginggi “Kau benar, yang lebih utama adalah menyingkirkan si Jamal terlebih dahulu. Tapi kita harus memiliki rencana yang sempurna dan jangan serampangan melancarkan serangan. Kalau tidak hasilnya seperti kemarin yang kau lakukan, gagal total!” Ginggi mengangguk, ia sudah mendapatkan pelajarannya semalam. “Baiklah kurasa sudah saatnya kalian kembali ke posisi masing-masing!” perintah Ginggi. Si Rontek, si Mikimos dan si Bram segera keluar markas. Si Mikimos dan si Rontek hendak mengawasi anak buah mereka yang berada di terminal dan melakukan tugasnya sebagai calo bus dan angkutan umum. Sementara si Bram akan kembali ke terminal timur tempat kekuasaannya, ia berjanji sore nanti akan kembali datang untuk memberi jatah kepada si Rontek dan si Mikimos dari hasil permainan judinya semalam. Di markas kini hanya tersisa Ali, Ginggi dan Silvi. Ali segera mendapati dirinya dalam situasi canggung, ia segera membereskan barang-barangnya termasuk laptopnya kemudian berpamitan dengan alasan hendak mengecek rekening yang ia buat di sebuah bank. Kini tinggal Ginggi dan Silvi yang berada di markas preman terminal tersebut. “Kau tahu, aku tidak mengira kalau guru yang kau bilang semalam itu ternyata adalah ayahku si Loreng.” Silvi menatap Ginggi. Ginggi mencomot sebuah bakwan dan mengunyahnya “Akupun juga sama, tidak mengira kalau si Loreng ternyata memiliki seorang anak perempuan yang cantik. Selama lima tahun aku bersama dengannya dalam kamar pengap di lapas terkutuk itu, ia tak pernah sekalipun menyinggung tentang anak dan istrinya.” “Itu karena dia ingin menjagaku, hanya segelintir orang yang tahu termasuk si Mikimos yang menjadi orang kepercayaan ayah. Ia sengaja merahasiakan identitasku karena tak ingin musuhnya mengambil kesempatan dengan menjadikan aku sandera atau semacamnya. Tapi aku sudah dewasa sekarang, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Jelas Silvi. “Kau benar, kau memiliki kemampuan bela diri yang sangat unik.” Timpal Ginggi. “Lalu kau sendiri, bagaimana?” Silvi kembali menatap Ginggi, matanya yang hitam bulat beradu pandang dengan mata Ginggi yang sendu namun sangat tajam tersebut. “Bagaimana, apanya?” Ginggi mengerutkan dahi, kurang memahami pertanyaan yang diajukan oleh Silvi. “Apa yang membuatmu dipenjara bersama ayahku di lapas yang terpencil itu. Apa kau seorang penjahat besar? Entah kenapa aku merasa kau itu bukan seorang yang berbuat jahat sampai harus dipenjara dengan keamanan maksimum. Terlebih, kau dipilih oleh ayahku sebagai penerusnya. Kau pasti memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh orang biasa, benar bukan?” Silvi menjelaskan dugaannya. “Aku tidak tahu apa aku orang baik atau jahat sekarang ini.” Ginggi menghela nafas, semua hal yang terjadi dalam hidupnya seakan melintas kembali di pelupuk mata. Silvi bertopang dagu dengan kedua tangannya dan menatap Ginggi penasaran, ia menunggu Ginggi untuk bercerita. Ditatap oleh Silvi seperti itu, tak dipungkiri membuat sesuatu dalam d**a Ginggi berdesir. Ginggi meraih gelas kopi di hadapannya dan kemudian meminumnya, ia berusaha mengenyahkan kegugupan yang sedetik terbersit. Menarik nafas dan Ginggi mendapatkan ketenangannya kembali. “Aku terkena sebuah rekayasa yang dibuat oleh para oknum kepolisian. Mereka memfitnahku sebagai gembong n*****a dan kemudian dengan sangat licik akhirnya aku dijebloskan dalam tahanan lapas berkemanan maksimum di sebuah pulau terpencil. Di sana pula akhirnya aku bertemu dengan si Loreng, ayahmu.” Lanjut Ginggi. “Kenapa orang sepertimu bisa terperdaya oleh tipuan murahan seperti itu?” Silvi kembali bertanya. Angin bertiup membawa panas aspal terminal, membuat daun pintu terayun sejenak. Ginggi menatap ke arah keramaian terminal, ia menghela nafas dan kemudian kembali menoleh ke arah Silvi. “Dulu aku terlalu polos. Hanya seorang penjual kaki lima yang kerempeng dengan pemikiran sederhana. Bila orang baik selalu berbuat baik maka hidupnya pun akan baik-baik saja. Tapi rupanya aku salah, terkadang menjadi orang yang terlalu baik mudah sekali diperdaya dan dimanfaatkan oleh orang lain.” Ginggi mendesah. “Kau benar, manusia memang harus mewaspadai manusia lainnya. Kita tak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikiran dan isi hati seseorang. Bisa jadi ia terlihat baik tapi nyatanya sangat jahat, begitu pula sebaliknya orang yang terlihat jahat dan menyeramkan ternyata memiliki hati yang lembut dan santun. Don’t judge a book by it’s cover!” Silvi tersenyum manis. Ginggi mengangguk, ia jadi teringat kepada kelembutan hati si Gorila saat ia hendak melarikan diri dari lapas tempo hari itu. “Lantas bagaimana? Kalau melihat dirimu yang sekarang, kurasa kau sudah mengalami perubahan yang signifikan. Kurasa ada motivasi lain yang membuatmu berubah sedrastis ini.” Silvi kembali bertanya. Ginggi menatap Silvi lekat-lekat, gadis ini sepertinya mewarisi kepintaran sang ayah. Si loreng dulu selalu mengatakan hal-hal yang amat bijak dan kadang susah untuk ia cerna. Dan kini anak gadisnya mengajukan sebuah pertanyaan hasil dari analisa dirinya yang menunjukkan kecerdasannya. Kau bisa tenang Loreng, anakmu adalah seekor harimau seperti dirimu juga, memiliki kecerdasan dan kemampuan beladiri yang baik. Pikir Ginggi. “Awalnya aku tidak memikirkan soal balas dendam, aku pasrah dan bahkan sudah mempersiapkan diriku untuk membusuk di dalam tahanan bila para k*****t itu mengingkari janji mereka dan tidak membebaskanku setelah enam bulan berada di lapas berkeamanan maksimum tersebut.” “Apa yang mengubah pikiranmu?” Silvi mengganti posisi duduknya, ia merentangkan tangan ke atas sesaat untuk menghilangkan penat. “Saat sedang membersihkan jendela lapas, tanpa sengaja aku membaca sebuah potongan berita yang ada dalam koran yang hendak kujadikan alat untuk mengelap kaca jendela. Di potongan surat kabar itu, mereka memberitakan tentang istri dan anakku yang tewas saat penggerebekanku terjadi. Mereka mati dihantam oleh timah panas.” Ginggi memaparkan, nampak kilatan amarah dalam matanya. Ia segera mengatur nafas kembali. “Aku turut berduka atas kematian istri dan anakmu, kau pasti sangat menyayangi mereka.” Silvi nampak terharu dan setitik air keluar dari ujung pelupuk matanya. “Terima kasih.” Sahut Ginggi. “Aku rasa jalan yang kau ambil sudah tepat. Kau memang harus membalaskan dendam mereka. Para aparat itu tidak boleh berkeliaran seenaknya tanpa diberi pelajaran, bisa-bisa mereka terus sombong dan merajalela!” dengus Silvi, ia kini nampak sangat marah. Ternyata, bagaimanapun Silvi tetaplah seorang gadis yang penuh misteri. Sesaat ia bisa begitu nampak bersedih dan terharu dan sedetik kemudian ia bisa sangat marah. Emosi wanita memang selalu berubah dan tak bisa ditebak, terlebih bagi Ginggi yang kini telah membekukan hatinya. “Aku memang sudah bertekad untuk membalas dendam kepada mereka, bagaimanapun caranya dan berapapun waktu yang harus kuhabiskan untuk melampiaskan dendam itu. Akan kutunggu meski itu adalah hal terakhir yang kulakukan dalam hidup ini.” Jawab Ginggi. “Lalu, kau pun bilang kalau hendak membalaskan dendam ayahku kepada si Jamal. Apa yang membuatmu mau melakukannya?” Ginggi melipat lengan kiri kemeja panjangnya, memperlihatkan tato harimau berkepala dua dengan loreng berwarna keunguan dimana salah satu kepala harimau itu sedang mengaum sementara kepala yang lainnya sedang menggigit ular besar. “Astaga! Ayah telah mewariskan tato Bromocorah kepadamu?” Silvi terkejut, meski ia telah mengetahui kalau Ginggi adalah murid ayahnya tapi ia tidak menyangka ayahnya pun mewariskan tato Bromocorah itu. Ginggi mengangguk. “Bagaimana rasanya? Maksudku, apa benar kalau tato itu selalu menuntut darah dan memberikan kekuatan yang aneh?” “Semacam itulah, tapi untuk saat ini aku masih bisa mengendalikan diri dan tidak memakai kekuatan tato ini secara berlebihan.” Jelas Ginggi. “Syukurlah kalau begitu. Tato itu lebih pantas disebut sebuah kutukan. Kutukan para Bromocorah, karena setahuku tato itu kerap meminta darah dalam setiap pertarungan yang dilakukan oleh pemiliknya. Sebagai imbalannya ia akan memberikan kekuatan yang aneh sekaligus luar biasa.” Silvi menjelaskan. Ginggi merapikan lengan kemeja panjangnya dan kembali menutupi tato Bromocorah miliknya. “Dengan tato itu, ayah telah menjadikanmu seorang Bromocorah. Penerusnya. Dengan demikian maka kau pun harus mengambil alih kekuasaan yang sedang dipegang oleh si Jamal saat ini, benar begitu?” Silvi menegaskan kembali pemikirannya. “Benar. Saat di dalam penjara, aku sudah membahas hal ini dengan ayahmu. Si Loreng merasa kalau aku tidak mungkin membalaskan dendam kematian istri dan anakku bila hanya kesana kemari sebagai orang biasa. Ada lingkaran yang tidak bisa kumasuki, tapi dengan aku menjadi seorang Bromocorah dan memiliki kekuasaan dunia hitam dalam genggamanku. Maka mereka lah yang akan mendatangiku, saat itulah maka akan kulancarkan aksi balas dendamku.” Jelas Ginggi. “Aku setuju, para oknum k*****t itu tentu mereka cerdik dan saat ini sudah meraih jabatan yang tinggi. Orang biasa akan sangat sulit menemukan mereka karena mereka memiliki kekebalan tertentu. Kau benar, dengan menjadi seorang Bromocorah, bahkan presiden pun bisa kau temui. Bromocorah adalah pengendali negara ini dari balik bayangan.” Silvi sekarang memahami ambisi Ginggi untuk ikut membalaskan dendam ayahnya si Loreng kepada si Jamal. “Aku hendak ke warung makan di seberang jalan, kau mau ikut makan siang bersamaku?” tanya Ginggi sambil beranjak dari kursinya, ia sengaja mengakhiri pembicaraan dengan Silvi. “Tentu saja, tapi kau yang mentraktirku, hehehe…” Silvi terkekeh, ia ikut berdiri dan mengikuti langkah Ginggi menuju ke sebuah warung makan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN